Malam telah tiba, menyelimuti alam semesta dalam gelap dan udara dingin. Dalam pelukan malam, kita berdua masih mencari jawaban atas tanya hati yang mencinta. Aku memilih merebahkan tubuhku dipangkuan pria yang aku cinta. Indra tak henti mengelus lembut wajahku, membelai rambut hitam panjangku. Udara dingin kota Bandung tak mampu mendinginkan gejolak dalam dadaku.
"Li, besok temani aa yah? Aa mau ke kampus tungguin dosen. Jam 9 pagi kita sudah berangkat. Mau kan sayang?"
"Mas Indra yakin ngajak Lia?" agak terkejut karena selama ini, Indra selalu menghindar jika aku ingin main ke Fakultas dia.
"Aa Yakin. Jangan tanya kenapa, tapi aa sangat yakin." Ada banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan, tetapi harus aku tahan. Kenapa tiba-tiba dia berubah? Benarkan dia mencintaiku? Segala tanya yang berputar di kepalaku harus aku pendam. Tak ingin malam ini terganggu, aku memilih menutup rapat bibirku tentang masalah Indra dan Tiwi. Aku tak perduli. Sesekali perlu menjadi manusia egois, agar hatiku tidak selalu tersakiti. Bahagia itu kita yang ciptakan, bukan hadiah dari siapapun.
Tepat pukul 24.15 wib, kami sudah sampai di kamar Indra. Rasanya capek dan mau rontok seluruh tubuhku. Aku merebahkan diri, dan ingin segera terlelap. Tapi jangan harap aku bisa tertidur dengan pulas sesegera mungkin, karena Indra sudah mulai membuka satu persatu kancing bajuku. Melucuti celana jeans, Kameja putih dan bra merah maroon yang melekat ditubuhku, menyisahkan under wear yang senada warnanya dengan Bra, merah maroon.
"Mas, boleh gak besok pagi aja sebelum Sholat? Aku berubah pikiran, gak ingin bersenang-senang sekarang."
"Diih, sudah bugil gini, mana bisa aa tolak? Lia tidur aja, nanti aa yang panasin" Indra sambil nyengir tapi tetap lihai meraba dan melucuti tubuhku dalam kegelapan malam. Rasa capek dan lelah yang tadi melekat dibadanku, raib entah kemana. Aku tersenyum bahagia. Lelaki ini, dia tidak pernah kasar padaku. Dia memperlakukan diriku selayaknya cinta sejatinya. Sangat hati-hati, dan tidak ingin aku kesakitan atau terluka.
"Aaaaach, mas In, aaaaaa...." Desahan liarku sudah tak tertahankan. Sentuhan lembut pada bukit kembarku dan ciuman panas Indra pada bibirku mampu mengusir kantuk yang sedari tadi menyiksaku. Aku menikmati rasa dan gairah percintaan Indra. Memabukkan.
"Mas, aku ingin kado ternikmat malam ini mas" aku meracau tak terkendali lagi. Desahan, jeritan bahkan sesekali aku meremas dan menekan kepala Indra agar semakin mengasari tubuhku. Indra sudah sangat liar. Dia mengikat kedua tanganku dan mengaitkan pada sebuah tiang yang terpasang diatas kepala tempat tidur Indra. Ini sesuatu yang baru dikamar ini. Sejenak, timbul tanya di kepalaku, sejak kapan Indra memasang tiang besi disini? Sudah berapa banyak wanita yang dia gagahi seperti ini?
Air mata sudah menetes di pipiku, aku sedih, aku sakit hati. Apa yang sudah aku lakukan? Harusnya, aku tidak menyerah padanya. Indra menyadari perubahan respon tubuhku, sudah tidak sebinal tadi. "I'm sorry,Li!" Ucapnya sambil terus menghujani wajahku dengan ciuman. Bibirku tak lepas dari lumayan kasar Indra. Kedua kakiku sudah diikat pada sudut kiri dan kanan ranjang Indra. Mataku ditutup dengan seutas kain merah, yang sudah ada di kamar ini.
Rasa sesal tiba-tiba menyerangku. Sebodoh itu aku menyerah lagi pada dia.
Tembok yang sudah aku bangun setinggi angkasa antara aku dan Indra, hancur lembur hanya karena senyum menderita dan bucket bunga mawar pink didepan pintu ruang sidang tadi pagi. Aku seperti tak memiliki harga diri lagi saat ini. Aku benci diperlukan seperti p*****r.
"Maafkan aa neng, aa gak mau kehilangan Lia. Maafkan jika malam ini, aa akan mengeluarkan s****a ada di dalam tubuh Lia. Aa harus mencegah agar Lia tidak pergi dari kota ini. Aa gak siap kehilangan Lia". Bisikan Indra terdengar seperti rentetan bunyi senapan di kepalaku. Ingin rasanya aku mati saat ini juga.
"Mas Indra, jangan lakukan ini padaku mas. Mas Indra tau, cinta Lia,sayang Lia tulus buat mas Indra. Jangan nodai kepercayaan Lia sama mas Indra. Lia mohon mas" Air mata sudah tak dapat ku tahan. Aku menangis. Indra dengan sangat sadar, mengambil sebuah kain lagi dan kemudian menyumpalkan kain tersebut ke mulutku.
"Nikmati semua yang akan aa lakukan pada tubuh Lia. Nikmati saja. Jangan ditahan, jangan memberontak dan jangan melawan, karena itu akan sangat menyakiti pergelangan tangan dan kakimu Li. Malam ini, aa akan memberikan kado terindah buat Lia." Bisikan, ciuman serta jilatan lidah Indra pada tubuhku terasa mengerikan. Aku tak bisa membayangkan, cita-cita yang sudah aku bangun, masa depan yang selalu aku impikan, akan berakhir malam ini. Aku belum siap menjadi ibu. Aku masih ingin terbang bebas, kemana nasib akan membawaku pergi.
Indra memulai gerakan menjilat pada MissV ku. Menjilat lembut, sesekali lidahnya didorong masuk kedalam labia mayora dibawah sana. Tangannya terus membelai dan memainkan puncak payudaraku. Jilatan dan isapan Indra semakin liar dibawah sana, bahkan Indra memberikan tanda kepemilikan yang sangat banyak pada paha putihku. Rangsangan demi rangsangan yang dilancarjan Indra, membuat tubuhku meradang, penuh gairah. Aku tak bisa mengontrol setiap gerakan pada pinggulku, pada selangkanganku. Aku melenguh kasar dan tak beraturan.
"Nikmatin Li, nikmati saja. Jangan dilawan sayangku cintaku" Indra semakin puas karena respon tubuhku. Dalam keadaan masih terikat, mataku masih tertutup, Indra berada diatas tubuhku, tetapi dengan posisi terbalik. Indra ingin mencoba gaya oral, 69. Aku tak bisa melawan. Indra terlebih dahulu memberikan Jilatan liar dan sentuhan lidah yang memabukkan didalam lubang missV ku. Rasanya nikmat dan sangat toxic. Perlahan Indra melepaskan sumpalan kain pada mulutku, mencium dan menghisap bibirku, kemudian mengarahkan kejantanannya tepat dimulutku. Aku yang sudah dikuasai nafsu, langsung menelan utuh kejantanan Indra, menjilat dan menghisap kasar.
"Aaaaach, Liaaaa..." Indra tak dapat menahan desahan nikmatnya. Indra menikmati permainan lidahku pada kejantanannya. Lumatan dan isapan penuh pada b***************n Indra yang sudah menegang sempurna.
"Li, aa gak tahan lagi" Indra segera mengeluarkan Mr P nya dari mulutku, kemudian dia memasuki tubuhku. Penyatuan yang terasa sangat nikmat. Aku yang masih dalam keadaan terikat dan mata tertutup, hanya bisa mengerang nikmat. Indra menutup mulutku dalam ciuman penuh. Tangannya memeluk erat tubuhku. Pinggulku terus aku goyangkan, memutar ke kiri dan kanan, mengejar pelepasanku. Indra sudah tak perduli, apakah aku sudah o*****e atau belum, dia terlalu fokus dengan mengeluarkan spermanya ke dalam rahimku.
"Maafkan aa Li, maafkan aa......... aarrghh, aaaah aaaaaahhh" Terasa hangat didalam sana. Terasa penuh dengan ketegangan sempurna kejantanan Indra. Aku tak tau, apakah aku harus bahagia atau harus menangis disaat yang sama. Aku bahagia, karena Indra memilihku untuk menjadi ibu dari anak-anaknya kelak. Tetapi aku juga punya mimpi, punya target. Aku belum siap jika sekarang adalah waktunya. Dalam penyatuan terdalam kami, bulir-bukir hangat kembali mengalir dipipiku.
"Ya Allah, Semoga benih ini akan menjadi anak yang Sholeh bagi kami kelak" Seuntai doa Indra,yang seharusnya membuatku bahagia, tetapi nyatanya tidak. Aku tetap menolak untuk menjadi ibu dalam waktu dekat ini.
Indra melepaskan ikatan pada kaki dan tanganku, menghujani wajahku dengan ciuman, bibirku tak luput dari belaian mesra Indra.
"Aa Cinta sama Lia. Aa ingin Lia yang jadi Istri aa. Maafkan harus dengan cara begini, agar aa bisa menghamili Lia.Maafkan aa yang sudah tidak bisa berpikir panjang, setelah tau Lia akan pergi. Maafkan Aa yaa neng!" Aku hanya terdiam dalam pelukan Indra. Air mata masih terus saja menetes. Aku memilih berdiam diri, tak memberikan respon apapun pada Indra. Aku memilih tertidur dalam dekapan Indra. Aku ingin semua ini cepat berakhir.
Waktu sudah menunjukan pukul 4.30 pagi. Aku harus segera pergi. Perlahan aku bereskan tasku, segera aku pakai kembali bajuku, aku bahkan tidak sempat membersihkan diri pagi ini. Satu yang aku inginkan saat ini, segera pergi sejauh mungkin dari Indra. Udara dingin disertai angin sepoi-sepoi, menyambut tubuhku. Huuff, aku tak perduli lagi. Langkah kakiku terus saja menerobos jalanan yang sudah mulai ramai dengan orang yang beraktifitas. Ada yang sibuk menyiapkan barang dagangannya, ada yang memilih berolahraga pagi. Jalanan juga sudah cukup ramai. Aku menghentikan sebuah Taxi yang melintas di depanku. Rumah kost adalah tujuanku.
Aku memilih membersihkan diri dengan mandi bersih. Seluruh tubuhku aku bersihkan dengan kasar, berharap agar Indra dapat aku hapus dari sana. Ada rasa benci, ada rasa rindu dan ada rasa sayang yang masih berputar dihatiku. Aku butuh waktu untuk membantuku menghapus semua kenangan ini.
Tanganku berhenti pada saat akan membersihkan bagian perutku.
"Ya Allah, aku percaya engkau tidak akan mencobai anakmu ini dengan cobaan berat seperti ini" Air mata kembali menetes, kali ini sederas air shower yang mengalir.
"Jika ini jalan hidupku, aku akan merawat anak ini dengan sepenuh hati dan jiwaku, tetapi jika Allah Ijinkan, aku mohon padamu ya Allah, jauhkan cobaan ini dari hidupku" tanganku terus saja mengelus perutku. Segala pikiran berkecamuk jadi satu. Tapi satu yang pasti, aku harus tetap melangkah. Aku tidak boleh berhenti disini.
Puas membersihkan diri, aku segera bersiap sarapan. Segelas Coklat hangat menjadi pilihanku. Aku memilih menikmati sarapan didalam kamarku. Aku memilih diam, sebagai kawanku, membiarkan angin semilir menjadi penyempurna kegundahanku. Aku mengecek jadwalku hari ini. Pendaftaran Wisuda Gelombang ke-2 sudah dibuka. Yess. Hari ini wajib selesai. Persyaratannya sudah aku siapkan. Hari ini aku akan mendaftarkan diri ikut Wisuda. Setelah itu aku masih memiliki waktu sekitar 15 hari, untuk menjauh dari Indra. Aaah, aku lupa, Hp ku masih Off. Segera aku hidupkan handphone Black berry milikku. Ting, Ting, Ting.... ada beberapa Notifikasi yang masuk. Segera aku buka. Ada dua Chat masuk. Lydia dan Indra. Aku memilih membuka Chat dari Lydia terlebih dahulu.
"Kak, ayah jam 10 nanti akan berangkat ke Jakarta. Ayah mau ketemu kakak pagi ini, sebelum jam 8 pagi yaa kak. Jangan terlambat kak" Pak Danu ingin bertemu denganku. Ku lirik jam di dinding kamar, Jam 6.10 Wib. segera aku berbenah, mengganti baju dan membawa serta keperluan untuk mendaftar wisuda.
Tepat pukul 7.00, aku sudah berada dirumah Lydia.
"Pagiii Lia, yuk sarapan bareng Tante dan Om. Om kayaknya punya kabar gembira buat Lia" masih ada kejutan dari Tante Rastanty dan Om Danu buatku.
Dimeja makan, terlihat hanya ada om dan Tante Rastanty.
"Lydia dimana Tante?" aku melihat sekeliling dan menemukan Lydia, Sari dan Dini sedang sarapan diteras samping rumah. Aku tersenyum lebar, melangkah ke arah mereka bertiga.
"Duuh, yang habis bersenang-senang" Ketiga wanita muda itu tertawa renyah.
Aku hanya mencibir, kemudian menunjukan bekas ikatan Indra pada tanganku, yang membiru.
"Lihat ini, akibat bersenang-senang yang kebablasan. Aku diiket sama Indra" Aku menggoda mereka bertiga.
"Aaaaaah, kamu bikin kami cemburu Liaaa" Aku tersenyum menang.
"Makanya cari pacar tuh yang tau apa yang kamu inginkan" kembali aku menggoda Sari, Dini dan Lydia.
"Lyd, ada perkembangan di kampus yang kakak lewatkan?" Lydia tersenyum lebar.
"Aman kak Lia. Thank's to You" Lydia berdiri dan segera memelukku.
"Kakak terbaik yang dikirim Allah padaku.
Aku sayang kak Lia" Aku membalas pelukan Lydia.
"Jaga diri baik-baik. Tidak ada orang yang akan menyakiti kamu, jika kamu bisa menjaga dirimu dengan baik" aku berbisik lembut pad Lydia yang masih memelukku.
"Kak,are you ok??" Lydia merasa ada yang aneh denganku.
"Hey, kakak baik-baik saja. Kak Lia sedang happy." aku tersenyum pada ketiga wanita muda.
"Lia, sini nak" Om Danu memanggilku.
"Ya Om."
"Sini, duduk dekat Tante" Tante Rastanty menepuk bangku kosong disisinya.
"Begini Lia, Om belum bisa berterima kasih secara layak pada Lia. Om dan Tante sangat bersyukur Lydia bertemu kamu. Kami berdua ,sangat terbantu selama ada Lia disisi putri kami. Lydia juga sekarang sudah lebih percaya diri dan sudah tidak berteman dengan teman-teman lamanya dulu"
Tante Rastanty mengelus lembut tanganku. "Trima kasih banyak Lia" Tante Rastanty memeluk pundakku.
"Aku melakukannya karena saat itu aku ada disitu, dan aku melihat kejadiannya. Aku menolong Lydia karena aku juga wanita, dan aku tidak tega membiarkan seorang wanita disiksa begitu. Aku menolong Lydia, benar-baner tulus".
"Aku juga sudah sangat terbantu dengan semua bantuan Tante Dan Om selama kurang lebih 4 bulan terakhir ini. Aku juga ingin berterima kasih" Ucapku tulus sambil menundukkan kepalaku tanda hormat.
"Duuh papa, seandainya kita punya dua anak perempuan, mami ingin Lia jadi anak tertua mami" aku tersenyum mendengarnya.
"Om tidak punya banyak waktu, jam 10 nanti om dan Tante akan berangkat lagi. Ini kartu nama Om, siapkan CV dan surat lamaranmu, segera kirim ke alamat email yang ada dibalik kartu nama Om" aku membalikkan kartu nama itu, dan menemukan sebuah catatan alamat email disana.
"Trima kasih banyak Om. Ini akan sangat berarti buat Lia. Sekali lagi, Terima kasih banyak"
"Bulan depan, setelah Ijazah dan transkrip nilai sudah Lia terima, segera kirim lamarannya. Bulan depan ada penerimaan untuk perkebunan area Jawa tengah, Jawa Barat, Sumatera dan Kalimantan. Besar harapan Om, Lia tidak terlambat mengirimkan Lamarannya. Om akan bantu sebisa yang om mampu".
Ini seperti mimpi yang akan menjadi kenyataan bagiku. Perusahaan plat merah ini, sudah menjadi targetku sejak dulu. Aku suka berkebun, aku suka merawat tanaman. Hal ini membuat obsesi tersembunyi dalam hatiku, untuk bisa bekerja dan tinggal di area perkebunan.
"Trima kasih banyak Om Danu. Trima kasih banyak Tante" Aku menjabat telapak tangan Tante Rastanty dan Om Danu.
Tepat jam 9.30 pagi, Om Danu dan Tante Rastanty pamit, kembali ke Jakarta. Lydia terlihat sedih, ditinggal lagi oleh kedua orang tuanya. Tapi hal ini tidak kami biarkan. Segera kami bertiga memeluk Lydia bersama-sama. Lydia tersenyum.
