Keraguan

1188 Kata
"Sarah." Sunyi di ruang rapat kecil ABJaya pecah oleh getar halus ponsel di atas meja. Agam, yang sedang mendengarkan presentasi dari Sofi mengenai timeline proyek, reflek menoleh. Nama yang terpampang di layar membuat jantungnya berdetak lebih kencang. Jarinya segera menyentuh layar, membuka pesan singkat itu. Hanya satu kalimat, tapi terasa seperti perintah sekaligus pertanyaan yang menegangkan. [Kita perlu bicara. Bisa bertemu? Cafe di Plaza Senayan, yang biasa, jam 4 sore!] Tanda seru di akhir pesan terasa seperti pukulan. Begitu formal. Begitu langsung. Tidak ada basa-basi. Ini tentang proyeknya. Tentang kemenangan yang baru diumumkan. Dan Agam tahu, Sarah jelas tidak gembira. Kerutan di dahi Agam semakin dalam. Ia menatap pesan itu lebih lama dari yang seharusnya, sampai Bayu yang duduk di sampingnya menyadari ada yang tidak beres. "Ada masalah, Gam?" tanya Bayu, memotong penjelasan Sofi yang tengah berbicara. Sofi terdiam, matanya tajam mengamati perubahan ekspresi di wajah Agam. Agam meletakkan ponselnya dengan perlahan, seolah benda itu teramat panas. "Sarah. Dia mau ketemu." "Wah, pasti dapat kabar kemenangan. Selamat dong, dia pasti senang," ucap Bayu, mencoba membaca situasi. "Tidak," bantah Agam, suaranya berat. Ia mengusap pelipisnya yang mulai berdenyut. "Dia gak akan ngajak ketemu kayak gini kalau senang. Kalimatnya pendek, dingin. Dia ingin konfirmasi. Atau ... dia mau nolak." "Menolak proyek sebesar itu?" Sofi menyela, suaranya mengandung nada tak percaya yang sedikit sinis. "Masuk akal juga sih. Mungkin dia merasa tidak nyaman dengan hadiah dari suaminya." Agam menatap Sofi, matanya menyala sekilas. "Ini bukan hadiah. Itu hasil penilaian tim." "Tim yang akhirnya tetap harus mengikuti keputusan kamu, selaku direktur utama," balas Sofi, tak gentar. "Dan keputusan kamu, mau diakui atau tidak, dipengaruhi status personal kamu dengan Sarah. Kamu tidak bisa memisahkannya, Gam. Semua orang juga mulai curiga, seperti yang sudah kuperingatkan." Bayu menghela napas, melihat ketegangan antara keduanya. "Sudah, Sof. Intinya, Sarah ingin bertemu. Itu bagus. Mereka perlu komunikasi langsung." "Tapi aku tahu dia," gumam Agam, lebih kepada dirinya sendiri. Pikirannya melayang pada sosok Sarah yang keras kepala, penuh harga diri. "Dia punya gengsi yang besar. Prinsip yang kuat. Jika dia merasa kemenangan ini tidak murni, atau jika dia merasa ini akan membawa masalah untuk agency-nya ... dia bisa saja mengembalikan proyek ini. Apa pun konsekuensinya." Bayu mengangguk paham. "Itu risiko. Tapi kamu tidak bisa menebak-nebak. Temui saja dia. Jelaskan seperti rencana kita kemarin. Bahwa mereka menang karena kualitas, tapi kita juga sudah antisipasi isu nepotisme dengan memenangkan agency lain untuk proyek pendukung. Itu bukti bahwa kita profesional. Bahwa dia menang karena layak." "Rencana itu tidak akan menghilangkan bisik-bisik, Bayu," sela Sofi lagi, bangkit dari kursinya. Wajahnya menunjukkan ketidakpuasan. "Justru memenangkan Cahaya Kreatif, apapun alasan dan bagaimanapun bentuknya, hanya akan memperbesar rumor ketidakprofesionalan perusahaan kita. Orang akan bilang, 'Lihat, direktur utama bagi-bagi proyek ke istrinya'. Reputasi ABJaya yang bisa ternoda." "Sofi, ini sudah keputusan," kata Agam, suaranya tegas. "Aku menghargai kekhawatiranmu, tapi aku sudah mempertimbangkan semuanya. Termasuk untuk melindungi Sarah dan reputasinya." "Melindungi Sarah, atau mempertahankan aksesmu padanya?" desis Sofi, kata-katanya tiba-tiba rendah dan penuh arti. Mata Bayu melotak, menatap Sofi dengan peringatan. Agam membeku. Ia menatap Sofi dengan pandangan yang tiba-tiba sangat dingin dan asing. "Apa maksudmu?" Sofi menyadari ia melangkah terlalu jauh. Ia menarik napas, berusaha kembali profesional. "Maksudku, keputusan ini bisa diinterpretasi banyak pihak. Termasuk oleh Sarah sendiri. Hati-hati saja, Gam. Niat baikmu bisa salah dimengerti." Ruangan menjadi sunyi yang tidak nyaman. Bayu akhirnya berdiri, memecah ketegangan. "Gam, pergilah. Temui Sarah. Hadapi ini langsung. Di sini, kami yang akan urus dokumen dan persiapan lainnya. Lakukan seperti yang sudah kita rencanakan." Agam mengangguk pelan. Pikirannya penuh dengan bayangan wajah Sarah yang kecewa, ragu, atau yang paling menyakitkan acuh tak acuh. Ia berdiri, mengambil jas yang tergantung di sandaran kursi. "Iya. Aku harus pergi," ujarnya. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti sejenak. Tanpa menoleh, ia berkata, "Sofi, urusan ini aku yang tangani. Fokus saja pada bagianmu." Lalu ia keluar, meninggalkan Bayu dan Sofi dalam ruangan yang masih dipenuhi sisa-sisa ketegangan. Sofi mendelik, lipstik merahnya mengerut. "Dia tidak bisa berpikir jernih ketika menyangkut Sarah." Bayu menghela napas panjang. "Bukan itu masalahnya, Sof. Dia sedang berusaha berpikir jernih untuk Sarah. Dan untuk bisnis ini. Cobalah percaya padanya. Atau setidaknya, jangan perkeruh suasana." Sementara itu, Cafe di Plaza Senayan. Sore hari. Sarah tiba lebih awal. Pilihannya jatuh pada meja di sudut agak tersembunyi, dekat jendela besar yang memandang ke taman interior mall. Setelah mengirim pesan tadi dan mendapatkan balasan singkat dari Agam yang mana pria itu segera meluncur. "Saya pesan Americano panas. Dan ...." Ia ragu sejenak, menatap menu. Kebiasaan lama itu sulit dihilangkan. "Dan satu Espresso Double, tanpa gula. Disajikan nanti saja saat tamu saya datang." Pelayan mengangguk dan pergi. Sarah menarik napas dalam. Dia masih memesan kopi Agam. 'Kebiasaan bodoh,' batinnya menyalahkan diri sendiri. Tapi di tengah segala kekakuan dan jarak, ada hal-hal kecil yang tetap otomatis, seperti naluri. Dia menyandarkan tubuh ke kursi yang nyaman, matanya menatap kosong ke arah orang-orang lalu lalang di koridor mall. Pikirannya, yang sudah kalut sejak siang, kini kembali berputar kencang. Kemenangan. Kata itu terasa pahit di lidahnya. Seharusnya ini puncak dari segala kerja keras. Bukti bahwa Cahaya Kreatif bisa bersaing di level tinggi. Tapi bisikan itu menggerogoti. "Karena kamu istrinya. Karena dia merasa bersalah. Karena dia kasihan." Lalu, pikirannya beralih ke sesuatu yang lebih besar, lebih personal, pernikahannya. Pernikahan yang seharusnya menjadi awal, malah terasa seperti jalan buntu yang panjang. Mereka terikat dalam ikatan yang tak dirayakan dengan pesta mewah dan menggantung. Entah karena salah paham atau ego yang besar. 'Apakah kita pernah saling mengerti, Mas Agam?' batin Sarah. 'Ataukah kita hanya dua orang yang terlalu bangga untuk mengakui bahwa cinta saja tidak cukup? Bahwa kita perlu lebih dari sekadar ketertarikan dan rasa hormat? Kita perlu komunikasi. Kelemahan. Dan kita sama-sama tidak punya itu.' Dia ingat kenangan manis di awal pertemuan dengan Agam, yang kini terasa seperti film orang lain. Agam yang perhatian tapi tertutup. Dirinya yang mandiri tapi mudah tersinggung. Mereka seperti dua puzzle dari set yang berbeda, cocok di beberapa sudut, tapi tidak pernah menyatu dengan sempurna. Perceraian. Kata itu beberapa kali terlintas, terutama di malam-malam sepi setelah malam pertama mereka, tapi selalu ada sesuatu yang menghentikannya. Mungkin rasa sayang yang tak pernah ia akui? Gengsi? Atau sekadar penundaan karena terlalu sibuk dengan urusan masing-masing? "Kita bahkan belum sempat membicarakannya dengan serius," gumam Sarah. Mereka terlalu sibuk menjalani hidup, menghindari konflik, sampai akhirnya jarak itu menjadi kenormalan baru. Dan sekarang, dengan proyek ABJaya ini, segalanya jadi lebih rumit. Jika mereka bercerai, proyek ini akan jadi monster yang semakin sulit dihadapi. Jika tidak ... bisakah mereka terus seperti ini? Suami-istri yang hidup terpisah, hanya terhubung oleh rapat bisnis dan kiriman buah rutin? Kemenangan tender ini memaksa segala sesuatu ke permukaan. Mereka tidak bisa lagi lari. "Non, Americano-nya." Sarah terkejut, sadar kembali ke sekitarnya. "Oh, terima kasih." Dia menyeruput kopinya, rasa pahit yang familiar sedikit menenangkan sarafnya. Matanya tanpa sengaja teralihkan ke televisi layar datar yang dipasang di dinding cafe, suaranya dimatikan, hanya menampilkan gambar-gambar. Tayangan sedang menampilkan segmen sosialita dan dunia bisnis muda. Kemudian, wajah seorang pria tampan dengan senyum magnetic dan gaya yang sempurna muncul di layar. Dibawahnya ada caption: Sultan Ibrahim Atmaja, Young Entrepreneur of The Year. Sarah tersedak kopinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN