Bab 4 Perayaaan Kehamilan

1300 Kata
Rossy menghela napas. “Hanya sakit perut biasa. Sepertinya Cerina tidak makan dengan baik akhir-akhir ini. Dia harus lebih sering makan, meskipun muntah-muntahnya bisa memburuk. Oh, dan pastikan untuk tidak minum alkohol.” Cerina mengembuskan napas dengan kelegaan berlebih. Untuk saat ini ia aman. Taurus masih berusaha mencerna, tapi tidak bisa menemukan apa yang salah meski merasa aneh. “… Oke.” Ia diam sebentar. “Tapi sebenarnya dia sakit apa? Tidak ada kondisi khusus?” Dokter wanita itu melirik Cerina, tapi Cerina pura-pura tidak peduli. “Hanya salah makan biasa. Tidak perlu khawatir. Akan membaik dalam beberapa hari. Tetap perhatikan asupan makanannya.” Cerina takjub bagaimana Rossy bisa menyarankan sesuatu yang diperuntukkan bagi ibu hamil meskipun tidak memberitahu soal kehamilannya. Mereka akhirnya keluar dari ruangan. Rossy menahannya sebentar untuk membisiki Cerina, “Aku akan benar-benar memarahimu jika terjadi hal buruk karena hal ini.” Cerina tersenyum. “Iya, baiklah. Dasar tukang ngomel.” Cerina ingin segera pergi dari rumah sakit. Tapi belum sampai di lobi, mereka sudah bertemu dengan Ferdinand. Kakek Taurus berjalan dengan tongkat, dan tiga orang lainnya mengikuti di belakang—sopir, sekretaris, dan pengawal. “Cerina! Apa yang kalian lakukan di sini?” Bukannya menyapa cucu kandungnya, Ferdinand malah memanggil Cerina. Taurus hanya menghela napas lelah. Cerina kaget dan agak gugup. Dari semua tempat, kenapa harus bertemu kakek di sini? “Kakek,” sapa Cerina. “Apakah kau sakit? Padahal semalam kau baik-baik saja.” Ferdinand menatap Taurus, tampak menyalahkan seolah ialah penyebabnya ke rumah sakit. Meskipun memang benar—entah karena stres perceraian ataupun benihnya sendiri di tubuh Cerina. “Aku membawa Cerina ke sini karena perutnya sakit. Dan Rossy bilang pencernaannya bermasalah, tapi bukan hal besar dan akan membaik dalam beberapa hari.” Taurus menjelaskan pelan dan penuh pengertian. Ferdinand tidak puas. Ia menyipit curiga. “Kau yakin hanya pencernaannya yang salah?” Ia menoleh pada Cerina, “Putriku, apakah jangan-jangan … kau hamil?!” Binar mata Ferdinand cerah sekali, penuh harapan. Cerina tersedak karena kaget. Kakek, padahal kau sangat pintar dan cerdas, tapi cucumu alias ayah kandung bayiku itu malah buta dan benar-benar tidak peka. “Apa?! T-tidak, Kek. Aku tidak—” “Astaga, aku harus memberitahu Irina! Baru saja kemarin kami membicarakan soal cicit. Apakah dia perempuan? Ayo, kau harus makan di rumahku malam ini. Aku ingin memberi makan cicitku!” Cerina tidak sempat mengatakan apa-apa, tapi Ferdinand sudah mengambil lengannya dan mengajaknya pergi. Padahal pria sepuh itu sudah lumayan tua, dan ia juga harus menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan. Tapi kini ia sangat gesit. Cerina menoleh pada pada Taurus, meminta bantuan. Taurus masih bengong dan tidak percaya. Bagaimana bisa ia diabaikan begitu saja oleh kakeknya dan malah membawa istrinya kabur. “Kakek, apa yang … ini tidak seperti yang kau pikirkan.” Taurus putus asa. Namun, Ferdinand tidak ingin mendengar apa pun. Semua orang masuk ke dalam limusin yang tadi dikendarai kakeknya. Di sepanjang perjalanan, Ferdinand tidak henti menyuarakan syukur dan kegembiaraan. Cerina takut ia benar-benar akan membeberkan kehamilannya jika ia berada di sini lebih lama lagi. Saat tiba di mansion utama keluarga Anderson, Ferdinand langsung meminta para pelayan rumah tangga dan dapurnya untuk menyiapkan makan siang terlengkap dan jamuan terbaik. Ia juga sudah menelepon Irina untuk datang ke sini. Cerina kagum bagaimana dua orang sepuh ini begitu bersahabat sekarang. “Kakek ….” Cerina berusaha meluruskan kesalahpahaman, tapi Ferdinand menangkapnya sebagai hal lain. “Ada apa? Oh, apakah kau lelah? Wanita hamil tidak boleh berjalan terlalu banyak. Ayo, kita istirahat di lantai dua selagi menunggu makanannya siap.” Ferdinand menarik Cerina ke lantai dua. Cerina lagi-lagi terpaksa ikut—sambil membantu kakek mertuanya itu berjalan. Ferdinand menoleh pada Taurus. “Taurus, kau menunggu apa? Ayo, ikut naik. Pegangi istrimu.” Taurus seolah tidak punya energi lagi untuk berdebat dan hanya menurut. Ia berjalan di samping Cerina sambil memegangi lengannya seolah memapah orang sakit. “Tolong aku, bagaimana ini?” Cerina panik dalam bisikan. “Sshh. Kita ikuti dulu saja.” Keduanya tiba di ruang keluarga lantai dua. Ferdinand duduk di sofa tunggal sambil menghela napas lelah. Tubuh rentanya tidak begitu sehat lagi, sehingga berjalan terlalu banyak akan membuatnya kelelahan. Ferdinand meletakkan tongkatnya di samping kursi dan mendekatkan pijakan kaki untuk kakeknya. “Kalau kondisi Kakek tidak sehat, kenapa malah berjalan-jalan. Seharusnya istirahat saja di rumah.” Taurus mengomel. Meski ia dan kakeknya tidak begitu akur, mereka hanya memiliki satu sama lain sekarang. Dan ia tidak ingin orang tuanya itu sakit. “Menyuruh orang tua untuk tinggal di rumah saja, sementara anak cucunya tidak berkunjung, itu adalah tindakan yang kejam, tahu? Kalau kau cemas seharusnya kau sering-sering membawa Cerina ke sini.” “Jadi, sebenarnya Kakek ingin aku datang atau Cerina yang datang?” “Kau yang datang, untuk mengantar Cerina. Setelah itu pergilah bekerja.” Ferdinand menjawab tidak tahu malu. Cerina tertawa kecil. Taurus menghela napas. “Tuan Ferdinand, Cerina Graham itu juga sibuk. Meskipun aku membantu mengambil alih, tapi masih ada beberapa pekerjaan perusahaan dan proyek hotel yang harus ia kerjakan.” Ferdinand mendecak. “Padahal mencari nafkah kan tugas suami.” Lagi-lagi Cerina tertawa. “Kakek, jangan begitu. Bagaimanapun, itu bisnis keluargaku juga yang harus ditangani Taurus. Suami istri harus saling membantu.” Respons Ferdinand kali ini lebih baik. “Baiklah, tapi tetap saja. Perempuan tidak boleh terlalu lelah. Apalagi jika sedang hamil.” Cerina serba salah lagi. Ia menatap Taurus, gugup atas respons pria itu terhadap kemungkinan kehamilannya. Namun, Taurus tampak tenang dan tidak terganggu. Ia juga tidak menekannya atau memarahinya tadi. Apakah dia tenang karena merasa Cerina tidak akan mungkin hamil? “Sekarang bagaimana?” Taurus mendekatkan sisi wajahnya ke Cerina saat gadis itu menariknya. Sejujurnya, ia juga tidak menyangka kalau akhirnya akan jadi seheboh ini. Taurus sendiri juga sempat mempertimbangkan kemungkinan itu saat melihat Cerina muntah-muntah tadi pagi. Sepanjang perjalanan juga ia menjadi bimbang, ngeri jika sampai kemungkinan itu menjadi nyata. Ia seketika tidak tahu apa yang harus ia lakukan ke depannya. Ini bukan seperti reaksi penolakan, tapi Taurus campur aduk. Seolah rencana matangnya tiba-tiba runtuh. Namun, ia masih tidak bisa memberi label apakah perubahan itu baik atau tidak. Tapi ia tetap tidak akan bisa melepaskan Thalia. Taurus merasa konyol setelah panik namun Rossy menyatakan bahwa Cerina hanya salah makan. Ia agak menertawakan dirinya sendiri. Cerina juga bilang sendiri bahwa ia tidak hamil. Jadi ia merasa sudah panik dan gugup sendirian. “Kita beritahu kebenarannya saat situasi agak tenang nanti.” Kakeknya sangat menggebu-gebu saat ini. Taurus yakin ini bukan waktu yang tepat untuk mematahkan kebahagiaan itu. Seorang pelayan datang ke ruangan. “Tuan Anderson. Nyonya Irina Graham sudah tiba.” Kemudian Irina Graham masuk bersama sekretaris sekaligus asisten pribadinya. Cerina tercengang. “Nenek! Kenapa … bagaimana bisa ke sini?” Meski Taurus juga kaget, ia bangkit untuk memberi hormat kesopanan. “Nenek Irina. Bagaimana kabar Anda?” Irina melambai mempersilakan kedua cucunya kembali duduk lalu menempati sofa tunggal lain di samping Ferdinand. “Ferdinand bilang kita akan merayakan kabar bahagia. Jadi aku datang.” Cerina menggigit bibir, sangat gelisah. Ini benar-benar jadi kesalahpahaman yang besar. Saat itu ponsel Taurus tiba-tiba bergetar. Cerina refleks melirik singkat dan membaca nama Thalia. Rasa nyeri mencengkeram jantungnya, tapi Cerina pura-pura tidak melihatnya dan tidak bereaksi. Taurus bangkit dan agak menjauh untuk mengangkat telepon. Namun suara wanita paruh baya langsung terdengar nyaring dari pintu. “Ada apa ini? Aku mendengar kabar bahagia!” Pintu terbuka lalu Bibi Molly, putri kedua Ferdinand, masuk dengan rona wajah kaget tapi bahagia. “CERINA! APA MAKSUDNYA INI? APAKAH INI BENAR? KAU BENAR-BENAR HAMIL?” Seruan itu sangat nyaring hingga semua orang bisa mendengar. Termasuk orang di seberang telepon Taurus. Pria itu sudah agak menepi ke sudut ruangan, tapi itu tidak berarti. Thalia di seberang terkejut dan gelisah. Dengan panik ia menyerbu Taurus. “Ta, apa maksudnya ini? Apakah dia benar-benar hamil?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN