- 33 -

1111 Kata
“Tapi kita maklumin kok, secara lo jarang jarang juga ketemu Nadin.” Skakmat! Tiara benar benar menyerangku, membahas betapa mengenaskannya hubunganku ini, yang pasti tak luput dari perhatiannya. Aku tau, betapa teman temanku memang kelewat perhatian dengan hubunganku dan Nadin, entah mereka tak memiliki hal lain yang bisa di urusi atau apa. Mungkin Tiara jarang ikut ikutan menggiring opini seperti yang lain, tapi ia jelas dapat mendengar kasak kusuk dari anak anak saat membahas aku dan Nadin. “Wah, Kak Rendi kok bisa ya hubungan LDR gitu tapi awet? Itu beneran kak, gak pernah macem macem? Gak tergoda lirik sana sini, gitu?” Suara Nisa mencairkan ketegangan yang terjadi antara aku dan Tiara, hingga membuat perhatianku teralihkan, dan Tiara tak lagi menanggapi pembicaraan ini. Aku dapat melihat Tiara tersenyum sinis mendengar pertanyaan Nisa, entah apa yang di pikirkan cewek itu. Tapi jika aku menebak, ia pasti tengah mentertawakanku yang mati matian bertahan untuk hubungan yang menurutnya aneh dan semu ini. “Siapa yang tergoda, Nis? Gue atau cewek gue?” Aku menyahuti ucapan Nisa. “Dua duanya. LDR kan gak enak, masa waktunya jalan jalan uwu, malah Cuma video call.” Aku bahkan tidak melakukan video call dengan Nadin, hal sesimple memberikan kabar ada di mana saja sulitnya setengah mati, apalagi video call. Mungkin jika aku nekat melakukan panggilan video, Nadin malah akan mereject panggilan tersebut tanpa penjelasan panjang. “Saling percaya aja sih.” Aku menyahuti jawaban paling diplomatis dalam sebuah hubungan jarak jauh, yang langsung ditanggapi dengan gaya jijik dari Devon. “Halah, percaya percaya tai kucing. Tar bosen juga, gandengan sama yang laen.” Komentar Devon, yang aku perkirakan bahwa orang orang di sini sebagian besar gagal dalam menjalani hubungan jarak jauh, hingga melampiaskannya dalam hubunganku yang kini sedang di bahas. “Itu mah elo kalo, Von. Rendi mah anak baik baik, gak ada tampang fakboi kayak lo!” Fitri menyahuti ucapan Rendi, membelaku yang tengah dibahas Devon. “Maksudnya ceweknya yang gandengan sama orang lain, negatif thinking aja lo!” Devon menyahut dengan gemas pada Fitri yang menuduhnya sedemikian rupa.   Aku hanya tertawa menyaksikan perdebatan yang tak pernah absen mewarnai ruangan ini. Baik Devon, Tiara, Fitri, atau pun Nisa selalu ada saja hal yang dibahas dan dijadikan topik menarik yang penuh huru hara. Rasanya justru aneh jika ruangan ini sepi dan tidak ada yang berbicara, seperti ada yang kurang. Ruangan ini hanya sepi jika Bu Angry masuk ke sini untuk menanyakan soal kerjaan, selebihnya selalu ramai.   “Ra! Ra! Ini suami lo, kan?”   Baru juga hening sebentar, suara Devon yang duduk di sebelah Tiara, sudah kembali terdengar heboh sambil menunjukkan ponselnya pada wanita itu. Aku perkirakan Devon sedang membuka sosial media, yang menampilkan foto suami Tiara. Namun, entah apa yang di lihatnya hingga membuat reaksi cowok itu seheboh itu.   Tiara melirik sebentar pada ponsel Devon, lalu mengangguk pelan. “Iyaa,” katanya mengiyakan pertanyaan Devon. “Dia temenan sama Pevita Pearce?” Devon masih bertanya dengan heboh. Rupanya foto yang ia lihat tersebut menampilkan sosok suami Tiara dengan salah satu artis kenamaan di tanah air ini. Yang aku perkirakan sangat disukai oleh Devon.   “Kayaknya temen SMA atau SMP gitu.” sahut Tiara ringan, tanpa mengikuti Devon yang sedang heboh. Tiara seolah tidak terkejut dan menganggap hal itu biasa saja.   “Sama Putri Tanjung juga?” Devon masih berseru heboh, saat menemukan foto foto lainnya.   Aku mengenal nama nama itu, karena memang cukup terkenal di kalangan milenial terutama kaum adam, karena memang parasnya yang cantik dan kecerdasan mereka. Tapi aku juga baru tau suami Tiara mengenal mereka semua. Aku jadi penasaran, siapa sosok yang menikah dengan Tiara?   “Iya, Papa Alex temen bokapnya Putri Tanjung itu. Jadi ya kenal.” Tiara kembali menjawab dengan nada biasa, seolah hal tersebut bukan sesuatu yang harus di hebohkan. Mungkin karena sudah terlalu banyak mendengar hal hal semacam itu, jadi hal tersebut sudah biasa bagi Tiara.   “Anjir, mertua lo no kaleng kaleng ya, Ra? Beneran deh, lo ngapain sih masih kerja jadi kacung Devon gini? Cepet pulang deh, abisin duit mertua kek!” Fitri yang gemas ikut menyahut, karena shock dengan jawaban Tiara yang menurutnya luar biasa.   Aku terkekeh pelan, meski dalam hati ikut bergumam. Tiara sungguh menjalani hidupnya dengan baik. Aku bersyukur mendengarnya, meski ia masih membenciku sedemikian rupa, tapi ia tetap mampu melangkah dengan seharusnya. Mungkin aku akan terus merasa bersalah jika hingga detik ini Tiara malah terpuruk dalam kesendirian.   “Gabut doang. Capek juga di rumah tiduran di tumpukan uang.” Tiara menyahut dengan nada sombong, malas meladeni ucapan mereka semua dengan serius.   Aku ikut tertawa mendengarnya, nada pongah yang keluar dari mulut Tiara terdengar lucu. Namun, wanita itu buru buru berhenti tertawa saat mendapati aku turut tertawa.   Tak lama, dering ponsel Tiara memenuhi isi ruangan ini. Wanita itu tak segera mengangkatnya, dan membiarkan benda itu terus berbunyi hingga membuat Devon geram untuk menekan tombol hijau, pertanda mengangkat panggilan tersebut.   Tiara melotot, memprotes pada Devon. Namun tak ayal wanita itu akhirnya mengangkat panggilannya. Entah panggilan tersebut dari siapa, hingga Tiara terlihat menghindarinya.   “Ya?” Tiara menyahut pelan, dengan wajah datar tanpa ekspresi, sambil tangan lainnya terus bekerja menekan keyboard komputernya.   “Hm.” Tiara masih menyahuti orang di seberang sana tanpa minat, aku jadi penasaran siapa yang menelponnya.   “Iya iya, nanti aku ke sana. Iyaa … tadi kan udah reply chat kamu. Hmm … iya, bye.” Tiara menyudahi panggilannya dengan wajah tanpa ekspresi, yang segera di sambut suara Devon.   “Ra … Ra, itu suami udah ganteng dan kaya raya, masih aja di jutekin.”   Oh, suami Tiara. Kenapa sikapnya seperti itu? Apakah ia masih marah, seperti kali terakhir aku tidak sengaja melihatnya di pelataran gedung ini, saat mereka ribut di jam makan siang?   “Diem lo! Kelamaan jomblo sih, cewek ngambek tuh wajar, kali!” Tiara menyahut tak mau kalah, menanggapi ucapan Devon.   Devon berdecak, tampak tidak terima dengan jawaban Tiara. “Lah, ngambeknya tiap hari. Gue jadi Alex mah keburu stres!”   “Tapi Alex gak stres tuh.”   “Good for you, Ra. Punya suami yang sabar dan kaya raya tentunya.” Fitri turut menimpali ucapan Tiara.   Tiara hanya terkekeh pelan, ekspresinya tampak tidak berminat untuk membahas hal ini lebih jauh.   Menyaksikan interaksi ini, aku justru kembali bertanya tanya. Apa yang terjadi dengan pernikahan Tiara? Mengapa wajahnya tidak antusias sama sekali, dan sikapnya seperti itu? Tidak seperti sikapnya pada kami - aku dan teman temanku - dulu.   * * * * * * * * * * * * K I S A H   Y A N G   T E R L A M B A T * * * * * * * * * * * * 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN