Bab 3 Konsultasi Dokter

1541 Kata
Cerina berusaha menjaga raut wajahnya tetap datar. Ada satu hal yang ia pelajari sejak bertahun-tahun mengamati cinta Taurus yang bertepuk sebelah tangan pada Thalia. Yaitu untuk tidak percaya seratus persen pada perkataan wanita ini begitu saja. Bagaimanapun, Thalia sangat pandai memutar kata dan memainkan ekspresi untuk mengacaukan perasaan orang lain. Ia tahu apa yang harus dikatakan dan ditampilkan saat berhadapan dengan seseorang demi tujuannya. Cerina mengingat-ingat. Apakah Taurus benar-benar menghamilinya? Tapi dia tidak pernah bermalam di luar dan selalu tidur di kamar mereka dengan Cerina. Atau mungkin semuanya terjadi di siang hari, agar Cerina tidak mencurigai mereka? Tapi sikap Taurus tampak tidak berbeda dari biasanya. Atau mungkin Cerinalah yang bodoh karena terlalu percaya karena dibutakan cinta. “Kau hanya terlambat menstruasi. Apakah sudah memeriksakannya ke dokter kandungan? Kalau ingin menemuiku, kau seharusnya langsung membawa hasil USG-nya juga.” Cerina berusaha menjawab tenang meskipun tangannya bertautan erat di bawah meja. Wajah Thalia tampak memerah, dan ia mengepit bibir seolah menahan geram. “Taurus sedang sibuk. Tentu saja aku harus datang bersama dia. Kudengar kalian sudah berencana bercerai.” Cerina mengetatkan dadanya agar tidak terpengaruh, meskipun jantungnya sakit. Ia tersenyum tenang, “Ya. Kau tidak perlu khawatir dan ikut campur tentang itu. Kecuali kau mau aku menyebutkanmu di berita perceraian kami.” Wajah Thalia lagi-lagi berubah masam. Ia cukup tahu untuk tidak mencari gara-gara agar tidak tampil di media sebagai perebut suami orang. “Kau hanya ingin mengatakan itu? Kalau begitu aku permisi.” Cerina tegak. “Kuharap kau juga segera pergi. Apakah Taurus tahu kau datang ke sini? Aku tahu kau tidak menginap di hotelku.” Thalia bukan berasal dari keluarga kaya, jadi tidak mungkin ia bisa menginap di Graham Hotel—kecuali dibayari oleh Taurus. Cerina tidak bermaksud menyinggungnya, tapi ia sudah tersinggung. “Kau—” “Aku akan menganggap pertemuan ini tidak pernah terjadi. Lagipula bukannya kau mengatakan fakta.” Cerina berbalik dan pergi. Ia berusaha menghilangkan pikiran buruk. Ya, Thalia belum tentu hamil. Selama pernikahan, Taurus tidak pernah tidur dengan wanita lain—setidaknya itulah kesepakatan mereka. Tapi Thalia bukan wanita lain, ujar sudut pikirannya. Hatinya meragu. Namun, ia tidak ingin hal ini mengganggu hari-hari terakhirnya bersama Taurus. Ia hanya menginginkan sisa waktu mereka dipenuhi kebahagiaan. Lagipula tidak ada lagi bedanya, karena bagaimanapun, ia dan Taurus memang akan bercerai. *** Malam itu, Taurus dan Cerina baru pulang bekerja dan masuk ke kamar mereka. “Kau benar-benar tidak mau memberitahuku?” Taurus masih membombardirnya dengan pertanyaan yang sama. “Soal apa?” “Cinta pertamamu itu.” “Tidak penting. Dia juga sudah berencana untuk menikahi orang lain.” “Apa?! Oh? Jadi dia punya pacar?” Cerina mengangkat bahu. “Entahlah, tapi dia sangat mencintai cinta pertamanya. Baru-baru ini kudengar mereka bertemu lagi dan berencana untuk bersama.” Taurus terpekur sesaat. Ia berniat menghibur, tapi entah kenapa merasa bisa memahami bagaimana perasaan pria itu. Ia tahu seberapa sulitnya lepas dari perasaan cinta pertama. Tiba-tiba saja ia membenci pria itu. Meskipun ia mencintai cinta pertamanya, tapi bukankah seharusnya ia bisa mempertimbangkan Cerina? Fakta bahwa pria itu baru bisa bertemu kembali untuk memulai dengan cinta pertamanya, bukankah itu berarti kondisi mereka tidak cukup bagus? Dia seharusnya memberi Cerina kesempatan– “Apakah masih ada yang ingin dibahas? Aku ingin istirahat.” Cerina yang bersandar di meja rias akhirnya bangkit. Taurus mendongak kaget. Ia tahu ada yang tidak beres saat Cerina pergi menuju kamar mandi. “Cerina,” tahannya lagi. Gadis itu berbalik. “Kau baik-baik saja?” Cerina memaksa senyum. “Ya.” “Lalu kita … apakah kita baik-baik saja?” Taurus Anderson, apa-apaan maksud pertanyaan ambigu itu? Memangnya kau pikir apa yang sedang terjadi sekarang? Taurus merutuki kebodohannya. Cerina menoleh dan memunggunginya lagi. “Ya. Tentu saja. Kita baik.” Kemudian ia menghilang di balik kamar mandi. Suara air lalu memenuhi kamar. Keheningan itu membuat Taurus mau tidak mau larut dalam pikiran kusut. Cerina sudah berbaring memunggunginya ketika Taurus selesai mandi. Ia masuk ke balik selimut perlahan. Biasanya, Cerina akan berbalik menghadapnya meski sambil melenguh sebal karena tidurnya terganggu. Kemudian mereka akan tidur sambil berhadapan, jika tidak saling memeluk. Namun, kali ini, Cerina tidak bergerak. Taurus lagi-lagi merasa ada hal yang mengganggu pikiran Cerina, makanya gadis itu tampak stres. Ia mulai bersikap aneh sejak pembicaraan soal perceraian waktu itu. Tapi Cerina tidak mau membaginya—selalu begitu. Cerina jarang sekali meminta bantuannya. Itulah kenapa di banyak kesempatan, Tauruslah yang lebih dulu menyadari bahwa gadis itu dalam masalah dan butuh bantuan. Jika tidak, Cerina akan berusaha membereskannya sendiri meski harus bergadang atau mengusahakan banyak hal sendirian. Taurus menarik Cerina mendekat. Punggungnya menyatu dengan d**a Taurus. Gadis itu bergerak sedikit, tapi tidak mendorongnya menjauh. Ia menyelipkan tangannya di belakang leher Cerina lalu memeluknya erat. Meski hanya suami kontraknya, Taurus tidak ingin Cerina kesulitan. Ia tidak ingin siapa pun menyakitinya. Karena sebelum menjadi istrinya, Cerina adalah teman dekatnya yang berharga. Cerina benci dirinya sendiri yang merasa lebih baik dengan pelukan Taurus. Kenapa pria itu membuatnya berpikir seolah situasi mereka tidak akan berbeda meski nantinya bercerai. Padahal tidak akan ada kemungkinan baik untuk Cerina. Taurus pergi pada pukul satu dini hari. Cerina mendengar ia mengangkat telepon, lalu dijawab suara perempuan, kemudian ia bergegas pergi. Taurus tidak kembali hingga esok harinya. Cerina bisa merasakan kalau itu adalah gadis tercintanya, Thalia. Begitu Cerina keluar kamar, suaminya itu sedang menata sarapan. Ia menyambutnya dengan senyuman tipis seperti biasa. “Selamat pagi.” “Pagi.” Suara Cerina serak, ia tidak tidur semalaman—juga tidak menangis. “Makanlah sarapanmu. Pagi ini kita akan ke dokter.” “Ke dokter? Kau juga ikut?!” Cerina kaget dan duduk di kursi dapur. Taurus menatapnya lama, agak tersinggung. “Aku tidak boleh ikut?” “Aku bisa pergi sendiri, Taurus. Tidak usah mengantarku.” “Aku sudah membuatkan janji temunya. Biarkan aku menemanimu juga.” Cerina semakin panik. Jika mereka ke dokter bersama, maka Taurus akan tahu soal kehamilan ini. Berita ini hanya akan menyulitkan mereka. Harga dirinya tidak ingin membiarkan Taurus mengetahui ini. Ia akan tambah sakit jika Taurus menganggap calon anaknya beban karena menghalanginya bersama Thalia. Ia tidak butuh Taurus lagi. Wajah Taurus semakin kaku karena agak sakit hati. “Kau tidak suka aku menemanimu? Lebih suka pergi sendiri saja?” Cerina seketika merasa bersalah. “Bukan begitu. Kupikir … kau sibuk.” Karena ditinggal semalaman, Cerina mengira Taurus juga tidak akan repot-repot menemaninya ke dokter. “Kau masih pucat dan kelihatan tidak baik. Perasaanku hanya akan tambah buruk jika membiarkanmu pergi sendiri.” Cerina bersikeras untuk tidak pergi ke dokter. Masalahnya, setelah kini ia tahu dirinya hamil, maka hanya akan ada masalah jika mereka betul-betul ke dokter. Ia tidak ingin memberitahu Taurus setelah keputusannya sudah bulat untuk menceraikan Cerina. Rencana Cerina untuk menolak ke dokter harus pupus setelah kondisinya memburuk pagi ini. Ia muntah-muntah dan mengeluarkan hampir seluruh sarapannya. Taurus tidak menunggu lagi dan langsung membawanya ke dokter. Cerina tahu itu karena morning sickness, tapi dokter tidak boleh memberitahu Taurus. Untungnya, mereka pergi ke dokter kepercayaan keluarga Graham, Rossy, yang bekerja di rumah sakit terdekat. “Halo, Cancerina. Taurus. Ada apa ini? Apa yang membawa kalian kemari?” Cerina tersenyum gugup. Taurus menjawab tenang. “Cerina kurang enak badan. Sepertinya karena pencernaannya. Tolong obati agar sakitnya mereda.” Rossy menatap Cerina, kemudian berbalik ke Taurus. Mengangguk ragu, “Oke. Ayo, berbaring. Kita periksa dulu.” Cerina berusaha menyampaikan isyarat lewat tatapan mata. Namun, Rossy tidak terganggu. Rossy adalah dokter kepercayaan keluarga Graham, ia sudah merawat Cerina sejak kecil, jadi terkadang Rossy adalah ibu baginya. Rossy kemudian menyadari ada yang tidak beres. Ia menatap Cerina menuntut penjelasan. Tapi Cerina menggeleng tegas. Ia kemudian perlahan mengerti. Setelah beberapa lama pemeriksaan, keduanya kembali ke meja dokter. Rossy menulis di lembar catatan dokternya, kemudian menyerahkannya pada Taurus. “Taurus, bisa bantu aku untuk memberikan ini terlebih dahulu pada perawat di depan sebentar? Ini penting.” Taurus agak bimbang, tapi karena ekspresi Rossy tidak berubah, ia menleh pada Cerina. Cerina mengangguk santai. “Tidak apa-apa. Aku menunggumu.” Taurus akhirnya keluar sesuai perintah. Sepeninggalnya, Rossy langsung mengomel. “Cerina, apa maksudnya ini?!! Kau hamil! Kenapa Taurus tidak boleh tahu? Dia ayahnya, kan?” Cerina memelas tetapi tetap kukuh, “Rossy. Berjanjilah padaku untuk tidak memberitahunya. Apa pun yang terjadi!” Rossy menghela napas dalam. “Tapi ini tidak benar, Cerina. Dia harus tahu! Bagaimana jika terjadi sesuatu dan malah membahayakan kalian berdua karena dia tidak tahu soal ini?” “Tidak akan ada apa pun yang terjadi. Ada yang harus aku lakukan dulu sekarang. Aku punya rencana lain. Rossy, aku berjanji tidak akan sakit atau membahayakan diriku dan bayinya. Jadi kumohon, berjanjilah untuk tidak memberitahu Taurus. Aku sendiri yang harus memberitahunya.” Rossy masih keberatan. Tapi ekspresi serius Cerina, dan sikap keras kepalanya yang tidak berubah, membuat ia tidak nyaman. Saat itu juga Taurus masuk ke ruangan. Pria itu menyadari bahwa suasana di sana tiba-tiba saja menjadi berat. Ia memandang istrinya yang masih tenang. Cerina mengulurkan tangannya, Taurus menggenggamnya sebelum ikut duduk dan menghadap Rossy. “Ada apa? Bagaimana hasil pemeriksaannya? Apakah sakitnya berat?” Semuanya diam. Rossy memandang keduanya kemudian menarik napas dalam. Bergelut dengan nurani dokternya. Di kursinya, Cerina tidak pernah merasa setakut ini sebelumnya. Hatinya berdoa lagi. Kumohon, Rossy, jangan katakan pada Taurus tentang kehamilannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN