Selamat Tinggal

2808 Kata
Jika cinta itu meluluhlantakan hatimu Jika Cinta itu menghancurkanmu, Maka cobalah renungkan kembali, Seharusnya, Cinta itu membuat hatimu kuat. Cinta itu membangun rindu yg abadi. Cinta itu membakar semangat hidupmu. Cinta itu membuatmu tertawa dan semestinya Cinta itu membuatmu bahagia. ~~~ Lia Himawan~~~ ******* Hari ini, Pelaksanaan Wisuda. Perjuanganku akan segera berbuah manis. Ayah dan ibuku, sudah duduk dikursi undangan. Ada rasa bangga karena bisa membuat kedua orang tuaku bisa hadir di acara penting dalam hidupku. Aku akan menerima penghargaan sebagai Lulusan termuda dan juga Lulusan dengan Nilai Cumlaude. Kedua masku, Mas Yoga dan Mas David gak bisa hadir. Mereka tidak mendapatkan Ijin cuti dadakan. Tidak masalah, karena kedua orang tuaku hadir disini. Dari kabar yang aku dengar, Indra tidak bisa ikut wisuda pada Yudisium kali ini. Ada sedikit rasa bersalah, tapi aku tidak perduli. Yang aku pedulikan saat ini hanya Hidupku, masa depanku. #Flash Back, Tiga Minggu yang lalu# Aku sedang mengisi formulir pendaftaran Wisuda. Aku sedang fokus mengisi setiap data dan pertanyaan. Sedang asyik dengan kerjaanku mengisi form, tiba-tiba seseorang menjambak rambut panjangku. Hampir saja aku terjungkal. "Dasar kamu perempuan tidak punya malu, kenapa kamu selalu mengganggu hidupku..." Aku sudah tidak mendengar lagi apa yang diteriakkan si wanita. Aku sangat terkejut. Refleks, aku menarik keras lengan itu dan membuat kuncian pada kedua lengan sang wanita. "Kak Tiwi?" Aku sangat terkejut dengan kenyataan yang menyerangku adalah kak Tiwi. Selama jadi mahasiswa di Kampus ini, tidak pernah sekalipun kami berselisih. Aku mengenalnya sebagai sahabat baik Mas Indra, yang kemudian berubah menjadi pacar kesayangan Indra beberapa bulan lalu. Kenyataan yang sangat menyakitkan. "Apa maksud kak Tiwi mempermalukan aku seperti ini?" Aku semakin menekan pergelangan tangan kak Tiwi, membuat kuncian yang semakin ketat, meremas kedua pergelangan tangan Tiwi. "Aduuh, sakit Lia, lepasin aku....." Tiwi menjerit kesakitan. "Jawab dulu saya, kamu mau berbicara baik-baik atau kamu saya hajar disini?" emosiku sudah tidak terkendalikan lagi. Aku menatap tajam bola mata kak Tiwi yang sudah berair menahan sakit pada pergelangan tangannya. Rasanya ingin ku Jambak rambutnya, ingin ku tinju wajahnya. "Iya, Iyaaaaaa,. Lepasin dulu tanganku Lia Sakiiiit". Tiwi sudah menangis. Aku melonggarkan cengkeraman tanganku pada pergelangan tangan kak Tiwi. "Untung tadi aku hanya menarik tangan kakak. Gimana tadi kalau sampai kak Tiwi aku banting? Itu sangat mudah bagiku. Mikir dong kak, siapa yang akan kakak serang. Kak Tiwi mempermalukan aku didepan umum. Apa kakak gak bisa berpikiran waras sedikit!? Apa yang kakak harapkan dengan menyerang aku seperti ini?" Aku terpaksa membawa kak Tiwi agak menjauh dari keramaian karena dia masih menangis. Ada Security yang mendatangi kami, tetapi dapat aku handle dengan baik. "Gak ada masalah pak. Semuanya bisa diselesaikan baik-baik" Aku memastikan kondisiku baik-baik saja pada bapak-bapak security yang tadi mendatangi kami. "Tapi kata mahasiswa yang lain, tadi neng yang diserang duluan. Koq neng malah gak marah?" selidik pak satpamnya lagi "Ada sedikit salah paham pak, biasa masalah anak muda. Soal cowok." aku menjelaskan sambil tersenyum. "Oh iya neng. pastikan jangan ada keributan lagi yah?" aku mengangkat jempolku, memberi tanda bahwa tanda semua baik-baik saja. Aku kembali ke meja registrasi, membereskan perlengkapanku yang sempat berantakan akibat serangan tak terduga dari Tiwi. Aku kemudian berjalan menuju tempat dimana Tiwi sedang duduk sambil menangis. "Kak, bisa kita bicara baik-baik? Kakak mau ke kantin atau disini saja?" Aku berusaha setenang mungkin agar tidak memancing emosiku lagi. "Lia tau kan kalo kak Tiwi dan Indra tunangan?" Deeeg. Rasanya seperti dadaku terkena tinju. Kutarik nafasku sepanjang yang aku bisa, menghembuskannya perlahan-lahan. 'Jujur, Sampai hari ini, aku gak tau seperti apa hubungan kak Tiwi dan Mas Indra. Aku tau waktu malam dimana kita bertiga pergi makan malam bersama. Itu juga aku mendengar Kaka Tiwi dan Mas Indra bertengkar. Kalau saja malam itu aku tidak mendengar pertengkaran kalian, aku gak akan tau kalau kalian punya perjanjian untuk sehidup dan semati" Aku menatap tajam mata kak Tiwi, agar dia percaya kalau apa yang aku katakan adalah jujur. "Indra memutuskan hubungannya denganku. Aku juga tau kalau Indra memutuskan hubungannya denganku karena dia lebih memilih Lia untuk menjadi calon Istrinya. Kak Tiwi kalut, marah. Hubungan kami yang sudah lebih dari 3 tahun, aku berharap suatu saat akan menjadi istri Indra, tetapi semua berakhir 2 hari yang lalu. Dia bahkan belum pernah menyentuh tubuhku." Tiwi kembali menangis. Aku tak bisa berbuat apa-apa saat ini. Aku hanya ingin jadi pendengar buat Tiwi. "Kemarin, aku merayu Indra. Aku mencoba untuk naik ke ranjangnya, dan membuka semua bajuku. Kamu tau apa yang dia bilang? Dia tidak tertarik padaku. Baru kali ini aku tau, Indra menolak seorang perawan. Dan itu aku" Tangis Tiwi semakin menjadi-jadi. Aku harus mengulurkan tanganku, menenangkannya. Aku memberikan tisue padanya, dan merangkul pundak kak Tiwi. "Dan itu semua karena kamu Lia. Indra berubah membenciku sekarang". Aku biarkan dia menuangkan semua perasaannya. "Kak Tiwi, agar kakak tau, aku sudah memutuskan untuk segera mengakhiri hubunganku dengan Indra. Aku akan Pergi dari kota ini, pergi dari mas Indra. Aku gak bisa menjadi istri buat lelaki yang akan membuat hidupku rumit." Tiwi menarik badannya dari dekapanku, dia seperti tidak percaya pada ucapanku. " Aku serius kak. Setelah semua urusanku di kampus ini selesai, aku akan segera menghilang dari hadapan kalian. Kakak harus berusaha mendapatkan kembali hati mas Indra. Karena aku sudah tidak ingin merawat hatiku yang terlalu sering sakit karena Mas Indra. Aku gak punya banyak stok maaf seumur hidupku kak" Mataku sudah berkabut, air mata segera kuhapus dari sana. Aku tidak akan melemah disaat keputusan yang aku buat sudah mulai aku jalankan. "Lia yakin?" "Sangat yakin kak." Saat kami sedang ngobrol, mobil Indra terlihat. Sudah sejak pagi, aku belum membuka Chat dari Indra. Aku segera pamit pada kak Tiwi. "Kak Tiwi, aku permisi, masih ada urusan yang harus aku selesaikan dibagian administrasi. Assalamualaikum" Aku segera pamit dan berlalu. Kak Tiwi terlihat bingung, tapi kemudian membalas salamku. "Waalaikumsalam" ujarnya sambil terus memandangi aku yang berjalan tergesa-gesa. Aku tau,Indra melihatku tadi. Aku ingin dia tau kalau aku sedang marah. Handphone ku berbunyi. Sekilas kulihat, nama Indra tertera disana. Baru semalam kami bercinta, tapi lihatlah hari ini, aku sudah sangat membencinya. Kulirik perut rataku, aku menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Dering Handphone berbunyi lagi. "Ya mas?" "Assalamualaikum Lia, tunggu aa disitu, jangan pergi". Aku menoleh dan melihat Indra berlari kearah tempatku berdiri. Aku melirik sepintas ke kak Tiwi. Telapak tanganku aku letakkan di dadaku, tanda memohon. "Kak, Help me. Aku gak mau ketemu Mas Indra. Please!?" dengan sangat terpaksa ide gila ini harus aku pakai. Kak Tiwi sepertinya paham. Dia lantas berdiri dan berjalan kearah Indra. Ku acuhkan kejadian apa yang terjadi antara mereka berdua, aku menghilang dibalik pintu masuk bagian Administrasi. Urusanku hari ini selesai. Aku sudah terdaftar untuk ikut wisuda gelombang ke-2. Segala urusan terkait wisuda, sudah aku bereskan. Tidak ada yang terlewat. Aku menarik nafas panjang. Lega rasanya. Trima kasih ya Allah, aku diberi kelancaran hari ini. Waktu sudah menunjukan pukul 14:40 wib. Baru terasa lapar. Aku memeriksa handphone ku sekejab. Pesan dari Indra sudah lebih dari 30, dan masih ku abaikan. Aku memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Handphone ku kembali berdering. Sari. "Ya Sar? Aku lagi makan." "Li, lu masih lama gak? Indra disini" Deg. Jantungku seperti berhenti berdetak. "Bilang saja aku gak pulang hari ini Sar, aku males ketemu Indra" "Kalian ribut lagi?" "Sar, Please. Aku gak ingin membahasnya sekarang. Aku lagi laper paraaaah. Bilang aja aku gak akan kembali malam ini. Thank's Sari cantik" segera ku akhiri panggil tersebut. Setelah membayar harga makan siang, aku memilih berjalan-jalan ke Mall sekedar menghilangkan penat dan bersantai. "Lyd, kakak akan refreshing ke Mall Bandung. Kalau mau gabung, kabari kakak yaah" Aku mengirim pesan BBM ke Lydia. Setelah puas berjalan-jalan, aku memilih duduk di coffe shop yang agak terbuka tempatnya. Aku memesan segelas Cappucino. Aku memilih akan membaca pesan BBM dari Indra. Hal pertama yang dia lakukan adalah memohon maaf padaku. Ciiiiih. Semudah itu dia berbuat salah dan kemudian meminta maaf. Aku muak. Segera aku letakkan kembali Handphone Ku. Setelah lebih tenang, aku memilih menghubungi Indra. Akan lebih baik kalau berbicara langsung. "Halo Li? Kamu dimana? Aa kayak orang gila nyariin kamu hari ini. Kenapa tadi siang Lia pergi saat aa datangi?" Indra seperti biasa, penuh kekhawatiran. "Halo Mas In, aku baik-baik saja. Jangan tanya aku dimana, karena itu percuma." "Li, boleh gak kita bertemu langsung? Aa gak nyaman lewat telephone gini" "Aku juga gak nyaman kalo ketemu langsung sama mas Indra. Ujung-ujungnya pasti mas Indra pasti akan membawaku ke ranjang. Aku capek diginiin terus mas" "Lia,dengerin aa dulu. Aa sudah memilih Lia untuk.." "Stop mas. Stop. Aku tidak ingin mendengarkan itu saat ini" Aku memotong pembicaraan Indra. Hal yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya. "Apa mas Indra pernah bertanya, apa yang aku inginkan? Pernahkah mas Indra perduli dengan perasaanku? Seribu kali mas Indra berbuat salah, seribu kali mas Indra minta maaf dan aku, dengan polosnya, akan memberikan maaf sebanyak seribu kali juga. Mau sampai kapan seperti itu terus?" Ingin rasanya aku menangis, mengeluarkan keluh kesahku. "Tadi siang Tiwi menyerangku. Dia marah karena Mas Indra memutuskan hubungan dengannya. Tapi mas Lihat akibatnya? Aku yang diserang. Aku yang menjadi sasaran amukkan Tiwi. Ini baru Tiwi, belum lagi puluhan mahasiswi yang lain. Aku capek mas" kami terdiam cukup lama. Indra menarik nafas panjang dan sepertinya dia sedang tidak nyaman. "Aa boleh ketemu Lia gak?Aa ingin ada dekat Lia" Indra merayuku lagi. Tapi kali ini aku tidak akan menyerah. "Gak Mas, mohon maaf,untuk kali ini aku harus menolak. Aku mohon maaf, kalau aku juga menginginkan hubungan kita berakhir mas. Terlalu dini jika membicarakan masalah berkeluarga saat ini. Aku masih mau bebas menjalani hidupku. Aku ingin bekerja, punya karier bagus, menikmati hidupku. Jika kita berjodoh, Allah pasti akan mempertemukan kita. Selamat Tinggal Mas". Aku mengakhiri panggilan telepon. Masih terdengar suara Indra marah, teriak padaku bahwa dia tidak akan melepaskan aku, tapi aku sudah mati rasa. Terlanjur kecewa dengan pilihan hidup yang dipilihkan Indra buatku. Setelah puas berdiam diri dan menghabiskan dua gelas Hot capuccino, aku memilih akan pulang. Informasi dari Sari, Lydia ada di kontrakan kami. Mereka sudah masak untuk makan malam kami berempat. Hanya mereka bertiga teman yang saat ini aku butuhkan. Tak lupa aku membeli beberapa cemilan dan 3 cup Ice coffe. Sesampainya dirumah, aku segera membersihkan diri, dan bergabung di meja makan. "Kak,besok aku libur kuliah. Selama seminggu. Kak Lia mau temani aku ke Jakarta?" Pucuk dicinta ulam pun tiba. "Hayuuukkk" Tanpa berpikir panjang, aku iyakan ajakan Lydia. "Kakak sudah Free koq, sampai 2 Minggu ke depan". "Kak Sari dan Kak Dini gimana? Bisa gabung gak?" Lydia mengajak serta kedua sahabatku. "Aku pengen banget sih, tapi masih ada ujian. Belum bisa ikut kalian." Sari gak bisa ikut. Demikian juga Dini. Aku menggunakan kesempatan ini untuk menghindar dari Indra, sampai seminggu kedepan. Selama di Jakarta, kami memilih menghabiskan banyak waktu dengan berkeliling ke beberapa tempat Wisata dan juga mengunjungi beberapa Mall besar. Aku memiliki waktu luang yang cukup banyak, sehingga dapat membuat Surat Lamaran Kerja. Surat Lamaran Kerja sudah beres, CV juga sudah selesai aku buat. Atas permintaan Om Danu, Surat Lamaran dan CV aku kirim terlebih dahulu, sambil menunggu Ijazah. Langkah kakiku sudah semakin mantap. Aku akan terus bergerak maju, mengejar cita-citaku, mengejar impianku. Memang benar, suatu saat semua wanita akan kembali pada Kodratnya sebagai seorang ibu, tapi, hidup ini adalah pilihan bukan? Aku bisa memilih menjadi apa saja yang aku mau. Waktu berjalan seperti roda yang berputar cepat. Seminggu terasa sangat cepat berakhir. Aku dan Lydia harus kembali lagi ke Bandung. Aku terus mengabaikan panggilan telephone Indra, dan tidak membaca pesan masuk darinya. Sudah cukup. Semua harus berakhir. ****************** Acara Wisuda sedang berlangsung. Sambutan dari Rektor sudah disampaikan. Tiba saat pemberian penghargaan bagi mahasiswa lulusan Terbaik dari masing-masing disiplin Ilmu dan Lulusan termuda. Lulusan terbaik diberikan kepada Mahasiswa dengan Nilai IPK tertinggi. Ada 10 orang Wisudawan dan wisudawati yang dipanggil namanya untuk menerima Piagam Penghargaan. Giliran aku sebagai Wisudawati termuda. Cukup bangga dengan prestasiku walaupun aku tidak termasuk dalam kategori lulusan terbaik, tetapi aku berhasil menamatkan studi dalam waktu 4 tahun saja. Ini sudah merupakan prestasi tersendiri bagiku. Acara sudah selesai. Aku bersama kedua orang tuaku, Sari dan juga Dini, saat ini sedang berada di salah satu restoran untuk makan siang bersama. Sore nanti, kedua orang tuaku akan segera pulang. Mereka tidak bisa berlama-lama di Bandung. Suasana makan siang cukup akrab,antara orang tuaku juga kedua sahabatku. Lydia hari ini tidak bisa bergabung bersama kami. Dia sedang ada ujian praktek keluar Bandung. "Kak Lia, Lydia minta maaf yaa kak. Lydia gak bisa hadir di acara wisuda kakak. Kak Lia tungguin aku balik ke Bandung yah? Jangan pergi dulu" Begitu bunyi pesan dari Lydia. Seharusnya hari ini aku ikut kembali bersama kedua orang tuaku. Tapi terlalu mendadak. Aku masih belum bisa melangkahkan kaki untuk pergi dari kota ini. Aku segera menghubungi Lydia. "Halo dek, apa kabar?" sapaku pada suara manja diseberang sana. "Haii kak,ooooooh, i Miss you so much" Idiih, baru juga berpisah 3 hari, dah kangen aja nih bocah. Aku tersenyum sendiri membayangkan, seberapa rindunya dia padaku nanti jika kami sudah benar-benar berpisah. "Kakak gak ada rencana akan pulang bareng PakDe dan Budhe kan? Jangan dulu pergi kak, tunggu aku kembali" Suara Lydia sudah mulai terdengar serak. Apakah dia akan menangis jika aku pergi sekarang? "Emang berapa hari Lydia kembalinya dek?" "Lusa aku sudah kembali kak. Tungguin yah kak, Please!" Lydia masih merayuku untuk tetap tinggal. "Aku ingin berpisah secara proper dengan kakak, jangan pergi dulu yaa kak" terdengar suara Lydia sudah bergetar diseberang sana. "Baiklah, kakak akan menunggu Lydia kembali. Nih ngomong ke Budhe dulu. Bilangin kalo Lydia yang nahan kakak yah?". Handphone aku serahkan pada ibuku. "Mam, ini Lydia mau ngomong." "Assalamu'alaikum nak Lydia. Piye kabarmu ndok?" "............." "Alhamdulillah kalo sehat-sehat. Budhe sama Pakdemu pamit Yo ndok. Kami pulang hari ini ke Temanggung. Sampean kalo ada waktu libur, mampir ke Desa ibu. kapan-kapan." "............" "Ora. Budhe gak betah lama-lama disini. Wis wis, budhe pulang aja. Matur suwun sudah jadi temannya Lia yaa ndok." "..........." "Oaaalaaah, sampean koq repot-repot. Gak usah dibeliin hadiah. Budhe sama pakde sudah seneng boleh numpang tinggal dirumah Nak Lydia.Titip ucapan terima kasih buat orang tuamu yaa nak. Mohon maaf belum bisa bertemu sekarang." ibu mengakhiri percakapannya dengan Lydia. Ibu dan ayah memang tidak bertemu Lydia. Lydia sudah terlebih dahulu berangkat ke tepat praktek pada saat ibu dan ayah tiba. Atas ijin Tante Rastanty, ibu dan ayah boleh menginap dirumah Lydia selama yang mereka mau. Tapi sayang, kedua orang tuaku tidak betah berlama-lama di kota besar. Mumet katanya lihat kota yang ramai dan macet. "Nak, orang tua Lydia membelikan oleh-oleh buat ibu dan ayah. Ada dirumah katanya. Titip salam buat kedua orang tuanya Lydia yaa nak. Ibu sangat berterima kasih." Aku tersenyum mengingat baiknya kedua orang tua Lydia. Aku meraih pundak renta ibu, memeluk ibu erat. "Ibu yakin mau pulang sore ini juga? Gak besok aja Bu?" "Lihat ayahmu, gak betah dia disini nak. Kami terbiasa dengan kehidupan desa yang sederhana. Lagian sawah siapa yang awasi kalau ayah dan ibu masih disini." Ibu membalas pelukanku. Aku harus melepaskan mereka pergi. Aku juga masih harus menyelesaikan beberapa urusan administrasi yang belum selesai. Sambil menunggu Lydia kembali lusa, aku akan membereskan urusan adminitrasi Ijazah dan urusan lamaran pekerjaan yang belum selesai. Setelah selesai mengantar ibu dan ayah berangkat, aku memutuskan untuk berjalan kaki sejenak. Hitung-hitung olahraga. Sudah 30 menit berlalu, dan aku masih saja berjalan. Tujuanku adalah rumah kontrakan kami. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti mendadak di depanku. Indra. Lagi? Aku tak habis pikir,bagaimana bisa semudah ini kami bertemu, setelah sekian lama aku menghindar dari dia. "Neng..!" Indra menabrak tubuhku, meraihku ke dalam dekapannya. Indra seperti begitu rindu padaku. Sepintas, aku menangkap sesosok wanita di dalam mobil Indra. Wanita itu bukan Tiwi. Indra masih belum berubah. Aku melepaskan diri dari pelukan Indra. "Mas,tolong menjauh dariku!" "Li, aa gak bisa jauh dari kamu Li." "Buktinya bisa, tiga Minggu kita tidak bertemu, semua terlihat baik-baik saja sekarang." Aku masih mencoba menghindar. "Li, ayo ikut aa." "Gak. Itu masih ada wanita lain yang menunggu kamu di mobil. Sudah, silahkan kalian berdua pergi." Aku melepaskan tangan Indra dari tanganku, dan segera aku berjalan menjauh. "Lia, Ikut aa sekarang.Tolong..," Indra menarik paksa tanganku dan membawaku ke arah mobilnya. "Indra, Lepaskan aku. Aku tidak akan segan-segan mencederai kamu kalau kamu berani memaksaku lagi!" Hatiku berdebar karena emosi, tubuhku bereaksi karena penolakan. Nafasku sudah aku hirup dengan terburu-buru. "Please, Leave me alone. You know how i hate you since the day you make me down. Aku masih belum tau, apakah tamu bulananku akan datang lagi bulan depan atau tidak, tapi aku pastikan kamu tidak akan pernah melihatku lagi!" Aku sangat marah karena Indra terlalu memaksakan kehendaknya. Aku sudah cukup mengalah dan merendahkan harga diriku, hanya karena cinta. Aku harus mengakhiri ini semua. Aku segera pergi dengan memberhentikan taxi. Aku berlalu dan tidak ingin melihat lagi ke belakangku. Selamat tinggal Indra. Aku cinta kamu, tetapi aku tidak siap jika setiap hari harus memaafkan kesalahan kamu. Jika kamu mencintaiku, tidak seharusnya kamu terus menyakitiku. *********
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN