~~Sebanyak apapun dunia mengecewakan kamu, jangan pernah menyesal punya hati yang baik.~~
Kata-kata Tante Rastanty ini masih melekat di kepalaku. Aku harus bangga pada diriku sendiri, karena menurut orang lain, aku memiliki hati yang baik. Kata ibuku, kamu harus bisa melihat dirimu melalui mata orang lain. Jangan terlalu percaya diri, karena antara orang sombong dan orang yang bodoh, sangat tipis bedanya.
Sudah tiga bulan berlalu, aku benar-benar fokus mengejar keperluan Sidang Skripsi ku. Ada target yang sedang aku kejar, aku harus ikut Wisuda Gelombang ke-2, yang akan dilaksanakan 2 bulan lagi. Artinya, bulan ini, aku harus sudah selesai dengan Sidang Skripsi dan Kelulusanku.
Aku benar-benar menutup diri dari Indra. Dia tidak aku biarkan masuk kedalam duniaku, kedalam kehidupan pribadiku. Aku menutup rapat mata,telinga dan hatiku dari Indra.
Setelah berjuang keras, hari ini segala urusan terkait sidang akhir sudah selesai, dan aku dinyatakan Lulus dengan Nilai akhir A untuk sidang Skripsiku. Alhamdulilah ya Allah, semuanya sudah selesai. Aku memberikan salam, menjabat erat tangan beliau, tanda hormatku pada Dosen pembimbingku, pada dosen penguji dan teman-teman mahasiswa yang ikut menyaksikan jalannya sidang Aku melangkah keluar dari ruang sidang tanpa beban. Langkah kakiku terasa sangat ringan. Aku tersenyum bangga, karena aku satu-satunya mahasiswa dari angkatan kami yang akan menyelesaikan studi hanya dalam waktu 4 tahun, dan menjadi yang pertama lulus dari kelas kami.
Saat akan melangkah keluar dari ruang ujian, mataku menangkap sosok pria yang sangat aku kenal. Dia ada disini, dengan bucket bunga mawar pink kesukaanku. Aku bimbang, haruskah aku menghindar dari Indra? Haruskan aku mengabaikan kehadirannya? Langkah kakiku terhenti. Aku menatap mata itu, dalam. Ada rasa sesal disana. Matanya memerah,apakah Indra menangis? Ya Tuhan, aku sangat lemah jika benar Indra menangis. Indra berjalan mendekatiku, karena aku berhenti disana. Indra menatap lekat mataku dan ada senyum yang sangat dipaksakan. Indra terlihat kurus dimataku. Aku tak dapat menahan sedihku, aku berlari dan menabrak d**a bidang yang selama ini selalu ada buatku. Indra memelukku erat. Sangat erat. Aku tau dia sedang bersedih. Aku tau dia meneteskan air mata. Aku tak ingin melepaskan dia saat ini. Aku harus pastikan dia kuat menerima kenyataan bahwa aku akan segera pergi dari kota ini. Cukup lama kami berdiam diri dalam pelukan hangat. Sesekali Indra mencium puncak kepalaku.
"Li, selamat yaah, Aa bangga sama Lia. Lia bahkan selesai kuliah duluan dari aa"
Aku meregangkan sedikit pelukanku, menengadahkan kepala dan memandang wajah itu dan aku menemukan tatapan penuh rasa sayang dari Indra.
"Mas Indra koq tau Lia hari ini sidang?"
"Aa terus mengikuti perkembangan Lia. Aa tau Lia sangat fokus untuk ujian skripsi ini. Aa gak mau jadi duri dalam daging bagi Lia. Makanya aa hanya memantau dari jauh" aku tersenyum dalam pelukannya.
"Trima kasih mas untuk pengertiannya. Lia sangat hargai itu. Bagaimana Ujian Skripsi Mas Indra? Sudah siap uji?" aku menyelidiki apa yang sudah terjadi selama tiga bulan ini.
"Diundur sampai Minggu depan. Masih kurang satu persetujuan lagi belum aa dapat" tersirat kesedihan dimatanya. Aku memeluk perutnya, merebahkan kepalaku ke d**a Indra. Betapa damai saat ini rasanya.
"Eheeeemmm, kami yang disini dibiarin mengering tanpa minuman??" Sari, Dini dan Lydia, tiga wanita terdekatku, yang sudah sibuk sejak kemarin mempersiapkan Snack buat panitia penguji dan juga buat teman-teman mahasiswa yang hadir, mengalihkan sedikit perhatianku dari Indra.
"Kak Lia, kakak belum mengenalkan aku sama pacar kakak secara resmi". Lydia mendekati kami, aku tersenyum pada Indra. "Dia Lydia, dia wanita yang sempat aku tolong pada waktu malam aku melarikan diri dari mas Indra dan Tiwi"
"Aa sudah tau ceritanya dari Sari" senyum Indra padaku.
"Hai, aku Indra, aku calon suami Lia" Deeeeg, seperti ada benda keras meninju dadaku, tetap mengenai hatiku. Kupejamkan kedua mataku rapat. Jantungku rasanya akan terlempar keluar dari dalam tubuhku.
"Mas In, jangan begitu, kita masih belum membicarakan masalah itu secara serius" Aku mencubit perut rata Indra. Dia tersenyum manis padaku kemudian mencium keningku. Tangannya tak lepas dari pinggang rampingku.
"Aku Lydia, aku adiknya kak Lia. Kata ibu, aku sekarang punya kakak yang baik hati, pintar dan juga cantik sepertiku" Lydia memperkenalkan dirinya. Aku menjulurkan tanganku dan meraih bahunya, menarik Lydia kedalam pelukanku.
"Trima kasih yaa Lyd, untuk semua persiapan Konsumsi buat hari ini. Kakak gak tau gimana akan berterima kasih pada Lydia dan ibu".
Tante Rastanty yang menyiapkan semua keperluan konsumsi bahkan transportasi ku buat hari ini. Aku tak perlu berpikir soal t***k bengek urusan diluar Skripsi. Aku harus fokus pada ujianku. Itu sebabnya Tante Rastanty khusus berada di Bandung selama 3 hari ini, mempersiapkan semuanya. Bahkan untuk makan malam syukuran setelah kelulusanku, sudah dipesan Tante Rastanty dari salah satu Restoran terkenal di kota Bandung.
Kami akan mengadakan pesta taman dirumah Lydia. Oh iyaa selama tiga bulan terakhir ini, aku sering menginap dirumah Lydia, karena Tante Rastanty harus kembali menemani Bapak di Jakarta. Dini dan Sari juga sudah sering menginap dirumah Lydia. Kami sudah menjadi geng cewek-cewek imut, sebutannya Lydia. Hahahah, aku tersenyum sendiri mengingat tingkah Lydia dan kedua Sahabatku itu.
Aku meraih tangan Indra, menggenggamnya erat, ku tatap wajah yang sudah tidak ceria lagi, aku tau ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Tapi aku harus bisa membuat batas diantara kami. Batas yang akan membantuku untuk segera berlalu dari hidup Indra.
"Mas, apa ada masalah yang aku lewatkan? Maukah mas Indra bercerita pada Lia?" Aku mencoba meraih kembali hati itu. Biasanya dia akan langsung memelukku jika aku sudah menunjukan wajah khawatir. Tapi kali ini, dia menarik nafasnya panjang, dan kemudian menghembuskannya secara kasar.
"Li, kamu beneran akan segera pergi dari Bandung? Kamu tega akan meninggalkan aa sendirian? Aa gak mau Lia pergi. Please,jangan pergi'
Ya Allah ya Robbi, aku sudah berusaha menjaga rahasia yang ini. Tapi kenapa Indra bisa tau juga? Tatapanku beralih pada Sari. Pasti ulah Sari.
"Mas In, boleh gak kita gak usah bahas itu dulu. Lia baru selesai Ujian berat tadi, Lia gak mau memakai otak untuk berpikir saat ini." Aku berusaha membuat dia tetap tenang.
"Lia akan ada disini, sampai mas Indra selesai Ujian Skripsi, dan usahakan kita wisuda bareng yaa mas.' Aku mencium lengan Indra yg sejak tadi terus memelukku.
"Mas In, yuk ke rumah mas Indra. Lia pengen bersenang-senang". Mata Indra membesar mendengar aku menawarkan diri padanya hari ini. Aku tidak siap saat tiba-tiba Indra mencium bibirku. Kedua tangannya sudah memeluk tubuhku erat.
"Kita selesaikan urusan disini, lalu kita ke rumah aa. Lia serius kan?" Indra seperti tidak percaya dengan apa yang aku katakan barusan.
"Iya, aku serius mas" Aku berlalu sambil berkedip nakal pada Indra. Sekilas, aku mencuri pandang ke bagian depan celana yang dipakai Indra. Diih, sudah membesar saja punya dia. Padahal tadi niatnya aku hanya bercanda agar Indra tidak terlalu berlarut-larut dalam kesedihannya, tapi tubuhku juga menginginkan Indra, menjadi salah satu kado kelulusanku hari ini. Aku akan menyerah padanya, memberikan seluruh tubuhku padanya malam ini.
Kegiatan hari ini sudah selesai. Kami sedang berkumpul di taman rumah mewah Lydia. Hanya kami berempat, aku,Sari, Dini dan Indra. Lydia mengajak serta teman dekatnya. Tante Rastanty mengundang seluruh pekerjanya untuk hadir malam itu sebagai tamuku.
Sebenarnya ada rasa segan dalam hatiku, karena Tante Rastanty terlalu baik padaku. Tapi aku tak bisa menolak. Tante Rastanty tetap saja menganggap aku putrinya.
"Lia, Tante punya kejutan buat Lia. Anggap saja ini hadiah dari Tante dan Om karena kebaikan hati Lia terhadap putri kami Lydia. Papa, sini pa."
Ternyata ayahnya Lydia malam ini hadir di Bandung, turut berbahagia bersamaku
Aku segera berjalan mendekati Om Danu, menjabat tangan beliau sekaligus mengenalkan diriku.
"Halo Lia, om sudah banyak mendengar cerita tentang kamu. I Just want to say thank you, because you sudah bertindak sangat baik menjaga putri kami". Om Danu menjabat tanganku erat tanda beliau berterima kasih dengan tulus.
"Enjoy your Garden Party, Private Garden Party tepatnya. Ini Khusus buat kalian.'
"Trima kasih banyak Tante dan Om.Ini sudah sangat mewah buat Lia. Trima kasih" Aku membungkukkan badanku, menundukkan kepala tanda hormatku pada kedua orang yang sangat baik hati ini.
Om Danu kemudian berkenalan dengan teman-temanku dan juga Indra.
"Silahkan dilanjutkan, om dan Tante akan makan diluar. Kami akan berkencan juga, karena dari tadi yang dilihat pasangan romantis Lia dan Indra melulu, Tante jadi pengen romantisan juga sama Om. Mumpung lagi di Bandung" Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka. Aku ikut senang melihat pasutri yang saling menyayangi ini.
Kami melanjutkan acara Garden Party kami, makan malam bersama, bernyanyi dan bercanda ria. Tanpa terasa waktu sudah menunjukan pukul 23.15. Aku dan Indra pamit, aku malam ini akan menginap dirumah Indra. Lydia terlihat tidak menyukai ide itu.
"Kak Lia, besok nginap disini yah? Bareng aku, Kak Dini dan kak Sari." Lydia merajuk manja sambil memeluk lenganku.
"Lyd, Ibu aa Indra juga pengen ketemu sama teteh Lia. Ibunya aa juga sayang banget sama Lia loh?" Indra terlihat sangat tenang menghadapi Lydia.
"Aa janji, teh Lia akan sangat bahagia malam ini" Indra mengedipkan matanya padaku. Nakal kamu mas, tapi aku suka.
Lydia akhirnya melepaskan kami berdua pergi.
Malam telah memeluk dalam kegelapan dan kesunyian, menyisahkan aku, kamu dan cerita kita berdua. Indra tak henti menggenggam tanganku, mencium telapak tanganku manja.
"Mas, gimana kalau Tiwi tau kita bersama lagi?" Indra tak menjawab tanyaku. Dia hanya menarik nafas panjang dan menghembuskannya secara kasar.
"Aa sayang dan cintanya sama Lia. Aa gak perduli Tiwi mau protes atau marah atau mau putus. Aa gak perduli. Aa saat ini sedang bahagia bersama Lia." Indra menarik tubuhku agar mendekat padanya dan masuk ke dalam pelukannya.
*********************************
Helloow Readers,
jika ada saran,kritik dan sebagainya, up di komen yaah. Trima kasih.