Malam ini Elrina berniat untuk mengatakan semuanya kepada Dewa. Entah apa nanti yang akan Dewa katakan. Dan apa yang nanti akan Dewa pikiran tentang dirinya. Elrina hanya bisa pasrah
Elrina tidak akan menyalahkan Dewa jika marah. Bahkan jika Dewa sangat membencinya pun dia akan terima.
Ini berat, ini sangat berat baginya. Entah kesalahan apa yang pernah ia lakukan.
Di satu sisi dia sangat mencintai Dewa dan di sisi lain, orang tua yang telah membesarkannya. Masalah apa yang pernah dialami keluarganya, hingga dia yang harus menepati janji orang tuanya.
Berkali kali Elrina menarik napas. pikiran dan hatinya benar-benar berat.
Tak lama setelah dia duduk di restoran, Dewa datang. Dewa melambaikan tangannya dan tersenyum.
~tuhan, sanggupkah aku menyakiti hatinya saat dia sedang bahagia?~ batin El
" kamu udah lama nunggu aku?" tanya Dewa seraya menarik kursi dan duduk di depan El.
" belum kok baru lima menit." El tersenyum menutupi hatinya yang sakit
" makan dulu yuk, kamu mau pesen apa?" tanya Dewa
" aku samain kayak kamu aja." jawab El
Dewa dengan sigap mengangkat tangannya, memberi kode kepada waiters bahwa dia akan memesan.
" mbK saya pesan beef steak dua, sup abbalon dua. minumnya lemon tea ice dua." tutur Dewa
" baik pak, untuk makanan penutupnya hari ini kami ada gratis ice cream caramel Sunday untuk pasangan. bapak ibu berminat?" jelas waiters
" iya boleh." ucap Dewa
" baik, silahkan di tunggu pesanannya." ucap waiters
Di sela sela menunggu, Mereka bercanda dan saling tersenyum. Dewa merasa makan malam ini terasa romantis.
Tapi bagi Elrina, ini makan malam terakhir untuk mereka berdua.
Dewa angkat bicara setelah selesai menyantap makanan penutupnya.
" El, kemarin kamu bilang ada hal penting yang harus kamu sampein ke aku." tutur Dewa
" masa sih aku ngmong gitu?" jawab El belum siap.
" iya kamu bilang gitu, masa kamu lupa?"
El yang benar-benar belum siap melihat dewa terluka hanya bisa terdiam gelisah.
" kamu kenapa? cerita ke aku kalau kamu punya masalah." tutur Dewa penuh perhatian.
" maaf....." lirih El
" maaf kenapa?" Dewa mengelus punggung tangan El.
" maaf....." air mata El jatuh
" kenapa malah nangis?" Dewa semakin menggenggam tangan El.
Terdengar suara isakan kecil dari mulut El.