Lydia Wirahadikusuma, Malaikat Tak Bersayap

1341 Kata
Bertemu Lydia adalah salah satu cara Allah,menjauhkan aku dari Indra. Lydia Wirahadikusuma nama lengkapnya. Dia, yang malam itu mendapatkan kekerasan fisik dari sang pacar, dia yang sedang bertahan hidup dari beratnya cobaan yang diterimanya. Lydia terlahir sebagai anak tunggal dari salah satu Direktur Perkebunan sawit dan karet di Negara ini. Secara materi, dia berkecukupan. Tetapi orang tuanya tidak pernah ada disisi Lydia, saat dia membutuhkan bimbingan, membuat Lydia masuk dalam pergaulan bebas. Dia perokok berat, alkoholik dan terjerumus pada s*x bebas. Saat aku menolong Lydia, dia sedang diperas oleh pacarnya, yang meminta Lydia membelikan motor keluaran terbaru,tetapi Lydia menolak. Lydia sedang dihukum oleh orang tuanya. Semua akses kartu kredit Lydia sedang diblokir. Lydia tidak bisa memenuhi permintaan sang pacar,membuat dia mendapatkan siksaan fisik yang cukup parah malam itu. Lydia lemah,dia tidak bisa melawan. Lydia bercerita, pernah suatu waktu Lydia menolak memenuhi permintaan pacarnya, akibatnya Lydia mendapatkan kekerasan s****l yang menurut Lydia itu menakutkan. Dia diperkosa oleh 3 orang lelaki tak dikenal, yang ternyata adalah teman-teman sang pacar. Aku terenyuh. Aku tak akan meninggalkan Lydia malam ini. Aku memeluk tubuh lemahmya erat, seperti seorang kakak perempuan yang melindungi adiknya yang terluka. Aku bahkan sudah lupa jika aku juga sedang memiliki masalah sendiri dengan Indra. Menjaga dan mengawasi Lydia malam itu, membuat aku sadar bahwa masih banyak wanita lain yang lebih menderita dari luka yang aku terima. Aku bersyukur Indra tak pernah bertindak kasar padaku, tak pernah memukul dan menyiksa tubuhku. Aku merasakan kasih sayang dan cinta Inda selama ini, walaupun itu semua palsu,menurutku, saat ini. Aku harus berterima kasih padanya, sudah menjadikan aku seorang wanita tangguh dan tidak mudah menyerah pada takdir. Waktu sudah menunjukan pukul 4.30 pagi, waktu untuk berdoa pada sang pemilik hidup. Aku membangunkan Lydia perlahan, mengabari bahwa sudah waktunya Sholat Subuh. Lydia membuka matanya, tersenyum manis padaku. Tak terasa air mataku berlinang. Aku memeluk lagi tubuh kecil itu, dan membelai ubun-ubun kepalanya. Lydia kembali menangis dalam pelukanku. Aku berusaha menenangkan Lydia, membimbingnya menuju tepat Wudhu. Setelah puas berkeluh kesah pada Allah, membanjiri Sajadah dengan air mata, hati ini terasa lebih tenang, sebagian beban yang menghimpit seperti hilang entah kemana. Ibuku pernah berkata, saat tak ada lagi manusia yang bisa menenangkan dirimu, tak ada lagi yang mengerti kamu, pergilah menghadap pada pemilik hidup ini. Berkeluh kesah lah padaNya, tanpa perlu malu atau risih. Menangislah dihadapanNya, maka hatimu akan lebih tenang dan damai. Duh, bercerita tentang ibu, aku jadi rindu pada wanita renta yang sudah mulai berkeriput tangannya itu. Rindu pelukan dan belaian kasih sayangnya. Aku tersenyum hanya dengan membayangkan senyum ibu. Hari ini, aku tidak ada jadwal kuliah. Aku bisa sedikit menghindar dari Indra. Oh iya, aku lupa, HP masih dalam keadaan Off. Indra pasti mencariku. Tapi aku tak perduli. Untuk hari ini, aku ingin menghilang dari duniaku, dan masuk kedalam dunia Lydia. Hari ini Lydia ada jadwal kuliah. Dia kuliah di salah satu Universitas Swasta termahal di Bandung. Universitas yang menjadi favorit banyak anak-anak orang kaya. Lydia memintaku untuk ikut dengannya, dan jangan meninggalkan dia selama dia kuliah. Hari ini aku akan memberi sedikit pelajaran hidup pada Lydia, agar dia mampu bertahan dari serangan teman parasitnya, baik di kampus maupun diluar kampus. Lydia cantik, berkulit putih mulus, dengan tinggi badan 166cm. Kalau soal ekonomi, tidak perlu diragukan lagi, Lydia mapan sejak lahir. Lydia juga dikenal sebagai mahasiswa yang smart. Dia seharusnya menjadi primadona kampus, jika saja dia lebih percaya diri. Sayangnya, lingkungan pergaulan yang dipilihnya membawa dia masuk dalam dunia malam yang kejam. Beberapa teman wanitanya adalah gundik atau Wanita simpanan para sugar Daddy kaya raya. Mereka hidup berfoya-foya dan glamour. Sampai suatu waktu, teman-teman Lydia mengenalkan Lydia pada seorang p****************g, bernama Deddy, yang mengambil paksa keperawanan Lydia setelah Lydia dipaksa meminum banyak alkohol malam itu. Deddy sebenarnya cukup takjub, karena Lydia masih perawan. Tetapi yang membuat Deddy semakin ingin memiliki Lydia karena ternyata Lydia anak orang kaya raya dan terkenal di Bandung. Deddy serakah. Ingin menguasai Lydia secara utuh, termasuk hartanya. Malam-malam berikutnya, Lydia menjadi b***k s*x Deddy. Bahkan dalam keadaan mabuk parah, Lydia sering dipaksa melakukan threesome s*x dengan pria atau wanita lain yang tidak dikenalnya. Sudah berapa banyak video b***t yang dibuat Deddy dengan tujuan memeras Lydia. Jika Lydia menolak maka dia akan menerima pukulan atau tendangan keras pada tubuhnya. Sudah tak terhitung kekerasan fisik yang diterima Lydia. Demikian juga dengan kekerasaan Verbal dan Psikis. Lydia seperti terikat hidupnya. Besoknya, aku memutuskan mengganti semua gembok kunci rumah Lydia, mulai dari pagar depan hingga dapur, karena menurut Lydia, Deddy punya kunci cadangan rumah ini. Aku melakukan ini semua atas inisiatif sendiri, tetapi setelah mendapatkan persetujuan dari Lydia. Aku juga meminta persetujuan Lydia untuk menghubungi ibunya. Lydia sepertinya keberatan, tetapi aku bisa meyakinkan Lydia bahwa ini akan baik-baik saja. Dan Lydia percaya padaku. Oh iya, Lydia mulai memanggilku dengan sebutan Kakak. Aku cukup senang dengan perkembangan Lydia yang sudah lebih ceria dan mau berbagi cerita denganku. Lydia sedang kuliah, saat aku mulai memberanikan diri mengirim pesan pada ibunya Lydia. Tante Rastanty aku menyebutnya. "Halo tante, perkenalkan saya Lia, Natalia Himawan, saya teman Lydia. Kemarin saya bertemu Lydia di Salah satu Mall di Bandung ini, dan Lydia sepertinya salah memilih teman. Saya tidak bisa bercerita disini, Jika Tante ada waktu, mohon berkenan membalas pesan saya ini yaa tante. Saya mohon ijin sama tante, beberapa hari ini,saya akan bersama Lydia, memastikan dia baik- baik saja. Mohon Tante tidak salah pengertian, niat saya baik. Trima kasih Tante. Salam, Lia". Pesan terkirim. Aku kemudian memeriksa pesan masuk dari Indra. Duuh, dia marah karena aku pergi tanpa pamit. Pesannya cukup banyak di BBM ku, tetapi tidak aku perdulikan. Aku memilih tidak membalas pesan Indra. Selang beberapa menit, telephone masuk dari ibunya Lydia. "Halo tante, selamat pagi. Saya Lia Tante" "Haloo, pagi Lia. Ada apa dengan Lydia? Dia tidak pernah bercerita apapun pada Tante" terdengar suara risau dari seberang sana. Aku kemudian memilih bercerita dengan versi berbeda agar Tante Rastanty tidak khawatir. "Gini tante,tadi malam saat Lia lagi ditaman, Lia tidak sengaja melihat seorang gadis yang sedang ditampar oleh pacarnya. Lia pikir mereka sedang bertengkar..." "Lydia punya pacar???" Tiba-tiba Tante Rastanty memotong ceritaku. Aku cukup kaget. Ibunya tidak tau Lydia punya pacar. "Punya Tante. Dan sepetinya Lydia tidak berani bercerita ke Tante, karena pacarnya Lia lihat bukan anak baik-baik" aku berusaha menenangkan tante Rastanty terlebih dahulu. 'Tapi Lydia baik-baik saja Tante. Lia memutuskan menolong Lydia dengan menghajar cowok bandelnya itu Tante. Lia bisa Bela diri jadi Lia merasa tak adil membiarkan Lydia dipukulin pacarnya.". Aku mulai bercerita panjang lebar, soal semalam aku memilih menginap dirumah Lydia, dan hari ini rencananya kami, aku dan Lydia akan mengganti seluruh gembok pintu rumah Lydia. 'Lia minta ijin sama tante, agar Lydia merasa aman dirumah, hari ini Lia akan minta bantuan pak Security depan kompleks dan juga bapak supirnya Lydia, untuk sama-sama kami mengganti gembok kunci rumah yaa Tante. Menurut Lydia, pacarnya itu punya cadangan kunci rumah" Terdengar suara panik Tante Rastanty diseberang sana. "Sekarang Lydia dimana?" "Sedang Kuliah Tante. Lia diminta menemani Lydia hari ini" "Tante besok pulang ke Bandung, sampai Bandung mungkin setelah magrib, Lia bisa tungguin tante kan? Tante titip Lydia semalam lagi sama Lia" "Baik tante, Lia tidak keberatan". "Ok Lia, trima kasih banyak, Tante harus pamit dulu, ada acara yang harus Tante ikutin. Tante titip Lydia yaa nak" suara lirih tante Rastanty yang sepertinya masih ingin bercerita tetapi karena keterbatasan waktu, kami harus sudahi pembicaraan itu. Aku sudah bisa tenang sekarang. Tante Rastanty tidak perlu tau kejadian sebenarnya. Aku paham perasaan seorang ibu, yang pasti akan sangat hancur jika mengetahui cerita sebenarnya tentang anak gadis kesayangannya. Dan aku tak ingin membuat tante Rastanty sedih, kecewa pada Lydia bahkan mungkin akan sangat marah pada anaknya tersebut. Aku harus pastikan hubungan ibu dan anak tersebut, akan tetap baik-baik saja. Dan aku harus menyamakan cerita dengan Lydia,agar besok kami bisa sama-sama membuat tante Rastanty bisa percaya lagi pada anaknya. Lydia harus percaya padaku, dan aku juga harus bisa memberi ruang lebih luas agar Lydia merasa nyaman dan aman berada di dekatku.Aku mulai menganggap Lydia adikku. Adik perempuan yang selama ini tidak aku miliki.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN