Dikhianati (Lagi dan Lagi)

934 Kata
Tepat pukul 14.00, kuliah kami berakhir. Telaah Ekonomi Micro jilid kesekian ini, sudah tidak terserap lagi oleh otakku. Pikiranku sudah jauh melayang dan bertepi pada Indra seorang. Ini luar biasa. Sudah delapan bulan kami tidak bertemu. Rasa hati seperti sedang jatuh cinta berat. Degup jantung terdengar jelas didalam sana. Terbayang akan apa yang akan kami lalui nanti, apakah kami akan bercinta lagi? Huuuufft. Aku menghembuskan nafasku. "Kuliah hari ini kita akhiri, ingat, minggu depan kita sudah memasuki Ujian Tengah Semester. Jangan menumpuk tugas, karena saya tidak segan-segan memberi nilai E, pada mahasiswa ataupun mahasiswi yang malas. Selamat Siang semuanya, kita ketemu lagi minggu depan." Suara pak Rachmad mengakhiri kuliah siang ini. Segera aku bereskan buku-buku micro ekonomi yang terbuka di meja. Aku bergegas, berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke gerbang depan. Langkahku berhenti saat aku melihat Indra dan Dea sedang berbicara serius. Sepertinya mereka sedang bertengkar. Dea terlihat sangat emosional. Nada bicaranya sudah meninggi. Suaranya bergetar karena menahan tangis. Indra juga terlihat tidak sedang baik-baik saja. Dia terlihat gusar. Aku memilih bersandar dibalik tembok gerbang kampus. Kali ini, aku penasaran dengan apa yang terjadi diantara dua anak adam ini. "Aa Indra gak bisa menolak Dea begini terus. Dea gak cinta sama Anjas aa. Tolong Dea, nikahi Dea, akui ini anak aa Indra. Dea mohon aa." Tangis Dea sudah pecah. Aku terdiam. Aku memilih tidak ikut campur urusan mereka berdua. "Kan sudah aa bilang Dea, aa tidak mau bertanggung jawab karena aa tau betul itu bukan anak aa. Aa gak pernah melepaskan s****a aa didalam va**na Dea. Aa kan selalu keluarin diluar. Masa aa harus tanggung jawab atas nyawa anak laki-laki lain? Dea harusnya tau, siapa ayah dari anak yang ada dirahim Dea itu." Indra bersikukuh tidak mau bertanggung jawab. "Aa, tapi kita melakukannya lebih dari 5X aa, bisa jadi salah satunya aa salah, keluar didalam. Dea gak mau tau, aa harus tanggung jawab!" Dea terus saja menuntut tanggung jawab Indra. "Aa akan bertanggung jawab jika nanti hasil tes DNA nya sesuai. Tunggu sampai anak itu lahir. Untuk saat ini aa tidak yakin itu anak aa." Ketus Indra. Suasana hening. sesekali terdengar suara Dea yang masih menenangkan diri. Tiba-tiba handphone ku berbunyi. Indra menghubungiku. Aku segera menjauh dari tempat mereka berdiri. Setelah agak jauh, baru aku menjawab panggilan Indra. "Ya mas In? Aku sedang menuju ke gerbang. Mas Indra sudah sampai?" tanyaku bersandiwara. "Sudah. Aa tunggu. sekarang yaa Li?" Jawab Indra. Begitu sampai di gerbang, aku masih bersandiwara, berpura-pura terkejut melihat Dea. "Dea? Ada apa dek? " Belum sempat Dea menjawab, tanganku sudah ditarik oleh Indra, menjauh dari Dea. Indra membuka pintu mobilnya, menyuruhku untuk masuk dan kemudian menutup pintu mobil. Sekilas, aku melihat kearah Dea. Dia masih terlihat kesal. Aku tersenyum dan mengangguk pada Dea. Senyum empati atas permasalahannya, dan sekaligus senyum kemenangan karena Indra lebih memilih aku. Mobil Indra perlahan meninggalkan kampus kami. Wajah Indra masih terlihat dongkol. Aku belum berani membuka percakapan. Aku terdiam, pandangan mataku terarah keluar mobil. Indra meraih tanganku, meletakkannya diatas pahanya. Sentuhan tangan Indra, membuatku bergidik. Gelanyar aneh sudah mulai meletup-letup didalam sana. Mobil sedang berhenti di lampu merah. Tangan Indra sudah berpindah tempat, membuka kancing kamejaku. Dua anak kancing paling atas sudah terbuka. Bra ungu yang sedang menopang bukit kembarku tidak sanggup menopang isinya. p******a kenyal,padat dan putih bersih terlihat sangat menggoda. Tatapan sayu mata Indra mengisyaratkan bahwa dia sudah sangat bernafsu ingin menyetubuhiku. "Mas Indra, nanti kelihatan loh dari luar!" aku mencoba menyadarkan Indra. Tetapi yang aku dapatkan malah Indra lebih berani menjamah dadaku di dalam mobil. "Aman Li. Orang dari luar tidak bisa melihat kedalam mobil. Mereka hanya akan melihat bayangannya sendiri. Sedangkan kita, kita bisa melihat jelas keluar. Makanya, kamu telanjang juga gak akan ada yang tau." Indra menggodaku. p****g bukit kembarku sudah dikeluarkannya dari cup bra. Tangan Indra tak lepas dari ujung bukit kembarku, memilin dan mengusap lembut payudaraku. Libidoku terpacu. Aku yang sedari tadi menolak, perlahan meraih kancing celana jeans Indra, melepas kancing tersebut, menurunkan resleting celananya, dan menyentuh kejantanan Indra yang sudah menegang. Mataku terpaku pada pemandangan indah didepanku, jantungku berpacu lebih cepat, nafasku sudah tak teratur lagi. Refleks, aku menurunkan kepalaku kearah sela-sela paha Indra, meraih kejantanannya yang sudah mengeras kemudian menyentuh ujung batang p***s Indra dengan lidahku. "Aaahhhhh..... " Desahan nikmat lolos dari bibir Indra. Aku kemudian menelan lembut b***************n Indra, mengulum dan sesekali memainkan lidahku pada p***s keras Indra. Indra sudah menjalankan kembali mobilnya. Aku tak tahu kemana arahnya mengemudi, karena aku masih memberikan kenikmatan pada Indra dengan terus memainkan bibir dan lidahku pada kejantanan Indra. "Ooohhh Lia, Lia,....Li, oooh" Indra terus saja mendesis nikmat. Sesekali kepalaku didorong perlahan menelan utuh b***************n Indra masuk kedalam rongga mulutku. Indra menggerakkan b****g seksinya, mendorong lembut masuk pe**snya penuh kedalam mulutku. Aku melepaskan isapanku, menegakkan tubuhku. "Kog berhenti neng? Lagi doooong" Indra kemudian menarik lembut tengkuk leherku kearah kejantanannya yang masih berdiri, untuk kembali melakukan oral s*x. Aku menurut. Kejantanan yang menantang itu, sudah aku sedot utuh. Aku sudah mempelajari cara memuaskan pasangan dengan foreplay pakai mulut. Lidahku sudah aku latih menghisap, menjilat dan memilin dengan baik demi memuaskan kekasih hatiku. Indra sekarang sedang menikmati oral s*x yang sedang aku berikan pada kejantannanya. Serviceku memuaskan kata Indra. Lip service ternikmat yang pernah dia nikmati, begitu katanya. Lidahku masih bermain disela-sela paha Indra, menyentuh ujung kejantanan Indra, menjilat dan mengecup, menelan utuh p***s sambil diemut. "Ooooooohhh, aaaahhh, Ooooohh... " Tak henti-henti desahan nikmat lolos dari bibir Indra. Dan itu seperti irama musik yang sangaaaat indah yang aku dengar. "Bangun Li, rapikan bajumu. Kita sudah sampai dirumah. Nanti lanjut isep lagi ya neng?" Indra mencium keningku kemudian bibirku. "I Love you Lia"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN