- 12 -

782 Kata
= = = = = Alex = = = = =   Pertama kali aku bertemu dengan Tiara adalah saat acara ulang tahun temanku, yang kebetulan juga teman SMA Tiara. Sebenarnya acara itu tidak dirayakan besar besaran, hanya sebatas makan makan dengan kerabat yang dikenal oleh Sesil, temanku yang berulang tahun. Kebetulan aku juga berteman cukup akrab dengannya karena satu pergaulan, meski tidak pernah mengenal di satu jenjang pendidikan. Sesil mengundang orang orang terdekatnya, ada sekitar dua puluh orang yang datang di acara barbeque party yang di adakan Sesil di halaman belakang rumahnya. Teman temannya berkisar dari mulai sahabat sejak kecil, hingga teman mainnya di saat ini. Sesil memilih untuk mengundang mereka secara serentak, agar lebih efektif serta saling mengenal satu sama lain. Saat itu lah aku melihat Tiara, ia datang dengan genk SMA-nya. Tampak ceria dan akrab dengan teman temannya. Tiara juga cukup ramah pada teman teman Sesil yang tidak ia kenal, meski tidak terkesan sok akrab. Gadis itu menyapa orang sewajarnya, saling bertukar informasi seperlunya, serta mengobrol sekadarnya. Dalam kesempatan itu juga kali pertama aku menyapanya. “Alex,” kataku saat dulu memperkenalkan diri pada Tiara, menyebutkan namaku. “Hoo, gue Tiara,” balasnya sembari mengambil potongan daging yang sudah dipanggang oleh anak anak yang lain. Katanya, ketertarikan utama itu berawal dari fisik. Aku tidak memungkiri hal itu saat pertama kali melihat Tiara, gadis itu tampak menarik dengan dress selutut yang digunakannya. Tiara terlihat cantik dengan polesan make up yang tidak mencolok, tapi tidak juga tipis. Riasan wajah itu terasa pas melekat di kulitnya, memberikan aura yang semakin membuatnya tampak menarik. Aku menyukai Tiara, sejak saat itu. Meski sikapnya terhadapku juga tak jauh berbeda saat ia menghadapi orang lain, tetap bersikap ramah, tapi tetap membatasi diri. Hal tersebut membuatku semakin tergerak untuk mengenalnya lebih lanjut. Hingga saat acara selesai yang mana sudah cukup larut malam, Tiara pamit pulang duluan karena sudah dijemput temannya. Awalnya aku merasa pupus harapan, karena berpikir bahwa teman yang dimaksud Tiara adalah kekasihnya, hingga aku tak sengaja bertemu dengannya di jalan, yang tengah duduk di pinggir jalan sementara teman lelakinya itu berusaha menghidupkan motor yang mesinnya mati. Aku pun menghentikan mobilku di belakang motor tersebut, lalu keluar dari dalam mobil. Jalanan ini tampak sepi karena bukan jalan raya utama, serta saat ini sudah hampir tengah malam. Aku lihat Tiara hanya menatap pasrah motor dan temannya yang masih berusaha itu, sementara dirinya menunggu sampai motor yang ditatap Tiara dengan penuh kebencian itu berhenti mengadat. Saat aku berjalan ke arahnya, ia seketika menoleh. Matanya memicing sejenak, berusaha mengingat wajahku yang belum familier di matanya. Lalu kemudian aku melihatnya seolah baru menyadari tentang diriku yang dikenalnya beberapa jam yang lalu. “Alex ya?” Sapanya antusias, seolah menemukan bantuan di saat saat terdesaknya. Aku mengangguk. “Iya. Motornya mogok?” Tiara mengangguk, lalu wanita itu berdiri dari duduknya. Tiara tampak berupaya membersihkan roknya yang kotor karena duduk di trotoar.   “Iya nih, udah di sela setengah jam masih gak mau nyala juga. Mana jalanan sepi.” Keluh Tiara dengan wajah yang tampak kesal, tidak peduli temannya itu tersinggung atau tidak. Teman Tiara menoleh, untuk melihat keberadaanku, juga menatap ke arah Tiara. “Nyela setengah jam juga kaki gue yang pegel anjing! Lo liatin doang.” Hardiknya gemas, tampak santai berbicara kasar pada Tiara. Dari situ aku menyimpulkan bahwa cowok ini bukan pacar Tiara. Mungkin ia hanya sahabatnya yang cukup akrab saja. Entah mengapa aku serasa tenang mendengarnya, mungkin setelah ini aku akan menggali informasi tentang Tiara lebih banyak lagi. Mungkin aku harus banyak bertanya juga pada Sesil, yang sudah berteman dengan Tiara sejak mereka SMA. “Yaa gue mana bisa nyela, kalo nyela lo gue bisa.” Tiara menyahut tak kalah santai, meski cowok tadi wajahnya sudah kesal karena kelelahan. “Kayaknya muat deh motornya masukin ke mobil gue. Mau gue anter pulang aja?” Tawarku saat melihat ukuran motornya serta bagasi mobilku yang cukup besar, kebetulan juga di dalam bagasiku tidak banyak barang barang yang membuat space menjadi penuh, sehingga aku yakin motor temannya Tiara itu bisa masuk ke sana. Bukan kah hal itu juga bagus untukku, jadi aku mendapatkan alasan untuk mengantarkan Tiara pulang, sehingga aku bisa mengetahui rumahnya. Aku berusaha menahan senyum saat mengingat hal itu, agar Tiara tidak menangkap senyumanku yang tampak seperti berniat jahat. Maka aku pun buru buru mengembalikan ekspresi tenang ku seperti sebelumnya. “Ide bagus! Nyaris gue buang nih motor.” Teman Tiara menyahut terlebih dahulu sambil menendang knalpot motornya karena kepalang kesal, akibat mesin motor yang mati dan tak mampu di hidupkan lagi, padahal sudah berpuluh kali percobaan yang berujung sia sia. Sebab terbukti dengan adanya cowok itu dan Tiara yang masih terdiam di sini alih alih sudah pulang sejak tadi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN