Keadaan di Gedung Putih terlihat sedikit kacau, Presiden Amerika itu semakin geram. Sudah banyak pasukan khusus, agen rahasia, bahkan semua pihak yang bisa membantunya untuk menemukan Paula putrinya.
"Tuan, kami masih belum bisa melacak keberadaan Nona Paula," ujar Xander seorang agen rahasia yang di utus oleh Presiden.
"Paling tidak temukan motif yang membuat anakku diculik! Hingga saat ini tidak ada yang meminta tebusan padaku."
"Baik, Tuan. Kami akan berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan informasi mengenai Nona Paula."
Setelah mengatakan hal itu, Xander beranjak dari ruang kerja Presiden. Lelaki itu pergi dengan seringaiannya.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Xander pada Gerald. Seorang pengikut Hunt yang ditugaskan untuk memantau keadaan sekitar Gedung Putih.
"Tentu saja untuk bekerja, Tuan Xander. Apa kau kira hanya dirimu saja yang Griffith perintahkan menangani hal ini?"
"Hah! Terserah!"
Xander kembali melangkahkan kakinya menjauhi Gerald. Hubungan keduanya memang tidak terlalu dekat, tetapi mereka pernah menjadi satu team saat ditugaskan oleh Hunt untuk menyerang Rusia. Saat itu mereka bertiga dengan Candy. Keduanya berselisih memperebutkan Candy. Sayangnya, wanita yang mereka perebutkan tidak memilih siapapun. Candy memilih untuk menjalankan misi sendiri atau bersama Gary sepupunya.
Gerald masuk kedalam ruangan Presiden. Ia memberikan beberapa dokumen mengenai Candy yang menjadi tersangkanya.
"Apa kau bercanda? Anakku berada ditangan mafia Rusia?"
"Tuan Presiden, itulah informasi yang saya dapatkan. Tempat tinggalnya sudah kami geledah, tetapi disana hanya bangunan kosong." Penjelasan Gerald membuat Presiden semakin gelisah.
"Mereka menjamin keselamatan Nona Paula hingga apa yang mereka inginkan terpenuhi," jelas Gerald lagi.
"Jangan-jangan mereka tahu akan hal itu!" celetuk Presiden.
"Apa maksud Tuan?"
"Tidak, semoga saja mereka segera melepaskan Paula."
"Baiklah, Tuan. Saya akan pergi untuk mencari informasi lainnya," pamit Gerald.
Presiden mengibaskan tangannya, dan Gerald sedikit membungkuk lalu berjalan keluar dari sana.
Gerald mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia menghubungi Hunt untuk info yang baru saja didapatkan
"Sepertinya Presiden menyembunyikan sebuah fakta dari anaknya itu. Kau harus berhati-hati, jangan sampai cinta membuat dirimu bodoh, Grif!" ujar Gerald.
"Cepat kemari dan akan ku tembak kepalamu!" jawab Hunt kesal.
"Aku harus pergi untuk mengalihkan perhatian mereka."
"Pergi! jangan sampai bertemu denganku! Atau ku patahkan lehermu!" ancam Hunt lagi.
"Baiklah."
Meski perbincangan itu terlihat begitu mengancam. Namun, arti sebenarnya bukanlah seperti yang diucapkan oleh Hunt.
***
Gary baru saja menyelesaikan tugasnya. Sebuah mansion besar milik Sergey Vladimir kini jatuh ketangan Camorra. Pemimpin Vladimir kini menjadi tawanan Gary. Tangannya terikat keatas dengan rantai, tubuh kekar Sergey terlihat bertelanjang d**a, dengan luka di sekujur tubuhnya. Wajah lelaki tampan itu berlumur darah karena luka pada bagian pelipisnya.
"Aku harus segera kembali, kuserahkan lelaku ini padamu!" ujar Gary pada Candy sepupunya.
"Apa aku boleh memilikinya? Akan ku cuci otaknya hingga ia tidak dapat mengingat siapa dirinya sendiri," ujar Candy.
"Terserah. Kau bisa dengan sesuka hati menjadikannya eksperimenmu," jelas Gary.
Candy mengangguk, terlihat senyum seringaiannya saat menatap Sergey. Saat itu Gary sudah melangkah pergi dari mansion Vladimir.
"Candy, kau akan menjadikan suamimu ini bahan eksperimen?" tanya Sergey.
"Kita sudah bercerai, Sergey! Jangan membuatku mual dengan ucapanmu," ujar Candy.
"Kau meminta bantuan kakakmu untuk membalasku, apa ini sepadan dengan rasa sakit yang sudah kutanamkan padamu?"
"Jangan banyak bicara lagi, Sergey! Aku sudah muak denganmu!"
"Ayolah, sayang. Aku tahu kau masih mencintaiku. Lepaskan aku dan kita bisa hidup bahagia setelah ini!"
"Tidak, sebelum kucuci otakmu!"
"Dasar wanita rubah! Apa yang Griffit berikan hingga kau melawanku?"
"Kehidupan yang jauh lebih baik dari yang kau janjikan!"
Candy berjalan mendekat, wanita itu membawa sebuah pisau kecil. Di goreskannya pisau itu pada bagian punggung Sergey.
"Argh!" teriak Sergey yang merasakan sakit pada tubuhnya.
"Kau benar, Sergey. Aku merindukan dirimu, aku merindukan sentuhan darimu, hanya saja aku tak sebodoh dulu. Kini, kau akan kubuat menjadi bahan mainanku hingga aku berhasil membuatmu melupakan semuanya."
"Argh!" pekik Sergey saat Candy menarik rambutnya kebelakang.
"Maafkan aku yang terlalu mencintaimu, hingga kerinduan membuatku gila. Aku hanya ingin kau menjadi milikku, maka dari itu kubunuh semua wanita dan anakmu!"
"Kau gila, Candy."
"Ya, aku gila! Dan kau yang membuatku seperti ini!"
Candy berjalan keluar dari ruangan bawah tanah itu. Tempat ia menawan mantan suaminya sendiri.
"Kalian, cepat bereskan mansion ini! Aku ingin semua tertata rapi lagi, jangan ada setetes darah pun di lantai," ujar Candy pada pengikut Camorra.
Candy berjalan menuju kamar Sergey. Ia menutup pintu kamar dan berjalan menuju kamar mandi sembari membuka pakaiannya.
Didalam kamar mandi, wanita itu membersihkan bercak darah yang menempel disekujur tubuhnya. Candy memang seorang wanita, tetapi cara bertarungnya melebihi Gary dan Hunt. Karena itulah, Candy selalu ditugaskan bersama Gary untuk mengambil wilayah yang diinginkan Hunt.
"Sergey ... aku sudah tak sabar untuk menikmati tubuhmu," gumam Candy.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Candy keluar dengan mengenakan kimono. Ia berjalan kedalam walk in closet dikamar itu.
"Sudah kuduga, kau masih menyimpan semua barang-barangku."
Wanita itu mengambil setelan T-shirt tipis berwarna putih dan hot pants. Ia juga memilih senjata yang berada dibalik dinding dengan lukisan sebagai penutupnya.
Candy berjalan menuju ruang bawah tanah lagi. Sebelumnya, ia memeriksa kinerja para pesuruhnya. Candy merasa puas karena ia bisa menempati mansion Vladimir.
"Apa kau masih bernapas?" tanya Candy pada Sergey.
Tanpa menunggu jawaban Sergey, Candy menyuntik lelaki itu dengan obat bius. Perlahan kesadaran Sergey menghilang, ia jatuh tersungkur saat Candy melepaskan ikatan rantai yang membelenggu tangannya.
BRUK
"Kalian, cepat bawa orang ini. Bersihkan tubuhnya ,lalu tidurkan ia di laboratorium milikku!" ujar Candy.
"Baik, Nona."
Empat orang membawa tubuh kekar itu menuju mansion. Sedangkan Candy tersenyum puas karena akan memiliki tubuh mantan suaminya itu lagi.
***
Gary berjalan masuk kedalam Sala Silvermine. Ia langsung saja masuk menuju kamarnya. Tanpa peduli Hunt sedang menunggunya diruang kerja. Saat berjalan di lorong, Gary bertemu dengan Paula yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Tuan Gary, kenapa jasmu berlumurah darah?" tanya Paula dengan tatapan yang terlihat takut.
"Bukan urusanmu!" jawab Gary sembari melanjutkan langkahnya.
Paula mengedipkan matanya, ia tak ingin memperdulikan lelaki itu.
CEKLEK
Paula masuk begitu saja kedalam ruang kerja Hunt. Ia melihat Larry duduk disofa dengan lengan yang terbalut perban. Pandangan Paula kini menyusuri ruangan itu untuk menemukan Hunt.
"Maaf, Tuan. Apakah kau melihat Hunt?" tanya Paula pada Larry.
Larry tersenyum, ia menunjuk pada belakang gadis itu. Seketika Paula terkejut melihat tubuh kekar berdiri dibelakangnya.
"Hunt, aku bosan! Tidak bisakah kita pergi sebentar?" rengek Paula.
"Tidak, aku masih banyak urusan! Sebaiknya kau berkeliling saja. Sala Silvermine snagat luas. Kau bisa menghabiskan waktu untuk menyusuri setiap lorong rumahku!"
"Baiklah!"
Gadis itu berjalan melewati Hunt. Ia kini masuk kedalam lift dan menekan lantai yang diinginkannya.
"Paula Jacobs, menarik!" celetuk Larry.
Hunt kembali memberikan tatapan ingin membunuh adiknya itu. Tentu saja lelaki itu tidak segan-segan untuk membunuh adiknya jika merebut miliknya.
Hunt duduk dikursinya, ia melihat Gary pada layar laptop. Hal itu membuat Hunt berdecak kesal, pasalnya Gary selalu saja memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu daripada menemuinya.
"Kembalikan senjata yang kau ambil," ujar Hunt.
"Baiklah, akan kukembalikan. Aku ingin wanita cyborg yang kau pesan! Bagaimana?"
"Aku tidak sedang berbisnis! Kau tidak boleh menawar."
"Ayolah, kak! Kenapa kau sungguh kikir padaku?"
"Jika urusanmu sudah selesai, cepat pergi dari sini!"
"Kau membuatku kesal!"
"Apa kau ingin peluruku bersarang di otakmu?"
"Aku pergi!"
Larry melangkah dari ruangan itu menuju kamarnya. Ia bertemu dengan Gary saat itu, dan mereka saling menatap dengan tatapan ingin baku hantam. Sayang, Gary memilih untuk menghindarinya.
CEKLEK
Gary masuk kedalam ruang kerja Hunt. Ia langsung saja duduk dikursi yang berseberangan dengan Hunt.
"Jika kaubmenyuruhku pulang karena ada hal yang tak penting, aku pastikan lenganmu akan patah!" ancam Gary.
"Bagaimana Candy? Apa ia baik-baik saja?" tanya Hunt.
"Mungkin ia sedang bermain-main dengan tubuh mantan suaminya itu."
"Hahahaha, Candy sudah menunggu lama untuk hal itu."
"Dan kau memberikan mainan pada Candy."
"Aku hanya memberikan hadiah pada adikku," ujar Hunt.
"Bagaimana wanitamu? Aoa kalian sudha melakukannya?"
"Belum," jawab Hunt singkat.
"Apalagi yang kau tunggu?"
"Entahlah, aku ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu."
"Apalagi yang ingin kau pastikan? Kau ingin Larry yang mencicipi tubuh Paula terlebih dahulu?"
"Tidak!"
"Jika tidak, maka cepat lakukan bodoh!"
"Kenapa jadi kaubyang kesal?"
"Aku kesal pada orang bodoh dalam hal ranjang sepertimu!"
"Jangan membuatku kesal, Gary!"
"Dimana anak itu sekarang?"
"Aku menyuruhnya berkeliling Sala Silvermine. Beberapa waktu lalu aku menemukannya tidur digudang minuman setelah menghabiskan satu botol wine spesialku!" jelas Hunt yang disambut gelak tawa dari Gary.
"Lalu sekarang kau akan membiarkannya berkeliaran? Jika satu botol wine mu kosong lagi, kau tidak bisa marah padanya."
Seketika Hunt memandang layar laptopnya dan mencari keberadaan Paula. Benar saja, lagi-lagi gadis itu masuk kedalam gudang minuman. Dengan segera, Hunt berlari menuju lift dan menjemput Paula.
Saat tiba di gudang, satu botol wine hampir saja kosong karena diminum Paula. Gadis itu terlihat mabuk lagi kali ini. Hunt mendengus kesal, ia meraih tubuh Paula, lalu menggendongnya.
"Turunkan aku, Hunt!" protes Paula.
"Apa yang kaublakukan disini?"
"Aku haus, dan minuman milikmu sangat enak. Hik!"
"Kau mabuk, ayo kembali kekamarmu!"
"Hik, Hah? Aku bosan dikamar, Hunt! Aku ingin bermain, berbelanja, dan menikmati hidupku!" rengek Paula.
Lelaki itu tak menghiraukan Paula, ia terus saja berjalan menuju kamarnya. Ya, kamar pribadi Hunt. Lelaki itu akan membawa Paula kesana. Entah untuk apa, tetapi Hunt ingin mengawasi Paula disana.
"Kau hanya milikku! Tidak akan kubiarkan siapapun menyentuhmu selain aku!" gumam Hunt.
Paula sudah terlelap dalam pelukan Hunt. Perlahan Hunt merebahkan tubuh gadis itu diatas ranjang. Ia duduk disamping ranjangnya dan mengamati wajah Paula yang terlihat damai dalam tidurnya.
"Sebentar lagi tubuhmu akan terasa panas lagi, sayang. Dan aku tidak akan menyiakan saat itu."