TERUS MELANGKAH

1035 Kata
Indra terus menghujani wajahku,leherku dengan ciuman penuh nafsu. Kedua p******a ku diremas dengan sangat kasar. Sangat menuntut untuk dipuaskan. Aku membiarkan Indra berkuasa penuh atas tubuhku yang sudah tanpa sehelai benangpun. Indra menarik kasar tubuhku, membuka lebar kedua pahaku, menampilkan s**********n jenjang nan mulus dan menggoda. Lidahnya mulai bermain di area miss V ku, memaksa aku untuk terus menyebut namanya. Aku terbuai dengan semua yang Indra lakukan pada tubuhku. Perlahan,aku meraih kejantanan Indra,membawa tubuhnya berbaring terbaik dengan tubuhku, mensejajarkan bibirku dengan kejantanan Indra, kemudian mulai mengulum lembut benda tak bertulang yang sudah sangat menegang itu. Saling mengulum, saling menjilat, menghujani alat kelamin dengan cinta dan nafsu, memburu kenikmatan, memberikan service terbaik agar kami mendapatkan kepuasaan batin yang luar biasa. Ini pengalaman pertamaku. Aku sangat menikmati Indra memberikan service pada kewanitaan ku dan aku memuaskan Indra dengan Lips Service pada kejantanannya. Dalam hati, terucap doa agar lelaki ini kelak akan menjadi milikku sendiri dan tidak akan aku lepaskan. Aku jatuh cinta pada Indra sepenuh jiwa dan ragaku. Aku rela menderita agar Indra tetap bahagia. Percintaan panas kami berakhir dengan Indra mengeluarkan s****a didalam mulutku, memaksaku untuk menelan seluruh cairan tersebut, sementara dia terus mengecap lubang kenikmatanku dengan lidahnya. Aku tersenyum puas karena bisa memuaskan Indra,seperti apa yang dia inginkan. Indra seperti biasa, melayaniku dengan sangat lembut setelah percintaan panas kami berakhir. Dengan sehelai handuk basah, dia membersihkan tubuhku, kewanitaan ku dibersihkan dengan tissue khusus daerah organ intim kewanitaan agar selalu bersih dan kesat katanya. Aku pasrah, terkulai lemas dalam senyum bahagia. Aku terpesona penuh pada sosok lelaki ini. Indra kemudian menyelimuti tubuhku, memeluk erat tubuhku, mengecup ubun-ubun kepalaku,keningku kemudian bibirku dan akupun terlelap pulas dalam dekapannya. Terlalu sempurna, sampai-sampai aku lupa,kami bukan suami istri sah. Kami belum menjadi suami istri dimata agama dan hukum. Diatas Kertas aku tak memiliki ikatan apapun dengan Indra, tetapi diatas ranjang,kami berlaku seperti suami istri. Ada sedikit ketakutan dalam hatiku, jika suatu saat Indra harus pergi karena wanita lain. Seminggu telah berlalu, aku kembali dalam rutinitas kuliah yang penuh dengan tugas dan kuliah. Perhatian Indra tetap sama padamu. Sesekali dia menjemputmu di kampus. Rutinitas chat pagi tak pernah dia lewatkan. "Good morning my Love, How are you today? I Miss you dear" contoh salah satu chat rutin yang tak pernah dia lupakan. Atau Chat lainnya "Dear God, aku titip nadi dan detak jantung hidupku padamu, jaga dia tetap cantik,menarik dan pintar seperti biasanya. Love you Lia" Diiih, merinding aku membaca chat mesra Indra yang khusus buatku itu. Benarkah? Mengapa aku seyakin itu bahwa isi chat seperti itu hanya untukku? Bagaimana aku bisa percaya bahwa semua chat mesra setiap pagi itu hanya untukku? Iya, itu karena aku terlalu buta karena cinta dan nafsu. Sampai suatu waktu, saat sedang makan malam berdua dengan Indra, aku menemukan fakta yang sangat berbeda dengan apa yang aku rasakan dan aku yakini. Masih ada wanita lain, yang mendapat perlakukan sama persis seperti diriku. Dia adalah sahabat baik Indra sejak awal masuk kuliah. Mereka satu Fakultas dan satu jurusan juga. Aku salah menilai Indra. Indra tak sepenuhnya menginginkan aku untuk menjadi istrinya kelak. Indra hanya bersenang-senang denganku. Tetapi Pratiwi Hutami, adalah Impian hidup Indra. Sahabat yang sangat dia cintai dan dijaga, agar tetap perawan sampai mereka menikah nanti. Fakta yang sangat menyakitkan ini, aku dengar dengan telingaku sendiri pada saat Indra dan Tiwi sedang berbicara berdua saat aku tinggal ke toilet. Tiwi malam itu ingin bergabung bersama kami. Aku cukup terkejut dengan kenyataan bahwa ada Tiwi dimobil Indra, saat Indra menjemputmu untuk makan malam. Ada sedikit tanya yang mengganjal dalam pikiranku. Saat akan kembali masuk keruang makan,aku mendengar suara teriakan Tiwi. Indra dan Tiwi sedang bertengkar hebat. Mereka tidak menyadari kehadiranku. Aku memilih menguping pembicaraan mereka dari balik pintu ruang VIP. Ya, Indra dan Tiwi sedang bertengkar karena Indra terlalu mesra padaku. Tiwi cemburu padaku. Indra bilang bahwa ini semua akan berakhir saat dia telah selesai melaksanakan sidang skripsi nanti. Indra berjanji pada Tiwi, bahwa Indra akan mengakhiri hubungan denganku disaat yang tepat. Tiwi marah dan meminta Indra untuk memutuskan hubungan denganku malam itu juga. Kenyataan bahwa Indra dan Tiwi telah berjanji, tidak akan mencampuri urusan masing-masing selama mereka belum menikah, bahwa Indra bebas melakukan apa saja, bahkan boleh meniduri banyak wanita tetapi Tiwi akan tetap dia jaga utuh sampai mereka menikah, juga aku dengar dengan jelas. Air mataku mengalir deras tanpa dapat kubendung. Aku memilih meninggalkan Indra dan Tiwi. Aku berlalu pergi dengan hati hancur. Batinku terluka jiwaku goyah. Aku terus melangkahkan kakiku, berjalan tanpa tau kemana aku akan melangkah. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 23.30 malam. Aku masih terduduk dibangku taman dekat salah satu pusat perbelanjaan di kota Bandung. Kota ini masih sibuk dikala malam sudah memeluk. Dalam kekosongan jiwa yang aku rasakan, aku menyaksikan sepasang kekasih yang sedang bertengkar hebat. Tiba-tiba sang lelaki memukul pacarnya. Meninju dan menendang wajah sang pacar. Aku terkejut. Seketika naluriku berkata bahwa aku harus menolong sang wanita. Tanpa berpikir panjang, aku mendatangi sang pria, menendang dan memberikan sedikit pukulan keras agar dia tau, Wanita itu kesakitan akibat perbuatannya. Aku tidak gentar. Aku memiliki ilmu beladiri yang cukup memadai untuk sekedar beradu tinju dijalanan. Sang pria berlari pergi meninggalkan kami. Aku membantu sang wanita, dan memesankan taxi untuknya. Lydia namanya. Dia memberikan kartu namanya padaku. Ketika melihat alamat rumah yang akan dituju, aku cukup terkejut. Dia tinggal dikawasan perumahan elit kota Bandung. Dia cantik dan terkesan sangat sempurna. Lydia memintaku untuk ikut dengannya karena dia takut pacarnya akan menunggunya didepan rumahnya. Tanpa berpikir panjang aku ikut dengannya untuk memastikan Lydia baik-baik Saja. Taxi membawa kami menuju rumah Lydia. Dan benar saja dugaanku, Lydia ini anak orang berada. Setelah masuk kedalam rumahnya dan memastikan Lydia sudah aman, aku berniat untuk pamit pulang. Tetapi Lydia menahanku. Dia sedang sendirian dirumah. Ayah dan ibunya sedang perjalanan bisnis ke Jakarta. Hanya ada mbok Ina, ART yang setia menemani Lydia. Akhirnya, mengingat kondisiku juga yang sedang patah hati, aku menerima tawaran Lydia untuk menginap malam ini dirumahnya. Apakah yang akan terjadi besok? Mengapa disaat aku terpuruk, Tuhan mempertemukan aku dengan Lydia? Tak ada yang tau rencana indah Tuhan dalam hidup kita. Dalam Doaku, malam itu, aku memohon pada Yang Maha Pengasih dan maha pengampun, agar meringankan langkah kakiku,meneruskan hidupku yang sudah hancur dan penuh dosa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN