Aku terlambat tiga puluh menit saat kembali ke kantor, yang mana aku sudah izin kepada atasanku untuk ketelatab tersebut. Aku tidak menjelaskan detail alasannya, beruntung atasanku pun fleksibel dan tidak banyak tanya.
Sekian lama tidak menghabiskan waktu bersama, tentu aku dan Nadin memerlukan waktu yang lebih lama meski kini sedang berada di jam kantor. Nadin sendiri sedang renggang, dan tidak harus segera kembali bekerja. Aku pun berusaha menyesuaikan jadwalnya.
Selepas makan siang tadi, Nadin memintaku untuk mengantarnya ke area promosi yang ada di salah satu gedung di kawasan perkantoran ini. Aku pun menemaninya untuk membeli tad branded yang harganya di diskon sehingga menggiurkan mata mata kaum hawa saat melihatnya.
Shopping itu memakan waktu kurang lebih setengah jam, dan aku kembali ke kantor tepat pukul setengah dua siang.
Mata para rekan kerja seruanganku seketika menoleh, saat pintu ruangan terbuka lalu aku masuk ke dalam ruangan. Aku agak tidak nyaman sebenarnya dengan tatapan mereka, mengingat keributan yang sempat terjadi di restoran tadi, serta aksi drama kami saling berpelukan, pasti tak luput dari penglihatan mereka. Aku yang terlalu fokus dengan Nadin, hingga tidak menyadari kehadiran teman teman kantorku itu.
“Udah, Ren, pacarannya?” Goda Fitri, saat aku baru duduk di bangkuku. Belum ada satu menit aku memasuki ruangan, ternyata Fitri sudah membahasnya. Aku hanya terkekeh pelan, dengan sikap rekan rekan kantorku yang gemar untuk menggoda satu sama lain.
“Udah dong.” Aku menyahut dengan nada pongah, meladeni godaan Fitri. Aku sudah biasa dengan perlakuan perlakuab begini, sehingga mampu menanggapi dengan santai.
Chaca dan Lila sering bertingkah bahwa mereka penggemarku garis keras, maka aku hanya meladeni mereka dengan candaan balik. Yah, tidak ada bedanya dengan orang orang di kantor ini kan.
“Syahdu banget pacarannya sampe peluk pelukan di sushi tei.” Devon mulai bersuara, membahas aksiku tadi saat di restoran jepang tempat kami makan. Benar kan aku bilang, pasti hal ini akan di bahas oleh mereka, secara mereka bisa melihatnya.
Meski obrolan kami tidak mungkin terdengar, karena letak meja yang lumayan jauh. Bahaya juga jika sampai mereka dengar, sebab nama Tiara di catut berkali kali. Yang ada mereka malah mengetahui permasalahanku dengan Tiara. Itu jelas tidak baik untuk pekerjaan kami satu sama lain.
“Kak Rendi kayak udah gak ketemu bertahun tahun sama pacarnya, sampe gak bisa nahan peluk pelukan sebelum makan.” Kini Nisa turut berkomentar, sama hal nya seperti Devon yang membahas pelukanku tadi bersama Nadin.
Next time, jika aku ingin makan siang lagi bersama Nadin, saat melihat keberadaan teman teman kantorku sepertinya aku harus mengurungkan niat untuk makan di tempat yang sama dengan mereka. Aku akan memilih alternatif tempat makan lain, asal tidak satu atap bersama mereka, sehingga mereka bisa melihat segala aktivitasmu yang kemudian akan di bicarakan sepanjang hari kerja.
“Emang jarang ketemu, Nis.” Aku menyahuti Nisa yang mengatakan bahwa aku dan Nadin seperti orang yang tidak pernah bertemu bertahun tahun.
“Oh ya? Kak Rendi LDR?” Nisa bertanya dengan nada antusias.
“Jangan di jawab, Ren! Bahaya kalo Nisa tau lo ldr-an. Di pepet sampe mampus lo, karena dia percaya, hubungan LDR itu gak akan pernah berhasil.” Devon bersuara lagi, menjelaskan terkait hal yang dipercatai Nisa itu, yang kini tidak memedulikan cowok itu dan memilih untuk mendengarkan jawabanku.
“Yaa gitu deh, LDR kerjaan sih. Dia kerjanya ke mana mana, jarang di Jakarta.” Aku menanggapi seperlunya. Enggan membahas lebih lanjut, karena saat ku lihat ekspresi Tiara, cewek itu tampak tidak berminat untuk mengikuti obrolan kami sama sekali.
“Wah, malem minggu tetep kesepian dong. Kak Rendi kalo tiba tiba malem minggu mau nonton ke bioskop atau nongkie nongkie cantiks gitu, ajak Nisa aja ya kak. Nisa tau betapa beratnya LDR. Kesepian, kekhawatiran, dan semuanya pasti berat banget.” Nisa berkata dengan sok bijak, membahas masalah LDR yang memang pernah di jalaninya dan seketika kandas dalam waktu kurang dari dua bulan. Menyedihkan bukan?
“Ya, kadang main sama temen temen Nis.” Sahutku lagi, seraya kembali menyalakan komputer yang tadi aku matika. Karena takut keluar lama.
“Sama Tiara juga dong Ren mainnta?” Fitri kini turut mengulik terkait pertemananku yang mana di dalamnya ada Tiara juga.
“Iya, sama Tiara kadang. Tapi kan Tiara udah nikah, gak bisa kelamaan ikut kumpul kumpul.” Aku menyahut lagi, mewakili alasan Tiara yang memanf jarang ikut berkumpul dengan pertemanan kami. Tentu saka bukan karena alasan di atas. Tapi alasannta karena Tiara menghindariku.
Aku sudah fokus dengan pekerjaanku, sambil sesekali terus menyahuti obrolan obrolan yang terjadi di ruangan ini. Namun, otak isengku mulai ingin bekerja untuk menggoda Tiara.
“Gimana tadi makan siang bareng Lila, Ra?” Tanyaku yang sesungguhnya tahu bahwa Tiara tidam makan siang dengan siapa pun siang tadi. Tentu saja aku tahu, kami kan sempat ribut juga tadi siang. Tiara hanya berusaha menghindariku, dan enggan untuk berdamai denganku sama sekali. Entah apa yang diinginkannya saat ini, mungkin membiarkan hubungan kami sebagai rekan kerja pun terus menerus canggung. Seprertinya Tiara lebih menyukai hal itu di banding jarus memaafkanku.
Tiara berdecak saat mendengar pertanyaanku, tatapannya pun mulai beralih dan menoleh ke arahku.
“Asik-asik aja, Lila nanyain lo padahal. Sayang banget lo gak bisa ikut ya tadi.” Tiara menyahut sambil kembali beralih ke komputernya, tak lagi melihat ke arahku. Tangannya kembali bergerak untuk melanjutkan pekerjaannya yang tampak menumpuk. Wajahnya datar, saat menyahuti pertanyaanku tadi.
Aku nyaris tertawa mendengar sahutan Tiara yang sarat akan menyindir. Aku tau ia hanya membalas ucapan isengku tadi, yang malah menantangnya dengan mempertanyakan makan siang bohongannya dengan Lila, dan malah mengusirku untuk tidak mengikutinya. Ya, aku memang sengaja bertanya sih. Tak di sangka, Tiara menanggapinya dengan melanjutkan drama kami yang seolah olah memang akan makan siang bersama dengan Lila, lalu aku mendadak tidak bisa ikut. Skenario ini tampaknya semakin panjang.
“Iya, sori ya. Mungkin next time bisa atur jadwal ulang.” Aku menyahuti lagi, dengan menanggapi ucapan Tiara tadi, seolah olah aku menyesal karena tidak jadi makan siang bersama mereka, yang padahal hanya Tiara sendiri.
Kasihan Lila, tidak tahu menahu urusan ini, namanya justru di catut terus terusan demi sebuah drama yang kami mainkan siang ini. Aku sendiri tidak mengerti mengapa terus melanjutkan obrolan yang semakin lama seperti menjerumuskanku sendiri. Sebab, tak ku sangka Tiara pandai menyahuti ucapan ucapanku dengan melemparkan jawaban yang telak menyerangku balik.