“Kamu istirahat ya, Sayang.” Al membantu Lisa berbaring.
Lisa melihat jam dinding yang baru menujukkan pukul 8 malam. “Ini masih awal loh Mas,” protesnya.
Al duduk di pinggir ranjang sambil mengusap wajah cantik istrinya. “Kata dokter kamu harus sehat. Nah, kalau mau sehat kamu gak boleh begadang. Begadang itu gak baik, jadi kamu harus tidur lebih awal.”
“Tapi aku belum ngantuk, Mas.”
“Coba matanya dipejamkan. Lama-lama kamu pasti ngantuk.”
Lisa mau beranjak duduk tapi suaminya itu malah menahan tubuhnya.
“Kamu harus tidur,” ucap pria itu.
“Mas, jangan paksa aku gini dong.”
“Sayang, ini demi kebaikan kamu. Kamu harus jaga pola tidur yang sehat. Kamu gak boleh tidur di atas jam 9. Oke?”
Lisa menghela napasnya.
Al menyelimuti tubuh wanita itu. “Tidur yang nyenyak ya.” Ia mencium kening sang istri. “Selamat bobo istriku cantik.”
Al beranjak.
“Kamu gak tidur juga?” tanya Lisa.
“Aku mau beresin barang-barang,” jawab pria itu sambil membuka lemari.
“Barang-barang?”
“Aku mau kemasi baju-baju kamu dan baju aku juga.”
“Memang kita mau kemana?”
Al berbalik badan menghadap sang istri. Ia tersenyum sambil menaik-naikkan satu alisnya ke wanita itu.
“Senyum kamu mencurigakan.”
“Kita akan pindah rumah Sayang, kita akan punya rumah sendiri,” jawab Al dengan riang gembira.
“Kita akan pindah besok?”
Al mengangguk.
“Udah dapat izin papah-mamah?”
“Kamu tenang aja. Mereka pasti mengizinkan.”
Lisa tersenyum senang. “Makasih Mas, udah ngabulin keinginan aku.”
Al mengangguk lagi sembari tersenyum.
***
“Mah, Pah, aku dan Lisa pamit.” Tidak ingin mengulur waktu, Al ingin cepat angkat kaki dari rumah orang tuanya. Sudah lama ia nantikan kepergiannya ini dan baru sekarang bisa tercapai. Pagi ini akan jadi akhir untuknya di rumah mewah yang penuh dengan penderitaan. Dimana sejak kecil hingga dewasa tanpa ada kebebasan.
“Kalian mau pindah sekarang?” tanya Resi yang terkejut akan kepindahan putranya yang terkesan buru-buru itu.
“Iya,” jawab Al singkat.
“Al, memangnya gak bisa besok? Atau bulan depan?” tanya Arya.
“Gak. Aku udah putuskan akan pindah sama Lisa hari ini. Aku juga udah mengemasi barang-barang kami. Selain itu, rumah yang kami tempati pun sudah siap. Jadi tunggu apa lagi. Lebih cepat lebih baik. Iya kan, Sayang?” tanyanya pada Lisa.
Lisa menjawabnya dengan senyuman.
Arya menoleh ke belakang. Ia melihat Manda yang berdiri di sana. “Kamu gak ngajak Manda?”
Al memandangi Manda yang sedang melihatnya juga. “Gak. Dia akan sama kalian. Dia akan tetap di sini.”
“Tapi Al, dia istri kamu juga,” timbal Resi.
Al tersenyum ke Lisa lalu nerangkulnya. “Ini istriku. Cukup dia yang aku bawa.”
“Al, kamu gak boleh kaya gitu,” protes Resi.
“Sayang, kamu masuk mobil duluan ya.”
Lisa mengangguk menuruti perintah suaminya. Ia pun ke mobil duluan.
“Mah, Pah, adanya Manda adalah ulah kalian. Jadi dia tanggung jawab kalian berdua,” tekan Al pada kedua orang tuanya.
“Dia memang istriku. Tapi atas dasar keinginana kalian. Jadi, dia sebaiknya tetap di sini. Aku akan tetap nafkahi dia secara materi tapi untuk yang lain, enggak. Sekarang aku akan fokus jagain Lisa, jagain anak kami dan cucu kalian. Aku permisi.” Al beranjak pergi.
Resi yang ingin protes ditahan suaminya.
“Mah, udah. Biarin aja. Sebaiknya memang Manda sama kita. Aku khawatir kalau Manda ikut sama dia, lebih baik Manda tinggal di sini bareng kita.”
“Tapi, Pah…”
“Udah. Nanti kita cari solusinya. Ayo masuk.”
***
Sepanjang perjalanan Al perhatikan wajah istrinya yang tersenyum terus itu. kelihatan dari wajah wanita itu bahwa dia sangat senang dengan kepindahan mereka. Al merasa lega bisa kabur dari rumahnya. Ia bisa hidup bebas, ia tidak akan mendengar omelan orang tuanya, ia tidak akan diatur lagi seperti anak kecil, ia tidak akan melihat istrinya menangis lagi karena orang tuanya, dan ia tidak akan diganggu lagi oleh wanita itu. Rumah tangganya dan Lisa pasti akan sangat bahagia. Mereka benar-benar hidup berdua seperti sepasang suami istri yang baru menikah. Uh, sungguh menyenangkan.
“Kamu kenapa liatin aku terus, Mas? Nanti nabrak loh,” omel Lisa.
“Aku senang liat kamu senyum. Dari rumah aku perhatikan kamu senyum terus, kamu bahagia banget ya dengan kepindahan kita?”
Lisa tersenyum lagi. Ia menggenggam tangan suaminya. “Iya Mas, aku senang banget. Setelah 4 tahun akhirnya kita bisa punya rumah sendiri. Kita juga akan punya anak. Aku benar-benar senang. Aku berharap kita akan terus bahagia. Aku juga akan melahirkan banyak anak dan kita akan menjadi orang tua yang baik.”
Al balik menggenggam tangan istrinya. “Aaminn…”
***
Al dan Lisa tiba di rumah baru mereka. Rumah bertingkat 2 yang lumayan besar dan memiliki halaman yang luas. Di halaman itu juga ada taman dan kolam renang. Pemandangan di sekitar rumah juga bagus dimana ada pepohonan dan suasananya sejuk. Juga ada beberapa rumah yang akan jadi tetangga mereka.
“Rumahnya bagus, Mas,” puji Lisa.
“Pasti dong.”
“Boleh aku masuk duluan?” tanya Lisa yang sudah tidak sabar ingin melihat isi dalam rumah barunya.
Al mengangguk. Istrinya itupun melenggang pergi meninggalkannya.
Al mengambil barang-barang di bagasi mobil. Tidak banyak bawaannya hanya 3 koper saja karena ia tidak membawa semua barang-barangnya. Ia hanya membawa barang yang benar-benar diperlukan.
“Wahhh.” Lisa takjub melihat isi dalam rumahnya yang sangat indah. Rumahnya sudah didesain dengan begitu cantik dan estetik. Juga ada pajangan foto pernikahannya dan ada foto kecil suaminya juga. Setelah melihat ruang tamu dan ruang tengah, ia pun ke dapur. Di dapur pun tidak kalah bagusnya. Perebotannya pun sudah cukup lengkap bahwa di dalam kulkas juga sudah ada makanan. Entah kapan suaminya menyiapkan semua ini.
Lisa beranjak ke lantai atas. Ia melihat kamar dan masuk kedalam kamar itu. Lagi-lagi ia dibuat takjub. Kamar yang ia masuki ini seperti hotel, kamarnya juga luas. Di kamar ini juga ada ruang kerja. Fasilitas kamar ini sangat lengkap bahkan ada ruang TV di dalamnya lengkap dengan sofa-sofanya. Dan yang paling membuatnya senang yaitu ada foto pernikahannya yang menempel di tembok. Ada fotonya juga yang di simpan di lemari TV.
Ia duduk di kasurnya. Sangat empuk dan nyaman. Ia sangat suka kamar ini. Ia pun berbaring dan menikmatinya. Kelakuannya sudah seperti anak kecil saja yang mendaparkan kamar baru.
“Gimana, suka kamarnya?” tanya Al yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Lisa menghampiri pria itu lalu memeluknya. “Suka banget. Makasih, Mas.” Gimana ia tidak makin cinta dengan pria yang ia peluk ini karena pria itu selalu memanjakannya.
Al membalas memeluk istrinya. “Sama-sama, Sayang.”
***
1 bulan kemudian.
Selama Lisa hamil Al sangat ekstra perhatian pada istrinya itu. Ia menjaga dan merawat Lisa dengan sangat intens. Ia tidak mau terjadi sesuatu pada wanita itu. Ia tidak mau anak yang mereka idam-idamkan selama 4 tahun itu mengalami hal buruk. Anak itu harus dilahirkan secara sehat tanpa kurang apapun.
“Mas, mau sampai kapan kamu gak kerja?” tanya Lisa. Suaminya itu sudah 1 bulan tidak kerja karena merawatnya padahal ia baik-baik saja.
“Aku gak mau ninggalin kamu dan anak kita. Aku mau jagain kalian terus,” jawab Al sambil mengelus perut istinya yang di salam sana ada buah hati mereka.
“Tapi Mas...”
“Sayang, biarin aja aku di rumah. Aku mau merawat kamu dan jagain anak kita. Kamu kan tau, aku khawatir banget sama kamu dan anak kita. Aku gak mau terjadi sesuatu sama kalian. Pokoknya sampai anak ini lahir aku akan di samping kamu terus.”
“Terus kerjaan kamu gimana? Nanti papah marah lo Mas, sama kamu.”
“Papah gak marah kok. Kalau Papah marah udah pasti pria itu nelponin aku terus.”
Semenjak Lisa hamil Al memutuskan untuk curi bekerja. Tentu itu keinginannya sendiri tanpa minta persetujuan dari orang tuanya. Semenjak Lisa hamil pun mereka pindah ke rumah baru. Kini hidup mereka jauh lebih menyenangkan dari sebelumnya. Lisa hidup tenang, damai, dan tidak ada lagi yang membuatnya sedih. Mertuanya juga sudah bersikap baik padanya sejak ia hamil. Namun ada satu yang membuatnya kepikiran yaitu Manda.
“Mas, udah sebulan kita pindah dan udah sebulan juga kamu gak pulang ke rumah Papah.”
“Ya gapapa, Sayang. Lagian 2 hari lalu Papah dan Mamah ke sini. Mereka juga gak nyuruh aku pulang, malahan mereka nyuruh aku buat jagain kamu terus.”
“Kamu… kamu gak mau jenguk istri lain kamu?” tanya Lisa ambigu.
“Dia baik-baik aja, ngapain dijenguk.”
Lisa yang punya hati yang baik ini tentu memikirkan perasaan orang lain. Jika posisinya sebagai Manda tentu ia merasa sangat sedih. Maka dari itu ia memikirkan Manda juga. Ia tidak mau egois, meski ia tidak menyukai wanita itu namun hak Manda sebagai istri Al tetaplah wajib mendapatkan perhatian dari suaminya itu. Bagaimanapun suaminya itu berkewajiban berlaku adil terhadap istri-istrinya.
“Mas, aku memang gak suka hubungan antara kamu dan Manda. Tapi selagi kamu masih berstatus suami dia, kamu berkewajiban memberikan hak-hak dia sebagai istri kamu.”
Al diam. Ia tidak mau menanggapi.
Lisa menggengam tangan pria itu. “Aku percaya sama kamu. Jadi jaga baik-baik kepercayaan aku.”
“Sayang, aku gak mau nyakitin perasaan kamu. Aku gak mau dekat dengan wanita lain selain sama kamu,” jelas Al.
“Manda itu istri kamu juga, Mas. Mau gak mau aku harus mencoba berbagi sama dia.”
“Kamu kenapa sih maksa aku buat dekat sama dia? Nanti kamu nyesel loh.”
“Aku gak nyuruh kamu dekat sama dia, Mas. Aku cuma mau kamu menghargai dia sebagai istri kamu. Aku kasihan sama dia, Mas.” Lisa yang awalnya sangat cemburu dengan Manda dan tidak ingin melihat wajah wanita itu, namun sekarang ia merasa kasihan pada perempuan itu. Setahunya Manda tidak punya teman dan pasti wanita itu selama ini kesepian di rumah mertunya.
“Dia aja gak kasihan sama kamu. Kalau dia kasihan sama kamu harusnya dia gak mau aku nikahi,” protes Al.
“Berarti kamu juga gak kasihan sama perasaan aku, karena kamu tetap menikahi dia.”
Al menghela napas panjang. “Gak gitu konsepnya, Sayang.”
“Aku ngantuk mau tidur.” Lisa membaringkan tubuhnya.
Al ikut berbaring. “Ya udah, besok aku akan temui dia.”
Lisa diam saja. Ia memejamkan matanya ingin tidur lebih cepat.
“Sayang, kamu dengar aku gak?”
Lisa membuka matanya. “Aku dengar, Mas.”
“Satu lagi, aku mau kamu bawa Manda ke rumah kita,” tambah Lisa.
Al kaget mendengar keinginan istrinya itu. “Sayang, kamu udah gila? Ngapain kamu nyuruh aku bawa Manda ke sini?”
“Aku ingin belajar hidup berdampingan dengan istri kedua kamu, Mas.”
“Kamu jangan mengada-ada, Sayang. Ini gak lucu.”
“Aku emang gak sedang melawak. Aku serius. Aku mau kamu bawa dia ke rumah kita. Aku kasihan sama dia, Mas. Dia pasti kesepian karena kamu gak pernah jengukin dia. Kalau dia tinggal sama kita otomatis kamu juga gak perlu capek-capek nemuin dia.”
“Sayang, kamu ingat gak? Kamu pernah bilang kamu gak mau serumah sama dia. Tapi kenapa sekarang kamu malah mau bawa dia ke rumah kita?”
“Karena…” Lisa juga bingung alasannya apa. Ia sekedar kasihan saja dengan wanita itu dan dia ingin menjadi pribadi yang baik karena dia merasa hidupnya sangat beruntung. Oleh karena itu ia ingin membalas kebaikan Tuhan dengan menjadi orang yang baik.
“Karena aku mau menjadi orang baik,” lanjutnya.
“Terserah deh!” kesal Al pada istrinya itu.
***
Manda sedang sarapan sendiri. Suasana benar-benar sangat berubah. Ia kini sering sendirian dan kedua mertuanya yang dulu selalu perhatian padanya kini sudah agak berubah tidak seperhatian dulu lagi. Ia sekarang terasa asing di rumah ini. Semenjak Lisa hamil keadaannya seakan berbalik. Bahkan sudah 1 bulan ia tidak bertemu dengan suaminya. Pria itu tidak pernah menemuinya semenjak pria itu pindah rumah bersama Lisa dan ia sebagai istri kedua tidak diajak. Jika tahu akan seperti ini ia menyesal menolak keinginan Papah mertuanya dulu yang menyuruhnya untuk ikut bersama Al dan Lisa ketika kedua pasangan itu pindah. Sekarang semua hanya jadi penyesalan belaka. Ia juga tidak berani menumui Al langsung di rumah baru pria itu karena ia merasa tidak enak pada Lisa.
“Non, den Al pulang,” ucap Bi Surti memberitahu Manda.
Manda yang mendengar kabar itu langsung berdiri. “Bibi serius?”
Bi Surti memberikan anggukan.
Manda segera berlari menemui Al. Sebelum membuka pintu ia mengintip di jendela dan ia melihat Al yang sedang keluar dari mobil. Segera ia membukakan pintu dan berlari ke arah pria itu. Ia langsung memeluknya dengan erat.
“Aku kangen banget sama kamu,” ucapnya.
Al yang sudah lama tidak menemui istri keduanya itu merasa tidak enak hati jika ia melepaskan pelukan wanita itu. Ia pun diam dalam pelukan mantan kekasihnya itu.
Manda melepaskan pelukannya. Ia memegangi wajah pria yang di hadapannya. “Ini beneran kamu, kan?”
“Aku udah lama nungguin kamu pulang. Kamu bahkan gak nelfon aku, gak kirim pesan ke aku, apa aku gak sepenting itu bagi kamu?” Manda cemberut. “Padahal kan, aku juga istri kamu.”
Al tidak mengeluarkan sepatah katapun. Ia hanya menggenggang tangan wanita itu dan membawanya masuk ke dalam rumah.
Manda yang saat ini tangannya digandeng oleh Al sangat-sangat merasa senang. Entah pria itu akan membawanya kemana. Pokoknya ia mengikut saja sampai pria itu berhenti melangkah.
Mereka tiba di meja makan. Al melepaskan gandengannya.
“Lanjutkan makan kamu,” ucap Al.
“Kamu kok tau aku lagi sarapan?”
“Bi Surti yang bilang.”
Manda tersenyum. “Baik, aku akan habiskan sarapan aku. Tapi kamu temani aku di sini ya.”
“Oke.” Al duduk.
Manda duduk ditempatnya yang tadi. Ia pun memakan sarapannya lagi sambil menatap pria yang duduk di hadapannya.
“Kamu gak nanya kabar aku?” tanya Manda.
“Aku melihat kamu baik-baik aja. Jadi untuk apa bertanya kabar lagi?”
Manda menunduk sambil menghela napas. “Aku kesepian gak ada kamu, Al.”
“Kan, di sini ada Papah dan Mamah yang nemani kamu.”
“Aku butuhnya kamu.” Manda menatap Al kembali.
Al mengepalkan tangannya. Ia tidak enak hati untuk mengatakan apa yang ingin ia sampaikan pada wanita di depannya saat ini. Namun jika ia tidak sampaikan maka wanita itu akan merasa sakit yang lebih jauh.
“Manda.”
“Iya.”
“Aku ingin kita pisah aja,” terang Al.
***