Kepalaku masih terasa berat, ketika mataku sayup sayup mulai terbuka. Aku merasa tubuhku seperti di seret, hingga mataku menangkap lorong panjang yang ada di hadapanku, lalu menyadari bahwa tubuhku memang tengah di seret oleh seseorang.
Pengaruh alkohol itu masih terasa di tubuhku, hingga membuat kepalaku masih terasa sakit. Aku bahkan tidak tahu saat ini tengah berada di mana, yang aku tahu di hadapanku tengah membentang lorong panjang yang mana di kanan kirinya terdapat pintu pintu serupa pintu kamar. Ini bukan lorong menuju apartemenku, aku sama sekali tidak mengenalinya. Hingga aku menyadari bahwa tubuhku masih terus di seret oleh seseorang yang kini menyampirkan tanganku di bahunya, sebagai upayanya untuk membopongku melalui jalan ini.
“Rendi, bangun dong! Berat banget!” Suara itu merengek, mengeluhkan terkait tubuhku yang terasa berat karena bertumpu pada bahunya. Namun, meski terus mengeluh, wanita itu tetap membawaku bersamanya.
Mataku hanya terbuka sedikit, aku belum sepenuhnya sadar, aku juga belum melihat siapa sosok wanita ini. Pengaruh alkohol ini seolah menghilangkan isi memoriku, aku mendadak lupa mengenali suara orang lain, sehingga aku benar benar tidak tahu siapa wanita ini.
Langkah kami berhenti di depan sebuah kamar, lalu wanita itu membukakan pintu kamar tersebut dan membawaku masuk ke dalamnya. Di mana ini? Mengapa ia membawaku ke sini?
Tanpa sempat banyak protes, tubuhku pun di jatuhkan pada tempat tidur yang tersedia di dalam karena wanita itu sudah sangat kelelahan membawaku hingga ke tempat ini. Tubuhnya yang kecil, kini justru ikut terbawa jatuh di atas tubuhku, hingga membuat kami terjatuh bersama di atas kasur.
Mataku berusaha membuka, tapi yang aku dapati justru malah sebuah ruangan yang tampak berputar. Kesadaranku benar benar lenyap, tubuhku seolah tak menapaki bumi, mengawang entah ke mana. Hingga membuatku tertawa sendiri, tanpa ada alasan yang terdengar lucu.
“Bisa bisanya gue malah peduli sama lo.”
Suara wanita itu kembali terdengar, di iringi tawa pelan seolah mentertawakan dirinya sendiri. Aku masih merasakan tubuhnya menindih tubuhku, mungkin saat jatuh tadi ia masih belum juga bangkit. Namun, aku dapat merasakan napasnya yang terasa tak jauh dari wajahku.
Kesadaranku masih separuh, aku bahkan tidak tahu hal ini nyata atau tidak. Mungkin saja kejadian ini hanya berlangsung di alam bawah sadarku. Mungkin saja ruangan ini tidak pernah ada, atau mungkin saja kejadian saat aku melihat Nadin di lamar lelaki lain juga hanya sebagian dari mimpi buruk ku. Jika aku terbangun nanti, bukan kah semuanya akan baik baik saja? Segalanya akan kembali normal. Nadin akan terus bersamaku seperti seharusnya.
Hingga aku merasakan sebuah sentuhan di wajahku, lalu desah napas yang semakin dekat dan kian terasa di kulit wajahku. Mataku terbuka perlahan, lalu mendapati sosok Nadin yang kini tengah berada di atas tubuhku. Aku tersenyum riang, menyambutnya yang ternyata telah kembali, tatapannya yang kini terlihat kebingungan membuatku tak menyia nyiakan kesempatan itu.
Aku menarik wajahnya untuk mendekat, hingga mendaratkan bibirnya pada bibirku. Aku anggap mimpi ini menjadi penutup yang manis untuk segala mimpi buruk yang sejak tadi berlangsung.
* * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
= = = = = Tiara = = = = =
Mataku seketika membesar saat menyadari situasi gila ini. Rendi menarik wajahku hingga tak menyisakan jarak sama sekali, tangannya terus menelisik rambutku seiringan dengan gerakannya yang memperdalam ciuman ini.
Ini gila. Tubuhku berada di atas Rendi, dan kini lelaki itu tengah memagut bibirku. Aku hanya terpaku dan tak bergerak sama sekali, terlalu shock untuk mengenali situasi ini.
“Nice,” ucap Rendi setelah melepaskan pagutannya, membuatku segera memundurkan kepalaku perlahan. “I love your taste, babe.”
Aku tahu lelaki ini mabuk, ia hanya terus meracau tanpa mengenali situasi apa yang tengah terjadi. Tangannya kini mengusap wajahku semakin intens, seiringan dengan senyumnya yang gamang, pertanda ia masih berada dalam pengaruh alkohol.
Tangannya kini semakin turun untuk menggerayangi area tubuhku yang lain. Sentuhannya terasa intens, membuat gairahku terpancing seiring dengan sentuhannya yang kini sudah merambat pada punggungku, seraya melepaskan pengait pakaian dalam yang aku gunakan.
Aku masih terdiam, bahkan saat Rendi kini sudah membalik posisi kami. Aku sudah berada di bawahnya, sementara Rendi kini tengah asik fokus untuk menanggalkan pakaian atasku, dengan membuka beberapa kancing kemeja yang aku gunakan, sehingga menunjukan bagian tubuhku yang hanya tertutup pakain dalam.
Wajah Rendi kini tenggelam di area leherku, mengabsen setiap inci permukaan kulitku, hingga aku merasakan beberapa sengatan di sana yang membuatku tak kuasa untuk meloloskan desahanku.
“Sh, Ren …” aku menyebutkan namanya, yang terasa begitu indah. Aku ingin memanggil namanya seiring dengan perasaan yang serasa ingin meledak ini. “Iya, Ren. Di situ, ah.”
Rendi menghentikan gerakannya tiba tiba. Membuatku seolah kehilangan sesuatu yang mulai menjalari tubuhku.
Aku pun menunduk, untuk melihat sosok Rendi yang kini tengah kebingungan.
“Ra?” suara Rendi terdengar serak, tatapannya menyiratkan bahwa ia sudah separuh sadar dari kondisi mabuknya.
Aku segera memalingkan wajahku, karena terlalu takut untuk menatapnya. Aku takut saat ia menyadari bahwa hal yang baru saja terjadi, hanya karena afeksi dari alkhol. Sementara aku justru malah menikmatinya dan tidak menghentikannya sama sekali.
“Gue tau ini kedengeran berengsek dan gak tau diri banget. But, I want you so bad, now. Can I?”
Di luar dugaanku, ucapan Rendi justru mengatakan kalimat tersebut, yang membuatku tercengang karena kini sosok itu dalam kondisi sadar.
Aku tau ini gila. Aku sangat tau bahwa perasaanku memang gila, karena masih berlarut hingga detik ini. Namun, rupanya aku masih memiliki fantasi yang lebih gila. Aku menginginkan Rendi, aku juga menginginkannya sejak lama. Bahkan meski dalam keadaan seperti ini, aku masih menginginkannya.
Akal sehatku sudah tenggelam entah di mana, kalah dengan perasaan bodoh yang menemaniku selama bertahun tahun ini. Aku mengangguk pelan, seraya menarik kepalanya untuk mendekat ke wajahku. Deru napasnya kini begitu terasa di area kulit wajahnya. Tanganku mendekap sosok yang aku pikir tak akan pernah teraih ini.
Perasaanku kacau. Aku tau ini salah, tapi aku terus menginginkannya. Lebih dari sekadar gairah, aku menginginkan Rendi bersamaku. Kejadian tadi, yang mana memang menyakiti Rendi, justru malah membuatku berpikir ada sebuah jalan yang tiba tiba terbuka setelah sekian lama aku berusaha membunuh perasaan ini.
Rendi menarik pelan wajahku, menekan area tengkuk ku untuk semakin dekat dengannya. Gerakannya tampak tidak teratur, seolah tengah terburu. Hawa alkohol masih terasa dari napasnya, tapi aku memilih untuk menikmati aroma parfum yang digunakan Rendi, yang mana sudah bercampur dengan keringat milik lelaki itu.