Cinta tulus seorang wanita, diuji disaat sang pria membagi cintanya. (Lia Himawan)
Memaafkan atau meninggalkan sang pria, disaat cinta tulus dan pengorbanan diri sudah tak sebanding,membuatku frustasi. Disatu sisi, aku mencintai dan menginginkan Indra menjadi milikku, tetapi disisi lainnya, ada hati wanita lain yang juga sedang terluka. Kalut. Marah. Sedih. Terluka. Cemburu. Semua rasa ini, bermain dan berkejaran didalam pikiranku. Aku bahkan belum bisa membayangkan, langkah mana yang akan aku ambil. Sebegitu runyam dan kalutnya pikiranku, membuatku lupa, ada alam indah diluar sana yang bisa ku nikmati. Ada langit biru diatas sana yang selalu membuatku terpana dengan kekuatannya kala surya menyingsing dan kala senja tiba, sesaat sebelum sang mentari terbenam,kembali ke peraduannya. Keindahannya saat malam tiba, berhiaskan bulan dan bintang. Aku lupa pada sang pemilik hidup ini. Aku melupakan kekuasaan, keajaiban dan kebesaran Tuhan. Perlahan, kuseret langkah kakiku menuju ke Toilet, kubasuh wajahku dengan air dingin. Aku mencuci bersih wajahku, menggosok gigi putihku, kemudian membasuh kaki dan tanganku. Kembali ke kamar, aku berniat berdoa pagi dengan khusuk. Waktu baru menunjukkan pukul 04.15WIB. Angin dingin menerobos masuk saat jendela kamar aku buka lebar. Tak dapat kubendung, kelopak mata terasa panas. Bumi tak dapat kupijak dengan gagah. Aku tersungkur dan menangis, melepas semua beban yang menghimpit. Sari yang akan menunaikan ibadah sholat Subuh juga, mengetuk pintu kamarku. karena mendengar suara gaduh. Aku membuka pintu kamar, dan mengatakan bahwa aku baik-baik saja.
Saat mata terpejam, saat lutut bertelut, saat diri berserah penuh pada yang kuasa, saat tangan terbuka memohon padaMu, disaat itulah damai kurasakan. Udara dingin kota Bandung semakin menyempurnakan penyerahan diriku pada Sang Pemilik Hidup.
*********
Bandung, pagi itu terasa lebih dingin dari hari sebelumnya. Bandung, terasa sepi bagiku yang sedang berada di keramaian pagi. Aku memilih berolahraga dengan berjalan kaki. Waktu sudah menunjukan pukul 06.15WIB. Kulangkahkan kakiku, menyusuri trotoar jalan Dago seorang diri. Rasanya hampa. Aku melihat sekelilingku, banyak pasangan muda yang berolahraga bersama. Ah, aku cemburu. Ada beberapa anak muda yang mencoba menarik perhatianku. "Kumaha? Damang teteh?" Aku hanya melemparkan senyum manis pada mereka dan terus saja berjalan. Rasanya saat ini yang bisa aku lakukan hanyalah menghitung berapa banyak lampu taman yang ada disepanjang jalan yang aku lewati. Aah, ini salah Lia. Luka ini, seharusnya tidak membunuhmu. Kamu terlalu cantik, terlalu manis, terlalu baik untuk seorang b******n seperti Indra. Kamu tidak seharusnya patah arang karena Indra berselingkuh. Lihatlah lebih jauh keluar sana, banyak pasangan suami istri, yang sudah hidup bersama bertahun-tahun lamanya, akhirnya berpisah karena hadirnya orang ketiga. Banyak pasangan muda, yang sudah berjanji sehidup semati, juga berpisah. Tak ada yang abadi didunia ini, apalagi tentang hati dan rasa. Aku terus bergumul dan beradu rasa dengan hatiku. Menawar dan menimbang, untuk kemudian memutuskan apa yang terbaik buat diriku sendiri.
Setelah puas berjalan santai, aku memutuskan untuk mampir ke warung mang Yayat, tukang bubur langganan yang mangkal di kompleks depan perumahan kami. Bubur ayamnya paling enak menurutku. Paling pas juga dengan kantong anak kuliahan sepertiku.
"Mang, bubur ayamnya 1 yah mang? Campur semua. Agak pedes mang."
Mang Yayat segera membuat pesananku. "Neng Lia mau minum yang manis apa yang tawar neng?" tanya mang Yayat saat mengantar pesanan buburku. "Manis dan panas mang." Senyum mengembang diwajah mang Yayat.
"Tumben sendiri neng, si aa ganteng kemana atuh?" mang Yayat masih mengajakku ngobrol. "Sudah putus mang" jawabku sekenanya saja.
"Oooo, pantesan kemarin aa Indra sarapan buburnya sama yang lain yah? Ternyata sudah putus." Ocehan mang Yayat seperti belati yang menancap di dadaku. Sakit. Sakiiiiit banget. Nafasku memburu karena emosi yang tak bisa aku kendalikan. Perlahan, aku raih teh manisku, kuteguk sambil benar-benar kuresapi rasa manis dan panasnya kemudian aku menghembuskan nafas panjang. Tenang Lia, tenang. Indra memang b******n. Tuhan sedang menunjukkan padamu, siapa Indra yang sebenarnya.
"Iya mang Yayat. Gak papa, kami sudah putus koq mang" Aku berusaha menenangkan diri. Bubur ayam yang biasanya rasanya super enak itu, pagi ini rasanya hambar. Aku menghabiskan teh manisku dan kemudian membayar pesananku. Saat akan melangkah, meninggalkan warung mang Yayat, pemandangan didepan mataku saat ini rasanya adalah pemandangan yang paling menyakitkan. Semakin sempurna luka ini kau goreskan, aku berbisik pada diriku sendiri. Indra sedang menggandeng tangan seorang wanita cantik, yang belum pernah aku kenal sebelumnya. Langkah kaki Indra terhenti dan genggaman tangan sang wanita, dilepasnya. Indra menatapku kaget. Matanya seperti ingin berkata, ini bukan seperti yang kamu kira Li, aa hanya bersenang-senang. Ah, aku sudah mengenalmu luar dan dalam Indra. Bahkan mungkin lebih baik dari pada ibumu dalam hal mengenali kamu. Aku menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskan dengam tergesa-gesa. Langkah kakiku yang panjang dan kuat, membawaku menjauh dari hadapan Indra. Aku hanya ingin segera berlalu dari Indra. Sudah 3 minggu dia kembali dari Program KKN dan tidak pernah dia memberiku kabar. Artinya sudah mendekati 8 bulan, kita tak pernah bertemu. Seingatku, seminggu sebelum dia kembali, Indra memberiku kabar bahwa dia akan pulang dan dia juga merindukanku. Tapi kenyataan tak semanis janjinya. Dia sudah kembali, tapi tak pernah memberi kabar. Tiba-tiba tanganku ditarik kencang. Aku hampir saja terjungkal. Karena kaget, refleks aku menyambar tangan tersebut dan membanting tubuh sang pria. Jangan lupa, aku jago karate. Seketika bola mataku membesar. Indra. Pria yang aku banting tadi ternyata Indra. Dia menahan sakit karena bantinganku. Ada sedikit kepuasaan di hatiku, karena aku telah membanting Indra. Mampus lu. Begitu kira-kira suara yang ada di kepalaku. Senyum mengejek tersungging dibibirku. "Aaah ya ampun, mas Indra. Maafkan Lia mas." Aku membantu Indra berdiri. "Li, kira-kira dong kalo mau main smackdown. Aah gila, sakit banget lagi" Indra benar-benar kesal dengan ulahku. Hahahaha,dalam hati aku masih tertawa riang. Puaas gue.
Setidaknya sedikit rasa marahku berkurang. "Lia gak tau itu mas Indra, kirain orang jahat tadi mas." aku masih membela diri.
"Mas Indra kenapa ngikutin Lia?" Aku mencoba menetralisir suasana. Tanpa kata-kata manis, Indra memelukku erat, mendekap tubuhku. Rasa hangat mengalir dalam darahku, ada perasaan bahagia mengalir dalam hatiku. Aku bisa merasakan, pelukan Indra disertai rasa sayang yang tulus. Nanarku menangkap sesosok wanita yang sedang berdiri menatap kami. Tanpa ragu-ragu, aku membalas pelukan Indra dengan rasa yang sama. Hangat dan penuh kerinduan. Tatapanku tetap kuarahkan pada sang wanita, memberinya senyuman manis. Aku menangkap rasa cemburu pada tatapannya. Aku tak perduli. "Nanti setelah pulang kuliah, aa jemput yah? Please. Aa tunggu di gerbang. Jam berapa neng selesai kuliahnya?" Jangan Lia, jangan dijawab. Tolak Lia, tolak. Bilang aja kamu lagi sibuk. Jangan di.... "Jam 2 siang nanti Lia sudah kelar mas!" Antara suara hati dan suara bibir, antara jasmani dan rohani, seperti sedang berperang didalam sana dan pemenangnya adalah perasaan, bukan akal sehat. Akal Sehat selalu kalah telak dari getaran yang timbul akibat pelukan Indra, mengirimkan sinyal pada otak bahwa tubuh ini masih menginginkan sentuhan lelaki ini. Kecupan Indra di keningku dan kemudian berakhir dibibirku, semakin mematikan akal sehatku. Ya, aku masih mencintai dia. Sebanyak apapun dia menghianatiku, sebanyak itu juga cintaku bertambah padanya. Aku tak perduli. Memang benar, Cinta itu buta. Buta mata dan buta hati.
Aku kemudian melepaskan Indra,mengurai pelukannya. "Mas, cewekmu nunggu tuh. Sana pergi. Aku mau pulang, bersiap mau kuliah pagi" Aku sengaja menyadarkan Indra, agar mau melepaskan aku pergi. Indra mencium pungung tanganku, dan mengucapkan kata yang bikin lemah lututku: "I Love you Lia." Senyum manis kembali mengembang diwajahku. "Jangan terlambat ya mas In. Aku tunggu nanti jam 2 siang" Aku melambaikan tangan, melepaskan Indra untuk melanjutkan kencannya. Aku tak perduli apa yang sudah mereka lakukan semalam. Apakah mereka bercinta? Aku tak perduli. Yang aku perdulikan adalah Indra akan tetap kembali kepadaku, disaat dia sudah bosan bermain diluar sana. Disaat dia punya masalah, pelukanku yang dirindukannya. Aku rasa aku masih kuat, menerima semua penghianatan Indra. Aku akan menunggu dan terus menunggu dia memohon maaf padaku, dan maafku akan selalu aku berikan padanya.
***************
hellow readers, maaf agak telat di up. Belakangan ini aku cukup sibuk dengan beberapa kegiatan, tetapj aku sudah kembaliiiii....
Semoga minggu depan, bisa up lebih dari 3 episode.
trima kasih