Sari Ayunindya POV.

2467 Kata
Hari pertama perkenalan dikampus, aku bertemu dengan Lia Himawan. Wanita cantik, pintar, sexy dan percaya diri. Aku yakin,Lia, begitu dia memperkenalkan diri, adalah teman yang baik dan bisa dipercaya. Dia bisa ilmu beladiri, dia juga mandiri dan ramah. Kami berteman sejak hari pertama Ospek dimulai. Aku juga berkenalan dengan Dini, yang sebelumnya, sudah menjadi temannya Lia. Ada rasa nyaman dan terlindungi saat bersama mereka. Aku sangat tidak percaya diri. Aku takut, jika masa laluku yang kelam, akan terjadi lagi dikemudian hari. Tetapi semua rasa takut dan tidak percaya diriku mulai hilang, setelah setahun lebih mengenal Lia dan Dini. Aku pernah kedapatan menangis dan meringkuk ketakutan didalam kamarku oleh Lia. Lia kemudian memaksaku bercerita tentang masa laluku dan penyebab aku sering ketakutan saat menerima telephone atau berkenalan dengan orang baru. Aku sudah menganggap Lia sebagai pelindungku,karena dia tidak mengenal takut jika dia benar. Lia bahkan tidak akan segan-segan meminta maaf terlebih dahulu, jika dia bersalah. Aku cukup terkejut dengan kenyataan bahwa Lia belum pernah berpacaran selama duduk dibangku SMA. Seorang gadis cantik dengan body aduhai, ukuran Bra diatas rata-rata, wajah yang mendekati sempurna dan dia juga ramah dan baik hati, biasanya akan menjadi rebutan cowok satu sekolahan. Bahkan mungkin jadi incaran senior di sekolah dulu. Tapi Lia berbeda, dia bisa menolak semua itu, dengan tidak menyakiti siapapun. Aku semakin menyukai wanita cantik itu. Jatuh hati sebagai teman dan sahabat. Ketika Jeffry berusaha mendekatiku, dan secara terang-terangan dia bilang ingin menjadikan aku pacarnya, aku ketakutan. Aku memilih menutup diri dari Jeffry. Ada trauma yang membekas didalam sanubariku. Aku lebih memilih untuk tidak memiliki pacar saat ini. Selama 2 tahun, Jeffry terus berusaha mendekatiku. "Sar, ini ada titipan dari Jeffroy. Jangan telat makan katanya. Nanti kamu sakit". Lia menyodorkan semangkuk siomay. Lezat. Aku memang suka sekali sama jajanan ini. Saat itu, kita sedang berkunjung ke taman kota. "Lah, Jeffry nya mana? Koq siomay nya ada, orangnya gak ada?" Aku mencari sesosok lelaki berbadan tegap. "Jeffroy gak ada, dia tapi BBM aku nanya, kita dimana, ya aku bilang aja kita di Dago. Trus dia transferin duit buat jajan kita. Ya gak mungkin aku tolak kan? " Lia terus saja berbicara panjang lebar, sudah kayak kereta api. "Yah, kirain ada aa Jeffry disini" Gumanku. "Apa kamu bilang Sar? Kamu kangen Jeffroy? Biar aku panggilkan" Lia menggodaku. Kutimpuk pundaknya pake botol air mineral. Suasana sore itu, sangat melankolis. Angin sepoi-sepoi, udara dingin kota Bandung, seakan menghipnotis setiap insan dengan perasaan cinta. Tak lama kemudian terdengar suara Indra, pacarnya Lia,datang menghampiri kami. "Sorry Li, aa ada urusan sedikit tadi. Hai Sari, apa kabar Jeffry?" Mataku membulat. Lah, koq jadi Indra ikut menggodaku yah? "Kalian mau kemana Li? Jangan tinggalin aku" aku merajuk manja pada Lia. Senyum Nakal diwajah Lia, membuatku curiga. "Li, apa yang kamu rencanakan?" selidikku sambil menatap mata Lia. "Sar, aku sama Indra mau nonton, dah beli tiket. Jeffry, sebentar lagi sampe. Aku sudah menitipkan kamu, pada Jeffroy. Dia gak akan macam-macam" Lia meyakinkan aku. "Kalau Jeffroy menyakiti kamu, kabari aku yah? Biar kuhajar dia". Goda Lia sambil cekikikan. Kami masih menikmati sore itu bersama-sama, aku, Lia dan Indra. Melihat mereka berdua yang saling berpelukan, Indra tak henti-henti menatap wajah Lia dengan tatapan penuh cinta, membuat hatiku hampa. Kosong. Aah, benarkah hatiku tak ingin sendiri? Benarkah aku butuh seorang kekasih? Belahan jiwa yang akan menyayangiku, tulus tanpa tuntutan? Aku ragu. Masa laluku, terlalu menyakitkan. Saat duduk dibangku kelas 2 SMA, Ali Mustofa, Kekasihku, memaksaku berhubungan badan untuk pertama kalinya. Ali adalah pacar pertamaku. Dengan dia, rasanya terlalu indah dunia ini untuk dilewatkan. Rayuan maut, kata-kata manis penuh dusta, mampu membodohiku. Aku menyerah pada ciuman memabukkan Ali. Berawal dari ciuman bibir, kemudian lidah yang saling memilin. Tangan Ali bahkan sudah melepaskan penutup bukit kembarku. Tapi aku masih bertahan kala itu. Aku berhasil melawan nafsu Ali, dengan meninggalkan sendirian. Seminggu kemudian, Ali memberi kabar kalau dia sedang sakit, dan butuh teman dirumah. Orang tuanya sedang bepergian beberapa hari keluar kota. Sebagai pacar yang baik, aku segera mendatangi rumah Ali dan berniat akan merawat Ali dengan baik. Apa daya, Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, aku terjebak dalam kebohongan Ali. Dia tidak sakit. Dia berdusta. Aku disekapnya didalam kamarnya, tanganku diikat, kakiku sudah dibuka lebar-lebar dan kemudian diikatkan ke sudut tempat tidurnya, mulutku juga disumpal. Dalam keadaan tidak berdaya, Ali mengagahiku. Aku melihat semua yang dia lakukan, tapi aku tak bisa melawan. Dengan senyum penuh kemenangan, Ali mengisap dan menjilati puncak bukit kembarku. Tangannya terus saja mengelus gundukan daging diselangkangku, memutar dan menekan Klitorisku. Aku marah, benci. Aku tak menangis sebab kebencian sudah memenuhi otakku. Satu hal yang aku sesali, Ali merekam semua aksi bejatnya. Yang terlihat jelas hanya wajahku. Ali sama sekali tidak merekam wajahnya. Dia merekam saat kejantannya mulai memasuki lubang kewanitaanku. Aku menjerit. Air mataku luruh juga. Sakit. Sakiiit sekali rasanya. Ali kemudian merekam aktifitasnya memompa kejantannya secara paksa, dia juga merekam payudaraku yang bergerak karena tekanan pompaan Ali, dan terakhir, perlahan dia melepas kain yang dipakai menyumpal mulutku, menjilati bibirku, mencumbu dengan penuh nafsu, lalu dia merekam wajahku. Masih dalam keadaan terikat, Ali menyetubuhiku berkali-kali, hingga aku nyaris pingsan. "Aku sudah bilang, jangan pernah menolak keinginanku. Aku mau gadis perawan, dan kamu masih perawan Sar. Kamu nikmat Sari. Aku akan memiliki kamu, sampai aku bosan dan menemukan gadis perawan lainnya". Rasa marah, benci, jijik, semua beradu didadaku. Hanya airmata yang bisa mengerti deritaku saat itu. "Kamu jangan macam-macam Sari. Jangan adukan pada siapapun soal kita ini. Aku tidak segan-segan menyebarkan video hot kamu ke semua teman sekolah kita. Dan aku juga tidak segan-segan akan menyiksa kamu lagi, kalau sampai kamu berani membuka mulutmu" Ancaman Ali membuatku bergidik. Aku takut resiko yang akan aku terima, jika aku bercerita pada orang lain. Ali pasti akan menyiksa aku lagi. Aku putuskan untuk menutup mulutku, menyimpan rapat-rapat kenangan buruk malam ini. Seminggu setelah perbuatan Ali padaku, aku mencoba menghindar dari Ali. Begitu bel istirahat berbunyi, segera aku berlari ke perpustaakaan dan bersembunyi disana. Hal yang sama aku lakukan, saat jam pulang sekolah. Aku akan segera bersembunyi di Perpustakaan dan baru akan bergehas pulang, saat sekolah sudah sepi. Dari beberapa teman sekelasku, aku tau kalo Ali sering mencariku. Tapi aku selalu bisa menghindar. Hari ke-10, aku tak bisa mengjindar. Ali sudah menunggu didepan pintu kelas kami. Seperti biasa, aku akan bergegas ke perpustakaan untuk bersembunyi, tetapi alangkah terkejutnya dirku, saat seseorang merangkul pundakku dengan sangat erat. Ali. Mataku melotot seperti melihat hantu. "Video hot kamu, sudah ada yang melihat. Baru 2 oranv temanku sih. Belum banyak. Apa kamu masih mau menghindar dariku?" Ali mengancamku. Tubuhku tiba-tiba kaku, aku ketakutan. Darahku rasanya mendidih karena rasa yang bercampur aduk didalam dadaku. Air mata adalah sahabat terbaikku. Aku menangis meluapkan emosiku. Ali membawaku menuju motornya, dan kemudian memasangkan helm. Dia membawaku ke rumahnya, yang memang serinv kosong. Aku seperti kerbau yang ditusuk hidungnya. Aku tak bisa melawan. Aku pasrah, apa lagi yang akan aku alami hari ini. Setibanya di rumah Ali, dia langsung menyeretku masuk ke rumahnya,mengunci pintu dan secepat mungkin menelanjangiku. Ali menangkup wajahku, meresapi bibir mungilku, ciumannya menjadi lebih intens karena aku tidak melawan. Tangan kirinya bermain diujung bukit kembarku, p****g pink yang masih belum mekar sempurna. Tangan tangannya memegang kedua tanganku yang diangkat keatas, merapat ke dinding rumahnya. Cara Ali memperlakukan aku kali ini, jauh lebih lembut. Tidak ada paksaan. Ciumannya dileherku meninggalkan jejak kepemilikkan disana. Desahanku lolos saat Ali mengulum lembut puncak bukit kembarku. Jarinya juga sudah melesat masuk ke bibir luar lubang kenikmatanku. Aah, rasanya nikmat. Gelanyar aneh memenuhi kepalaku. Badanku rasanya tak bisa menolak ketika Ali memulai penyatuan dua alat kelamin yang sama-sama sudah dipengaruhi nafsu birahi. Sambil bersandar didinding ruang tamu Ali, aku membuka lebar selangkanganku. Ali menarik kursi tamu,dan kemudian meletakkan kakiku diatas kursi tersebut. Aku sudah pasrah, menyerah penuh pada Ali. Kejantanan Ali mulai didorong perlahan, masuk kedalam lubang surgaku. Merinding rasanya bulu tengkukku. Aaahhh, lenguhanku lolos. Ali tersenyum menatapku, kemudian mengecup lembut bibirku. Dorongan kejantanan Ali semakin dalam. Ya, kami sudah menyatu sempurna. Kejantanan Ali memenuhi vag**aku yang sudah basah karena nafsu. "Sari, maukah kamu jadi pelacurku?" bisik Ali ditengah percintaan kami. Aku terperanjak. "Apa Li, p*****r? Serendah itukah aku dimatamu?" tiba-tiba selera bercintaku sudah hilang. Aku ingin melawan, tapi aku takut, Ali akan memukulku. "Jangan salah paham, maksud aku, saat aku ingin melampiaskan nafsuku, kamu harus selalu ada. Kapan saja dan dimana saja. Bahkan gaya apa saja yang aku mau saat kits bercinta, itu juga kamu harus mau. Begitu maksudku Sari!" Aku masih terdiam, mendengar penjelasan Ali. Ali terus saja memompa kejantanannya keluar masuk lubang kenikmatanku. Ali membalikkan tubuhku, memunggungi dia, kemudian Ali menarik pinggangku, mengarahkan bokongku kearah Pe**snya. Penyatuan kembali dilakukan Ali, kali ini dengan Doggystye. Tentu saja aku tak bisa menyangkal, kalau ini gaya berhubungan badan paling nikmat. Desahanku keluar begitu saja, tak terkontrol. "Aaaahhh, aaaaauuw, oooo, ayook Ali, terus Ali, oooo, enak banget sih Li... ooooh, ooh, aaah" entah sudah berapa kali rintihanku lolos. Ali sangat menikmati penyatuan kelamin kami. Genjotannya semakin cepat, semakin dalam dan kemudian pelepasannya datang. Ali memeluk erat tubuhku, meremas kencang payudaraku. "Aaaahhh, Watiiiii, aku gak tahan lagi. Aaakkhh,aaaaahhh....."Ali menembakkan spermanya,kedalam rahimku. Aku terkejut. Ali bukan menyebut namaku,melainkan Wati. Teriris rasanya hatiku.Aku terdiam, kaku dan tak ingin melakukan apapun saat ini. Aku permah mendengar cerita dari teman-temanku, jika seorang pria saat sedang bercinta dengan kita, tetapi dia menyebutkan nama wanita lain, artinya pria tersebut tidak mencintai kita. Dia hanya menginginkan tubuhku, untuk kepuasan s****l semata. Dan ini terjadi padaku, Ali memyebutkan nama wanita lain saat sedang bercinta denganku. Ali kembali menyetubuhiku sebanyak 3x, sebelum akhirnya aku memohon agar diijinkan pulang. Waktu sudah menunjukan pukul 7 malam, saat aku meninggalkan rumah Ali. Aku tak ingin dia mengantarku. Aku biarkan dia tertidur akibat kecapean bercinta seharian tadi. Setiba dirumah, aku segera meminum Pil pencegah kehamilan yang pernah diberikan Ali padaku. Aku membersihkan diri, dan kemudian segera bersiap untuk mengerjakan tugas sekolah. Waktu berjalan sangat cepat. Tanpa terasa kami sudah duduk di kelas 3. Selama libur kenaikan kelas, aku berlibur ke rumah nenek. Dengan alasan ini, aku bisa meninggalkan Ali. Aku capek setiap hari harus melayani nafsu bejatnya. Dia menikmati tubuhku, tetapi membayangkan wanita lain. Aku tersiksa, sakit yang tak dapat aku ceritakan pada siapapun. Aku menyimpan semua masalah ini dengan sangat rapi. Bahkan Dari kedua orang tuaku. Hampir tiga minggu aku tidak bertemu Ali. Rasanya aku tak merindukan dia. Tidak sama sekali. Hidupku jauh lebih tenang. ************ Hari pertama masuk sekolah,Ali terlihat marah padaku. Aku berusaha menghindarinya. Saat istirahat, dia sudah menungguku didepan kelas. Aku ditariknya menuju ke arah kantin sekolah. Tidak. Kami tidak ke kantin, dia menyeretku menuju kebun dibelakang sekolah. Cengkeraman tangannya terasa sakit. Aku dilempar kearah rerumputan. Aku jatuh tersungkur. Dia menendang perutku. Ya Tuhan, apa salahku hingga aku disiksa begini. "Bangun kamu. Berdiri!! " Ali membentakku. Air mata sudah bercucuran. Dia menekan kuat tubuhku ke arah dinding pagar sekolah. Pipiku rasanya perih, ada luka disudut bibirku. Ali memaksa mencium bibirku, kemudian dia menggigit bibirku. Aku hanya bisa menangis tanpa suara. Rimbunnya tanaman hortikultura dapat menyembunyikan keberadaan kami disudut kebun itu. Tidak ada anak murid maupun guru yang lewat disekitar tempat ini. Jaraknya cukup jauh, kurang lebih 100m dari bangunan sekolah. Dalam keadaan kalut, Ali memaksaku melakukan oral s*x. Dia memaksaku menelan kejantanannya dan menghisap serta menjilati bagian tubuh tanpa daging tersebut. Karena aku terus menangis, Ali menjadi sangat kesal. Wajahku ditamparnya. Aku didorong agar terduduk dirumput, dia mambalikkan tubuhku memunggunginya, kemudian dia menyetubuhi direrumputan disudut sekolah. Beberapa kali melakukan hentakan dan tekanan kuat pada vag**aku, pelepasan Ali datang. Dia meremas kuat pinggangku kemudian memukuli bok**g kecilku. Aku kesakitan. Aku ketakutan. "Ini hukuman karena kamu pergi terlalu lama. Oh ya, Video panas kamu, sudah aku sebar ke beberapa teman. Tenang, wajahmu masih aku tutup. Pulang sekolah, aku tunggu dirumah. Jangan coba kamu melawan. Aku tak segan-segan menyebarkan video panasmu" Ancaman Ali membuatku merinding. Jangan sampai videoku tersebar. Aku lebih takut jika sampai Video itu tersebar. Aku membersihkan bajuku, membetulkan posisi seragam putih abu-abuku, merapikan rambu dan mengeringkan air mataku. Aku harus tegar. Tinggal setahun lagi, dan aku akan pergi menjauh dari desa kami. Aku bertekad untuk melanjutkan kuliah ke kota lain. Dengan alasan kuliah, orang tuaku tentu akan mengijinkan aku pergi. Dan aku bisa berpisah dengan Ali. Hari-hari berlalu begitu lambat. Sehari rasanya seminggu, seminggu rasanya seperti sebulan. Rasa was-was jika video panasku tersebar, terjadi hari ini. Teman-teman sekelasku membahas tentang potongan video panas, seorang gadis yang kehilangan keperawanannya, direkam oleh cowoknya. Pada Video itu, terlihat b***************n yang menerobos masuk ke lubang kenikmatan seorang wanita. Suara jeritan tertahan terdengar jelas disana. Setelah masuk setengah, si pria berhenti sesaat, kemudian menekan kuat hingga kejantanannya masuk secara utuh. "Aku tidak akan mundur sayang, aku tidak akan melepaskan lubang perawanmu. Lihat ini, aku akan menarik keluar milikku,pasti ada bercak darah disana." aksi si pria direkaman video itu. Suaranya agak diberatkan, agar tidak ada yang mengenali suara si pria. Dia menarik keluar batang kejantanannya, dan menunjukan ujung pe**snya yang berdarah. "Puas rasanya memerawani seorang wanita. Sempurna". Aksi berikutnha, si pria mengarahkan batang kejantanannya dimulut va***a sang gadis, dan mulai didorong masuk secara paksa. Terdengar lagi suara jeritan tertahan si gadis. Vidio itu terputus sampai disitu. Beberapa temanku histeris, "aaauuw tanggung. Ada lanjutannya lagi gak? Ada yang punya video selanjutnga gak?"tanya beberapa teman cowok. Aku syok. Mataku rasanya panas, kepalaku rasanya berputar-putar. Beberapa teman cewek juga kelihatannya ingin menonton lanjutan video itu. "Aah, rasanya bener-bener sakit. Panas dan perih bercampur menjadi satu pada saat pertama kali bercinta. Tapi kan surganya setelah itu. Iya kan teman-teman?" Disambut gelak tawa beberapa teman cewek lainnya. "Sari, Kamu masih perawan kan? Hati-hati, nanti kamu diculik dan disekap si cowok maniak perawan itu." Goda Dwi. Aku hanya tersenyum sinis. Aku tak berkata apapun. Aku syok. Video tadi, adalah apa yang dilakukan Ali padaku. Aku bahkan ikut mengerakkan pinggulku, saat penyatuan kami berlangsung. Menjijikkan kamu Sari. Seminggu sebelum ujian nasional digelar, Ali mengajakku untuk jalan-jalan. Malam mingguan anak muda jaman itu. Aku sedang datang bulan. Jadi aku berpikir, Ali tidak akan mau meniduriku jika aku sedang datang bulan. Tapi aku salah. Akibat melihat beberapa pasang muda mudi yang berciuman di taman, Nafsu Ali naik. Dia menggerayangiku di Taman. Gak puas,aku ditarik menuju ke motornya. "Kita mau kemana Al?" tanyaku. Ali diam saja. Motornya diarahkan menuju ke rumahnya. Apa lagi yang akan dia lakukan? "Aku sedang tidak bisa berhubungan badan Al, aku sedang datang bulan." Aku memohon agar Ali tidak berlalu kasar padaku. Tapi aku salah, Ali tidak perduli dengan hal itu. Aku ditelanjangi, menyisahkan cawat berpembalut di selangkanganku. Dia mencumbuiku, leherku sudah penuh kissmark. Puncak bukit kembarku juga sudah berubah warna,memerah. Kejantanan Ali bermain diantara pahaku, tepat pada Labia mayora ku. Aku risih,tapi tak bisa melawan. Jika aku melawan atau menolak Ali, maka dia tidak akan segan-segan menyiksaku. Ali membuka paksa celana dalamku, karena dia sudah sangat bernafsu tetapi belum bisa mendapatkan Orgasmenya. Aku terkejut, mataku melotot manatap Ali. Sebuah tamparan mendapat di pipiku. Sakit. Jiwaku lebih tersakiti. Ali melakukan penetrasi, menembus lubang kenikmatanku yang sedang basah karena Haid. Ada kepuasaan di wajah Ali aku lihat. Dia terus saja menekan dan memutar batang kejantanannya disana. Masih belum puas juga, Ali membersihkan kejantanannya dan memaksaku melakukan oral s*x melalui mulut. Rambutku sudah diremas kuat, kepalaku sudah didorong maju mundur berulang kali, tetapi pelepasannya masih belum datang juga. Aku panik. Terbayang aku akan dipukuli lagi. Hingga akhirnya, Ali memasukkan kembali batang kejantanannya kedalam va***aku, setelah dicuci menggunakan handuk basa dan dikeringkan paksa. Ali menyetubuhiku dengan kekerasan, tubuhku sampai memar-memar. Sambil memasukiku dari belakang, pahaku dipaksa menjepit kuat, penetrasi yang dilakuka. Ali rasanya sangat menyakitkan. setelah sekian lama memompa tubuhnya, akhirnya pelepasan Ali datang. Dia menyemprotkan cairan sp***a kedalam rahimku. Aku hanya diam. Dalam diam aku menangis. "Sialan kamu Sari, p*****r murahan. Kamu sama sekali tidak bikin aku puas. Permainan ranjangmu kalah jauh sama wati, janda kampung sebelah. Sialan kamu. Pulang sana. Aku gak butuh kamu" Ali sepertinya masih belum puas. Tapi aku tak perduli. "Tolong jangan sebar video mesumku ya Al. Aku janji tidak akan mengadu pada siapapun!" Aku masih memohon belas kasihannya. Ali bangkit berdiri, dan kemudian masuk ke kamar mandi. "Saat aku selesai membersihkan diri,kamu sudah gak ada disini. Pergi cepat". Aku pergi, dan tak ingin melihat kembali kebelakang. Aku memutuskan akan meninggalkan Ali. ************ Catatan kaki penulis: kejahatan s****l pada anak dibawah umur, saat ini lebih menakutkan. Jadilah orang tua yang cerdas. Jangan sibuk dengan kegiatan diluar rumah. Perhatikan tumbuh kembang anak kita, khususnya yang anak gadis. Mereka rentan sekali menerima perlakuan jahat, Kejahatan dan kekerasan s****l. Tetap Waspada.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN