Tanpa sadar, aku pun melanjutkan tidur lagi, karena begitu nyaman menghirum aroma shampo pada rambut Tiara, hingga membuat rasa kantuk terbit lagi. Masih ada satu jam lagi, aku akan menikmati jam tidurku dengan memeluk istriku tercinta ini, berkelana menelusuri alam mimpi yang mana wanita ini selalu menjani peran utama dalam setiap mimpiku. Aku mencintainya dengan segenap hatiku, aku sangat menyayanginya, hingga tak mampu untuk mengukur seberapa besar rasa cintaku ini. Yang aku tau, aku menginginkan Tiara untuk bersamaku, untuk terus ada di sisiku, untuk selalu ada di sampingku .
Tak apa jika sikapnya terkadang menyebalkan, atau tutur katanya yang terdengar ketus, wajahnya yang sering di tekuk. Aku menikmati setiap mimik wajah yang di tampilkannya, senyum tipis yang sering terbit di bibirnya, serta perhatian perhatian kecil yang ia tunjukkan dengan malu malu itu. Tiara memang seperti itu, tidak pandai untuk mengutarakan perasaannya, mungkin yang terlihat ia memang lebih sering marah marah atau ngambek dengan berbagai alasan padaku. Tapi aku yakin bahwa ia tidak benar benar marah padaku, sebab berikutnya ia akan kembali bersikap biasa terhadapku.
Aku akan terus berusaha untuk menjadi yang terbaik untuknya, agar ia selalu nyaman berada di sisiku. Terkadang memang aku yang lambat mengenali sikapnya, hingga membuatnya selalu kesal dan marah, aku mengakui hal tersebut memang kesalahanku. Aku bersyukur karena Tiara memiliki banyak stock maaf untuk kesalahan kesalahan kecil yang sering aku lakukan dan membuatnya kesal. Meski banyak orang yang mencibir Tiara karena sikapnya itu, yang aku tentang mati matian bahwa hal tersebut jelas bukan kesalahan Tiara.
Terkadang, memang banyak orang yang mendadak ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Begitu hal nya juga dengan rumah tangga ku dan Tiara. Banyak sekali mulut mulut sok tahu yang memberikan komentar dan pandangan, mendadak menjadi bijak dalam menilai sesuatu, seolah memberikan saran yang padahal menjerumuskan, hanya berlandaskan dari apa yang mereka lihat dan dengar, tanpa peduli dengan keterangan yang sudah aku sampaikan.
Mereka bilang Tiara tidak baik untukku. Mereka bilang Tiara hanya memanfaatkanku saja. Aku selalu kesal setiap kali mendengar pernyataan tersebut, dari sisi mana Tiara memanfaatkanku. Jelas jelas aku yang mengejarnya mati matian, sementara Tiara pada awalnya sering kali menolak untuk bersamaku. Aku yang menginginkannya, kenapa jadi Tiara yang di tuduh memanfaatkanku? Bahkan Tiara sama sekali tidak berminat dengan urusan keluargaku, perusahaan ayahku, atau materi materi lainnya yang aku miliki, yang sering kali di bahas oleh orang lain.
Tiara tidak terlalu memusingkan hal tersebut, bahkan lebih memilih untuk hidup biasa saja, tidak mau terlihat mencolok yang membuat semua orang tahu bahwa ia menikahi anak orang kaya. Tiara bahkan memilih untuk tetap bekerja sebagai karyawan biasa, alih alih bergabung dengan perusahaan keluargaku, sebab ia tak ingin terlibat dalam politik kantor keluarga yang mana akan banyak huru hara dan selisih paham. Tiara jelas menghindari hal hal semacam itu, mengapa ada saja orang yang tidak memiliki hati, dan menganggap bahwa Tiara memanfaatkanku?
Pukul tujuh lewat beberapa menit, akhirnya aku kembali bangun. Karena terlalu terlelap dalam tidur, aku sampai tak menyadari bahwa sosok Tiara sudah menghilang dari sampingku. Rupanya wanita itu sudah bangun. Mataku kini menangkap sosoknya yang masih menggunakan bathrobe, tengah memilih baju kerja di lemari pakaian kami.
Tiara terlihat sudah segar, yang berarti wanita tersebut sudah selesai mandi. Alih alih berganti baju terlebih dahulu, aku melihat sosok itu justru tengah mengeluarkan setelan kerja milikku dari dalam lemari, lalu menaruhnya pada sofa panjang yang tersedia di ujung tempat tidur kami, yang memang satu set dengan tempat tidur ini saat kami membelinya.
Tiara melihat ke arahku yang sudah bangun. Lalu ia menyapa, “Pagi.”
Aku tersenyum pelan seraya menyahut. “Pagi.”
“Baju kamu udah aku siapin ini ya, kamu mandi dulu sana.” Tiara menunjuk pakaian yang sudah di siapkannya itu, lengkap dengkap dengan dasi dan ikat pinggang yang membuat aku selalu bingung jika di suruh mencari sendiri.
“Sayang, boleh tolong ambilin handuk?” Aku meminta tolong pada Tiara untuk mengambilkan handuk yang ada di kamar mandi, lantaram tubuhku yang masih belum menggunakan apa apa.
Tiara tak menyahut, tapi wanita itu segera bergerak menuju kamar mandi lalu mengambil handuk milikku, yang kemudian di serahkannya pada ku.
“Makasih ya,” ucapku.
Tiara hanya mengangguk pelan.
Aku segera bergegas menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhku. Sedangkan Tiara mengganti bathrobe nya dengan pakaian kerja, yang akan berlanjut untuk menata rambutnya serta memakai sedikit riasan di wajah.
Saat tengah menuangkan botol shampo ke tanganku, ternyata isi shampo tersebut nyaris habis. Aku berusaha untuk memencet mencet isi botol tersebut, membuat cairan yang akan berubah menjadi busa itu tertuang hingga tetes terakhir. Namun, nyatanya hanya sedikit shampo yang keluar dari sana, hingga tak begitu berbusa untuk mengeramasi rambutku yang lumayan tebal. Bahkan meski sudah ku tuangkan air pun tidak terlalu berefek.
Aku pun memutuskan untuk meminta tolong lagi pada Tiara, untuk memberikan aku shampo yang baru, yang memang tersedia di laci yang ada di kamar kami. Memang tadi aku malas saja sebenarnya, jadi berusaha untuk menuangkan terus menerus padahal isinya sudah nyaris tak bersisa. Jika sudah begini kan aku tidak punya pilihan selain memakai shampo yang baru, dari pada rambutku menjadi kaku karena keramas kekurangan shampo.
“Ra …” aku memanggil Tiara yang masih terdengar ada di dalam kamar, belum keluar dari sana.
“Iya?” Suara Tiara terdengar menyahut.
“Tolong ambilin shampo dong, habis nih.” Ucapku karena tidak mungkin keluar lagi dari kamar mandi, lantara separuh rambutku sudah memakai shampo yang tadi tersisa dikit. Mataku juga akan sedikit pedih saat shampo tersebut menetes mengenai wajahku.
Tak lama kemudian, derap langkah Tiara terdengar mendekati kamar mandi, lalu terdengar ketukan di pintu kamar mandi. Aku pun membuka pintunya sedikit, hingga tangan Tiara terulur untuk memberikan shampo tersebut yang tadi aku minta. Botol shampo dengan merek yang sama dengan yang sebelumnya habis itu segera aku sambut agar proses mandi pagi ini segera selesai, dan aku akan segera berangkat ke kantor.
“Makasih, Sayang.” Ucapku dari dalam, seraya sedikit berteriak agar terdengar olehnya.
“Yaa,” Tiara menyahut pelan, lalu langkah kakinya kembali terdengar menjauh dari kamar mandi, yang artinya ia sudah kembali melakukan aktivitas lain untuk berangkat kerja.
* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *