- 45 -

1033 Kata
Aku menyukainya. Aku menyukai semua yang ada pada Rendi. Dari mulai wajahnya yang kini terasa menyatu dengan wajahku, gerakannya yang meski terkesan berantakan – mungkin ia jarang melakukan hal ini – serta aromanya yang terasa lembut dalam penciumanku. Sentuhan Rendi terus menelusuri setiap inci kulitku, tak jarang aku mengerang tertahan, saat tangan Rendi bermain di beberapa area sensitifku. Kepala Rendi tenggelam pada area d4da ku. Aku merasakan gelenyar saliva yang membahasi area tersebut, seiring dengan bibir Rendi yang menyapu di setiap incinya. Aku sering merasakan hal seperti ini saat berhubungan dengan Alex, tapi kali ini terasa luar biasa. Tangan Rendi tak tinggal diam, aku dapat merasakan tangan tersebut menelup ke celana dalamku. Sentuhan jarinya serasa membuatku ingin melayang. Belum lagi saat jari jari tersebut sesekali tenggelam ke dalam liang kewanitaanku. “Renh, pls, cepet … masukin ...” suaraku terdengan putus putus, karena tak kuasa menaham gelora yang tengah menyerangku. Tanganku meremas rambutnya yang mana kepalanya masih bermain di area d4daku. Rendi mengangkat kepalanya, juga tubuhnya. Aku dapat melihat wajahnya yang di banjiri keringat, serta rambutnya yang sudah berantakan. Lelaki itu masih menggunakan pakaiannya secara lengkap, hanya saja kemeja yang digunakannya sudah kusut dan tidak beraturan. Namun, hal tersebut justru semakin menambah aura kesekiannya. Wajah penuh gairah itu, justru semakin membakar perasaanku untuk melanjutkan pergulatan ini. Rendi melepaskan ikat pinggangnya, di susul dengan menuruni celana kerja yang ia kenakan. Mataku membesar melihat pemandangan di hadapanku, serta kondisiku sendiri saat ini dengan pakaian yang entah sudah berserakan di mana. Yang aku rasakan, aku hanya masih menggunakan celana dalamku, yang mana itu pun sudah berantakan sejak Rendi memasukan tangannya ke dalam sana. D4daku naik turun, mengatur pernapasanku yang masih tak beraturan. Mataku terasa menggelap, terlebih saat melihat Rendi kini tengah membangunkan sesuatu miliknya untuk disatukan ke dalam diriku. Wajahnya yang pernah aku puja sedemikian rupa, kini tengah menatapku dengan tatapannya yang tengah di penuhi gairah. Aku menarik kakiku, untuk membuka lebih lebar, mempersiapkan kedatangan benda asing yang tak pernah aku bayangkan. Selagi Rendi melakukan aktivitasnya, tanganku pun tak tinggal diam dengan menurunkan celana dalamku. Aku menekan area intiku, menggerak gerakan jariku di dalam sana. Area tersebut sudah basah sejak Rendi melakukannya tadi. Namun, sensasi kenikmatan itu membuatku ingin terus melakukannya selagi menanti Rendi bersiap untuk memasukan dirinya ke dalam tubuhku. “Are you ready, honey?” tanya Rendi, seraya menyingkirkan tanganku dari sana. Kini tubuhnya sudah kembali di atas tubuhku, menatapku dengan intens. Aku mengangguk pelan, di susul dengan bibirnya yang kini kembali bermain di bibirku. Perlahan, aku dapat merasakan tubuh Rendi yang mulai memasuki tubuhku. Selagi kami bertukar saliva, saling mencumbu satu sama lain, aku mengeluarkan desahanku saat sesuatu yang berada di bawah Rendi sepenuhnya melesak ke dalam tubuhku. “Ahh…” ucapku seraya mendesah pelan. Rendi memundurkan wajahnya sejenak, untuk menatapku beberapa saat. “I love you, Ra.” Ucapnya dengan suara yang terdengar pelan, tapi aku tetap mendengarnya dengan jelas, di iringi senyum manisnya yang sukses membuatku terhipnotis. Tanpa sadar, aku justru malah menangis saat mendengar pernyataan tersebut. Seiring dengan tubuh Rendi yang bergerak di atasku. Aku ingin membalas ucapannya, tapi lidahku mendadak kelu. Kalimat yang ingin sekali aku ucapkan seumur hidupku, mengatakan ‘I love you too’ untuk menjawab ucapan Rendi, membuat hatiku terasa bergetar. “Kamu … kenapa nangis?” Suara Rendi terdengar lagi, dengan tangannya yang kini mengusap air mataku yang mulai mengalir. Aku menyukai suaranya yang terdengar lembut. Aku menyukai sentuhannya yang membuat hatiku terasa bergetar. Aku menyukai gerakan tubuhnya yang terasa pas di tubuhku. Aku menyukai segalanya tentang lelaki ini, hingga aku melupakan sikap berengseknya denganku dulu. Aku menginginkannya, sekali lagi. Setelah mengubur perasaan tersebut sejak lama. Kini, aku kembali menginginkan Rendi. Aku terus menginginkannya dan semua itu membuatku merasa semakin gila. “I love you too.” Kalimat itu akhirnya meluncur dari mulutku, terasa sangat bergetar dan pelan, tapi aku merasa begitu puas sekali bisa mengatakannya. Alih alih mengatakan I love you pada Rendi, aku justru membalas ucapannya dengan I love you too. Bibirku masih bergetar, tapi tanganku buru buru menarik kepalanya untuk mendekat. Aku memulai kembali ciuman kami yang entah sudah keberapa kalinya di malam ini. Aku terus menarik kepalanya untuk menyatukan bibir kami, yang di sambut Rendi dengan membawa serta tangannya meraup pipiku. Tubuhnya masih terus bergerak. Ciuman kami masih terus berlanjut. Tanganku pun bergerak aktif untuk meremat rambut atau pun punggungnya. Bahkan tangan ini sudah melepaskan setiap kancing kemeja Rendi hingga terlepas entah kemana. Tubuh kami kini sepenuhnya menyatu. Terus bersinggungan di setiap detiknya, tanpa ada sehelai benang pun yang memisahkan. Dari mulai kepala kami yang saling menempel, hingga bagian bawah kami yang masih menyatu dengan bergerak semakin cepat, seiring dengan tubuh Rendi yang dapat aku rasakan membesar di dalam tubuhku. Area kewanitaanku mulai berkedut, aku mengentikan aktivitasku sejenak. Tanganku sudah terhenti meremat rambut Rendi, tapi kali ini aku justru memeluknya dengan kuat. Aku belum pernah keluar lebih dulu saat bermain dengan Alex, tapi kali ini aku justru ingin melakukan pelepasan yang membuatku serasa ingin melayang. “Please, wait. Please….”  Rendi yang melihat gelagatku kini mempercepat gerakannya, berusaha mendapatkan kenikmatannya bersamaan denganku. Tangan lelaki itu kini meremas bagian d4daku secara bergantian, dengan kepalanya yang mulai tenggelam di area leherku. Sementara aku mengikuti ucapannya, berusaha menunggunya untuk mencapai pelepasan bersama. Hingga aku merasakan sesuatu miliknya yang terasa membesar di dalam tubuhku. “Ahhh …” kami berteriak bersamaan, seiring dengan keluarnya cairan dari dalam tubuh kami, yang terasa hangat di dalam tubuhku. Rendi terjatuh lemas di atasku, dengan kepalanya yang bersandar di dekat bahku. Keringatnya kami sudah bercampur menjadi satu. Aroma parfum, bau badan kami, serta aroma dari cairan yang berceceran keluar dari dalam tubuhku turut membuat ruangan ini terasa dipenuhi gairah luar biasa. Saat kami berdua merasa kelelahan, tanpa sadar mataku pun terpejam. Tak berbeda dengan Rendi yang turut terlelap dengan posisi masih di atas tubuhku. * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * K I S A H  Y A N G  T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * * *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN