Lydia Wirahadikusuma, Malaikat Tak Bersayap (2)

2840 Kata
Lydia Mash belum selesai kuliah. Waktu sudah menunjukan pukul 10.15. Perutku sudah mulai bernyanyi. Tadi pagi sarapanku hanya segelas kopi. Aku berniat akan pergi mencari makan. Handphone ku berdering. "Li, lu dimana?" Sari terdengar panik "Duh, maaf Sar, aku lupa ngabarin kalian kalo aku gak bisa pulang semalam". Aku benar-benar belum sempat memberi kabar pada kedua temanku itu. "Maafkan aku ya Sar" "Li, lu harus pulang sekarang. Indra dari tadi malam duduk didepan teras rumah. Dia bahkan sekarang tertidur di ruang tamu" Sari terus saja berbicara. Handphone segera aku jauhkan dari kupingku, ada sedikit ragu yang mendera. Koreksi, bukan sedikit, tetapi banyak keraguan dalam pikiranku. Apa yang sedang Indra rencanakan? Apa lagi alasan Indra, sampai nekat menginap dirumah kontrakan kami?t Apalagi yang ingin dia jelaskan padaku? Rasa lapar yang sejak tadi menggerogoti perutku, hilang entah kemana. Aku terduduk, lemas. Lydia masih belum selesai kuliahnya. Aku tak mungkin meninggalkan dia saat ini. Aku sudah berjanji pada Tante Rastanty, akan selalu bersama Lydia. Kuraih kembali handphone, dan aku mencoba menghubungi Sari. "Li, lu bisa kan balik sekarang?" Sari sangat berharap aku bisa segera pulang. "Sar, hp lu tolong berikan ke Indra. Aku mau bicara sama dia". "Li, sebelum hp ini gw kasih ke Indra, lu cerita dulu, ada apa. Sesingkat mungkin yang bikin gw paham kondisi kalian berdua" "Sar, Indra cinta sama wanita lain. Wanita yang akan menjadi istrinya nanti, calon istrinya itu bukan gue. Tetapi wanita lain. Itu aku denger sendiri pembicaraan mereka berdua Sar." "Terus? Kalian bertengkar?" Sari masih ingin dengar ceritaku. "Aku memilih pergi tanpa pamit. Aku meninggalkan Indra dan Tiwi di restoran tempat kami makan bertiga" Aku putus asa. "Apa? Tiwi temannya Ada Indra? Kalian makan malam bertiga? Tiwi itu pacarnya Indra?" " Dengerin gw Sar, Tiwi dan Indra sudah terikat janji akan sehidup semati. Tiwi belum pernah disentuh Indra. Tiwi akan dijaga sebaik-baiknha oleh Indra, untuk jadi kado terindah pada saat malam pertama mereka nanti. Gue, hanya perempuan sinting yang mau memberika. segalanya buat Indra k*****t itu." "Sar, lu dengerin gue, usir Indra pergi saja. Gak usah lu dengerin. apapun katanya". emosiku sudah mulai meningkat rasanya. Jantungku berdebar kencang. "Li, yang gue lihat justru sebaliknya. Indra sepertinya terpukul banget karena lu pergi." "Sar, handphone mu ini, tolong berikan sama Indra. Gue aja yang ngomong" Sari segera berjalan ke ruang tamu, membangunkan Indra. "Aa, ini Lia mau bica...."Handphone Sari sudah disambar Indra. "Li,kamu dimana neng? Aa datang jemput yah? Aa salah, aa mau minta maaf sama Lia" terdengar suara Indra sudah bergetar. Ada perasaan terluka aku rasakan dalam setiap tarika. nafasnya. Tapi aku tidak boleh lemah. "Maaf Aa, Lia belum mau ketemu aa dulu. Tolong aa pulang aja yah? Lia tidak akan pulang dalam waktu dekat ini. Lia mau tenang dulu" Aku masih berusaha tenang. "Li, kasih tau Lia dimana. Aa harus ketemu Lia dulu. Aa sayang bangeeeet sama Lia, please". Indra masih belum menyerah. "Aku minta maaf Aa, aku harus mengakhiri pembicaraan ini. Gak ada gunanya aa bertemu Lia sekarang. Lia gak mau ketemu aa, Lia benci aa!" Aku tak dapat menahan lagi rasa sesak yang menghimpit dadaku. Menangis adalah sahabat terbaik yang sangat kubutuhkan saat ini. Untung saja suasana kantinnya sedang sepi, aku bisa melepaskan sedikit beban dalam sanubari ku lewat air mata. Posisi duduk yang nyempil di sudut kantin, dan membelakangi khalayak ramai membuatku aman untuk membuang rasa marah lewat air mataku. Segelas Cappucino hangat ditemani sepotong roti bakar, rasanya cukup membantuku mengurai gundah. Dari tempat aku duduk, aku bisa melihat kearah pintu gerbang dan tempat parkir. Nanarku menangkap sosok Deddy. Masih belum menyerah dia menyakiti Lydia. Aku tetap duduk dalam diam,menunggu Lydia. Sepuluh menit lagi dia akan selesai kuliah. Aku tak mau Lydia dibawa pergi.Aku harus menunggu di parkiran. Setelah membayar pesanan, aku kemudian berjalan perlahan sambil tetap mengamati Deddy. Jika Deddy tetap berbuat nekat, akan aku pastikan dia berakhir di Kantor Polisi hari ini. Dari jauh terlihat Lydia berjalan tertunduk dan tergesa-gesa. Aku bergegas menghampiri Lydia. "Heeii tuan putri, sudah bangun dari mimpi indahmu?" aku mencari sosok suara itu, dan ternyata seorang wanita cantik. Mungkin salah satu teman yang suka membully Lydia,pikirku. Aku menangkap tangan Lydia, mengapit lembut lengannya, dan berjalan beriringan. Aku menyentuh dagu Lydia dan memaksa dia menegakkan kepalanya. 'Jalan bersamaku, jangan khawatirkan sekitarmu. Pastikan kamu tidak terpengaruh dengan banyaknya suara sumbang disekitarmu. Mainkan sendiri musikmu. Hentakan kakimu, dengungkan suaramu" bisikku lembut pada gadis muda ini. Dia menatapku dalam keraguan. Aku membalasnya dengan senyum penuh keyakinan, menganggukkan kepalaku padanya kemudian menatap lurus ke depan. Dia mulai mengikutiku. Menegakkan kepala,menatap lurus kedepan dan mulai melangkah pasti. "Tak ada seorangpun yang boleh merenggut bahagiamu. Tak seorangpun boleh merampas kebebasanmu. Kita hidup di Negara yang punya aturan Hukum Jelas. Ini hidupmu, kamu yang menentukan mana yang boleh dan yang tidak boleh kamu lakukan." "Mulai hari ini, pastikan kamu adalah Lydia Wirahadikusuma, anak tunggal dari seorang Direktur Perkebunan yang bisa membeli segalanya. Kamu tidak pantas di bully. Kamu tidak pantas jadi b***k seks lelaki b*****t seperti Deddy. Katakan itu padanya. Aku akan berada disisimu. Jika dia menyentuhmu, sedikit saja, aku akan pastikan dia berakhir di kantor Polisi hari ini" Masih dengan wajah penuh senyum, aku meyakinkan Lydia untuk segera bertindak. Membebaskan diri dari Deddy. Dia terlihat ragu, tapi aku tak membiarkan hal itu membuat Lydia takut. Lembut, ku elus pundaknya dan menepuk punggungnya, mengganggu kan kepalaku, memberi dia ruang untuk maju. "Mas Deddy, aku mau kita putus sekarang". Bergetar suara Lydia kudengar. Perlahan, dia menegakkan kepalanya, menatap tajam mata Deddy, dan mengatakan dengan lantang : "Hubungan ini tidak bisa aku lanjutkan. Kita berakhir disini". Lydia kemudian membalikkan badan, berlari ke arahku dan menabrak tubuhku. Aku menangkap tubuh mungil itu dengan sigap, membawanya kedalam pelukanku. Aku belum beranjak. Harus aku pastikan Deddy tidak akan menyentuh Lydia lagi. Aku berbisik pada Lydia, menyuruhnya untuk ke mobil. "Kak Lia mau ngapain?" Lydia menyelidiki apa rencanaku. "Aku harus pastikan Deddy tidak akan menggangumu lagi" Senyum manis tak lepas dari wajahku. Lydia segera berjalan menuju mobil, setelah dia sudah aman didalam mobil, aku bergegas berjalan ke arah Deddy. Dia tidak sendirian. Ada dua orang temannya. "Kamu yang bernama Deddy?" Tanyaku tanpa basa basi. Deddy menatapku tajam, seperti ingin melampiaskan kemarahannya. "Kamu perempuan yang semalam menggangu kesenangan saya? Kamu kan yang tadi malam membuat saya harus pergi meninggalkan Lydia??" Deddy sepertinya sangat kesal. "Iya, itu saya. Dan sekarang saya harus memastikan, kamu tidak akan mengganggu Lydia lagi'. Aku tidak mau terlihat lemah dihadapan lelaki b******n seperti Deddy. Dua temannya sudah berdiri, akan menghajarku, Aku tak gentar. "Aku pastikan kalian akan berakhir di Penjara" ancamku pada ketiga laki-laki itu. Aku sempat memberi instruksi pada supirnya Lydia, jika dia melihat aku akan berhadapan dengan Deddy, dia harus merekam semua kejadiannya. Aku sudah melihat dia sedang memegang Handphonenya dan siap merekam. Terdengar juga beberapa mahasiswa yang mencoba melerai pertengkaran kami. Bahkan sepertinya ada yang melapor pada Security. Aku sudah bersiap, akan menghajar Deddy dan teman-temannya. Hitung-hitung, ada cara untukku melampiaskan emosiku pada Indra yang belum tersalurkan. Dalam beberapa kali gerakan menyerang, salah satu teman Deddy, berhasil aku lumpuhkan. Deddy sendiri sepertinya tadi terkena tendanganku, tepat di pelipis kanan. Aku melihat ada bercak darah dibibirnya. Teman Deddy yang satu lagi, sudah melarikan diri, karena pihak keamanan kampus sudah pada datang. "Mohon maaf pak, saya membela adik saya,Lydia. Dia akan diculik oleh ketiga orang ini. Kalo yang itu pacarnya, tapi b***t pak" Aku menjelaskan pada Security tersebut, dan dijawab dengan anggukan kepala tanda mengerti. Deddy dan salah satu temannya, diamankan pihak keamanan kampus, dan diserahkan kepada Polisi. Aku lega. Tapi tidak dengan Lydia. Dia menangis ketakutan. "Kak,jangan penjarakan Deddy, aku takut jika dia nanti bebas, dia akan mencariku dan menyiksa aku lagi kak" Tangis Lydia bertambah keras. "Lydia, lihat aku. Apa kamu sudah tidak punya orang tua di dunia ini? Apa kamu hanya seorang diri di dunia ini? Apa kamu masih berpikir, tidak akan ada orang lain yang akan menjaga kamu?" "Jika kamu merasa seperti itu, maka ini saatnya kamu bangkit. Kamu harus bisa menjaga diri kamu sendiri jika sudah tidak ada orang lain yang bisa kamu percaya. Jangan biarkan seorangpun menyakiti kamu, memukulmu, menyiksa dirimu. Jangan biarkan orang lain yang menentukan apa yang akan kamu lakukan, kemana kamu akan pergi. Semua ini tidak pantas untuk kamu dek. Kamu bisa melakukan segala hal. Kamu bebas. Dan yang hanya bisa membatasi diri kamu adalah kamu sendiri. Tidak seorangpun. Ingat itu baik-baik" kali ini aku agak keras menasehati Lydia. Aku harus bisa membuat dia bangkit dari keterpurukannya. Dia tidak boleh lemah. Dia harus bisa membela dirinya sendiri. Aku biarkan dia merenung sampai akhirnya tertidur di mobil. "Mang, tadi sudah direkam kan mang? Buat barang bukti di kantor polisi kalo aku dikeroyok?" Mang Adi yang sedang mengemudi menganggukkan kepalanya. "Punten neng, sudah mamang rekam" "Hatur nuhun mang" Mang Adi tersenyum senang. Sore harinya, aku mengajak Lydia untuk berolahraga bersama. Dia punya lapangan basket pribadi, dan tidak pernah dia gunakan. Diih, anak orang kaya beda yah? Punya segalanya tapi tidak bisa dinikmati. Lydia terlihat enggan, tapi aku memasang senyum paling manis, membuat dia tidak berdaya. "Kak Lia, ajarin aku bela diri!" Spontan aku melotot kearah Lydia. "Kamu serius?" aku menatap mata sendu itu. "Iya kak. Aku serius". Setidaknya dia sudah mulai menata hidupnya. Kami mulai berolahraga bersama, dimulai dari lari keliling lapangan basket, kemudian bermain basket bersama, lalu aku mengajari Lydia cara paling dasar mempertahankan diri saat kita bertemu orang jahat. Cara meninju yang benar, cara menyerang lawan yang efektif. Dia terlihat senang. Beberapa kali tawanya terdengar renyah. "Lydia, kak Lia lupa bilang, nanti ibu akan pulang, malam ini sih katanya" Lydia terlihat sedikit terkejut. "Koq mendadak? Ibu kan harusnya kembali Minggu depan kak?" "Lydia tenang yaah, semua akan baik-baik saja. Kak Lia hanya bisa menemani Lydia sampai malam ini. Kakak harus pulang. Skripsi kakak akan segera diuji. Beberapa persetujuan belum kakak dapatkan. Itu kenapa kak Lia ceritakan kondisi Lydia pada ibu." Aku menatap wajah sendu Lydia. Dia terdiam cukup lama. Ada air mata menetes di pipi cantik itu. Aku meraih pundaknya, membawa dia kedalam pelukanku. "Ada yang mau Lydia ceritakan pada kakak?" Bisikku lembut padanya. "Lydia masih bisa bertemu kakak kan? Kak Lia masih mau nginap disini kan,jika Lydia sendirian? Lydia butuh kakak. Kak Lia jangan pergi dari Lydia......' Tangisnya pecah didadaku. Air mataku juga sudah tak dapat kubendung. Menangislah, lepaskan bebanmu. 'Kakak akan tetap ada buat Lydia. Kita berteman" Aku memasangkan kedua jari kelingking kami, berjanji layaknya sahabat. ********************* Tepat Pukul 19.00 WIB, Tante Rastanty tiba dirumah. Lydia terlihat ragu-ragu menyambut ibunya. Aku hanya berdiri dan menunggu. Tante Rastanty berjalan ke arah Lydia, kemudian memeluk anak gadisnya. "Maafkan Lydia mom.." Tangis Lydia didalam dekapan ibunya. "Mommy juga minta maaf tidak bisa menjaga Lydia. Mommy minta maaf karena waktu mommy habis untuk urusan kantor Papi" Kedua wanita cantik itu saling berpelukan erat, saling memaafkan. Air mataku menetes. Aku rindu ibuku. "Kamu yang namanya Lia?" Tante Rastanty bertanya padaku. " Saya Tante" Aku melangkah mendekati Tante Rastanty, menyambut telapak tangannya dan kusentuhan ke keningku. Tante Rastanty cukup terkejut dengan apa yang aku lakukan. Dia kemudian membelai kepalaku. "Kamu Cantik, baik hati, sopan pula. Koq Tante jadi merasa punya dua anak gadis yah?" Senyum manis Tante Rastanty menyingkirkan keraguanku. Sepertinya Lydia yang tidak terbuka pada ibunya. "Nak, bagaimana kondisimu? Apa ada yang sakit? Tante Rastanty bertanya pada putrinya. "Gak mom. Lydia baik. Thank's to kak Lia, dia sangat membantuku mom". Aku tersenyum mendengar pujian Lydia "Gak Tante, Lydia emang dasar anaknya kuat, pantang menyerah. Makanya dia bisa lewatin hari ini dengan gembira". Aku melirik Lydia yang sedang bahagia. Ibunya tidak marah padanya. Itu membuat Lydia senang. Aku tau dari sinar matanya yg berbinar-binar saat bercerita tentang kegiatan kami hari ini. Mereka masih asik berbincang, sedangkan aku, sudah saatnya aku pamit. Besok aku harus bertemu dosen pembimbingku. "Tante,Lydia juga, aku mohon pamit, mau kembali ke rumah. Besok pagi, aku harus ke kampus, ada janji temu dengan dosen pembimbing" aku sampaikan niatku. "Loh nak, koq malah mau pergi? Tante baru sampai, belum banyak ngobrol sama Lia. Nginap disini aja. Tante masih mau ngobrol banyak sama Lia. Tante bahkan belum sempat berterima kasih pada Lia." Tante Rastanty sudah duduk di sampingku, menggenggam tanganku dan memohon agar aku mau menginap semalam lagi. "Kalau begitu Lia pamit ke kosan dulu ya Tante, ambil keperluan buat besok. Biar gak buru-buru besok pagi" 'Diantar mang Adi yaah? Biar gak kemalaman Lia dijalan". Aku tak bisa menolak tawaran Tante Rastanty. Wanita Cantik dengan wajah sangat lembut. "Aku ikuuuuttt .." Lydia sudah berdiri di sampingku sambil tersenyum bahagia. "Aku mau tau rumah kakak. Kalo aku rindu kak Lia, aku bisa datang kesana. Boleh kan kak?" Aku tersenyum. "Boleh wanita cantiiikkk" aku meremas hidung mungil Lydia. Kami segera berangkat diantar mang Adi. Sesampainya dirumah kontrakan kami, aku pamit pada Sari dan Dini, akan menginap semalam lagi dirumah Lydia. Lydia segera akrab dengan kedua sahabatku itu. 'Kak Dini sama Kak Sari juga boleh kalau mau nginap dirumahku, masih ada kamar kosong lagi koq" Tawaran Lydia ditolak secara halus oleh kedua sahabatku. "Kapan-kapan kami akan mampir,tapi gak janji yaa dek." Sari tak ingin mengecewakan Lydia. Mereka bertiga sedang duduk di ruang tamu, sementara aku masih beberes keperluan kuliahku besok. "Assalamualaikum..." Suara itu, aku sangat mengenalnya. Indra. "Waalaikumsalam" Jawabku tertahan. Aku memilih mengurung diri di kamar. "Lia mana? Aa ke kamarnya yaah?" Indra sudah menerobos masuk. Sari dan Dini tak bisa berbuat apa-apa. Sari membuntuti Indra, menuju ke kamarku. "Li, buka neng. Aa tau kamu ada didalam" Aku memilih berdiam diri didalam. "Lia, Aa mohon, buka pintunya. Aa harus bicara sama Lia" "Untuk apa? Aku sudah tau semuanya. Aku tak ingin penjelasan apapun darimu' aku sudah tak tahan lagi, ingin ku ucapkan sumpah serapah padanya, tapi harus kutahan. "Lia,buka dulu pintunya. Atau Aa dobrak. Aa gak mau begini. Aa harus menjelaskan secara langsung ke Lia" Indra sudah mulai putus asa. "Kak Lia kenapa kak?" sayup aku mendengar suara Lydia. Aku tak ingin dia melihatku sedang menangis. Kubuka pintu kamarku, aku melirik pada Sari. "Sar, bawa Lydia kedepan sebentar. Aku harus bicara berdua sama Mas Indra. Lyd, tunggu sebentar yaah, ada masalah yang harus dibereskan dulu" Lydia terlihat ragu, tapi aku tersenyum dan menganggukan kepala, meyakinkan dia kalau aku baik-baik saja. Indra sudah menerobos masuk ke kamarku, menarik tubuhku dan memelukku erat. "I Love You Lia. Jangan pergi seperti ini lagi dari aa. Aa bisa gila kalau Lia seperti ini lagi" Aku tak bergeming. Hatiku sudah mati rasa. "Mas, aku memilih melepasmu, melepaskan cintaku padamu, dan aku memilih untuk melangkah pergi. Aku gak mau diputuskan, aku gak mau ditinggalkan. Akan lebih mudah bagiku, jika aku yang pergi meninggalkan mas Indra. Aku tau semua soal Kak Tiwi, dan mungkin sudah begini garis hidupku, tak bisa memiliki dirimu untukku sendiri" Air mata sudah membanjiri pipiku. Indra menatapku mataku, menangkup wajahku, mencium keningku kemudian memelukku erat. "Aku jatuh cinta padamu Lia. Aku bahkan sudah tidak memiliki rasa pada Tiwi. Aku akan menyelesaikan permasalahanku dengan Tiwi, dan aku akan kembali padamu,kekasih jiwaku. Berapa kali aa harus bilang kalau kamu, calon ibu dari anak-anakku kelak?" Indra mencium lembut keningku. Aku tak boleh tergoda. Aku harus teguh pendirian, aku akan tetap melangkah maju. Keputusanku sudah bulat, aku memilih pergi dari Indra. Tidak menemukan jalan keluar terbaik, Indra memilih pergi. Dia berjanji akan segera memutuskan hubungannya dengan Tiwi, tapi aku meragukan itu. Aku tak perduli apa yang akan terjadi dengan mereka. Aku akan segera menyelesaikan kuliahku, dalam waktu singkat dan bertekad akan pergi dari kota ini. Setelah selesai berbenah, aku dan Lydia segera pamit pulang. "Besok aku sudah pulang. Kita besok jalan bertiga yah? Aku rindu kalian" Kupeluk kedua sahabatku itu, berpamitan. Kami segera bergegas naik ke mobil dan pergi. Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, saat kami tiba di rumah Lydia. Karena sudah kelelahan, kami segera menuju ke kamar dan memilih untuk tidur. Pagi hari,disambut dengan suara kicau burung, dan alunan musik Kenny G, rasanya tenang dan damai. Tante Rastanty sedang berolahraga di halaman rumah. Aku memilih menyeduh kopi, kemudian mendatangi Tante Rastanty. "Selamat pagi Tante"sapaku pada wanita cantik yang masih terlihat awet muda itu. "Hai Lia, Good Morning. Sudah sarapan?" "Aku terbiasa ngopi kalo pagi Tante" "Kopi baik sih, tetapi lebih baik lagi kalau diganti dengan Juice buah. Lebih sehat, lebih enak dan bikin kulit jauh lebih segar." Senyum tante Rastanty penuh makna. "Lia sudah mau selesai kuliahnya? Ambil Jurusan apa?" "Saya di Fakultas Ekonomi Tante, ambil jurusan Managemen" "Waah bagus itu, kalau IP nya Cumlaude, Lia bisa daftar di tempat papanya Lydia. Nanti tante yang rekomendasikan" Wah, impianku untuk bisa bergabung dengan perusahaan plat merah itu akan bisa terkabul. Aku bahkan tidak mempercayai apa yang baru aku dengar. Allah memudahkan jalanku, dengan mengirim Lydia padaku. Dalam hati, aku berdoa semoga Tante Rastanty selalu dilimpahkan dengan kesehatan dan umur yang panjang, demikian juga Lydia, semoga dia akan baik-baik saja menatap masa depannya. Aaah, Lydia, taukah kamu, kamu adalah Malaikat Tak Bersayap yang dikirim Tuhan padaku. Melalui kamu, aku rasa aku akan sanggup melangkah tanpa Indra disisiku. ------------------- Hellow readers, Trima kasih masih setia menunggu up dariku. Disebabkan satu dan lain hal, up kisah baru agak terhambat belakangan ini. anyway, thank you so much masih stay di Kisah Bukan Jodohku ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN