“Tiara gak pernah ngejar ngejar aku, kamu juga tau tentang itu.”
“Aku taunya dia suka sama kamu, padahal dia tau kamu udah punya pacar. Apa namanya kalo bukan ngejar ngejar?” Nadin masih berusaha berkelit dengan ucapannya. Memutar segala macam pembicaraan ini untuk menyudutkanku, yang tak luput dengan membawa bawa Tiara dalam permasalahan kami.
Aku mengembuskan napas untuk kesekian kalinya. Nadin sungguh luar biasa, wanita itu bisa menghilang berbulan bulan lalu kembali seperti tidak punya dosa, tidak pernah peduli setiap kali aku marah dan tidak menyukai sikapnya, lalu bisa kembali lagi seolah tidak pernah ada yang terjadi. Tanpa meminta maaf atau menanyakan perasaanku terlebih dahulu. Begitu lah alur hubungan kami yang usianya nyaris seperti cicilan KPR. Aku hanya tersenyum masam mengingat bahwa hubungan ini tidak pernah berjalan lancar sejak awal, tapi aku masih terus bersikeras mempertahankannya.
Sebut saja aku memang sebodoh itu, terlalu mengharapkan suatu hari Nadin akan berubah, suatu hari Nadin bisa bersikap baik, suatu hari Nadin akhirnya lelah sendiri dan berusaha mencari jalan atau pun tempat pulang. Lalu aku akan menjadi rumah serta tujuan terakhir wanita itu saat telah berlari mengitari dunia. Aku akan menyambutnya dengan senyum bahagia dan suka cita. Aku akan menyambutnya tanpa mengungkit kesalahan apa saja yang pernah di buatnya, karena merasa hal tersebut sudah tidak lagi penting jika Nadin ada bersamaku. Begitu lah prinsip yang selama ini aku pegang untuk bertahan pada hubungan ini.
Namun, meski sudah belasan tahun aku menantikan hal tersebut, bahkan tanda tanda akan sampai pada situasi itu saja tidak pernah tampak. Aku masih terus dan selalu menungggu, berbesar hati menghadapi sikap Nadin yang terkadang memuakan. Tidak apa, aku masih mampu menerimanya, ini adalah pilihanku. Begini rasanya jika kamu mencintai lebih besar, sedangkan sosok yang kamu cintai tidak mencintaimu segitu besar. Jomplang, memang. Tapi aku dalam hal ini, sisi feminimku justru lebih mendominasi. Akan ada hari di mana penantianku bisa berakhir indah, akan ada hari kami bisa bahagia bersama, tidak berlarian sendiri sendiri dengan status hubungan seperti ini.
“Tiara sama sekali bukan ancaman buat kita, Nadin! Aku udah nyakitin dia sejak dulu, dulu, sejak kamu minta aku buat tegas sama Tiara.” Aku membahas kejadian malam itu, yang mana aku pernah melarang Tiara untuk sekadar menyukaiku. “Sekian tahun belakangan ini, udah gak ada Tiara di hubungan kita, tapi hubungan kita pun sama sekali gak membaik. Terus kamu tiba tiba dateng dengan uring uringan, setelah biasanya kamu gak pernah peduliin aku sama sekali, ngabarin aja gak pernah kan, Din? Kamu, sekarang, di sini, dateng karena lihat aku dan Tiara? Apa yang kamu khawatirin?”
Nadin terdiam saat mendengar ucapanku, wanita itu bahkan tak berani menatapku dan memilih untuk menatap ke sembarang arah asal bukan ke arahku. Ia belum menyahut sama sekali, mungkin sedang memikirkan jawaban apa yang tepat untuk di lontarkan terhadapku.
“Aku takut,” kata Nadin, yang akhirnya mengeluarkan suara lagi. Kali ini ia sudah menatap ke arahku, tatapannya tidak setajam tadi. Kini lebih terlihat lembut dan … manusiawi.
Tatapan ini yang pernah membuatku sampai rela melakukan apa pun demi bersamanya, bahkan hingga detik ini pun masih begitu. Aku masih sangat menyayanginya, kenapa Nadin tidak menyadari hal itu? Harus bagaimana aku menunjukannya, agar dirinya bisa peduli dengan hubungan kami?
“Apa yang kamu takutin?” tanyaku, menanggapi ucapannya tadi, yang mengatakan bahwa dirinya takut.
Nadin meremat tangannya, hal yang biasa ia lakukan selagi dirinya bingung. “Kamu, aku, hubungan kita … aku Cuma khawatir aja pas liat kamu sama Tiara. Itu wajar, kan?”
Aku menghembuskan napas berat, tentu itu wajar. Sangat wajar jika Nadin cemburu, hanya saja aku begitu kesal dengan sikapnya yang seolah tidak memedulikan hubungan kami, lalu tiba tiba menyeret orang lain untuk di salahkan atas kerenggangan hubungan kami ini? Aku sudah cukup menyakiti Tiara, tidak mungkin aku tega membiarkannya di salahkan lagi.
Aku mengangguk pelan, masih menunggu ucapan Nadin selanjutnya, yang sepertinya belum selesai.
“Ren, aku sadar banget kalo sikap aku ini ngeselin. Pekerjaan aku, ambisi aku, dan masih banyak hal hal buruk yang ada di diri aku. Kadang, aku juga gak sadar kalo hal itu bikin kamu muak, aku tetep bersikap kayak gitu seolah olah gak bersalah, padahal aku tau itu salah.” Nadin berbicara lagi , membahas akar permasalahan hubungan kami yang paling utama : sikapnya. Tidak ada orang ke tiga dalam hubungan kami, kecuali keegoisan Nadin.
“I try, ngabarin kamu atau kontak selayaknya orang pacaran, tapi aku gak bisa. Aku harus fokus sama pekerjaan aku, Ren. Kamu tau kan, ini impian aku? Aku gak bisa buat ngabarin kamu terus, tapi aku selalu yakin kalo kamu akan jadi tempat aku pulang, kapan pun itu. Aku percaya sama hal itu, makanya kita bisa bertahan sampai detik ini kan?”
Kami bisa bertahan hingga detik ini karena aku yang begitu sabar menghadapi Nadin, tentu saja karena hal itu. Mungkin hal lainnya juga karena Nadin yang tidak pernah melepaskan ku. Jika kalian berpikir, kenapa Nadin tidak memutuskanku saja jika memang dia tidak menginginkan kehadiranku.
Tidak, Nadin menginginkannya. Nadin selalu mengibaratkan bahwa aku rumahnya. Yang kata Nadin, suatu saat nanti ia akan membutuhkan tempat untuk pulang. Lalu aku mempercayai hal tersebut, meyakininya hingga detik ini, mengharapkan moment itu segera terjadi, tapi tak juga kunjung datang.
“Kapan kamu mau pulang, Sayang?” tanyaku, dengan nada suara yang mulai melunak, karena ucapan kami yang semakin intim dan personal.
“Nanti, aku pasti pulang. Aku mohon , tunggu aku. Sebentar lagi, Ren … sebentar lagi aku bisa mewujudkan impian aku, dan aku janji akan pulang ke kamu.” Nadin mengatakan hal tersebut dengan sungguh sungguh, sambil menatapku dengan penuh penghayatan, hingga aku dapat menangkap ketulusan di matanya. “Dan aku takut banget, kalo Tiara bakal main ke rumahku. Aku gak mau, Ren.”
Aku menggapai tangannya, lalu menggenggam tangan tersebut. Aku mengusapnya pelan, lalu menarik kedua tangannya mendekati bibirku. Aku mendaratkan bibirku pada kulit tangan Nadin, mengecupnya dengan penuh perasaan. “Nadin, kamu gak perlu khawatir. Dari dulu, aku Cuma sama kamu, gak akan ada yang lain. Aku janji.”
Nadin menghambur ke pelukanku, lalu memelukku dengan erat. Dapat aku rasakan bahwa wanita ini sedikit terisak dalam pelukanku. “Aku sayang kamu, Ren. Selalu. Kamu harus percaya itu, meski sikap aku kadang nyebelin, tapi aku sayang kamu.”
Aku mengangguk, untuk menunjukkan bahwa aku memahami ucapannya. Aku tau Nadin menyayangiku, karena itu juga aku masih berada di sini.
“Iya, aku tahu kok. Jangan nangis dong, kita gak jadi makan siang nih.” Aku sedikit bercanda, menyinggung soal Nadin yang menangis di bahuku. “Kemeja aku nanti basah sama air mata kamu loh.”
“Ihh!” Nadin segera melepaskan pelukannya dari tubuhku, kini wajahnya kembali tertekuk karena ucapanku. “Aku gak nangis tuh, nanti maskara aku luntur.” Katanya berkelit.
Aku terkekeh pelan. “Kamu pake maskara apaan sih, sampe bisa luntur? Emang gak waterpoof?”
“Kok kamu tau sih jenis jenis maskara?”
“Kan aku pernah ngasih kado itu dulu sama kamu. Terus di jelasin sama spg nya.” Jelasku, mengigat bahwa aku memang pernah membelikan produk make up tersebut sebagai hadiah salah satu pencapaian Nadin yang aku sudah lupa apa itu. “Lipstik math juga pernah.” Aku menambahkan.
Nadin hanya tersenyum geli. “Pulang ngantor massage yuk, Sayang? Badan aku pegel pegel nih, nanti sore aku free kok.” Katanya seraya menyuapkan makanan yang sudah ada di meja kami itu.
Akhirnya, kami bisa makan siang dengan damai, setelah perdebatan panjang tentang hubungan yang telah kami jalani belasan tahun ini. Aku pun turut lega, karena bisa makan bersama Nadin, hal yang sangat jarang bisa aku lakukan.
Sekadar makan siang bersama pacar saja, sukses membuat mood ku menjadi naik. Mungkin setelah ini, aku akan menjalani hari hariku dengan bahagia dan bersemangat. Aku mengesampingkan masalah Tiara terlebih dahulu, jika memang hubungan kita tidak bisa baik seperti dulu, setidaknya kita bisa bekerja sama layaknya rekan kerja pada umumnya. Aku hanya ingin seperti itu, agar pekerjaanku bisa lebih mudah. Tidak canggung setiap waktu, setiap kali aku berurusan dengan Tiara. Belum lagi melihat wajah Tiara yang tersiksa setiap kali melihat wajahku.
Entah sampai kapan Tiara ingin terus bersikap begitu, yang mana hanya membuat wanita itu tidak nyaman sendiri. Kenapa sih, sesulit itu untuk Tiara bersikap biasa saja terhadapku? Memang apa lagi yang menjadi masalah, saat wanita itu sendiri sudah menikah. Seharusnya itu menyelesaikan perasaan macam apa pun yang di milikinya terhadapku kan? Begitu pula dengan patah hatinya, bukan kah seharusnya itu terobati oleh suaminya? Yang mana seharusnya, ia bisa bersikap wajar denganku , karena sudah bisa menikah. Harusnya begitu bukan?
Tapi kenyataannya tidak begitu. Tiara tidak bisa bersikap normal padaku. Aku membayangkan hari hari yang terus berlanjut, dengan menghadapi sikap Tiara yang akan terus seperti itu terhadapku. Mungkin aku yang harus terbiasa, dan menanggapinya dengan normal seperti rekan kerja pada umumnya.
Aku juga harus pandai pandai mengarang bebas jika sampai karyawan lain menyadari kecanggungan interaksi kami – yang justru lebih sering memilih untuk tidak berinteraksi. Itu lah yang di harapkan Tiara setiap kali melihat wajahku, hingga aku hafal ekspresi itu.
Ah! Aku sampai lupa memberitahu hal ini pada Nadin, perihal Tiara yang sudah menikah.
“Sayang?” panggilku lembut.
Nadin menoleh. “Kenapa?” sahutnya, seraya masih menikmati makanan yang aku pesankan untuknya. Aku menyukai melihat Nadin yang begitu lahap memakan makanannya. Hal tersebut justru semakin menambah aura kecantikannya.
“Kamu benean gak perlu khawatir sama Tiara. Dia udah nikah.” Terangku, memberitahu fakta tersebut pada Nadin agar wanita itu tidak perlu mengkhawatirkan hubungan ku lagi dengan Tiara.
“Oh ya? Bagus dong.” Nadin tersenyum cerah, seperti lega mendengar kabar tersebut. Senyumnya masih terus mengembang, pertanda ia puas sekali dengan berita yang aku sampaikan. “Berarti, she’s totally move on ya harusnya, buktinya sampe udah nikah gitu.” Nadin memberikan komentarnya lagi terkait urusan Tiara.
Aku hanya tersenyum lebar menanggapinya. Benar kan, bahkan Nadin juga berpikiran yang sama terhadapku. Seharusnya Tiara memang sudah move on, dan bisa bersikap wajar terhadapku lagi.
* * * * * * * * * * * * K I S A H Y A N G T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * *