* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *
= = = = = Tiara = = = = =
Keesokan harinya, aku kembali bertemu Rendi di kantor. Kesialan pagi ini sudah berlangsung begitu saja, dengan kedatangan ku ke kantor yang sudah di sambut oleh Rendi seorang diri di dalam ruangan. Ke mana sih karyawan lain? Kenapa semakin sering datang terlambat belakangan ini, hingga membuat aku lebih sering menjumpai Rendi sebagai satu satunya karyawan yang sudah ada di dalam ruangan saat baru datang. Dan tentu saja aku tidak menyukai hal ini, karena harus berhadapan dengan Rendi hanya berdua di setiap pagi.
Aku memasuki ruangan tanpa menyapa lelaki itu, dan hanya langsung duduk di kursi kerjaku. Rendi tampak menoleh sekilas ke arahku, atau tepatnya mengecek karyawan siapa yang baru datang. Saat menyadari bahwa itu adalah aku, Rendi pun turut terdiam dan tidak menyapa sama sekali. Kemarin keamarin sih ia masih sering menyapa, dan aku harus pura pura ramah membalasnya, demi membiasakan diri untuk ramah di depan yang lainnya.
Namun, insiden kemarin rupanya cukup membuat Rendi tahu diri untuk tidak perlu menegurku sama sekali. Aku sangat menghargainya, dan berharap Rendi berlaku seperti ini padaku di setiap harinya, mungkin hidup ku akan menjadi damai dan tenang, tanpa harus merasa uring uringan lantaran sikap Rendi yang kerap kali membuatku nyaris gila.
Lima belas menit berlalu, tetap belum ada karyawan lain yang datang. Bisa bisanya mereka telat begini, lantaran Bu Angry yang masuknya setengah jam berbeda dengan kami, yang tentu saja lebih siang dari kami, membuat Devon, Fitri, atau pun Nisa lebih terkesan santai dalam jam masuk, karena tidak terlihat dengan Bu Angggri sebagai atasan mereka. Sepertinya aku harus mencontoh mereka bertiga, agar tidak perlu lagi terjebak bersama Rendi hanya berduaan begini, di selimuti oleh kecanggungan dan keheningan seperti ini, malah membuatku jadi mengantuk lagi.
Padahal, aku semalam tertidur cukup nyenyak. Aku tidak lupa, aku tidur di atas tubuh Alex dalam keadaan tubuh kami masih menyatu hingga di pagi hari.
Alex tidak melepaskan tubuhnya, padahal ia memindahkan ke samping, tapi posisi kami hingga pagi masih menjadi satu, dan lelaki itu baru menarik tubuhnya saat hendak pergi membersihkan diri.
“Ra, yang PT. Profit Alamsyah itu ada shipment baru ya? Lo atur space buat pengiriman minggu depan kan?” Rendi membuka pembicaraan padaku, dengan bertanya mengenai pekerjaan yang berhubungan dengan aku dan dia.
Aku yang tersadar dari lamunanku buru buru mencerna ucapannya, lalu mengecek terlebih dahulu terkait pertanyaannya yang berhubungan dengan pekerjaan ku. Mungkin jika Rendi mengucapkan hal yang buka n pekerjaan, aku akan lebih memilih mendiaminya saja alih alih menjawabnya.
“Iya, dapet kapal yang berangkat minggu depan. Gue kirim nih schedule nya ke email lo.” Aku menyahut seraya tanganku bergerak untuk mengarahkan kursor di komputerku untuk mengirimkannya email schedule vessel terkait shipment yang ditanyakan Rendi.
“Oke. Thanks, Ra.” Rendi menjawab ucapanku, setelah mendapatkan apa yang di butuhkannya terkait pekerjaan ini.
Keheningan kembali menyelimuti kami, karena merasa sudah tidak ada lagi yang perlu di bahas. Kami hanya fokus untuk mengerjakan pekerjaan masing masing tanpa bersinggungan lagi, aku mengembuskan napas lega karena tak harus banyak berinteraksi dengan Rendi karena insiden kemarin itu. Setidaknya Rendi kembali lebih menghargai privasiku dan tidak menganggap bahwa kami harus merasa terbiasa untuk menjalani kehidupan normal layaknya dua rekan kerja yang baru kenal.
Mungkin Rendi bisa bersikap seperti itu, tapi aku tidak bisa. Dan aku tidak mau mencobanya, jika Rendi ingin memainkan peran itu sendirian, silahkan. Tapi aku tak mau mengikutinya dan tetap teguh dengan pendirianku bahwa aku memilih untuk membatasi interaksi ku dengannya demi kepentingan pribadi. Demi keamanan dan kenyamanan batinku tentunya.
Sampai kapan aku harus merasa seperti ini, melalui hari hari dengan Rendi berada di sekelilingku. Ralat, bukan sekadar di sekeliling, tapi tepat di hadapanku dan kami harus berinteraksi demi urusan pekerjaan. Aku harus bersikap profesional untuk menghadapinya, sementara hatiku menjerit berontak dan enggan untuk berkomunikasi dengannya. Setiap harinya selalu seperti ini, rasa marah, muak, serta getar hangat yang ternyata masih bersisa meski lebih sering di landa rasa kesal yang mendominasi.
Aku harus bertahan sampai kapan dengan situasi ini? Siapa yang akan mengalah di antara kami? Atau aku di paksa untuk mengikhlaskan segalanya karena keadaan kami yang terdesak, tapi mana bisa di paksakan seperti itu? Rasa sesak itu tidak bisa hilang begitu saja, bahkan setelah bertahun tahun terlewati pun rasa sakitnya masih sama. Bukannya aku tidak mencoba, tentu saja aku sudah mencobanya ribuan kali untuk hidup normal tanpa di liputi amarah dan sakit hati karena ucapan Rendi dulu.
Aku sudah mencobanya, membuka lembaran baru, memulai kehidupan baru dengan lingkungan baru. Tanpa ada Rendi, berusaha menghapus namanya dalam ingatan perasaanku. Yang berakhir tidak pernah bisa, aku masih terus dan selalu ingat kejadian malam itu, seolah menghantam isi kepalaku terus menerus, dan enggan untuk di enyahkan begitu saja. Rasanya, sungguh menyiksa. Aku pun tidak sanggup terus terusan merasa seperti ini, tapi aku tidak tahu bagaimana cara melepaskannya. Bagaimana cara agar aku bisa mengikhlaskan segala hal dan rasa sakit yang dulu aku rasakan akibat ulah Rendi.
Tangan dan mataku terus bekerja, memindai puluhan email yang masuk dan meminta untuk di balas satu persatu. Namun, pikiranku seolah enggan berhenti untuk memikirkan hal hal yang tidak penting itu, dan membuat isi kepalaku kini di penuhi dengan berbagai hal yang malah menyiksa perasaaan ku. Pagi ini, dengan keberadaanku yang hanya berdua dengan Rendi, seolah mendukung untuk membuatku larut dalam perasaan dan pikiran yang menyiksa begini.
Sekitar lima belas menit kemudian, kedatangan Devon dan Nisa menyelamatkanku yang semakin terperosok dalam lembah menyesakkan yang tiada berujung. Aku mengucap syukur dalam hati karena kedatangan mereka membuat suasana menjadi tidak sesuram sebelumnya, justru malah membuat ruangan ini ramai seperti sebelum sebelumnya. Rendi pun turut bergabung dalam setiap candaan yang di lontarkan Devon atau pun Nisa, bahkan aku pun sesekali ikut bergabung dalam obrolan tersebut. Tentu saja aku tidak pernah menanggapi ucapan Rendi, dan berusaha tidak menjawabnya sama sekali.
Aku hanya akan berperilaku normal, seperti tertawa pelan saat Rendi mengucapkan hal hal yang lucu, seperti hal nya yang di lakukan Nisa yang terus tertawa centil saat Rendi berbicara. Aku sudah dapat menebak isi hati si anak baru lulus itu, terlihat jelas bahwa ia mengincar Rendi, tanpa peduli cowok itu sudah mengatakan memiliki pacar.
Bukan mengincark sih tepatnya, tapi memang seusia Nisa sedang di landa rasa penasaran yang menggebu gebu, sehingga yang terlihat Nisa sering jalan dengan cowok yang berbeda beda. Padahal, itu merupakan upaya Nisa untuk mencari kecocokkan dari sekian banyak nya pilihan yang ada, dan kadang Nisa pun masih sering berusaha menggoda cowok cowok yang di anggap nya menarik tidak memedulikannya. Maksudnya, tidak menunjukkan tanda tanda bahwa cowok tersebut menyukainya balik.
Jadi, yang aku lihat dari sosok Nisa, cewek itu hanya gemar menikmati wajah wajah cowok ganteng dan berusaha menarik perhatiannya. Urusan cowok tersebut tertarik atau tidak, itu belakangan. Sebab hormon dan rasa penasaran di usia Nisa memang sedang sangat tinggi tingginya.
Aku berdecak saat mengingat kisahku sendiri, yang sok mengomentari usia Nisa dan kebiasaannya. Memangnya apa yang aku lakukan saat seusia Nisa dulu? Apakah aku sebijak itu?
Tentu saja tida, sebagian masa mudaku setelah lulus dihabiskan dengan meratapi kejadian bersama Rendi di puncak itu, serta kaburnya Rendi dari kehidupannya. Maksudnya dengan merantau ke luar kota, yang menurutkan adalah menysuul kekasihnya, tentu saja. Dan yah, aku menjadi korban yang tersakiti dengan perasaan yang tak akan pernah terbalaskan, lalu aku menangis sepanjang malam, meratapi nasib ini. Seolah tidak menerimanya, karena rasa sakit hati yang tengah berada di puncaknya dan memberikan dorongan untuk terus menangis, terlarut, dan begitu pun seterusnya.
Belum ada kata ikhlas yang aku aplikasikan terkait perasaanku pada Rendi. Ini semua ,,, terlalu sulit dan membuat ku tidak pernah paham dengan konsep ikhlas yang sering di agungkan orang orang. Nyatanya aku belum bisa melakukannya, aku tidak semudah itu untuk ikhlas ketika perasaanku sedang berantakan dan kacau, bagaimana mungki n ia tega menyuruhkan ikhlas begitu saja? Setelah apa yang di perbutanya., itu tidak akan pernah mudah.
Tak lama kemudian, Fitri menyusul untuk datang memasuki ruangan ini. Fitri datang menggunakan totebag andalannya dengan merek yang harganya terkenal fantastis. Jadi, meski totebag itu terlihat sederhana, dan mudah di cari juga di toko oren, tapi Fitri pasti membelinya langsung di mall karena parno barang itu palsu. Fitri memang belum terlalu hobi belanja online, karena promonya yang kurang menggiurkan.
Sangat berkebalikan denganku bukan, yang menyukai berbagai jenis dan cara untuk belanja. Belanja langsung aku suka, karena bisa memilih dan menjajal baju di tokonya sehingga aku bisa menilai langsung baju ini cocok atau tidak bagi ku. Tapi aku pun gemar belanja online dan sering kalap untuk belanja di tanggal tanggal cantik yang sebenarnya menjebak saja agar kita tergiur untuk ikutan promonya, yang ternyata sesungguhnya, hasilnya ya sama saja. Tidak ada yang istimewa, selin ongkir 0 rupiah.
Pagi itu berlansung lancar, karena di selamatkan oleh kedatangan teman temanku yang menemani dan memperdamai suasana. Maksudnya mencairkan perang dingin di antara kami. Aku bisa mengalihkan pikiranku sejenak dari masalah Rendi saat mengobrol dengan teman temanku yang lainnya, yang ada di ruangan ini.
* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *
* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *