Ujian Nasional hari ini dimulai. Hari-hari terakhir sebagai anak sekolah akan segera berakhir. Aku benar-benar fokus pada nilai raportku. Sejak sebulan lalu, aku selalu minta diantar dan dijemput oleh ayahku. Aku bilang, bahwa aku sering mendapat perlakuan kasar oleh anak sekolah lain. Sewaktu Ali menyetubuhiku secara paksa di Kebun sekolah, aku bilang bahwa aku jatuh karena berlari menghindari anak sekolah lain tersebut. Ayah sempat marah, dan ingin mendatangi guruku, tetapi aku bilang kejadiannya diluar wilayah sekolah. Para guru, tentu tidak tahu menahu soal ini. Aku juga berjanji pada ayah, bahwa aku bisa menjaga diriku. Sebetulnya, aku takut jika kejadian sebenarnya yang menimpaku, diketahui oleh orang tuaku, ayah pasti akan memaksa Ali untuk menikahiku. Dan aku tidak mau itu terjadi. Aku harus terlepas dari Ali apapun yang akan terjadi nanti.
Hari pengumuman kelulusan pun tiba. Para siswa sudah menyediakan Pilox warna warni dan juga spidol, untuk aksi corat coret baju seragam. Hari itu kami bersenang-senang. Dari kejauhan, Ali menatapku marah. Aku tidak memperdulikan Ali. Aku selalu mendekatkan diri pada teman-teman wanita sekelasku. Setelah acara senang-senang berakhir, aku akan berjalan keluar gerbang sekolah, saat Ali menarik tanganku dan menyeret aku ke kebun belakang sekolah. Rimbunnya tanaman, ada ubi kayu/ singkong, Pohon pisang dan juga tanaman jagung, menyebabkan tidak ada orang lain yang menyadari kejadian tersebut.
"Mau menghindar lagi kamu?" Sebuah pukulan telak mengenai perutku. "Aakhh...!"Aku meringis tertahan.
"Hari ini, ayahmu tidak bisa menjemputmu". Tadi aku bertemu beliau didepan sekolah, dan aku bilang bahwa aku yang akan menyampaikan pesannya padamu." Ali menggenggam kuat pergelangan tanganku.
"Ikut aku sekarang,pel***r!"
Aku tak tahan lagi. Kali ini aku melawan Ali. "Kamu bilang aku pel***r, tetapi kamu terus menginginkan tubuhku. Kamu bilang aku sialan, aku bodoh urusan ranjang, tapi kamu terus saja meniduriku. Mau kamu apa Ali? " Aku menjerit histeris. Ali semakin marah. Dia menarik paksa bajuku hingga sobek. Bra berwarna putih yang aku pakai, sudah terpampang jelas disana.
"Kamu mau aku telanjangi dan aku biarkan sendirian disini? Lihat keadaan sekolah. Sudah sepi. Semua orang sudah pulang." Ali melepaskan kameja putihku. Aku shock. Apakah benar dia akan menelanjangiku saat ini? Tangannya sudah terulur untuk melepaskan rok panjangku. Tapi aku mencegahnya. "Aku akan ikut denganmu sekarang". Ali tersenyum, sambil memberikan jaketnya padaku. "Pakai ini, biar gak ada yang ikut menikmati pemandangan di dadamu.". Air mataku terus mengalir. Aku pasrah.
Sesampainya dirumah Ali, seperti biasa, keadaannya akan sepi. Orang tua Ali, sudah pergi ke ladang sejak pagi, dan baru akan pulang pada petang nanti. Siang itu, dia menyetubuhiku mulai dari ruang tamu, berpindah ke meja makan, berlanjut di kamar tidurnya, dan berakhir saat mandi. Ali sepertinya memiliki Libido yang sangat tinggi. Sekali berhubungan badan, dia butuh waktu 15-25 menit hingga pelepasannya datang. Seharusnya aku bahagia, tetapi tidak, jika dilakukan tanpa cinta. Aku benci Ali.
Aku mendaftar untuk Ikut UMPTN secara diam-diam. Ali tidak mengetahui jika aku ikut ujian masuk Perguruan Tinggi. Yang dia tau, aku akan menjadi gadis desa, yang akan selalu ada buat dia. Aku benar-benar melaksanakan ujian tanpa sepengetahuan Ali. Hingga akhirnya tiba hari pengumuman hasil penerimaan Mahasiswa baru, dan aku diterima di Universitas Negeri Bandung. Kota yang berjarak 16 jam perjalanan dari kampung kami. Ya, aku bahagia. Tetapi tidak halnya dengan Ali. Dia mengajakku bertemu malam itu. Tapi aku menolak. Ali kemudian bertekad datang kerumah kami, kemudian meminta ijin pada ayahku, untuk mengajakku keluar berjalan-jalan, sekagus merayakan kelulusanku. Ayah tidak curiga, sebab ayah memang mengenal Ali. Orang tua kami juga saling mengenal.
Saat sedang mengendarai motor, Handphone Ali yang berada di saku jaketnya, aku ambil. Dia tidak menyadari hal itu. Kemudian Hp tersebut aku lempar ke tengah jalan. Motor Ali tetap melaju kencang. Sesampainya di tempat nongkrong,dimana teman-teman Ali juga sudah berkumpul, Ali baru menyadari Handphone nya tidak ada. Dia panik. Aku juga berlagak panik. Ali pamit untuk mencari hpnya itu, sementara aku ditinggalkan bersama teman-temannya.
Sekitar 1 jam kemudian, Ali kembali dengan tangan kosong. Aku masih berpura-pura panik. Dalam hatiku, aku bersyukur Allah menunjukkan jalan untukku, agar terlepas sepenuhnya dari Ali. Selepas makan bersama-sama, Ali mengajakku untuk pulang. Ditengah jalan, Ali mengarahkan motornya ke ladang milik warga desa, yang biasa dijaga oleh Ali. Ali menghidupkan lentera, menutup rapat pintu gubuk. Didalam gubuk ini, Ali kembali menyetubuhiku.Kali ini sedang bahagia. Aku memilih menikmati percintaan panas Ali. Dia sangat kuat dan kejantanan Ali juga ukurannya cukup besar menurutku. Selama 30 menit penyatuan kami berlangsung. Ali membiarkan aku mencapai klimaks dengan duduk dipangkuannya. Aku memompa bokongku, menekan kejantanan Ali. Bibir dan lidah Ali terus saja bermain di puncak payudaraku. p****g Pink sudah berubah warna menjadi merah. Baru kali ini, aku menikmati berhubungan badan dengan Ali. Aku tak perduli, Karena minggu depan, aku sudah pergi dari desa kami.
"Sari, kamu tidak boleh pergi ke Bandung. Aku akan menyusul dan menyiksa kamu disana" Ali mengancamku. Aku tersenyum dan mengecup bibir Ali. Aku tidak ingin Ali marah, karena dia akan memukulku lagi.
Aku mengiyakan semua mau Ali malam itu. Ali kemudian membaringkan tubuhku di dipan yang ada di gubuk tersebut, posisi badanku menelungkup, dan Ali kembali menyetubuhiku dari belakang. Kali ini, aku benar-benar menikmati setiap tusukan, tekanan dan belaian Ali. Terasa penuh lubang kenikmatanku. Tubuh Ali menegang, kejantanannya terasa penuh sesak dibawah sana. Ali menjerit tertahan, saat gelombang orgasmenya datang. Semburan lava hangat Ali beberapa kali memenuhi jalan rahimku. Kami berbaring sambil berpelukan, serasa kami adalah pasangan sempurna, tetapi itu adalah kenangan terakhirku dengan Ali. Aku memilih pergi, seminggu kemudian. Aku bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal. Nomor Handphone aku ganti yang baru setibanya aku di Bandung.
Aku juga meminta pada ayah dan ibu, agar tidak mrmberikan nomor Hp ku yang baru, pada siapapun.
Demikianlah aku terbebas dari Ali. Hingga saat ini, setelah 2 tahun berlalu, dan aku bertemu Jeffry. Lia mencoba membuat kami lebih dekat. Aku tahu,maksud Lia mendekatkan aku dengan Jeffry adalah baik. Agar aku tidak selamanya bergantung pada Lia. Setidaknya, ada sesosok lelaki baik, yang bisa menjagaku. Begitu Lia menjelaskan niatnya padaku.
Dan selama dua tahun ini, aku lebih mengenal Jeffry sebagai pria penyabar dan baim hati. Dia hamble, selalu menolong teman yang meminta bantuannya tampa pamrih. Perlahan aku mulai membuka hatiku buat Jeffry.
Sore di taman, saat Lia dan Indra meninggalkan kami berdua ditaman, Jeffry memberikan jaketnya padaku. Udara sudah mulai dingin. Angin sepoi-sepoi, menambah dingin suasana hatiku.
"Jeff, kamu serius ingin mengajak aku beroacaran?" selidikku. Jeffry membalas tanyaku dengan senyum. Dirangkulnya pundakku, ditariknya badanku kearah dadanya. Jeffry memelukku, hangat. Air mataku lolos begitu saja. Aku rindu pelukan hangat sesosok pria yang benar-benar menyayangiku. "Aku akan menerimamu, tapi setelah aku bercerita tentang masa laluku padamu Jeff" Aku berbisik padanya, masib dalam pelukan hangat Jeffry. Dia kemudian mencium keningku,lembut. Lembuuut sekali. Tak ada kekerasan ataupun paksaan aku rasakan disana.
Enam bulan berlalu, setelah aku menerima Jeffry menjadi pacarku. Tak ada yang aku rahasiakan dari Jeffry. Aku bercerita tentang kelamnya masa lakuku padanya. Diluar dugaanku, Jeffry sama sekali tidak mempermasalahkan masa lakuku. Saat aku sakit, Jeffry selalu ada disisiku. Menemaniku saat Lia dan Dink tidak dirumah. Aku menemukan cinta tulus Jeffry. Dan aku bahagia, Karena memiliki seorang pria penyabar dan penyayang.
Sore ini, suasana rumah kontrakan kami sedang sepi. Lia dan Dini sedang kuliah. Aku sedang berduaan dengan Jeffry dikamar. Tidak sengaja, tangan Jeffry menyentuh bukit kembarku. Dia ingin memelukku dari belakang, sambil tiduran. Tetapi karena aku terus bergerak, tangannya menyentuh bukit kembarku. Ada gelanyar aneh aku rasakan pada sekujur tubuhku. "Maaf, aku gak sengaja" Jeffry memelukku dan meminta maaf. Perlahan, aku membalikkan tubuhku, berhadap-hadapan dengannya, aku memandang iris mata coklat Jeffry, dan aku meraih bibirnya, melumatnya lembut. Jeffry terkejut, tapi tidak melepaskan pagutanku. "Sar, kamu yakin? Mau membuka dirimu lagi?" Tanya Jeffry padaku. Aku tersenyum menjawab keraguan Jeffry. Dia kemudian menangkup pipiku, menambah intens ciuman kami. "Aku tidak akan mengambil keuntungan dari keadaan kamu Sari. Mas sayang sama Sari, jadi mas tidak akan terburu-buru". Setiap penolakannya, dan kata-katanya, seperti sihir pada tubuhku. Aku yanv memulia. Aku yang membuka diri dan mengijinkan Jeffry melumat bibirku juga puncak bukit kembarku. Aku yang menginginkan penyatuan ini. Aku menginginkan Jeffry untuk memasuki tubuhku. Aku wanita normal. Aku punya hasrat s****l yang cukup tinggi. Apalagi saat mendengar Lia diperawani oleh Indra beberapa bulan lalu, membuat aku sangat menginginkan penyatuan sempurna dua insan berbeda kelamin. Dan disinilah kami saat ini, berdua saling memagut, saling menindih dan saling berpelukan.
"Kalau punya mas sudah masuk kedalam sana, Sari akan jadi milik mas Jeffry selamanya. Sari bersedia? Mas gak akan mundur lagi, jika kejantanan mas sudah masuk ke lubang kenikmatana Sari." Jeffry terus meyakinkan aku. Tubuhku sudah sepenuhnya dikuasa hawa nafsu, aku meraih kejantanan Jeffry dan mengarahkannya ke labia mayoraku. Jeffry menggelengkan kepalanya. "Kamu sudah gak tahan lagi ya sayang?" bisiknya nakal sambil menjilati kupingku. "Aaakhh, ayo mas, setubuhi aku, jadikan aku milik mas Jeffry. Aku mohon mas!" Aku sangat mengingkan s*x. Menginginkan kepuasan o*****e menguasai tubuhku. Dan Jeffry akhirnya membuka pahaku lebar, memposisikan dirinya diatas tubuhku kemudian mendorong lembut ujung senjata nikmatnya kedalam labiaku. Sekali hentak, batang kenikmatan Jeffry sudah memenuhi rongga di dalam va***aku. Nikmat sekali rasanya jika dilakukan dengan perasaan cinta dan sayang. Jeffry benar-benar bisa memanjakan aku selama bercinta. Sambil meniduriku, memompa bokongnya, bibir dan lidahnya bermain di puncak bukit kembarku. Rasanya berbeda sekali dengan perlakukan Ali saat meniduriku. Jeffry lebih memabukkan. Aku jatuh cinta padanya dan semakin jatuh cinta saat dia mulai meniduriku. Lenguhan dan desahanku, rasanya sudah tak terbendung lagi. Aku menjerit dan meringis nikmat, setiap kali Jeffry memompa keras batang kejantanannya didalam sana. Sudah beberapa kali mengganti gaya penyatuan kami. Mulai dari awalnya gaya misionaris, sendok melilit, dari samping, tidak lupa gaya kesukaanku, Doggystyle dan berakhir dengan gaya doggystyle versi telungkup. Rasanya aku sudah o*****e berkali-kali. Aku puas sekali dengan cara bercinta Jeffry. "Mas keluarin yah? Boleh keluarin didalam gak Sar?" Tanya Jeffry padaku. Aku menggangguk dan kemudian Jeffry menekan penuh p***snya, menusuk hingga dinding rahimku dan melelaskan spe**anya didalam sana. "Aaakh, aaaakh, aaahhk" Aku dapat merasakan Jeffry melepaskan beberapa kali cairan orgasmenya didalam va***aku. Nikmat sekali rasanya. Jeffry masih tertidur dipunggungku, hingga kejantanannya sudah terasa melemas, kemudian dia menarik perlahan p***snya keluar. Jeffry memeluk tubuhku erat. Eraaat sekali. "Mas cinta sama Sari"kecupan manis hinggal dikeningku. Aku bahkan tidak sadar jika jendela kamarku tidak aku tutup rapat.
Sudah sore, dan Jeffry berniat akan pulang. Kami punya perjanjian, tidak boleh ada cowok yang menginap. Aku terkejut bertemu Lia diteras depan rumah. "Eh Li, sudah lama lu disini Li?"
"Ya elaah Sari, kalo mau ngehek, mau ena-ena, pintu kamar dan jendela ditutup rapat-rapat. Berisik kamu Sar" Lia menggodaku. "Awas,jangan sampe hamil" Lia masih menggoda kami. Jeffry masih menggenggam lembut tanganku dan aku tak melepaskan pelukanku.
Beberapa kali ciuman Jeffry mendarat dipuncak kepalaku. Aku sadar, Jeffry benar-benar sayang padaku. Aku tak perlu takut lagi sekarang. Bahkan Pada Ali. Ada jeffry yang akan melindungiku.
************
kisah masa laku Sari, sudah dibajas tuntas. Next, penulis akan kembali menulis sejarah panjang, berliku dan hitam seorang Lia Himawan.
ada saran, kritik? *******
langsung tinggalkan di kolom komentar. trima kasih