Waktu sudah lewat dari jam pulang kerja yang seharusnya, tapi aku masih berada di kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang harus selesai hari ini juga. Beberapa karyawan di ruanganku sudah pulang, tinggal tersisa beberapa. Sialnya, di antara beberapa itu Rendi menjadi salah satunya yang masih belum pulang dan tampak serius di depan komputernya.
Devon sudah mengeluarkan bantal leher miliknya, yang ia gunakan untuk menyangga lehernya yang kini tengah menyandar di kursi kerjanya. Lelaki itu turut menemaniku pulang malam, karena sebagian besar pekerjaan yang aku kerjakan ini merupakan limpahan darinya. Nisa sendiri sudah pulang, karena memang tanggung jawab pekerjaan Nisa tidak terlalu banyak, sehingga gadis muda itu bisa pulang lebih sore.
“Kayaknya gue besok mau bawa lemari aja deh ke kantor, gue mulai mikir pulang ke rumah itu sesuatu yang gak efektif, kalo besok pagi masih harus balik lagi ke sini.” Devon mengeluhkan rutinitasnya yang pulang ke rumah di malam hari, yang mana keesokan paginya masih harus kembali lagi ke kantor, yang di nilai tidak efektif karena memang hanya berada di rumah dalam waktu beberapa jam.
Aku melirik lelaki itu, yang wajahnya sudah keruh karena banyaknya pekerjaan yang sedang kami kerjakan ini. Matanya terlihat lelah menatap layar komputer kami yang menampakkan lembar kerja yang tiada habisnya. Gelas kopi di mejanya sudah berganti lebih dari tiga kali, aku sampai prihatin melihatnya mengonsumsi kafein sebanyak itu. Entah sudah seperti apa warna lambung Devon di usia tiga puluhan ini.
“Minta naik gaji dong, kerjaan banyak banget gini, masa gaji gak naik naik.” Aku ikut mengeluh, menyinggung perihal kenaikan gaji yang jarang sekali datang, padahal kami sudah bekerja keras hingga larut malam.
“Loh, lo masih butuh duit emang, Ra?” Devon kini menoleh ke arahku, mulai menyinggung soal finansial yang menurutnya tidak di butuhkan olehku.
Aku yang paham ke mana arah pembicaraan lelaki itu hanya melotot kesal. “Enggak sih sebenernya, gue kalo abis gajian tuh duitnya suka di terbangin buat main pesawat pesawatan saking gak butuhnya.” Aku menanggapinya dengan santai, dan malah membalasnya dengan candaan yang menyombong.
Terdengar suara tawa Rendi karena ucapanku itu, yang meski pelan tapi aku dapat menangkapnya. Lelaki itu tidak mengalihkan perhatiannya dari layar komputer, entah ia tertawa karena ucapanku atau karena sesuatu yang ia lihat di layar komputernya. Aku pun enggan untuk mengonfirmasinya.
“Gak usah ketawa lo, Ren! Ini kerjaan banyak gara gara shipment lo, ya!” Devon segera menunjuk ke arah Rendi, yang memang sebagai dalang dari lemburnya kami seharian ini, karena customer customer baru yang di pegang oleh Rendi.
“Loh, bagus dong. Bonus jadi kenceng kan.” Rendi memandang Devon dengan wajah tak berdosa.
Devon berdecak keras. “Bonus lo yang gede karena marketingnya, bonus kita mah tipes,” kata cowok itu yang jengkel dengan pekerjaan yang entah kapan akan selesai untuk malam ini.
Rendi menatap kami bingung, ia yang memang masih karyawan baru tidak terlalu paham dengan alur pekerjaan di sini. “Emang CS gak dapet bonus per-shipment? Kayaknya gue offer harga tuh udah include sama bonus buat CS deh.”
“Coba, berapa tuh bonus CS?” Devon terdengar mengetes Rendi.
“Tiga ratus ribu per-shipment.” Rendi menanggapi. “Kadang kadang gue jual lima ratus ribu, kalo customer gak nawar.”
“Terus di bagi satu tim. Bu Anggri lah yang dapet paling gede, ke gue tinggal sisa gocap paling.” Devon masih menggerutu perihal pembagian bonus di setiap shipment yang kami kerjakan, yang mana jumlahnya memang tidak besar. Tapi aku tidak terlalu menyetujui ucapan Devon, sebab jika di hitung, hasil bonus itu lumayan juga. Bayangkan saja, lima puluh ribut per-shipment di kali seratus shipment dalam sebulan. Itu kan sepadan, ya meski tetap masih banyakan jatah Bu Anggri.
“Tapi kan kalo seminggu ada dua puluh shipment, lumayan loh, Dev! Lo kaliin deh gocap tuh, bonus doang bisa empat jutaan. Belom gaji lo yang dua digit. Lo nih duit banyak suka gak di anggap ya!” Aku mengoceh, menceramahi Devon perihal penghasilannya yang memang lumayan itu, tapi sering kali tidak di anggap oleh lelaki itu, dan selalu merasa bahwa dirinya sobat fakir miskin yang perlu di kasihani.
“Kebutuhan kan banyak, Ra. Harga apartment gue aja mahal.”
“Yaa lo gak kira kira, ngapain sewa apartment di kawasan elit. Lo juga sih gak tau diri!” Aku masih beradu argumen dengan Devon, karena tingkah cowok itu yang memang menempati apartment di kawasan yang cukup mahal, yang biasa di huni oleh para selebgram dan anak anak pejabat. Yaah, memang bagus sih untuk circle pertemanan Devon, tapi kan seperti menyiksa diri, tapi yaa sepadan juga memang dengan penghasilan Devon yang besar – yang selalu lelaki itu keluhkan dan mengatakan bahwa itu kecil. Lalu apa kabar gajiku per bulan? Di anggap remahan?
“Bagus itu, Ra! Buat keren kerenan kalo cewek nanyain gue tinggal di mana.”
“Enak juga ya, Dev. Kalo ngajak cewek maen?” Rendi bersuara, mengarahkan obrolan tipikil man to man yang sudah pasti berbau jorok.
Aku hanya memutar bola mataku, enggan untuk mengikuti obrolan mereka jika arahnya sudah ke sini.
Namun, Devon justru malah kembali menanggapi. “Iya dong, nyaman juga kan mainnya, di tambah sama pemandangan laut dan gedung makin mantep nih, Ren. Lo gak mau pindah ke apart gue?”
“Terus lo mau maen sama Rendi ya, Dev? Hii, serem.” Aku kali ini turut menimpali, karena gemas dengan ucapan Devon.
Devon melotot ke arahku, lalu melemparkan aku bantal leher yang tadi di pakai lelaki itu. “Diem lo! Istri pejabat gak usah ikutan pembahasan cowok lajang.”
“Sialan! Gue tinggal nih ya kerjaan lo!” aku balas mengomel seraya mengancam.
Dan perdebatan itu kembali panjang, dengan Rendi yang hanya cengegesan melihat kami yang terus beradu argumen untuk mengisi waktu lembur ini. Hal tersebut setidaknya membuat kami tidak merasa kecapekan saat menjalani hari lembur yang sampai larut malam begini, meski pas sampai rumah tetap terasa sih segimana capeknya setelah melakukan aktivitas seharian penuh.
Pukul sembilan malam, akhirnya kami mulai bersiap untuk pulang meski pekerjaan ada yang masih belum selesai. Kami memutuskan untuk melanjutkannya esok lagi karena kondisi badan kami yang sudah sangat lelah. Aku pun sudah mengeluh berkali kali, lantaran punggungku pegal pegal.
Mulut j*****m Devon pun mulai beraksi, mengatakan bahwa punggungku pegal bukan karena kelelahan bekerja, tapi karena aktivitas semalam aku bermain di atas. Meski memang tak salah sih, tapi tetap saja aku kesal karena hal seperti itu kan tidak perlu di bahas.
“Muka Tiara merah, berarti bener. Duh, pikiran gue jadi travelling.” Devon masih meledekku, yang sudah malas ku tanggapi dengan bergegas untuk buru buru pulang. “Yah, Ra, jangan marah dong. Becanda doang.” Devon kini tampak panik karena melihat wajahku yang bete.
Aku tidak menggubris ucapannya, melainkan hanya membuang muka dan tidak menyahut sama sekali. Wajahku pun sudah menampakkan ekspresi kesal dan sedang tidak mood untuk bercanda. Semakin panjang meladeni Devon malah bisa membuatku semakin kesal dan sama gilanya, jadi lebih baik ku abaikan saja untuk beberapa saat. Terlebih lagi, sejak tadi Rendi pasti menyimak pembicaraan kami.
“Dev, gue besok di undang ke acara Pratindo. Lo ikut juga, ya?” Suara Rendi yang membahas masalah pekerjaan membuat perhatian sementara teralihkan.
“Pratindo tuh siapa sih?” Devon berpikir sejenak, mengingat nama customer yang kami tangani. “Oh, lo yang pegang kan, Ra?” lelaki itu kini menoleh ke arahku, mengonfirmasi terkait perusahaan yang memang aku handle itu.
“Iya, Bu Rima itu. Lo juga pernah kok kontekan sama dia.” Aku menyahut terlebih dahulu, sebelum benar benar melangkah untuk pulang.
Devon dan Rendi juga sudah bersiap untuk pulang, kini kami sudah berjalan untuk menuju lift sambil membahas terkait undangan perusahaan yang di infokan Rendi itu.
Suasan kantor yang sudah sepi, membuat tak banyak suara yang terdengar. Hanya tersisa beberapa karyawan dari ruangan divisi lain yang juga sudah bersiap untuk pulang, sama seperti kami.
“Iya sih, tapi jarang. Kalo lo gak masuk doang.” Devon menyahut lagi, masih membahas perihal tamu tersebut. “Dateng sama Tiara aja, Ren. Gue gak terlalu kenal sama PIC nya juga, Tiara yang lebih sering komunikasi sama Pratindo.” Lelaki itu kini menunjuk aku untuk menghadiri acara yang di infokan Rendi itu, yang mana Rendi juga ikut datang ke acara tersebut.
Mataku membesar, menatap Devon tidak setuju. Rendi pun turut melihat ke arahku, seolah paham bahwa aku pasti keberatan karena harus datang bersamanya ke suatu acara.
“Gue banyak kerjaan, suruh Nisa aja lah.” Aku melempar tugas tersebut pada Nisa, karena tidak mau pergi bersama Rendi.
“Nisa belom bisa di suruh keluar, dia bisa handle kerjaan lo kok.” Devon membalas ucapanku, dengan menyanggah penolakanku yang enggan untuk pergi bersama Rendi.
“Yaa makanya belajar, kan bareng Rendi.” Aku masih mengelak, dan berusaha mencari alasan apa pun.
“Lah, Rendi juga baru masuk sebulan. Nanti mereka sama sama bingung di sana.”
“Tapi Rendi kan bukan fresh grad. Di kantor sebelumnya pasti pernah lah hadirin acara begitu.” Aku berusaha untuk menolak menghadiri acara tersebut, dengan menyahuti apa pun yang di balas Devon.
“Gak usah banyak protes. Ren, besok lo pergi sama Tiara ya!” Devon tidak memedulikan ucapanku, dan malah memilih untuk berbicara pada Rendi terkait partner yang akan menemaninya dalam acara besok itu.
Aku hanya mendengus sebal, karena pendapatku tidak di pedulikan oleh Devon, yang mana berartu aku tetap harus datang ke acara tersebut. Dan hanya berdua dengan Rendi, bayangkan saja, berdua! Bahkan memikirkannya saja, kepalaku sudah nyaris sakit.
Tidak lagi menyahut atau pun membantah karena merasa percuma, Devon memang tidak paham bagaimana kondisiku saat ini dengan Rendi, dan aku pun enggan untuk menceritakan pada lelaki itu. Jadi, aku hanya bisa mendesah pasrah sembari membayangkan betapa hari esok ku akan suram karena harus terlewati bersama Rendi.
Aku dapat melihat wajah Rendi juga tidak terlalu nyaman saat Devon mengatakan demikian, tapi cowok itu juga tidak banyak protes lagi dan hanya mengangguk paham.
Apa besok aku bolos kerja saja ya? Pura pura sakit sepertinya ide yang bagus. Atau sok mual saja, biar dikira hamil? Oke, itu sudah keterlaluan, aku tidak mau kena kuwalat jika membawa masalah kehamilan itu.