= = = = = Rendi = = = = =
Kami berpacaran sebelas tahun, sejak aku kuliah hingga detik ini. Selisih umurku dengan Nadin hanya dua tahun, apakah itu menjadi masalah besar? Seharusnya tidak, bukan?
Tahun tahun awal hubungan kami sama seperti pasangan lainnya di masa kuliah. Pergi jalan, makan, nonton, yang di warnai dengan suka cita. Aku menikmati masa masa itu tanpa terbebani sedikit pun, meski lebih sering Nadin menolak ajakanku saat ingin kencan di akhir pekan lantaran ia sibuk belajar.
Nadin begitu ambisius. Apa yang di inginkannya harus tercapai. Jika ia sudah menargetkan sesuatu, baik dalam bidang akademis atau pun organisasi, maka cewek itu akan memperjuangkannya dengan giat. Dulu, saat kami pacaran, aku baru masuk kuliah di semester dua sementara Nadin sudah di semester empat. Meski umur kami selisih dua tahun, tapi secara jenjang pendidikan kami hanya selisih satu tahun lantaran Nadin harus gap year karena tidak di terima di universitas yang di inginkannya.
Aku di ceritakan oleh Azril, betapa Nadin belajar dengan giat demi bisa lulus tes di universitas itu. Sejak mendengarkan cerita bagaimana cewek itu selalu berusaha terkait keinginannya, dan selalu berhasil mendapatkannya, aku sudah sepenuhnya menyukai Nadin.
Aku tidak menganggap hal tersebut berdampak negatif. Justru hal itu membuatku terpacu untuk bisa mensejajari ritmenya yang terlampau buru buru. Aku jadi lebih giat dalam mengerjakan tugas, serta begitu sungguh sungguh dalam dunia kerja untuk mendapatkan jabatan yang mumpuni.
Namun, aku juga tau ada efek yang tidak baik dari hal tersebut pada hubungan kami. Nadin yang selalu mengutamakan ambisinya, hingga terlihat tak pernah menganggap hubungan kami penting. Aku bukan merajuk seperti ABG yang tidak di perhatikan, tentu bukan begitu. Aku hanya ingin, setidaknya Nadin menganggap bahwa kami ini penting. Aku juga ingin, Nadin memperjuangkan hubungan kami seperti ia memperjuangkan segala keinginan dan ambisinya.
Jika Nadin selalu mengesampingkan hubungan kami, bukan kah itu tandanya ia tidak menganggap ini sepenting itu dan tidak layak di perjuangkan?
Sebelas tahun hubungan kami berjalan. Beberapa tahun belakangan ini, aku sudah sering mengungkit dan mengajaknya untuk lebih serius. Aku sudah berkali kali menyatakan diri ingin melamarnya, tapi hingga detik ini Nadin selalu menjawab belum siap, karena masih banyak yang harus ia lakukan. Ia masih sibuk dengan pekerjaannya, pendidikannya, ambisinya, dan masih banyak lagi. Nadin memintaku untuk tidak terburu,
Aku menghargainya. Aku tidak memburu hubungan ini untuk segera menikah demi menghargai pendapatnya. Dan aku menunggunya hingga hubungan kami berjalan selama sebelas tahun. Kurang sabar apa aku menunggunya?
Lalu, beberapa saat yang lalu aku justru menyaksikan Nadin di lamar oleh anak dari pengusaha yang merupakan klien ku? Di tambah lagi, tadi si pembawa acara mengatakan bahwa Nadin adalah kekasih lelaki itu? Lalu hubungan kami selama ini apa?
Kepalaku nyaris pecah saat mengingat kejadian tadi, yang mana membuatku ingin mengobrak abrik seluruh rangkaian acara yang tengah berjalan. Hal ini terlalu sulit untuk di terima dengan akal sehat. Kami pacaran sebelas tahun, dan Nadin selalu mengundur undur setiap kali aku mengatakan ingin serius. Aku selalu menurutinya, lalu apa yang aku dapat? Aku malah mendapatkan pengkhianatan langsung di depan mataku.
Mungkin jika aku tak melihatnya hari ini, aku tidak akan pernah tahu bahwa Nadin ternyata menjalin hubungan dengan orang lain. Yang mana justru malah selangkah lebih maju dari hubungan kami. Nadin menyetujui untuk menerima lamarannya, berbeda dengan lamaranku yang terus terusan di tolak dengan alasan belum siap.
Aku memasuki mobilku selekas acara tadi. Acara yang bahkan belum selesai, tapi aku sudah tak sanggup untuk terus berada di sana. Al hasil aku memutuskan untuk keluar terlebih dahulu, yang juga di ikuti oleh Tiara.
Aku berdecak pelan, saat mengingat kejadian tadi. Aku menangis di pelukan wanita itu, karena tak kuasa menahan sesak yang aku rasakan saat menyaksikan kejadian tadi. Aku menangis di pelukan wanita yang pernah aku buat menangis. Terdengar sangat ironis.
Apa ini yang di sebut karma? Semua ini terjadi karena sumpah serapah Tiara yang pernah sakit hati karena sikap ku dulu? Bukan kah seharusnya Tiara tertawa keras keras tadi, melihat betapa hubungan bodohku ini harus berakhir mengenaskan. Bahkan tidak ada kata berakhir dalam hubungan ini, hanya sebuah pengkhiatan yang tampak nyata di depan mataku. Yang mana juga di saksikan Tiara.
Aku menyuruh wanita itu menjauh selagi tadi Tiara mengikutiku. Dapat aku rasakan bahwa Tiara khawatir dengan keadaanku yang masih shock. Tiara yang sampai malam tadi masih bersikap dingin dan galak kepadaku, lantaran ia yang masih belum terima dengan kejadian kami saat dulu, justru mau merangkulku yang tengah hancur dengan kejadian tadi.
Sesuai dengan ucapan Tiara tadi, yang mengatakan bahwa suaminya akan menjemput, aku jadi menyuruhnya untuk pergi ke tempat suaminya akan menjemput. Aku sedang ingin sendiri saat ini, kepalaku nyaris meledak, hatiku sudah tak karuan, aku mungkin tak akan sanggup memejamkan mata karena selalu di bayangi kejadian tadi. Ketika Nadin tersipu malu, saat menjadi pusat perhatian semua orang. Lalu Delva datang perlahan, menghampiri Nadin, dan berlutut untuk memberikan cincin.
Semuanya terekam dengan jelas, bagai mimpi buruk yang terus menghantuiku. Yang membuatku seolah tak sanggup untuk bernapas dengan benar karena terlalu di tampar oleh kenyataan yang menyakitkan ini. Sore tadi Nadin masih menghubungiku, yang mana malah menyuruhku untuk tidak menghubunginya dalam beberapa bulan ke depan. Apakah karena ini, Nadin memintaku untuk tidak menghubunginya? Karena ia akan bertunangan dengan Delva?
Lalu, tiga bulan kemudian Nadin akan mendatangiku dan memberiku undangan pernikahan, begitu? Tanpa aku tahu sama sekalia tentang kejadian ini yang menurutku sangat gila dan tidak dapat di terima oleh akal sehat. Aku mungkin sudah gila saat ini, karena kenyataan yang sangat menyiksaku.
Aku mengemudikan mobil keluar dari area parkir di gedung tempat acara tadi berlangsung. Alih alih mengarahkan mobil menuju jalan pulang, aku justru mengarahkan mobilku ke jalan lain. Kepalaku sangat penat dan aku butuh pengalihan untuk rasa sakitku ini, aku ingin melupakan semuanya, setidaknya untuk malam ini. Aku tak sanggup saat bayangan itu terus berputar di kepalaku.
Aku akan meminum beberapa botol alkohol untuk mengusir segala hal yang terus bersarang dalam pikiranku ini. Keramaian di tempat hiburan malam mungkin akan mengalihkan penat yang tiada henti aku rasakan saat ini. Jika ada, rasanya aku ingin meminum minuman yang dapat melupakan Nadin untuk selamanya.
Aku membelokan mobilku ke sebuah jalan yang pernah aku lalui, yang mana aku ketahui bahwa di sana ada sebuah club yang ramai di kunjungi mahasiswa atau pun para karyawan selepas pulang kerja. aku mengendurkan dasi yang masih terikat di leherku, lalu membuka beberapa kancing kemeja kerjaku. Dasi yang sebelumnya tidak memiliki masalah apa apa, kini seolah mencekik leherku hingga membuatku kesulitan bernapas.
Setelah memarkirkan mobil, aku pun memasuki club tersebut. Dentuman suara musik di padu dengan gemerlap cahaya lampu yang redup berkilauan menyambutku. Di area dance floor, tampak lautan manusia yang tengah menggoyangkan tubuh mereka mengikuti ritme musik yang di remix oleh DJ yang ada.
Aroma berbagai parfum yang menyengat kini tercium oleh indera penciumanku. Parfum khas para wanita atau pun pria yang tampak berusaha saling memikat satu sama lain, yang mana sering di jadikan tujuan mereka pergi ke tempat ini.
Aku melangkah menuju meja bar untuk memesan minuman dan duduk di sana. Waktu masih menunjukan pukul sepuluh malam, yang mana belum terlalu malam sehingga tempat ini belum terlalu ramai. Tapi siapa yang peduli? Aku ke tempat ini bukan untuk mencari keramaian atau mencari lawan jenis, aku hanya ingin melepaskan rasa penatku yang enggan menghilang.
setelah pesananku datang, aku pun menuangkan cairan dari dalam botol itu ke dalam gelas kecil yang sudah di siapkan. Gelas demi gelas berhasil aku teguk, yang mana rasanya seolah tidak pernah cukup. Aku terus melakukan hal tersebut hingga tanpa sadar sudah menghabiskan lebih dari tiga botol minumal beralkohol ini.
Kepalaku masih ringan, aku tidak merasa mabuk. Segalanya masih berputar dengan jelas, pengaruh alkohol ini sama sekali tidak membuatku lebih baik, aku sama sekali tidak kehilangan kesadaranku, yang mana saat ini sangat ku butuhkan. Aku ingin melupakan kejadian malam ini, aku melupakan rasa sakit yang sangat menyiksaku ini, tapi mengapa minuman ini tidak berpengaruh sama sekali?
Merasa belum cukup, aku memesan lagi dan lagi. Hingga aku tak mengingat sudah menghabiskan berapa botol, yang jelas kini kepalaku mulai terasa berat. Mataku mulai berkunang kunang, bayangan Nadin pada kejadian tadi sudah menghilang, yang justru malah berganti dengan halusinasiku.
Dalam bayanganku, kisah kami indah sekali. Selayaknya kisah cinta pada umumnya, yang mana tidak harus seterjal ini. Nadin yang manis, Nadinku yang ambisius dan menggemaskan, tapi selalu membuatku terkesan. Kenangan demi kenangan bergulir di dalam kepalaku, membuatku menerbitkan seulas senyum yang di susul tawa, hari hari yang ku lalui bersama Nadin terasa luar biasa, karena itu lah aku ingin selalu bersamanya. Aku ingin terus bersamanya, hingga aku luput memastikan bahwa ternyata Nadin tidak ingin bersamaku.
Aku tertawa semakin keras, menertawakan nasibku yang terasa semakin mengenaskan. Jalan hidupku yang ku pikir tidak akan segini panjang dan penuh liku, ternyata tidak sesuai dengan harapanku.
Hingga mataku menangkap satu sosok yang tiba tiba muncul di hadapanku, saat kepalaku yang terasa berat ini sudah terjatuh di atas meja, karena tak sanggup terus menegak. Samar samar, aku menangkap sosok Tiara yang kini duduk di hadapanku, lalu wajahnya tiba tiba berganti dengan wajah Nadin. Hingga aku lebih mempercayai bahwa ini hanya halusinasiku yang semakin melebar.
“Rendi!” suara itu memanggilku.
Mataku sudah terpejam. Aku bahkan tidak tau itu suara siapa. Apakah itu Tiara? Atau Nadin? Aku tidak dapat mengenalinya lagi, kepalaku sudah sangat berat, begitu juga mataku. Pengaruh alkohol ini sudah mulai bekerja di tubuhku, hingga tubuhku semakin lemas dan berakhir dengan tak sadarkan diri di club ini.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *