“Anak anak udah pada nyampe, lo mau naik apa? Sandi udah ngomel ngomel tuh.” Kata Rendi seraya memberitahuku tentang teman temanku yang sudah sampai terlebih dahulu di tempat kami janjian.
Aku melirik jam di tanganku. Memangnya jam berapa sih, kenapa mereka cepat sekali sampai? Padahal kan masih sore, dan ini baru telat setengah jam dari waktu janjian kami. Yaa, memang sudah telat sih. Seharusnya tadi aku pulang on time, tapi karena ada meeting dadakan yang mana melibatkan Rendi juga, membuat kami jadi terlambat pulang.
Mobil Rendi masih berjalan pelan di sampingku, beriringan dengan dering ponselku yang ada di dalam tas. Aku pun segera merogohnya, lalu membaca nama kontak tersebut. Rupanya Chaca, kemungkinan ia akan menanyakan aku sudah di mana.
Aku pun mengangkatnya, meski malas menyahuti tentang lokasi tempatku berada saat ini.
“Ra! Lo udah di mana?” Chaca tanpa basa basi segera menanyakan posisiku.
“Udah mau nyampe.” Aku menyahut, tentu saja berbohong. Naik MRT saja belum, bahkan haltenya masih lumayan jauh. Bagaimana bisa sudah mau sampai, tapi nyaris semua orang seperti itu kan saat ditanyakan posisi mereka ketika sedang janjian?
“Bohong! Masih di SCBD!” Rendi berteriak lumayan kencang, saat menyadari aku tengah berbohong dengan orang di telepon, yang pasti sudah ia tebak kalo itu salah satu dari teman teman kami.
“Siapa tuh? Rendi ya? Lo bareng Rendi, Ra?” Chaca lebih fokus dengan sahutan Rendi, di bandingkan dengan ucapanku.
“Enggak. Gue mau naik MRT.” Aku menyahut lagi, sambil terus berjalan menuju stasiun MRT.
“Udah mau nyampe apanya anjir, lo baru mau naik MRT. Belum lagi nunggunya lama! Itu Rendi naik MRT juga?”
Aku mendesah berat, menanggapi ocehan Chaca yang sudah tak sabaran saat menunggu orang.
“Tiara udah di mana?” terdengar suara Azril di ujung sana, yang pasti sudah sampai, sesuai dengan ucapan Rendi.
“Masih di SCBD, baru jalan ke stasiun MRT.” Chaca menyahuti Azril.
“Rendi juga baru jalan kan, suruh bareng aja lah. Sekali kali bareng Rendi gak bakal langsung mati kok.” Suara Sandi terdengar menyahut, membuatku berdecak saat mendengarnya.
“Gue denger lo ya, Sandi!” Aku berkata dengan garang, yang segera di sampaikan Chaca pada Sandi.
“Cepet Ra! Lo bareng Rendi aja, tadi dia bilang mau bareng lo, tapi lo gak mau.” Suara Sandi terdengar lagi, aku jadi curiga panggilan ini di speaker oleh Chaca.
Aku menoleh ke samping, melihat Rendi yang masih santai mengemudikan mobilnya mengikuti langkah kakiku yang pelan. Lelaki itu menyadari aku yang tengah mempertimbangkan untuk pergi bersamanya atau tidak, ia hanya mengangkat satu alisnya dengan santai.
“Cepet, Ra naik. Sebelum gue di klaksonin sama mobil mobil di belakang.” Rendi turut mendesak aku juga. Mereka seolah tengah berkonspirasi agar aku terjebak bersama Rendi, aku lebih benci melihat Rendi yang malah mengikuti aksi ini. Hell, siapa yang dulu tidak nyaman karena aku menyukainya? Sampai melarangku segala. Kenapa sekarang sikapnya jadi seperti ini? Sudah merasa tenang, karena aku tidak mungkin menyukainya lagi? Karena aku sudah menikah?
Aku tertawa sumbang dalam hati, ternyata seperti itu ya pikiran Rendi.
“Iya! Iya!” aku menyahut dengan malas pada teman temanku yang ada di telpon, lalu melangkah untuk masuk ke dalam mobil Rendi. Saat aku menggapai gagang pintu, masih belum bisa di buka.
“Bukain dong pintunya!” Aku berbicara dengan nada kesal, saat berkali kali mencoba buka pintu tapi tak kunjung bisa.
Rendi menoleh, menatapku dengan bingung. “Yang depan lah, Ra! Emang gue supir taksi, lo mau duduk di belakang gitu!”
Aku berdecak keras, memang tadi aku membuka pintu yang belakang, karena enggan duduk di depan yang mana bersebelahan dengan Rendi. Karena malas berdebat, akhirnya aku mengalah untuk membuka pintu depan yang sudah tidak terkunci.
Wajahku masih tertekuk saat memasuki mobil, hingga hanya segera memasangkan sabuk pengaman tanpa mengatakan apa pun lagi. Rendi hanya terkekeh pelan melihat tingkahku, dan aku tentu membenci hal itu.
Rendi menyalakan musik di mobilnya, untuk mengisi keheningan yang tercipta di antara kami. Lelaki itu tak lagi banyak bicara, dan memilih untuk fokus menyetir mobil serta menghadapi kemacetan yang sudah mengular.
Hal tersebut, justru malah membuatku yang diam diam melirik ke samping, dan mencuri pandang terhadap sosok itu. Aku menelan ludahku yang terasa kasar. Ketika otak dan hatiku tengah bekerja sama untuk menjerumuskan logikaku.
Perawakan Rendi sudah banyak berubah sejak terakhir kali kami bertemu dulu. Rendi versi dewasa kini lebih rapih dan memperhatikan penampilannya, mungkin karena pekerjaannya sebagai marketing. Aku pernah mengatakan, bahwa aku memang menyukainya karena fisiknya yang tidak bisa di bantah. Garis wajahnya yang tegas, matanya yang tajam, hidungnya yang proporsional – tidak mancung sekali, tapi tidak memendam ke dalam juga – serta potongan rambutnya yang tidak aneh aneh. Tepatnya, potongan rambut macam apa pun slalu cocok dengan wajahnya.
Warna kulit Rendi tidak terlalu putih, justru agak kecoklatan. Tapi kulit itu berwarna coklat bersih dan terawat, memberikan aura seksi yang membuat banyak wanita terpikat akan daya tariknya di pandangan pertama. Seperti halnya aku dulu. Namun, sebagian besar wanita, hanya menganggap Rendi sebagai cowok ganteng yang menarik untuk di lihat, tapi tidak berharap untuk di dekati. Meski sikap Rendi yang humble dan friendly, mereka seolah sepakat untuk tidak memiliki perasaan lebih terhadap Rendi. Sayangnya, tidak seperti aku dulu, yang membiarkan perasaan itu berkembang tak tau diri, hingga bertemu pada ujung yang menyedihkan.
“Kalo sekarang gue bilang, lo gak boleh suka sama gue, Ra! Soalnya lo udah punya suami.” Suara Rendi tiba tiba saja menusuk gendang telingaku, membuatku terkejut dan buru buru mengalihkan pandangan. Sial, ternyata aku terlalu lama menatapnya, hingga ia menyadari hal tersebut.
Aku merutuku kebodohanku sendiri, yang kebablasan memperhatikannya. Aku pun kini menghadap ke jendela. Berusaha untuk melihat ke arah mana pun asal tidak ke arahnya.
“You know, I hate you!”
Rendi hanya tertawa pelan menanggapinya. “Iya, tau kok.”
Sikap ini, sikapnya yang santai dalam menanggapi segala sesuatu, bahkan untuk hal ini sekali pun membuatku menelan ludah kasar. Rendi sudah bisa berdamai dengan masalah kami dulu, dengan berusaha bersikap lumrah padaku. Sebab, sejak dulu di matanya, aku memang tidak sepenting itu kan?
Aku buru buru mengatasi perasaan ini. Aku tidak boleh begini, tidak boleh.
Tanganku mengepal erat, berusaha untuk meredam emosiku yang mendadak menguasai. Kepalaku terus menempel pada jendela, dengan pandangan tak tentu arah. Berbagai pikiran seolah memaksa masuk ke dalam kepalaku, membuatku kesulitan untuk mengatasi hal tersebut.
Terjebak berdua dengan Rendi seperti ini, terasa seperti terlempar pada masa lalu. Saat aku hanya berdua dengannya, lalu membahas hal yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Malam yang niatnya akan aku kenang dengan indah, karena merupakan moment langka, di mana aku bisa jalan jalan berdua dengan sosok yang aku sukai kala itu, berubah menjadi malam paling menyakitkan sepanjang hidupku.
Aku mengeluarkan ponselku, mengecek aplikasi kendaraan online yang tadi aku instal, lalu melihatnya sudah muncul di layar depan ponselku. Aku segera membuka aplikasi tersebut, lalu menekan asal untuk tujuan, semata hanya agar cepat dan aku bisa segera keluar dari sini.
Rendi tampak melirik ke arahku yang tengah memainkan ponsel dan berusaha memesan taksi online.
“Ra, sori ...” kata Rendi, yang kini terdengar merasa bersalah dengan ucapannya tadi.
“Turunin gue di depan aja.”
“Ra, plis jangan gini.”
“Gue udah dapet taksi.”
“Tiara!”
Citt..
Rendi mengerem mobilnya secara mendadak, hingga menimbulkan bunyi klakson dari belakangnya secara beruntun. Lelaki itu turut terkejut, karena lalai memperhatikan jalanan yang semakin ramai, hingga membuatnya nyaris menubruk kendaraan di depannya.
“Gue turun di sini, tolong bukain pintunya.” Aku kembali berbicara, saat menyadari mobil Rendi tengah berhenti karena macet.
“Gue harus kayak gimana, biar lo bisa bersikap biasa aja?” suara Rendi kini terdengar rendah, pertanda bahwa lelaki itu tengah serius. Tatapannya mulai menggelap, menatap mataku yang mulai memanas.
“Berhenti bersikap seolah olah, kita baik baik aja. Gue muak liat lo!” aku berteriak frustrasi, emosiku sudah mendominasi. Mata yang tadi memanas, kini tampak sudah mulai berair. Atau mungkin air itu sudah mulai membasahi pipiku. “We’re not ok. Never!”
“You’re married!” Rendi membahas hal tersebut, yang membuatnya jadi lebih percaya diri untuk muncul dan bersikap santai di hadapanku, hanya karena aku sudah menikah.
“It’s not changed everything between us. Gue gak baik baik aja liat lo kayak gini, lo paham gak sih?”
Suara klakson dari belakang kembali bergema, seolah meneriaki mobil Rendi yang masih diam padahal jalanan di depannya sudah mulai kosong. Rendi mengalihkan perhatiannya sejenak, untuk mengemudikan mobil. Wajahnya sudah mengeras, pertanda lelaki itu mulai menganggap ucapanku serius.
“Gue turunin lo di depan,” katanya, tak membahas hal tadi lebih lanjut, dan memilih untuk menuruti permintaanku. “Sori, gue Cuma berusaha biar lo terbiasa.”
Aku tidak menyahuti ucapannya lagi, sebab berikutnya Rendi benar benar menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Tanpa mengatakan apa pun, aku buru buru keluar dari mobil, lalu berjalan yang berlainan arah dengan mobil tersebut agar tak bisa lagi mengikuti.