Lima bulan sudah berlalu. Masa training sebagai karyawan baru,rasanya menyenangkan. Sebagai Karyawan baru, aku cukup mendapatkan banyak kemudahan. Selain karena aku memang mudah bergaul, santai dan penurut,juga karena pengaruh Om Danu, papanya Lydia. Aku dipandang sebelah mata oleh karyawan lain karena aku dianggap karyawan 'Titipan" Direksi. Tetapi aku tidak akan terpengaruh dengan desas desus liar itu.
Orang tidak mengetahui dan tidak perlu tahu seperti apa hubungan aku dan Om Danu. Aku hanya akan menjelaskan pada orang yang benar-benar tulus padaku, tetapi tidak pada setiap orang. Itu hanya membuang waktuku saja
Besok ada rapat para pimpinan se Jawa Tengah. Dan aku mendapat undangan resmi via email kemarin untuk ikut menghadiri rapat tersebut. Sedikit terkejut. Ada apa gerangan? Tidak biasanya karyawan level bawah, apalagi masih karyawan baru, diundang ikut Rapat pimpinan. Ada tanda tanya di kepalaku. Aku masih menduga. Masih berprasangka dan menebak-nebak, ada apa gerangan? Semua keruwetan ini membuatku tak bisa tertidur. Aku gelisah. Sekejab, terlintas Indra di pikiranku. Biasanya kalau sudah suntuk begini, aku pasti akan berlari ke peluknya, mencurahkan segala macam uneg-uneg. Dia akan sangat hangat memelukku, membelai rambutku dan tak lupa mengecup keningku mesra. Mataku sudah berkabut. Apakah aku rindu Indra?
Seminggu setelah aku meninggalkan Bandung, tamu bulanan ku berkunjung. Alhamdulillah, Allah masih melindungiku dan menjauhkan aku dari dosa. Aku kemudian memberitahukan hal tersebut pada Indra. Dia kecewa. Tapi aku bahagia. Aku menutup semua jalur komunikasi kami empat bulan yang lalu. Perlahan,aku ambil Handphone dan aku mencari daftar nomor yang diblokir. Aku mencari nama Indra. Dengan hati berdebar-debar, aku membuka blokir nomor tersebut. Aku bimbang. haruskan aku menghubungi Indra kembali? Apa tujuanku? Kebimbangan ini membuatku buntu. Ya sudah, biarkan saja terbuka. Jika suatu saat Indra menyadari ini, dia pasti akan menghubungiku. Aku meletakkan Handphone lalu beranjak ke dapur. Saat ini, aku tinggal di sebuah rumah kos yang cukup nyaman. Setiap kamar memiliki fasilitas yang cukup mewah. AC, Kamar mandi dalam, Free WiFi. Dapur juga tersedia tetapi untuk digunakan bersama. Dapurnya terbuka dan cukup luas. Ada taman dan gazebo di bagian tengah rumah, yang memang sengaja dibuat terbuka atapnya, agar sirkulasi udara dan cahaya matahari tetap baik.
Aku sedang menyeduh teh saat handphone ku berbunyi. Aku berlari ke kamar dan melihat nama penelpon. Indra. Ya Allah, dia benar-benar tahu kalau aku membuka blokirnya. Aku tersenyum senang.
"Halo Mas In" sapaku kegirangan.
"Hei neng, koq tiba-tiba blokir aa dibuka? Ada apa?" sebutir air mata sudah lolos dari pelupuk mataku.
"Lia rindu mas Indra" tangisku sudah pecah. Aku tak bisa menyembunyikan perasaanku dari dia.
"Lia tau kan kalo aa sayang banget sama Lia? Aa masih terus berharap Lia mau membuka blokir aa selama empat bulan ini, aa terus menunggu neng."
"Mas, jangan marahin Lia. Lia lagi butuh temen cerita. Temen buat cerita, bukan buat dimarahin!"
Pintu kamarku diketuk seseorang. Aku membuka pintu kamar dan melihat Mbak Asih, Asisten Rumah tangga yang disediakan pemilik kontrakan buat menjaga dan membersihkan rumah
"Mbak Lia lagi seduh teh?" Spontan aku berlari ke dapur. Mbak Asih tertawa melihat ulahku.
"Mbak Lia Iki lo, tinggal bilang biar dibuatkan teh, eeh malah lari-larian" mbak Asih masih saja ngedumel.
"Mbak Asih, maaf yaah, tadi hp ku berbunyi, eeh jadi lupa kalo lagi seduh teh. Makasih yaa mbak Asih, sudah di panggil." Mbak Asih tersenyum.
"Yo wis, sana lanjut telepon nya. Ntar marah lagi si mas. Jangan cengeng, nanti hilang cantiknya". Mbak Asih menggodaku.
"Hihihi, mbak Asih tau aja kalo aku tadi lagi nangis." aku tersipu malu.
"Halo mas In? Masih disana mas?"
"Masih neng. Ada apa tadi? koq rada panik dan pergi begitu saja tadi?"
"Lia lagi seduh teh tadi waktu mas Indra telepon., trus kelupaan deh"
"Hati-hati neng. Oh iya, tinggal dirumah siapa neng?"
"Kos. Lia kost sementara ini"
"Bisa dong kalo aa mampir"
"Gak boleh. Ini khusus cewek soalnya"
Cukup lama kami ngobrol, membicarakan banyak hal,membahas kenangan lama dan kegiatan masing-masing. Waktu sudah menunjukan pukul 23.15 Wib.
"Mas In, aku pamit yaah. Harus segera tidur. Besok pagi ada meeting pimpinan dan aku harus ikut. Jangan marah yaa mas,nanti besok siang Lia hubungi. Semoga kita berdua tetap jadi teman baik yaa mas" Aku berniat mengakhiri pembicaraan kami.
"Aa gak mau jadi teman baik, aa mau jadi suami Lia".katanya disudut sana.
"Jangan dibahas sekarang ya mas. Lia gak mau ribut. Please.!?"
"Aa akan tetap menunggu. I Love you Lia Himawan" Katanya mengakhiri pembicaraan kami.
Jantungku berdegup kencang. Masih merdu saja suaranya saat berkata seperti itu. Aku tersipu-sipu malu. Saking bahagianya, aku tertidur lelap sambil memeluk Handphone. Hangat rasanya hatiku. Memberikan rasa nyaman hingga tubuhku rasanya begitu nyaman. Malam telah tiba, menyisahkan Gelap, udara dingin, aku dan bayanganmu. Walaupun tak bisa memelukmu, aku tahu, kamu juga ingin memelukku, melepaskan gundah dan lelahku.
******************
Tepat Pukul sembilan pagi, meeting dimulai. Aku satu-satunya karyawan baru yang hadir di rapat ini. Membuatku berpikir keras, ada apa ini? Sumpah, keadaan ini membuatku tidak nyaman. Perutku mules, berputar-puter tak bisa berhenti. Jantungku apalagi. Berdetak tak beraturan.
"Selamat pagi semua, meeting ini akan segera kita mulai. Waktu untuk meeting ini hanya satu jam. Kita akan membahas tentang program kerja baru untuk Minggu depan dan sekaligus pengisian jabatan yang sedang vacant" Direktur Oprerasional Area Jawa Tengah, Pak Teguh, sudah membuka meeting.
"Selamat datang, Sdri. Lia Himawan, selamat bergabung di Perusahaan ini. Semoga bisa segera beradaptasi dengan jabatan baru kamu nanti" Deegg. Dadaku rasanya seperti terkena lemparan batu. Ngilu. Jantungku rasanya akan berhenti. Jabatan baru? Bukankah aku masih baru? Belum genap enam bulan.
"Trima kasih Pak Teguh". hanya itu yang bisa aku ucapkan. Selebihnya aku memilih berdiam diri dan menyimak semua penjelasan.
"Bulan depan ada Restrukturisasi yang cukup besar. Ada penambahan Jabatan baru, dan ada mutasi karena kekosongan jabatan di beberapa posisi. Disini saya ingin menyampaikan, kenapa Sdri Lia Himawan saya minta ikut rapat hari ini, padahal dia masih sangat baru disini. Dari CV kamu, dari transkrip nilai dan juga hasil Test tertulis pada saat awal seleksi karyawan dan juga memperhatikan nilai ujian akhir Sdri. Lia,, kami memutuskan untuk memberikan kamu jabatan struktural. Untuk itu,kami memandang perlu agar Sdri Lia ikut serta dalam program sekolah Kepemimpinan Dasar. Sekolahnya selama 3 bulan, di Kantor Pusat Jakarta. Selamat bergabung, semoga kamu cepat menyesuaikan diri dengan kondisi dan kebutuhan Perusahaan. Demikian rapat hari ini, saya tutup" tegas dan tidak boleh dibantah, begitulah leadership-nya pak Heru. Tetapi beliau sangat ramah pada bawahannya.
Aku masih membeku ditempat dudukku. Mati rasa sepertinya. Apa lagi yang akan dikatakan rekan-rekan kerjaku nanti? Kenapa Lia? Kenapa selalu Lia? Pasti ada sesuatu antara Lia dan Pak Direktur kantor pusat. Semua pertanyaan dan nyinyiran ini berputar-putar dalam imajinasiku.
"Hai Lia, selamat yaah. You are the Lucky one." Mbak Dewi, HRD Area Head menjabat tanganku dan menepuk lenganku.
"Kamu harus bangga pada dirimu sendiri. Jarang ada karyawan baru, yang langsung dipercaya untuk naik jabatan dalam kurun waktu singkat." katanya padaku.
"Mbak, Why me?" aku menatap mata mbak Dewi, mencari jawaban.
"Why? Kenapa dengan kamu Lia? Kamu punya Leadership yang baik. Terbukti selama masa Training tiga bulan pertama, kamu sangat menonjol. Pinter, cantik, Comunication Skill kamu baik, Time Management kamu the best, dan satu lagi Inovasi kamu dalam memecahkan satu masalah juga sangat baik. Hal-hal ini kami perhatikan selama masa traning. But wait, ada apa? Kenapa you look not happy!" Mbak Dewi mulai menyelidiki pikiranku.
"Mbak, aku khawatir dengan situasi dan iklim kerjaku nanti mbak. Sekarang saja, rekan-rekanku masih memandangku sebelah mata. Karyawan "Titipan" itu ledekan mereka padaku mbak. And Now? Aku dipromosikan untuk menjadi karyawan pimpinan? Aku masih belum siap dengan Bully dari para senior saya mbak." Keluar sudah semua uneg-uneg yang terpendam. Mbak Dewi termasuk salah satu karyawan Pimpinan, yang ikut menyeleksi karyawan baru. Beliau berada pada bagian akhir Test, Yaitu Wawancara. Aku sudah bertemu dengan beliau saat Test wawancara dulu.
"Lia, jujur mbak Dewi harus sampaikan bahwa Pak Danu, sama sekali tidak melakukan intervensi apapun pada proses seleksi kamu dulu. Semua murni karena potensi yang kamu miliki. Beliau sama sekali tidak ada permintaan agar kamu diperlakukan khusus atau harus diterima, gak. Gak ada istilah karyawan Titipan. Itu sebabnya para Direksi memutuskan bahwa kamu memang layak untuk menduduki jabatan sebagai Junior Manager. Jika ada rekan kerja kamu yang berkata seperti itu, bahwa kamu bisa sukses karena kamu adalah karyawan Titipan, kamu bisa menghubungi saya." Mbak Dewi mengelus pundakku.
"Ini salah satu ujian di dunia nyata yang harus kamu lewati, yaitu Ujian mental. Lebih susah menghadapi rekan sejawat, tapi kamu harus bisa membuktikan bahwa kamu memang pantas berada di dalam jajaran Leader di Wilayah Jawa Tengah. Jangan sampai kami merevisi keputusan kami." Mbak Dewi tersenyum penuh arti padaku. Dari senyum beliau, aku dikuatkan. Kamu bisa Lia. Kamu sanggup. Mungkin seperti itu arti senyum mbak Dewi. Aku memutuskan menegakkan kembali kepalaku. Apa yang akan aku hadapi adalah bagian dari jalan hidupku. Tak seorang pun yang bisa merubah takdir hidupku. Aku akan memastikan bahwa apa yang sudah dipercayakan padaku adalah sudah tetap. Aku tidak akan membiarkan omongan orang lain masuk dalam pikiranku dan mengacaukannya. Tidak akan.
Perlahan ku ayunkan langkah kakiku, melangkah pasti. Jakarta, aku datang, Siap untuk tantangan baru.
*********