- 10 -

714 Kata
= = = = = Tiara = = = = = “Kamu bukannya udah makan mi dua harus yang lalu?” Katanya mengingatkan, yang padahal tidak perlu di ingatkan aku juga ingat, dua hari yang lalu aku habis makan mie instan malam malam karena kelaparan. Hal tersebut jelas karena Alex yang memesan makanan sok surprise padahal aku tidak menyukainya, alhasil aku harus merebus mie instan di malam hari agar perutku tidak kelaparan. “Ya, terus? Emang kenapa?” Tantangku dengan nada suara yang mulai kesal, karena tidak suka dengan ucapan Alex barusan. “Itu udah dua hari yang lalu. Kamu juga gak tau kan mau makan apa, kamu gak ngerti ngerti juga aku sukanya makan apa.” Aku terus mengeluh sambil berjalan menuju mall tersebut, tanpa peduli Alex sempat protes pada pilihan makananku yang dinilai tidak sehat. Alex dan gaya hidup sehatnya, yang menginginkanku juga turut hidup sehat sepertinya, yang mana setiap hari makan sayur sayuran. Memangnya aku kambing. Sudah jelas selera kita berbeda, ya gak usah di paksain lah. Biarkan saja aku memilih menu makanan sesukaku, toh jika memang tidak sehat pun aku yang bermasalah dengan organ tubuhku, aku yang merasakan sakitnya, bukan Alex juga. Kenapa lelaki itu harus repot sih? “Di sana ada nasi juga kan? Kamu gak mau pesen nasi aja?” Alex bertanya lagi. Kontan aku melepaskan pegangan tangannya karena kesal. “Kamu mau nemenin aku makan siang, atau mau ngatur menu makan siang aku sih?” Ucapku geram karena Alex yang sukses memancing emosiku. Wajahku pasti sudah terlihat kesal sekali karena emosiku yang mendadak muncul. Alex memang selalu sukaes memancing amarahku dalam keadaan apa pun, padahal aku sudah cukup pusing menyaksikan Rendi yang tiba tiba muncul di kantor, kini malah harus di hadapkan pada Alex dan segala tingkahnya yang memuakan. “Gak gitu, Ra. Gak baik buat kesehatan kamu loh, makan mi ya minimal seminggu sekali, kamu kan udah pernah operasi usus buntu juga-“ Alex terdengar masih ingin melanjutkan wejangannya yang dipastikan masih panjang, maka aku buru buru segera memotong ucapannya. “Kalo gak mau nemenin yaudah, aku bisa makan siang sendiri!”  Aku memberenggut kesal sambil berjalan lebih dulu, meninggalkan Alex yang masih berdiri di tempat tadi. Memangnya aku peduli dengan pendapatnya yang sok tau dan sok khawatir itu? Jelas saja tidak. Aku dapat mendengar derap langkah kaki Alex yang berusaha mengejarku, tapi aku sudah terlanjur kesal dan melangkah cepat untuk menghindarinya. Bisa gak sih, satu hari saja Alex tidak membuatku kesal, satu hari saja, aku tidak perlu emosi menghadapinya. Satu hari saja Alex melakukan hal yang benar di mataku, tidak salah terus dan membuatku capek menghadapinya. “Ra, tunggu dulu. Maafin aku…”  Alex menggapai pergelangan tanganku, berusaha untuk menahan langkahku yang tenga terburu. Permintaan maafnya adalah kalimat yang tak ingin aku dengar saking seringnya dan aku sudah muak mendengarnya. Aku tidak butuh permintaan maafnya, aku hanya ingin dia bersikap tidak menyebalkan dan membuatku emosi terus menerus. Masa sepanjang tahun memiliki hubungan denganku, Alex tak paham juga sih. “Lepasin! Aku mau makan siang sendiri!” Aku menepis tangannya, ekspresiku pasti sudah terlihat kesal sekali. Emosi yang sejak pagi ku pendam seolah meledak untuk keluar, menemukan sasaran yang tepat untuk menjadi tempat amukanku.. “Oke oke, kita makan golden lamian. Iya aku ikut kamu, gak papa makan mie.” “Ya aku juga gak butuh izin kamu buat makan mie! Kenapa kamu ngatur ngatur makanan aku?” Amarahku semakin menggebu gebu saat mendengar ucapan Alex barusan yang terdengar salah lagi di telingaku. Bahkan sedetik saja aku tidak mampu menghadapinya tanpa rasa emosi yang meronta untuk di keluarkan. Alex terlihat mengembuskan napas beratnya, seolah tengah melatih kesabarannya dalam menghadapiku. Wajah lelaki itu kini berusaha mengulum senyum yang tidak pernah aku sukai. “Hadu, penganten baru ribut lagi.” Aku dapat mendengar sebuah suara yang aku kenali, lalu aku melirik Devon yang tengah berjalan dengan teman teman kantorku yang lain. Ekor mataku juga kini menangkap keberadaan Rendi yang juga berada di sana. Sekali lagi aku mendengus. Enggan meladeni ucapan Devon, dan tak mau menjadi tontontan gratis terlebih di hadapan Rendi, aku segera berjalan meninggalkan Alex dengan perasaan yang masih kesal. Dapat aku rasakan lagi lagi Alex mengejarku, dan aku membencinya. Aku sudah tidak mau makan siang dengannya, lebih baik aku makan sendiri saja jika begini caranya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN