Tak Terasa kami sudah memasuki semester 5. Sudah memasuki Tahun ke-3. Caraku melarikan dari dari Indra, adalah dengan fokus belajar. Aku kembali pada aku yang dulu. Mahasiswi berprestasi. Semester ganjil kali ini, aku mendapatkan beasiswa. Nilai semester 3 dan semester 4, sangat memuaskan. Dan aku mendapatkan beasiswa untuk kategori anak berprestasi.
Aku benar-benar memanfaatkan luka hatiku untuk memacu diri mencapai prestasi terbaik. Semua tugas kuliah, selalu aku selesaikan dihari yang sama.
Hari ini, aku mengikuti kuliah kelas semester 7. Bergabung dengan para senior. Kebiasaanku mengambil SKS kelas atas, dapat membuat aku selesai kuliah lebih cepat.
"Selamat pagi semua, hari ini kita akan membahas tentang Micro Ekonomi" terdengar suara pak Gani, memulai kuliah pagi ini.
"Nathalia Himawan?" Tiba-tiba namaku disebut pak Gani.
"Saya pak!" Dengan sigap saya menjawab pertanyaan dari pak Gani.
"Wah, kayaknya ada calon asisten dosen baru nih?" seluruh kelas bergemuruh.
"Iya pak Gani, Lia pastas jadi asisten dosen tuh pak. Pinter, cantik, ramah dan baik hati pula. Sayang pacarnya Playboy!" Seketika panas wajahku. Jantungku rasanya seperti dipacu kencang. Ingin rasanya aku marah. Seseorang mengelus lembut pundakku.
Kak Yuni. Senior terbaik, yang selalu membelaku. Senyum kak Yuni mampu mendinginkan gunung api yang hampir meledak dikepalaku.
"Sabar ya Lia, ini belum Seberapa dibandingkan ujian hidup diluar sana.
Lebih berat godaan dan cobaan lain."
Kak Yuni masih memberi nasihat padaku.
"Ok, kuliah kita hari ini sampai disini, jangan lupa Tugas Analisa Keuangan dikumpul minggu depan!" Pak Gani mengakhiri kuliah pagi ini.
Aku segera bergegas. Ada kuliah lagi nanti jam 11. Masih ada waktu 40 menit buat mampir ke kantin. Sedang berjalan ke kantin, nanarku menatap sosok Dea, adik tingkatku, yang berbeda jurusan itu. Dia kelihatan pucat dan kelelahan. Kehamilannya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Perutnya sudah membesar. Aku juga tau, Indra tidak menyetujui menikahi Dea, karena menurut Indra, Dea sudah tidak perawan saat mereka bercinta dulu. Kadang terbersit tanya dibenakku, apakah mungkin Indra, yang sudah sangat paham berhubungan badan tanpa mengeluarkan cairan kenikmatannya didalam lubang nikmat seorang wanita, apakah bisa terlela dan menembakkan sper*a dalam rahim Dea? Rasanya itu mustahil. Indra akan memuaskan wanitanya terlebih dahulu, sebelum dia mengejar pelepasannya. Indra sangat mahir mengatur hujaman dan tekanan kejantanannya senikmat mungkin saat kami bercinta, dan kemudian dia akan menarik keluar senjata nikmatnya dan mengeluarkan isinya diatas perutku atau di kedua gunung kembarku atau bahkan didalam mulutku. Aku jadi bernafsu membayangkan Indra menggagahi. Aku tak perduli dengan Dea yang sedang menatapku tajam. Aku sengaja duduk membelakangi Dea. Menganggap Dea bukan masalah buatku.
"Kasian yaah Dea, Aa Indra gak mau menikahi dia. Gosipnya, Aa Indra bilang itu buka. anaknya" Samar-samar aku mendengar percakapan dimeja lain. Aku berusaha fokus mendengar percakapan mereka. Wah, seru nih. Ada apa sebenarnya?
"Dea gosipnya sengaja menyerahkan diri ke aa Indra, Karena Aa Indra selain ganteng, baik, tajir lagi. Tapi Aa Indra menolak mengakui itu anaknya. Aa Indra juga saat ini sedang KKN kan? Jadi status mereka gantung". Dadaku bergemuruh. Jantungku berdegup lebih cepat. Indra sedang KKN? Dan aku gak tau? Wow. Sehebat itukah aku menutup hati dan telingaku tentang Indra?
Aku berdiri, akan melangkah meninggalkan kantin karena kuliah berikutnya akan segera dimulai.
"Kak Lia jahat. Kakak harusnya tau, kak Indra gak mau menikahiku karena kak Lia. Kak Lia merebut kak Indra dariku" Dea tiba-tiba menyerangku, menjerit dan memaki membabi buta. Aku kaget. Refkeks kutangkap tangan Dea, aku melotot tajam menatap dia.
"Kita bicarakan nanti siang. Tunggu saya dikantin ini. Saya harus kuliah jam 11. Jangan sampai kamu tidak ada disini nanti jam 1. Kita bicarakan masalah ini!"
Aku menekan kuat pergelangan tangan Dea yang tadi hampir saja mampir ke wajahku. Aku faham benar rasanya jadi Dea. Aku tak akan membiarkan dia terluka terlalu dalam padaku. Setelah Dea sudah tenang, aku melepas genggamanku. Aku memberinya sebotol air mineral, menunggu dia sudah benar-benar tenang lalu aku membelai pundaknya. "Aku bukan lawanmu saat ini. Kita sama-sama korban. Saya korban, kamu juga. Indra mungkin saja saat ini sudah punya gebetan baru, aku tak perduli. Ok?" Dea masih mengangis.
"Dea, mbak ada kuliah 5 menit lagi. Janji yah, tunggu mbak Lia disini. Kita harus bicara dari hati ke hati. Ingat anak dalam kandunganmu. Dia tidak bersalah".
Bagaimanapun, aku wanita juga. Rasa empatiku lebih besar dari pada emosiku.
Aku membelai rambut Dea, agar dia lebih tenang. Aku lalu menitipkan dea pada dua orang junior yang tadi sedang bergosip tentang Dea. Para adik tingkat ini, mereka mengenal aku dengan baik. Aku termasuk senior kesayangan mereka. Setelah semuanya sudah lebih kondusif, aku bergegas menuju ruang kuliah. Aku tau, paraq adik tingkat tersebut pasti bingung, apa hubungannya aku, Dea dan Indra. Kenapa Dea hendak menyerangku tadi. Tapi biarlah, jawaban itu, hanya aku dan Dea yang tau.
**********
Aku bergegas kembali ke kantin, setelah kuliahnya selesai. Tapi Dea sudah tidak ada disana. Aku mencari Dea ke toilet, juga tidak ada.
Aku lalu kembali ke kantin, membeli sebotol minuman dingin.
"Mbak Lia, tadi Dea pulang dulu katanya. Dia mau istirahat. Kayaknya dia stress banget neng." aku menatap bu Odah, meminta penjelasan lebih jelas.
"Ini neng, neng Dea tadi menitipkan nomor hp nya buat dikasihkan ke neng Lia" Bu Odah menyodorkan selembar kertas kecil, berisi nomor Dea.
"Teh, Dea pulang dulu.Ini nomor HP Dea, dan PIN BB Dea. Kontak Dea kalo teteh sudah terima catatan ini. Nuhun. Dea" Aku membaca catatan pesan Dea, menghela nafas panjang.
Ya sudah, Dea butuh istirahat saat ini. Aku kemudian bergegas pulang.
Sore harinya, aku membereskan tanaman dan menyapu halaman rumah. Kebiasaan yang sangat bisa membantuku melupakan masalahku, sesaat. Rasanya segar kembali pikiran, saat melihat halaman rumah sudah bersih dan bunga bermekaran.
Sayup aku mendengar suara wanita yang sedang merintih dan melenguh nikmat. Sepertinya ada yang sedang bercinta dikamar Sari. Suara penyatuan mereka terdengar jelas ditambah dengan suara ooh yes ooh gad. Si Sari, sampe lupa menutup rapat jendela Kamarnya.
Pikiranku melayang pada Indra. Sedang apa dia sekarang? Seandainya ada Indra, aku juga bisa melampiaskan nafsu birahiku yang sudah terpacu, akibat tontonan gratis di Kamar Sari tadi.
Aku sengaja menunggu Sari dan pacarnya keluar dari rumah. Aku menunggu di teras depan rumah, sambil menikmati semangkok bakso hangat.
Terdengar suara pintu kamar Sari terbuka. Mereka berdua berjalan saling bergandengan tangan hendak keluar dari rumah.
"Eh, Li, sudah dari tadi lu disini?" Sari cukup terkejut melihatku.
"Ya elah Sari, elu kalo mau ngehek mau ena-ena, jangan lupa jendela kamarnya dikunci rapat. Suaranya kemana-mana tau". Sari tertawa lepas sambil memeluk perut rata sang pacar.
"Awas, jangan sampe hamil. Berabe kalo belum ada Rencana menikah. Kamu gak keluarin didalam kan Jeff?"Aku melirik Jeffry, teman seangkatan kami. Sudah lama dia menyukai Sari yang lembut dan pemalu. Saat masih semester dua Sari pernah menolak Jeffry. Sari masih trauma pacaran sejak sang pacar SMA nya, mengambil keperawanannya secara paksa dan menyekap Sari selama 2 hari.
Cinta monyet Sari berisi dengan penyimpangan s****l yang bisa dibilang luar biasa. Tiap hari, Sari harus bersedia disetubuhi pacarnya. Bahkan bisa lebih dari 6X dia setubuhi. Bahkan saat sedang menstruasi, Sari pernah dipaksa melayani pacarnya, sambil diikat. Jika Sari melawan, video panasnya akan disebarkan oleh pacarnya. Sari takut dipukuli oleh pacarnya. Jelas-jelas trauma yang lebih berat dari apa yang aku alami saat ini. Aku ikut bahagia waktu Sari mau membuka diri, menerima ajakan Jeffry untuk berpacaran. Dan sekarang, setelah resmi pacaran 5 bulan, mereka terang-terangan bercinta. Aku ikut senang, Sari sudah lebih santai dan sudah tidak ketakutan lagi.
Malah sekarang aku yang pusing, akibat nafsuku tidak tersalurkan. Dasar kamu Sari.
Aku berlalu meninggalkan dua sejoli yang masih saling berpelukan. Ku raih BB ku, aku akan menghubungi Dea. Nanarku berhenti pada BBM yang masuk. Indra Prayoga. Setelah 5 bulan berlalu? Dia baru menghubungiku? Woow, hebat sekali pria satu ini. Egois. Dia tak pernah bertanya kabarku, dia tak pernah ada disampingku,dia menghilang entah kemana, tapu kemudian dia datang begitu saja.
"Neng, aa sabtu besok sudah kembali ke Bandung. Sudah selesai Program kkn aa. Maaf tidak mengabari Lia sebelumnya. Aa takut, Lia tambah marah kalo aa sering-sering datang. Makanya aa berangkat KKN tanpa kabari Lia" Perlahan ada rasa hangat hadir dihatiku. Ya. Aku rindu Indra. Semakin aku mencoba menjauh, semakin ada yang kosong,hampa direlung hatiku yang paling dalam.
"I Miss u so much Li, cintaku,kekasihku, calon ibu dari anak-anakku!"
Aku luruh. Lemas. Air matamu sudah tak terbendung. Aku juga rindu Indra. Aku mencintai dia sepenuh hatiku,Seluruh Jiwaku. Tapi, ada hati wanita lain yang sedang terluka. Ada Dea yang sedang labil.
Apa yang akan aku katakan pada Dea? Apa yang akan terjadi dengan Dea? Bagaimana permasalahan antara Dea dan Indra?
Pikiranku berkecamuk, aku sudah berjanji akan berbicara dari hati ke hati dengan Dea. Dan itu akan mulai aku lakukan malam ini. Aku berjanji dalam hatiku, tidak akan menyakiti Dea. Karena dia wanita dan aku juga. Aku harus berusaha agar Dea mau berteman denganku.
Ya, aku, Wanita tangguh itu, yang tidak akan pernah menyakiti wanita lain. Aku akan mengalah, untuk Dea. Sampai masalah mereka selasai secara jelas, tidak ada yang tersakiti dan tidak ada dendam.
***********
Sedikit penjelasan tentang beberapa istilah pada jaman itu:
BBM= Blackberry Masengger
BB= Blackberry
KKN= Kuliah Kerja Nyata
SKS= Sistem Kredit Semester
Dear reader, mohon tinggalkan komen, saran dan kritik agar Cerita ini semakin menarik.
Penulis juga masih perlu banyak belajar Karena ini Cerita online pertama penulis.
Semua karakter, tempat dan pelaku, hanya khayalan penulis. jika ada yang mirip kisahnya, abaikan saja yaaah.
namanya juga karangan bebas. ?