"Bye byeeee, Minggu depan aku ada libur seminggu, aku ke Jakarta yaah mam?" Permintaan Lydia dibalas dengan senyum lebar ibunya.
"Oh itu bagus, kami akan menunggu di Jakarta. Lia, ikut aja nanti ke Jakarta yaah, bareng Lydia,Dini dan Sari juga. Pasti seru kalau kalian ada di rumah Tante di Jakarta"
"Boleh Tante, asiiikk kami akan ke Jakarta" Dini adalah orang yang paling antusias.
"Selamat jalan, hati-hati dijalan Tante, om. Sekali lagi, Trima kasih banyak" Aku mengantar Tante Rastanty dan Om sampai ke Mobil, dan menutup rapat pintu mobilnya. Mobilnya segera berlalu.
Ada rasa hangat yang mengalir dalam tubuhku, saat harus melepaskan Om dan Tante Rastanty berangkat. Aku memeluk erat pinggang Lydia, merebahkan kepalaku ke pundak gadis mungil ini, merasakan kasih sayang dari seorang saudari perempuan yang tidak pernah aku miliki.
"Kak, Kak Lia ada masalah yah sama aa Indra?" Sepertinya Lydia menyadari perubahan sikapku.
"Kakak hanya ingin bermanja sedikit aja, kamu sudah curiga pada kakak" aku tersenyum manis pada Lydia. Aku tidak boleh terlihat lemah dihadapannya.
"Kak, dari kak Lia aku belajar banyak hal. Dari kakak juga aku belajar membaca gesture tubuh seseorang. Kak Lia gak bisa bohong padaku kak" Lydia bersikukuh agar aku mau bercerita.
"Hari ini kakak agak sedikit repot, mau mendaftar wisuda. Lydia gak papa kan Kalo kakak tinggal? Sari sama Dini juga sepertinya akan kembali ke rumah" Pandangan kamu berdua terarah pada kedua sahabatku.
"Lydia senang banget ketemu kalian bertiga kak. Aku gak sendirian lagi di Bandung. Aku punya tiga orang kakak yang baik padaku". Kami berdua berjalan beriringan, saling berpegangan tangan. Kami berjalan dalam diam. Aku benar-benar ingin diam saat ini.
"Kak Sari dan kak Dini, apa kegiatan kalian hari ini?" Lydia sepertinya keberatan kalau kami harus pergi semua.
"Kalo kakak, siang nanti ada tugas yang harus kakak selesaikan di perpustakaan" Dini benjelaskan jadwalnya.
"Kalo aku siang ini mau bersihkan kamar dulu. Sudah 2 malam ditinggal. Lalu palingan Kakak lanjutk mengerjakan beberapa tugas yang belum selesai" ujar Sari.
"Aku hari ini hanya satu kuliah, jam 11 nanti. Setelah itu aku Free. Tapi koq ya asing rasanya pulang ke rumah kalo sudah sepi gini yah kak?" ujar Lydia.
"Gini aja Lyd, kita berangkat bareng. Lydia kakak antar ke Kampus, lalu kakak mengantar Sari dan Dini dulu ke Kosan. Lalu Kakak akan menyelesaikan admisitrasi di bagian pendaftaran Wisuda. Jika Lydia sudah selesai, Kamu langsung ke Kosan aja. Ada Sari kan di kosan. Kakak juga akan balik ke kosan setelah selesai urusan di rektorat nanti. Jadi kita terpisahnya gak lama. Ketemu lagi siang setelah selesai kerjaan. Gimana dek?" Aku mencoba memberikan solusi terbaik pada gadis mungil yang tiba-tuba takut sendirian dirumah.
"Yeeey, aku setuju kak. Makasih ya kak, kakak Lia memang paling paham perasaanku" Lydia kegirangan. Dia benar-benar anak manja ibunya.
Setelah selesai bersiap-siap, kami segera berangkat. Sampai disini, aku belum membuka Chat dari Indra. Aku tak tau apa yang ada dipikirannya, apa yang akan dilakukannya. Dan aku memilih untuk tidak membuka Chat tersebut, hingga urusanku selesai.
---------------------------
Hai readers, trima kasih masih setia dikisah Lia Himawan. masih akan ada banyak part seru lainnya.
ikutin terus yaah.
maaf akan beberapa kali delay up, disebabkan beberapa kerjaan yang tidak bisa ditunda.
trima kasih