= = = = = Tiara = = = = =
“Itu suaminya Tiara, Dev?”
Aku dapat mendengar samar samar suara Rendi yang bertanya pada Devon, yang ucapanny tadi tak mendapatkan balasan dariku karena sedang kesal dengan Alex.
“Iya. Disalahin mulu tuh sama Tiara, paling ngambek lagi, ada aja masalahnya tiap ketemu. Gue sampe heran mereka kenapa bisa nikah.” Devon menjawab ucapan Rendi, yang masih terdengar olehku hingga rasanya aku ingin menutup mulut lelaki itu sekarang juga. Kenapa dia pake membahas hubunganku dengan Alex sih pada Rendi?
Aku tidak lagi mendengarkan obrolan antara Devon, Rendi, dan teman temanku yang lain meski perasaanku juga masih kesal karena di bicarakan oleh Devon. Sebab kini langkahku semakin menjauh dari mereka, yang mana membuatku tak dapat menangkap obrolan mereka lagi. Aku tidak peduli meski Devon akan membicarakanku sampai mulutnya berbusa, kini fokusku sedang tidak di sana, bodo amat Rendi tau tentang hubunganku dengan Alex.
Dapat aku rasakan kini Alex sudah mensejajari langkahku tanpa banyak bicara. Aku biarkan saja dia berjalan di sana, tanpa mengatakan apa apa lagi. Aku sudah terlanjur kesal dengannya hari ini, jika memang Alex tetap mau mengikutiku ya biarkan saja. Tapi jangan paksa mood ku untuk menjadi baik, dan jangan sampai menyalahkanku lagi jika bersikap kesal terhadapnya. Tolong ingatkan siapa yang pertama kali membuat masalah, Alex bukan? Jangan sampai aku lagi yang menjadi pemeran antagonis dalam hal ini.
Kini kami melangkah tanpa bersuara sama sekali, Alex juga tidak berusaha untuk menggapai tanganku lagi, ia membiarkan aku berjalan sendiri tanpa berpegangan tangan seperti biasanya. Ia cukup memahami bahwa aku masih kesal dengan sikapnya barusan, yang berarti aku sedang tidak mau di ganggu gugat meski aku tidak protes saat dirinya tetap mengikuti langkahku. Alex pasti sudah tau resiko jika terus mengikutiku di saat mood ku sudah terlanjur buruk. Seharusnya dia memang sudah paham dengan hal itu karena hubungan kami yang berlangsung sudah sangat lama, meski umur pernikahan kami sering dikatakan masih seumur jagung.
“Kamu masuk jam berapa, Ra? Makan di sana gak lama emangnya?” Alex mulai berusaha untuk bertanya lagi, mengalihkan pembicaraan agar tidak terdengar dingin.
Sayangnya, aku justru berdecak karena muak. Kenapa Alex harus menanyakan aku masuk jam berapa sih, bagaimana bisa ia tidak ingat padahal aku berkirim pesan dengannya setiap hari. Tolong garis bawahi lagi, setiap hari! Bukannya sudah jelas aku sering mengatakan jika akan masuk kerja selepas jam istirahat, dan hal itu dilakukan sekian tahun tanpa absen sama sekali. Kenapa harus ditanyakan lagi begini, seperti orang baru kenal?
Aku tak menjawab pertanyaannya, dan hanya mendengus saja. Langkahku terus bergerak untuk menuju tempat makan tersebut tanpa menggubris Alex yang berusaha untuk memperbaiki keadaan. Yaa seenggaknya kalo mau memperbaiki keadaan di pikir dulu, jangan asal ngomong aja. Jangan sampai hal hal gak berguna tadi yang malah keluar dari mulutnya, membuat aku muka dengan setiap gerak gerik Alex berikutnya yang gak pernah bisa memahamiku.
Katanya, cinta bisa tumbuh karena terbisasa. Katanya, rasa nyaman bisa datang jika terus bersama. Katanya, perasaan itu fleksibel, bisa di atur sesuai dengan kehendak kita. Nyatanya, mana? Aku tak merasakan semua hal itu. Nyaris lima tahun aku bersama Alex, rasa nyaman pun seolah enggan untuk menghampiri. Sepanjang hari yang aku rasakan hanya kesal dan perasaan gak enak. Gak enak karena Alex terlalu baik, meski kebaikannya terkadang menyebalkan. Gak enak karena Alex selalu memaklumi segala sikapku, padahal sikap maklumnya membuatku semakin terlihat jahat. Gak enak karena Alex menyayangiku dengan setulus hatinya, padahal aku tidak tahu bagaimana harus membalas rasa sayangnya.
Jika kalian bertanya, mengapa aku bisa menikah dengan Alex? Bukan kah begini lah kehidupan, aku hanya mengikuti takdir yang berjalan. Kriteria hidup monoton yang menjadi kiblat semua orang, habis selesai sekolah ya kuliah, habis kuliah ya kerja, setelah bekerja beberapa tahun, jika punya pasangan ya menikah. Maka aku hanya mengikuti alur tersebut, sebab hubunganku dan Alex memang sudah berjalan lumayan lama. Lantas mengapa aku bisa bertahan selama ini jika aku tidak mencintainya? Karena … mungkin dalam hati kecilku mengatakan, bahwa Alex tidak seburuk itu. Aku bisa bertahan dengannya, seperti bertahan pada hubungan kami yang tidak ada perkembangan, tapi kami tetap bisa bersama. Karena … Alex yang sabar menghadapiku, yang tidak bisa dilakukan orang lain.
Maka aku tidak begitu ragu dengan hubungan ini, meski sepanjang hari yang aku lakukan hanya mengomel atau mengeluh. Aku tetap bersyukur karena sudah menikah, kalian tahu kan beban seorang gadis yang belum menikah, meski banyak yang mengatakan pernikahan tak menjamin kebahagiaan seseorang. Tapi setidaknya ada sedikit beban yang terangkat, aku tidak perlu khawatir di hadapkan dengan pertanyaan kapan nikah, atau khawatir menyaksikan satu per satu temanku menikah dan aku tertinggal sendirian. Aku bisa tinggal di rumah terpisah dari keluargaku, yang mana sangat ramai sekali karena rumah keluarga ku di tempati oleh keluarga besar. Kondisi finansial ku juga semakin terselamatkan berkat Alex. Ada banyak alasan mengapa aku menyetujui untuk menikah dengan Alex, yang sulit dipahami oleh orang lain, dan hanya bisa menganggap bahwa aku jahat.
* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *