- 36 -

2132 Kata
Mobil Rendi sudah kembali berjalan, karena enggan untuk di teriaki pengguna jalan lainnya. Aku mendesah lega, karena akhirnya terbebas dari tempat yang membuatku hanya terkurung berdua dengannya. Aku tidak bisa, tidak pernah bisa, untuk berhadapan dengan Rendi seperti biasa. Tangisku semakin pecah ketika keinginan dari masa laluku kembali menyeruak memasuki pikiranku. Aku pernah menginginkan, suatu hari nanti bisa bersama Rendi dalam hubungan romansa dewasa. Aku bahkan bersabar, dan tidak mengharapkan apa apa semasa kuliah dulu, aku terlalu menghayal babu seperti film film romansa barat yang mempertemukan kedua tokohnya ketika dewasa dengan pikiran yang lebih terbuka. Lalu menjalin sebuah hubungan yang begitu manis dan menyenangkan. Lalu, ketika di hadapkan dengan kenyataan bahwa keinginan tersebut sudah di hancurkan jauh sebelum aku beranjak sedewasa ini, membuat hatiku kembali nyeri. Aku masih terus berjalan tak tentu arah, bahkan melupakan pesanan taksi online yang aku lakukan tadi. Aku memilih untuk mengetikkan pesan pada Lila terlebih dahulu, sebab nama kontak yang muncul paling atas dalam daftar chatku adalah wanita itu, yang menanyakan keberadaanku. ‘Sori, gue gak jadi ikutan ngumpul. Ada urusan mendadak’ Aku mengetik pesan seperti itu pada Lila, lalu tak menunggu balasannya dan buru buru memasukan ponselku ke dalam tas lagi. Kemudian, aku menyetop taksi yang melintas di jalan, lalu menaiki kendaraan tersebut untuk pulang ke rumah. Aku sudah cukup lelah mengahdapi hari ini, dan enggan memperpanjang hariku yang bergulir semakin buruk jika memaksa untuk ikut berkumpul dengan teman temanku, yang menganggap bahwa aku sebaiknya baik baik saja untuk berhadapan lagi dengan Rendi. Yang padahal, aku tidak bisa baik baik saja, mengapa mereka tidak bisa memahami hal itu. Kurun waktu yang terlewati, tidak pernah berhasil menyembuhkan perasaanku yang terlanjur hancur karena ulah Rendi. Tidak pernah berhasil, membuatku berhenti melakukan penyesalan, karena pernah menyukai Rendi. Yang paling aku benci sampai saat ini, bahkan dengan segala sikap buruknya, yang menyakitiku tanpa ampun dengan menolakku dengan telak. Lalu bersikap seolah kami baik baik saja. Sedangkan aku, menyadari satu hal yang paling aku benci. Aku masih menyukainya. Aku masih mencintainya. Hatiku masih berdebar saat melihatnya. Tangisku kembali pecah di dalam taksi, tanpa peduli dengan supir taksi yang menatapku kebingungan karena tangisku yang histeris. Mungkin supir itu juga sudah sering menjumpai penumpangnya yang tiba tiba menangis di dalam taksi ini, sehingga supir itu tidak mengatakan apa apa dan hanya mengemudikan mobilnya meski aku bahkan belum mengatakan alamat tujuanku. Bagaimana caranya mengatur perasaan ini, kenapa orang orang bisa melangkah dengan cepat sementara aku tidak? Katanya, jika sudah memiliki pasangan baru, akan bisa lupa dengan sendirinya. Lalu mengapa hal itu tidak bisa berlaku untuk aku? Aku tidak mau merasa tersiksa dengan perasaan ini, tapi bagaimana caranya agar aku bisa terbebas dengan perasaan ini? Aku baru bisa mengatakan alamatku pada supir taksi setelah setengah jam perjalanan tak tentu arah. Mungkin supir taksi itu juga senang, karena argo terus berjalan, menemani rasa sakitku yang belum juga usai. Tapi aku cukup menghargai inisiatif sang supir taksi yang kini memang sedang sangat aku butuhkan. Jadi, aku tak merasa sia sia harus membayar mahal untuk ongkos perjalananku pulang dari kantor ini. Aku merasakan berkali kali ponselku berdering, menandakan ada telepon masuk. Yang tentu saja aku abaikan berkali kali karena enggan untuk mengangkatnya. Aku tau, itu pasti dari teman temanku, yang kini tengah kerepotan untuk menanyai kondisiku pasca satu mobil dengan Rendi. Aku tak peduli, dan membiarkan hingga ponsel tersebut akhirnya senyap. * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *  = = = = = Rendi = = = = =  Sesampainya aku di tempat teman temanku berkumpul, semua mata segera mengarah padaku. Kami janjian di sebuah kafe yang tidak terlalu ramai, yang mana merupakan usaha milik Rehan sebagai sarana iseng isengnya. Yah, Rehan mengatakan hal tersebut saat di tanya alasannya membuka kafe, hanya untuk iseng iseng, karena merasa punya modal, lalu mendapatkan lokasi serta usaha yang potensial. Aku tidak tau, temanku sebuang buang duit itu. Aksi kumpul yang semula di harapkan berjalan hangat, karena Tiara yang katanya mau ikut berkumpul setelah sekian lama wanita itu tidak mau ikut berkumpul jika ada aku di dalamnya, berakhir menjadi seperti dulu. Tegang dan saling salah salahan. Yang paling di tatap bersalah, tentu saja aku. Sebagai sosok yang baru saja bersama Tiara, dan menjadi penyebab utama wanita itu sulit sekali untuk ikut berkumpul bersama kami. Aku sudah siap siap jika mereka semua akan menginterogasi ku sedemikian rupa, dan akan berujung menyalahkanku seperti kasus kasus sebelumnya saat aku dan Tiara terlibat dalam masalah dan saling menghindar satu sama lain. “Tiara kemana, Ren?” Lila bertanya paling dahulu, saat aku baru saja menempati salah satu kursi yang kosong. Aku menghela napas sebentar, berusaha tenang menyikapi hal ini. Tidak apa, ini sudah sering terjadi dan aku sama sekali tidak terkejut. Permasalahan aku dan Tiara semacam sudah bukan masalah pribadi, karena semua orang terbiasa terlibat. Dalam hal ini pun, tentu saja terjadi lagi. “Minta di turunin di jalan.” Aku menyahut seadanya, karena memang sesuai fakta Tiara meminta turun sewaktu dalam perjalanan aku ke tempat ini. Wanita itu tiba tiba histeris dan menangis, meski hanya berupa matanya yang memerah serta beberapa butir air matanya turun membasahi pipi wanita itu. “Terus, lo turunin beneran?” tanya Sandi, menanggapi ucapanku barusan. Cowok itu kini menatapku dengan lekat, seolah menantikan jawabanku beriktunya. “Yaa, kalo gue gak nurutin, dia pasti udah sampe sini dong.” “Lo apain di jalan.” Azril tak bertanya, melainkan menuduh. Wajahnya sudah tampak sewot saat melihat aku datang sendirian, tidak sesuai ucapanku tadi yang mengatakan akan datang bareng Tiara. “Harus di apa apain ya? Gak di a pa apain juga udah histeris.” Aku menyinggung soal kejadian tadi, saat Tiara mengomel karena masa lalu kami yang sungguh menyakitkan hatinya. Aku tidak sepenuhnya berbohong, sebab Tiara memang nyaris menjerit jerit tak karuan selagi aku berusaha fokus untuk menyetir. Melihatnya tersiksa berada di dalam mobilku, membuat ku menyetujui saat wanita itu meminta untuk turun dan ternyata tidak jadi untuk ikutan suasana ini. Tiara mungkin muak, di kantor sudah bertemu denganku, lalu sepulang kerja pun masih harus bertemu denganku juga. Yang parahnya, tadi kami harus satu mobil pula. Aku bersikap ramah dan wajar terhadapnya, karena berharap kami benar benar bisa seperti biasa lagi. Seperti dulu tepatnya, sebelum ada kejadian malam itu. “Lo sih, San! Pake nyuruh Tiara bareng Rendi, jadi heboh lagi kan!” Chaca menyalahkan Sandi, yang tadi memang terdengar menyuruh agar Tiara berangkat bersamaku saja. “Lah, mereka kan sekantor. Gue pikir udah pada mengebarkan bendera putih.” Sandi berusaha membela diri, yang memang tidak salah juga jawabannya. Seharusnya karena kami satu kantor, kami sudah bisa menyelesaikan masalah ini berdua, tidak membawa teman teman kami lagi seperti dulu. “Terus lo di kantor kalo ketemu Tiara gimana? Eh, lo berdua seruangan kan?” Rehan yang penasaran dengan komunikasi ku di kantor dengan Tiara, yang juga mewakilkan pertanyaannya yang lainnya, kini menatap ke arahku seluruhnya. Aku mengangkat kedua bahuku, pertanda malas menjelaskan. “Ya gitu, gak gimana gimana.” Aku menjawab malas, karena memang tidak ada yang bisa dijelaskan. “Ngomong seperlunya aja kalo ada urusan kerjaan, selebihnya kayak orang gak pernah kenal.” Jelasku kemudian, yang memang seperti itu adanya. Mereka hanya mengangguk dan tidak memperpanjang lagi pembahasan ini, dan membiarkan Tiara absen begitu saja tanpa ada yang menelponnya lagi. Sebab, percuma juga, Tiara memang membutuhkan waktu sendirian untuk saat ini, ia tidak mau di ganggu, terutama oleh kami yang bisa membuat wanita itu semakin terpuruk. Tepatnya, terutama olehku. Malam ini dilalui dengan makan malam di selingi obrolan dan candaan kami semua, seperti dulu, atau pun seperti sebelum sebelumnya. Formasi ini masih sama, jika aku datang, maka Tiara absen. Jika Tiara yang datang, mungkin aku akan sadar diri dengan membuat alasan seperti dulu, karena tau bahwa Tiara masih ingin menghindariku. Lalu, apa arti pernikahannya itu? Apakah Tiara tidak mencintai suaminya? Seketika pertanyaan itu merasuk ke dalam pikiranku, bergantian dengan kejadian saat aku berpapasan dengan Tiara dan suaminya di dekat gedung kantor, yang mana memperlihatkan wanita itu sedang ribut dengan suaminya tanpa pandang tempat. Belum lagi kejadian saat siang itu, saat Tiara mengangkat telepon dari suaminya dengan nada ketus dan singkat, yang kemudian di ledek oleh Devon karena sikap Tiara yang begitu jutek terhadap suaminya. Seolah hal tersebut sudah menjadi rahasia umum, tentang siakp Tiara yang tidak terlalu ramah dengan suaminya itu. Aku seketika bergidik ngeri, membayangkan hal yang tengah di jalani Tiara. Hubungan macam apa yang dijalani Tiara, yang mana sudah melewati ikatan pernikahan? “Zril, suami Tiara tuh, pacarnya yang waktu itu kan?” Aku yang penasaran akhirnya bertanya pada Azril, tentang identitas suami Tiara yang tidak begitu aku kenali. Setahuku, pacar Tiara dulu sering bergabung dengan teman temanku – tentu saja saat aku tidak ada – sehingga mereka lumayan kenal dengan sosok lelaki yang dekat dengan Tiara itu. “Iya. Yang mana lagi, Tiara Cuma pacaran sama dia doang, masa iya nikah sama yang laen.” Azril menyahut santai, memberikan jawaban terkait latar belakang suami Tiara itu. Aku mengangguk pelan, lalu menyendokkan makanan yang ada di piring ke dalam mulutku. Aku mengunyah makananku untuk beberapa saat seraya berpikir sejenak. “Hubungan Tiara sama suaminya baik?” tanyaku lagi, yang masih belum puas mengorek informasi mengenai rumah tangga Tiara. “Yaa, kayak lo sama Nadin aja.” Azril menjawab seadanya, seraya mengepulkan asap rokok yang kini tengah dihisapnya. Chica yang berada di sebelahnya tampak terganggu, hingga terbatuk beberapa kali dan menunjukkan hal tersebut terang terangan pada Azril, agar lelaki itu sadar bahwa asap rokoknya sungguh mengganggu. “Hah? Gimana maskudnya?” aku yang tidak begitu paham, meminta untuk di jelaskan maksud dari ucapan Azril, yang malah membawa bawa hubunganku dengan kakaknya. “Suaminya cinta mati, Tiaranya biasa aja. Jadi keliatan nyebelin, padahal sih emang kadang suaminya yang annoying. Kayak lo kan.” Azril menyahut santai tanpa merasa bersalah sama sekali, meski ia baru saja menghinaku yang berhubungan dengan Nadin, yang merupakan kakaknya sendiri. “Dulu, gue kasian liat lo sama Nadin. Yeah, gue tau Nadin ambisnya kayak apa, sampe gak ada peduli pedulinya sama lo. Tapi lama lama, kayaknya Nadin gak salah, lo aja yang g****k kenapa tahan sama dia.” Azril berkata dengan lancarnya, berpindah topik dari Tiara dan suaminya menjadi mencibirku dengan Nadin. Seolah topik tersebut tidak bosan bosannya di bahas oleh Azril meski sudah berusian entah berapa tahun lamanya. “Ampun yang paling oke.” Aku menyahut seraya menyindir ucapan Azril yang terkesan sebagai makhluk Tuhan paling benar sedunia, sedang kesalahan berkumpul padaku yang berpacaran dengan kakaknya, yang mana sejak dulu memang tak pernah di sukainya.  Aku tak lagi bertanya pada Azril tentang Tiara, kini aku mulai menikmati acara kumpul kumpul dengan teman temanku ini. Kami berbagi banyak sekali cerita, yang sudah aku lewatkan selama tidak bersama mereka. Aku menyimak cerita Sandi, Rehan, Chaca, atau pun Azril. Hanya Lila yang tak banyak bicara seperti yang lainnya, dan hanya tertawa atau tersenyum jika menanggapi sesuatu yang lucu dalam obrolan ini. Aku juga tidak heran melihat sikap Lila yang seperti itu, yang memang sejak dulu tidak pernah berubah bahwa Lila memang hanya bereaksi seperlunya. Bercerita panjang lebar tentang kejadian kejadian seru atau pun lucu, jelas bukan style Lila. Mereka pun banyak bertanya tentang pengalamanku selama tinggal di Surabaya, dari mulai kehidupan di sana, pekerjaan di sana, dan banyak hal lagi yang mereka tanyakan. Mereka juga tak luput bertanya terkait alasanku memutuskan kembali ke Jakarta, tanpa ada basa basi atau pun mengatakan sesuatu pada mereka, dan aku hanya menjawab sekedarnya saja. Karena memang tidak ada alasan khusus saat aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta ini, selain mendapat penawaran pekerjaan yang lebih menggiurkan tentunya. Yeah, aku tidak munafik kok, aku menyukai tawaran pekerjaan dengan benefit yang banyak, seperti yang di tawarkan kantorku saat ini hingga aku tergoda sampai mau masuk ke kantor tersebut. Acara berkumpul malam itu berlangsung hingga pukul sepuluh malam, sampai Lila mengeluh kelelahan dan merengek minta pulang – atau tepatnya memaksa agar kita semua pulang – hingga yang lain tak bisa membantah karena Lila yang cenderung memaksa. Mengingat besok masih weekday, sehingga kami akhirnya menyetujui untuk segera pulang, karena besok harus berangkat kerja seperti hari hari biasa. Kegiatan malam ini berlangsung normal, tanpa membahas Tiara sama sekali, karena hal seperti ini memang bukan yang pertama kali. Mungkin hanya aku yang merasa masih aneh dengan situasi ini, karena berharap bisa bersikap seperti dulu pada Tiara. Yang ternyata tidak. Rupanya, teman temanku bahkan sudah memprediksinya bahwa sikap Tiara memang akan seperti ini. * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN