Tubuh Paula kembali memanas, beberapa kali Hunt melihatnya menggigit bibir bawahnya sendiri. Hunt mendekati Paula, ia mencoba membangunkan gadis itu.
"Bangunlah! Paula!" seru Hunt.
Gadis itu membuka irisnya yang terlihat sayu. Wajahnya terlihat seperti memohon untuk sesuatu. Hunt semakin tak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh gadis itu. Dilonggarkannya ikatan dasi pada leher, lelaki itu kini ikut merasa gerah melihat tubuh Paula.
Akhirnya Hunt mencium bibir Paula dengan rakus. Kini lelaki itu tidak akan menahan diri lagi. Mereka saling menikmati lumatan pada bibir masing-masing. Paula semakin mahir dalam berciuman setelah dua kali melakukannya dengan Hunt.
"Ehm, ahh," desah Paula.
Hunt meremas p******a Paula yang masih terbungkus kain itu. Ia merasa p******a Paula sedikit mengeras, tentu saja karena gadis itu sangat b*******h.
"Sakit!" pekik Paula sembari menggigit bibir Hunt.
Hunt sedikit terkejut saat Paula menggigit bibir bawahnya. Namun, lelaki itu justru semakin bersemangat untuk memasuki milik Paula.
Hunt menurunkan ciumannya menuju leher jenjang gadis itu, ia juga meninggalkan jejak kepemilikan disana. Tangannya dengan terampil melepaskan kain penutup tubuh Paula.
"Ahh, apa yang kau lakukan, Hunt?" tanya Paula saat melihat tubuh polosnya dapat dilihat oleh Hunt.
"Membantumu," jawab Hunt singkat.
Lelaki itu kembali memberikan kecupan-kecupan lembut pada bagian d**a Paula.
"Ahh, Hunt. Ahh, kenapa tubuhku seperti ini?"
"Tenanglah, setelah ini kau akan merasakan kenikmatan surga yang memasuki tubuhmu," ujar Hunt.
"Akh, jangan terlalu keras disana," keluh Paula saat Hunt memilin putingnya.
Hunt sungguh menyukai ekspresi wajah Paula saat menikmati sentuhan darinya. Hunt kini melepaskan pakaian yang dikenakan. Dilemparkannya pakaian itu kesembarang arah. Tubuh telanjangnya membuat Paula memejamkan matanya rapat-rapat. Gadis itu sangat malu dengan situasi yang sedang terjadi.
"Buka matamu, sayang!" titah Hunt.
Paula menggeleng keras, ia tidak ingin pikirannya ternodai dengan tubuh Hunt yang sangat menggoda untuk disentuh.
"Pakai pakaianmu, Hunt! Kau tak tau malu!"
"Kau sendiri tak mengenakan pakaian, sayang! Bagaimana bisa kau merasa malu disaat tubuhmu sendiri terlihat jelas tanpa mengenakan sehelai benang pun."
Paula memilih diam, gadis itu enggan berdebat dengan Hunt saat ini.
Lelaki itu kini berada dibagian bawah Paula, Hunt menaikkan kaki gadis itu hingga menampakkan pintu kewanitaan Paula yang terbuka. Hunt mendekatkan wajahnya pada pusat gairah Paula. Lidahnya menjulur masuk kedalam liang senggama Paula. Awalnya tubuh Paula menggeliang dan hampir saja kakinya menendang wajah Hunt ,andai saja lelaki itu tidak menahannya.
"Akh! Nikmat sekali, Hunt. Ahhh," desah Paula.
Hunt semakin memperdalam lidahnya, dan menjilati bagian dalam kewanitaan Paula. Desahan demi desahan keluar dari mulut gadis itu.
"Hunt, aku ingin pipis," ujar Paula yang akan mendapatkan pelepasannya.
"Keluarkan, sayang. Akan ku bersihkan cairan itu," ujar Hunt.
"Aahhhhhh," desah panjang Paula saat mencapai pelepasannya.
Hunt membersihkan area kewanitaan Paula dengan menelan cairan bening yang keluar dari dalam liang itu.
Tubuh Hunt kini menindih Paula. Ia mencium bibir Paula dengan sedikit rakus. Sementara kejntanannya yang dmsudah berdiri sempurna, kinij menggesek pada pusat gairah Paula.
"Ehm, hmmm."
Tangan Hunt membuka kaki Paula agar mempermudah kejantanannya untuk memasuki liang sempit itu. Perlahan, Hunt berusaha keras untuk memasukkan miliknya kedalam sana. Hingga saat kepala kejantanannya terasa masuk, Hunt langsung saja memperdalam miliknya.
"AKH! Sakit!" pekik Paula.
Gadis itu menggigit bibir bawah Hunt lagi. Kali ini darah segar keluar dari luka yang Paula buat. Hunt memberikan sentuhan lembut pada p******a Paula agar mengurangi rasa sakit yang tengah dirasa oleh gadis itu.
Perlahan, Hunt menggerakkan pinggulnya. Gerakan memompa semakin membuat Paula mendesah.
"Ahhh, Hunt. Apa ini? Ahhh, kenapa begitu ... aahhh, nikmat," ujar Paula sembari menggigit bibir bawahnya sendiri.
Sementara Hunt kini mengulum p****g p******a Paula. Lelaki itu sungguh menikmati tubuh wanita dihadapannya. Sembari memompa tubuh Paula, Hunt memejamkan matanya untuk menikmati sentuhan yang terjadi pada kejantanannya.
"Ahh, sayang. Milikmu sungguh nikmat," ujar Hunt.
"Hmmphh ... ahh, Hunt lebih cepat," desah Paula.
Hunt mengikuti keinginan Paula, ia mempercepat gerakan pinggulnya. Paula terlihat menahan sakit dan menikmati semua itu dalam satu waktu.
"Hunt, sakit. Ahh," rintih Paula.
Hunt membungkam kembali bibir Paula. Ia menjulurkan lidahnya dan saling bertukar saliva. Lelaki itu juga semakin memperdalam kejantanannya hingga menyentuh rahim Paula.
"Ahhh, ahhh."
"Kau sungguh nikmat sekali, sayang," ujar Hunt.
Setelah dua puluh menit berlalu, Hunt hampir mencapai puncaknya. Lelaki itu semakin mempercepat tempo gerakannya, hingga ia memperdalam kejantananya dan mengeluarkan spermanya didalam sana.
Napas keduanya terengah-engah. Suhu tubuh Paula kini kembali normal. Gadis itu ingin bangun dan menuju kamar mandi. Sayang, bagian intimnya begitu nyeri sehingga membuatnya meringis menahan sakit.
"Mau kemana?" tanya Hunt.
"Kamar mandi," jawab Paula.
Hunt menarik tubuh Paula masuk kedalam dekapannya. Lelaki itu memeluk tubuh wanitanya dengan erat.
"Lepaskan, Hunt! Apa kau tak merasa risih?"
"Denganmu? Tentu saja tidak, sayang. Setelah ini kau harus siap menerima seranganku disaat aku membutuhkan tubuhmu."
"Laki-laki m***m! Akh!" pekik Paula saat Hunt mengigit lehernya.
"Aku ingin melakukannya lagi," ujar Hunt.
"Tidak! Milikku masih terasa sakit, Hunt!" omel Paula.
"Hahaha, baiklah. Kalau begitu istirahat saja dulu."
"Apa maksud perkataanmu?"
"Aku akan kembali memasuki milikmu setelah ini," ujar Hunt.
"Dasar m***m!"
Paula terlihat lelah setelah berdebat dengan Hunt. Perlahan ia memejamkan matanya dan tertidur didalam pelukan Hunt.
***
"Ehm," desis Paula.
Ia baru saja bangun dari tidurnya. Tubuhnya terasa berat pada bagian perut. Saat melihat kesamping, Paula melihat Hunt yang masih memejamkan mata.
'Tampan, apa yang kau lakukan padaku semalam?' batin Paula.
"Sampai kapan kau akan memandangi wajah tampanku, Sayang?" suara serak Hunt membut Paula terkejut.
"K-kau sudah bangun."
"Ya."
Wajah Paula terlihat merona saat mata mereka saling beradu. Hunt mengecup bibir Paula, lalu melumatnya dengan lembut.
"Ehm," desah Paula.
Tangan Hunt kembali bermain pada dua gundukn kenyal yang kini mulai mengeras. Hunt memijatnya dengan perlahan, memberikan sensasi yang membuat Paula bereaksi.
"Kau ingin lagi?" tanya Hunt.
"Hunt, apa seperti ini cara membuat anak?" tanya Paula dengan polos.
"Hahaha, kau sungguh terlalu polos, sayang."
"Akh," desah Paula saat Hunt dengan tiba-tiba melesatkan jarinya untuk masuk kedalam pusat gairahnya.
Jari Hunt bermain didalam sana, ia mengaduk dengan tempo cepat. Bahkan sesekali, Hunt memperdalam jarinya hingga menyentuh dinding rahim gadis itu.
"Ahhh, Hunt ... kenapa rasanya begitu nikmat?" suara Paula terdengar serak.
"Hmm."
Hunt sedang mengulum p****g p******a Paula. Ia memainkan p****g itu layaknya bayi yang sedang menyusu.
"Akh, kau terlalu keras, Hunt. Sakit!" protes Paula.
Hunt tak menghiraukan ucapan Paula, ia terus saja menyerang gadis itu hingga mendapatkan pelepasannya.
"Ahh, aaahhhh, Hunt ... yeay, ohhh yess," desah Paula.
Hunt melepaskan jarinya dari dalam liang itu. Kini lelaki itu membuat tubuh Paula menghadap badan ranjang, Hunt memasukkan kejantanannya melalui belakang.
"Aahhhhhh," desah keduanya saat penyatuan itu terjadi.
"Oh, s**t! Sempit sekali, sayang. Yeah, aaahhh."
Hunt menghujani Paula dengan gerakan yang tak beraturan. Tubuh Hunt sedikit membungkuk, tangannya menangkup kedua p******a gadis itu. Diremasnya bagai mainan squishy, membuat Paula semakin mendesah.
"Hunt, aah, aahh."
"Yess, aahh. Ohhh, sayang ... aku tak akan melepaskanmu setelah ini! Kau hanya milikku seorang!" tegas Hunt.
"Yeah ... ehm, aahhh, ah, ah ... aku milikmu, Hunt," rancau Paula.
Setelah sepeuluh menit, Hunt kembali membalikkan posisinya. Ia membuat Paula kembali terlentang. Kakinya dinaikkan keatas bahu Hunt. Lalu lelaki itu kembali memompa tubuh gadis dihadapannya.
"Ahhh," desah Paula sembari memejamkan matanya merasakan gesekan dibagian bawahnya.
Kedua tangan Paula terlihat mencengkeram seprai. Ia menahan rasa nyeri karena permainan Hunt yang sedikit kasar.
Tubuh Hunt terlihat menegang, lelaki itu akan mencapai puncaknya. Dan bisa dipastikan ia akan mengeluarkan cairan putih kentalnya didalam rahim gadis itu.
"Aaahhhhh," desah panjang Hunt yang menandakan bahwa lelaki itu mendapatkan pelepasannya.
Hunt sedikit memperdalam miliknya, sampaai terbentur dengan dinding rahim. Ia berharap Paula akan segera hamil setelah ini.
Hunt turun dari atas ranjangnya, lelaki itu meraih tubuh Paula dan menggendongnya menuju kamar mandi.
"Hunt, apa itu tadi yang namanya s*x?" tanya Paula.
"Ya, kau menyukainya?"
"Hmm, rasanya sedikit aneh. Aku merasakan sakit, tetapi juga merasakan hal lain. Dan itu sungguh nikmat," jelaanya.
"Kau ingin melakukannya lagi?"
"Lagi? Sekarang? Apa kau tidak lelah? Dan apakah milikmu itu selalu berbentuk seperti itu?"
"Kau sungguh polos, sayang. Aku menyukainya. Jangan biarkan tubuhmu disentuh siapapun selain diriku!"
"Kau yang pertama, Hunt. Dan denganmu saja cukup membuat ku mendesah hingga kelelahan!"
"Hahaha, bagus."
Perlahan Hunt menurunkan Paula didalam bathup. Bahkan ia juga ikut masuk kedalam sana.
"Kenapa kau memilihku?"
"Kau memang bukan tipeku, tetapi aku menginginkanmu mengandung anakku," jelas Hunt.
"Kenapa kau tak menikah saja dengan wanita lainnya?"
"Kau terlalu banyak bertanya, sayang."
"Hunt, apa milikmu kembali menegang? Aku merasa ada yang mengeras dibawah sana."
"Kenapa kau begitu mudah mengatakannya?"
"Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan, Hunt. Dan memang benar milikku kembali mengeras," ujar Paula dengan gamblang .
Hunt membersihkan tubuh Paula dengan sesekali menggodanya.
"Hunt," panggil Paula.
"Ada apa?"
"Aku ingin tidur setelah ini," ujarnya.
"Makan dulu, setelah itu kau bisa tidur."
"Baiklah."
Setelah selesai dengan kegiatan membersihkan diri, Hunt kembali menggendong Paula menuju kamar. Ia merebahkan tubuh gadis itu diatas ranjang lalu berjalan menuju walk in closet untuk mengambil pakaian.
"Pakai ini, lalu kita makan bersama," ujar Hunt.
"Ehm, apa kau mau menggendongku lagi?"
"Apa kakimu mendadak lumpuh?"
"Cih, menyebalkan!" celetuk Paula.
Hunt telah selesai mengenakan pakaiannya. Lelaki itu meninggalkan Paula begitu saja.
"Dasar lelaki m***m! Bisa-bisanya ia mengajarkan seorang siswa sekolah sebuah hubungan seks," celoteh Paula sembari mengenakan pakaiannya.
Paula kini mencoba berjalan dengan sedikit tertatih. Pasalnya, bagian intimnya masih terasa nyeri, dan hal itu membuatnya menampilkan wajah yang aneh saat seseorang menatapnya.
"Astaga, kenapa saat melakukannya begitu nikmat, dan nyeri setelah semua selesai!" gerutu Paula.