- 24 -

1499 Kata
= = = = = Tiara = = = = = Aku menyesal berangkat terlalu pagi. Gara gara kemarin nyaris telat, hari ini aku dengan inisiatif tinggi meminta Alex untuk mengantarku ke kantor lebih pagi dari kemarin, hingga berakhir lah aku di tempat ini. Tidak ada yang berbeda dengan hari sebelumnya, aku yang datang ke kantor lalu duduk di kursiku tercinta, berhadapan dengan komputer di hadapanku, sembari menikmati sarapanku yang memang lebih sering beli sarapan di jalan lalu makan di kantor, di banding sarapan di rumah. Namun, hari ini ada sesuatu yang berbeda. Aku luput memperhitungkan bahwa kini ada Rendi di kantor, satu ruangan bersamaku, yang kembali menarik perasaan tidak nyaman itu kembali lagi. Aku luput dengan kehadiran Rendi di kantor ini. Seolah belum cukup, pagi ini karyawan lain yang ada di ruangan ini juga belum berdatangan. Ini jam berapa sih? Biasanya mereka sudah datang kok. Aku hanya datang lebih cepat lima belas menit. Dasar penghuni ruangan ini memang suka telat. Nisa juga, padahal masih anak baru, bukannya datang pagi pagi buat caper dikit ke atasan, ini pasti karean Devon yang terlalu ramah dan baik makanya Nisa tidak ada takut takutnya. Ya aku juga gak takut takut amat sih sama Devon, kecuali kalo emang benar salah saat melakukan pekerjaan. Rendi duduk di hadapanku, menghadap komputernya, yang mana berarti menghadap ke arahku juga. Hanya komputer yang menjadi sekat di antara kami, jika komputer ini transparan, mungkin aku bisa kehilangan kewarasan saat ini juga lantaran harus melihat Rendi dengan jelas selama seharian – dan akan berlangsung terus menerus – aku jelas tak sanggup. “Ng, ngopi gak, Ra?” tanya Rendi, seolah memecahkan keheningan di antara kami. Aku mengembuskan napas yang terasa begitu berat saat mendengar suaranya menelisik indera pendengaranku. Sampai kapan aku harus bertahan dengan situasi seperti ini? “Tiara?” suara Rendi kembali memanggilku. Astaga, ternyata harus di jawab ya. Padahal jika aku tak menjawab, itu berarti kan aku memang sengaja tidak menggubrisnya. “Iya, Ren?” aku sok tidak mendengar pertanyaannya sebelumnya, karena sudah terlanjur tadi mencueki. Ya sudah, anggap saja aku tadi pura pura tidak dengar. “Kenapa?” tanyaku lagi. Tanpa mengangkat kepala untuk melihat ke arahnya. “Lo ngopi gak? Gue mau beli kopi nih.” Rendi mengulang kembali kalimatnya. Aku menggeleng. “No, thanks, Ren.” Aku menyahut pelan, lalu berusaha melanjutkan aktivitas ku lagi di depan komputer, sok sibuk agar dikira banyak kerjaan sehingga Rendi tidak akan mengganggu ku lagi. “Okay. Gue mau beli kopi dulu ya, Ra, tolong bilangin kalo ada yang nyariin.” Katanya yang mulai berdiri dari kursinya. Aku hanya mengangguk, lalu saat melihat sosoknya sudah menghilang dari pandanganku, aku segera mengambil napas sebanyak banyaknya, memanfaatka segala waktu yang tersedia selama tidak ada Rendi di ruangan ini. Ya, sana! Pergi yang lama, semoga antrian kopinya panjang, kalo bisa sampe jam sebelas siang. Oke. Doaku ini terdengar tidak mungkin, yang ada Rendi malah kena omel atasannya karena keluar terlalu lama. Tapi ya bagus juga, biar Rendi di pecat dan aku bisa bekerja di sini dengan nyaman. Baik lah, kini aku terdengar sangat jahat. Padahal jelas bukan begitu maksudku. Aku hanya enggan untuk berhubungan dengan Rendi lagi, lantaran masih sakit hati, dan aku tidak nyaman dengan perasaan ini, terlebih saat harus melihat wajahnya terus menerus. Beberapa saat kemudian, karyawan lain mulai berdatangan. Di mulai dari Devon, di susul Fitri, lalu yang terakhir Nisa. Wah, si junior paling muda ini sungguh paling merasa nyaman ya sampai datang ke kantor paling siang. Devon juga tidak protes sama sekali sih, tapi memang belum telat juga sih. “Sarapan lo udah abis ya, Ra?” tanya Devon, saat melihat di mejaku sudah tidak ada mangkuk makanan berisi sarapanku seperti biasanya. “Udah! Lo datengnya kelamaan.” Aku membalas tanpa menoleh pada lelaki itu, memilih untuk fokus membalas email yang masuk ke dalam inbox emailku. Devon mendengus pelan. “Lo yang dateng kepagian, kesambet setan apa sih? Abis begadang ya sampe pagi sama laki lo?” Lelaki itu terdengar usil dengan suaranya, membahas perihal hubungan suami istri yang aku lakukan bersama Alex. Aku seketika menoleh, lalu melotot. “Justru gue tidur nyenyak, karena udah nikmat. Ngapain sampe pagi sih, gue mainnya dari sore.” Devon gantian melotot ke arahku, saat aku menjawabnya dengan di lebih lebihkan. Biar rasakan tuh kalo jadi orang sok pengen tahu. Aku yakin, bahkan Devon dengan pacarnya tidak melakukan hubungan di luar batas seperti itu, Devon cukup cupu dalam berhubungan. Ya bukan berarti saat pacaran aku juga nakal, tentu saja aku sangat santun saat pacaran dulu. Jadi, untuk saat ini, dalam hal sek*ual aku jelas lebih senior di banding Devon karena sudah menikah. “Mampus! Iseng sih mulut lo, Dev!” Fitri tampak puas mentertawakan Devon yang langsung terdiam saat aku mengatakan demikian. “Lo gak berpengalaman, diem aja deh.” Kata Fitri lagi yang semakin senang meledek Devon. Lalu aku mendengar sebuah tawa yang ku kenal. Sialan, tawa Rendi yang sudah menduduki kursi kerjanya. Rupanya tadi lelaki itu mendengar ucapanku, aduh aku malu sekali. Tapi, yasudah lah, aku kan memang sudah menikah, kenapa harus malu juga. “Kalo lo, rencana nikah kapan, Ren? Pacaran selama itu pasti udah siap siap dong?” Fitri kini berbalik untuk bertanya pada Rendi. Aku dapat melihat raut wajah Rendi yang seketika berubah, tapi lelaki itu buru buru menyamarkannya dengan senyuman. “Doain aja secepatnya, Fit.” Ia menyahut, dengan jawaban yang mencari aman tapi tidak spesifik. “Udah tunangan belom sih?” Fitri bertanya lagi. Baik lah, aku juga penasaran sih. Rendi jarang sekali update tentang hubungannya, aku sampai berpikir bahwa aku tidak akan di undang saat ia menikah. Padahal biar bagaimana pun juga, aku kan salah satu temannya dulu. Meski aku tetap kesal terhadapnya, sepertinya aku malah akan memilih tidak datang ke pernikahannya. “Belom nih.” Rendi menyahut lagi, dengan suara yang lebih rendah. Menyadari nada suara Rendi, Fitri tampak iba mendengarnya, sehingga wanita itu tak bertanya lagi karena kasihan dengan Rendi. Aku turut menatapnya prihatin. Rupanya hubungan lelaki itu tidak berubah sama sekali. Sejak dulu, hingga kini, kemungkinan besar pacarnya tetap memiliki sikap yang sama, tidak pernah menghargai Rendi. Aku justru heran kenapa Rendi bisa sampai mau bertahan hingga detik ini, yang hanya memperpanjang usia hubungannya saja, padahal tidak ada perkembangan apa pun. “Ra, woy! Ngeces itu liatin Rendi doang.” Suara Devon seketika menyadarkan ku, hingga buru buru menoleh ke arahnya sambil melotot. Ucapan lelaki itu yang kencang tentu saja terdengar jelas, pasti Rendi kini tengah melihat tampangku yang seperti orang bodoh. Devon berengsek! Bisa gak sih, kalo mengutarakan pendapat gak usah teriak teriak. “Apaan sih?” kataku dengan suara yang terdengar jelas sangat kesal. Aku melotot ke arahnya. “Nanti siang ikut gue meeting ke luar kantor.” Devon berkata lagi, menjelaskan tujuannya memanggilku. “Duh, sama pelayaran ya? Ngurus order yang masalah ini?” Wajahku kini memelas, saat membayangkan tentang pekerjaan kami yang sedang memiliki masalah sampai harus meeting dengan banyak orang, agar bisa di bantu keringanan biaya yang sudah menumpuk di pelabuhan. “Iya, lo yang ngerjain kan itu. Jadi gue yang komunikasi sama orang orang.” “Kan lo lebih di percaya sama mereka, Dev. Mereka mah kalo gue yang ngomong gak di dengerin, mikirnya gue kacung remah remah banget, yang gak mampu ambil keputusan.” Aku menyampaikan isi hatiku saat membahas pekerjaan kami, yang memang posisinya sering kali di ragukan oleh klien, yang lebih suka berkomunikasi langsung dengan Devon atau pun Bu Anggri. “Sebagai istri bos, lo harus menunjukkan wibawa lo dong. Nanti pas perusahaan di wariskan gimana.” Devon kembali membahas hal tersebut, yang membawa bawa Alex. Aku melotot lagi. “Gak usah mulai deh! Kakaknya Alex banyak, kali!” “Wah, ada perebutan tahta gitu dong, Ra? Lo merencanakan strategi apa sama laki lo biar jadi pewaris.” Fitri kini ikut nimbrung. “Apaan sih, gak ada! Gue gak mikirin gituan juga, itu urusan dia lah. Gue gak peduli sama perwarisan apa lah itu.” Aku menyahut dengan nada suara kesal, karena tak suka dengan pembahasan semacam ini. Devon dan Fitri hanya tertawa melihatnya. “Kak Tiara, kalo Kak Alex cari istri ke dua, aku mau daftar dong.” Suara Nisa seketika membuatku melotot. “Wah, minta di lempar CPU gue yang suka nyetrum lo, Nis.” Aku menyahut dengan asal, yang di sambut tawa oleh orang orang yang ada di ruangan ini. Wah, aku posesif juga ternyata. Biar bagaimana pun, aku mana mungkin rela jika Alex sampai ada main dengan wanita lain. Enak saja. Kami sudah menikah ya, kalo mau main main kenapa gak dari dulu aja, jadi aku kan gak perlu menikah dengannya. Kalo sampai hal itu terjadi, aku benar benar akan melemparkan CPU kantorku yang sering nyetrum ini ke wajah wanita yang berani mengganggu wilayah teritorialku. * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN