Mawas Diri.

1053 Kata
Setelah meeting dengan Jajaran Pimpinan Area Jawa Tengah, ada perasaan risih yang membayangiku saat harus kembali ke kantor. Terbayang dalam benakku, para senior yang bergunjing di meja sebelah, berbisik-bisik dan terbahak seolah aku tak ada, melirik sinis padaku seolah aku adalah seorang terdakwa yang pantas untuk dicerca sampai tak punya harga diri. Perlahan, ku hela nafasku dengan sangat dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan, mencerna dan memahami situasiku saat ini. Aku memeluk tuas kemudi, memejamkan mata sekejap dan membiarkan alam bawa sadar ku menemukan seseorang didalam sana yang bisa aku curahkan penatku. Indra. Selalu padanya aku kembali. "Mas, jika ada waktu, Lia pengen cerita sedikit. Call me back as long as you can" Pesan di BBM-ku sudah terkirim pada Indra. Aku memutuskan untuk mengabari atasanku juga, bahwa aku akan kembali ke kantor setelah jam makan siang. Dan mbak Dhany mengijinkan. Handphone ku berbunyi. Indra sudah hadir diseberang sana, untukku. "Halo mas In, apa kabar?" "Hei sayang, kamu baik-baik saja kan neng?" Panggilan khas Indra membuatku menitikkan air mata. Lelaki ini selalu berhasil membuatku baper parah. "Aku baik mas. Eh, by the way bus way, mas Indra lagi gak sibuk kan? Apakah tidak mengganggu jika sekarang kita ngobrol mas?" "Gak neng. Aa lagi dirumah. Lagi gak sibuk koq. Lia mau cerita apa?" "Mas, aku bingung. Baru beberapa bulan aku bergabung di Perusahaan ini, aku di promosikan untuk Naik jabatan." "Wah, bagus dong neng. Selamat yaah Lia, aa bangga banget dah sama Lia". "Tapi bukan itu masalahnya mas, Lia khawatir Lia gak sanggup menghadapi pergunjingan rekan kerja Lia. Lia kan masih baru, diatas Lia, masih banyak senior yang masa kerjanya sudah lebih dari 3 tahun. Mereka pasti bertanya dan bergosip dibelakang Lia, kenapa aku yang terpilih? Itu sih yang bikin mumet kepalaku mas. Menghadapi pandangan sinis dan kecurigaan mereka mas." celotehku panjang lebar. Indra mendengarkan dalam diam, tanpa memotong sedetikpun. Dia memang pendengar yang baik. Lega rasanya bisa bercerita, mencurahkan gundah gulana yang menyebabkan emosi menjadi tidak stabil dan produksi air mata yang meningkat tajam dalam beberapa jam ini. Ya, aku mulai menangis. Aku takut aku tidak siap. "Lia...." Suara Indra memanggilku. "Nathalia Himawan.." "Ya mas In, aku masih disini" "Menangislah kalau itu membuatmu lega. Jangan ditahan, nanti kamu sakit. Jujur aa ingin banget ada didekat Lia saat ini. Aa ingin memeluk dan membelai Lia, bahkan jika memungkinkan, aa akan mengajak Lia bercinta, untuk menumpahkan kekesalan dan ketakutan kamu neng. Hehehe" Mas Indra mencoba menghiburku dan membuatku tertawa. "Hahahahahaha, Mas Indra bisa saja" aku tertawa lepas. Terasa sedikit lebih ringan beban dipundakku. Seutas senyum tersungging dengan lebar diwajahku. "Sudah bisa ketawa neng?" ledek Indra "Sudah mas In. Mas Indra sih orang lagi curhat serius eeeh dia malah bahas ranjang" Aku tersipu malu, merasakan panas pada wajahku yang sudah memerah seperti udang rebus. "Emang apa kata mereka dan gosip yang beredar yang Lia dengar?" "Belum ada sih mas, aku hanya khawatir!" "What? Jadi yang kamu khawatirkan itu adalah sesuatu yang belum terjadi? Bagaimana bisa kamu seperti itu Li? Kemana Lia yang aa kenal selalu bertindak pakai logika dan akal sehat?" Kata-kata Indra seperti menusuk tajam masuk kedalam hatiku. Iya juga yah? Kenapa aku khawatir terhadap sesuatu yang belum terjadi? "Aku hanya khawatir mas. Berharap aku tidak jumawa dan tidak mawas diri" "Li, dengerin aa. Jika kamu terlalu khawatir dengan sesuatu yang belum pasti terjadi, kamu tidak akan bisa maju lebih jauh lagi. Kemana Wanita mandiri dan keras kepala yang aa kenal selama ini? Yang tidak pernah ragu mengambil sikap dan tidak pernah mundur jika sudah memutuskan sesuatu? Come On. Kembalikan Liaku yang dulu lagi." Aku masih terdiam membisu, mendengarkan Indra yang sedang menggurui aku, ketika terdengar suara lembut dari ujung sambungan telepon Indra, "Aa jangan lama-lama, aku sudah gak tahan dari tadi nungguin aa...." suara halus seorang wanita yang tidak selesai berucap. Suara sang wanita tiba-tiba hilang karena aku mendengar isyarat untuk menyuruh sang pemilik suara agar berdiam. "Sssttttt, sana dulu....." Aku tertegun. Terdiam seribu bahasa. Seketika hatiku seperti direnggut paksa, diremas dan kemudian dihancurkan berkeping-keping. Sakitnya terasa dalam rongga d**a, menyebabkan seluruh badanku berontak, menolak setiap perhatian, kasih sayang dan cinta Indra yang selalu ada untukku. Tanpa berpikir panjang, sambungan telepon aku putuskan. Aku merebahkan tubuhku pada sandaran jok mobil, memilih menutup rapat mataku, menarik nafas perlahan dan dalam kemudian menghembuskannya perlahan-lahan, mencoba menghilangkan memori terakhir yang baru saja terjadi diantara aku dan Indra. Dalam diamku, terdengar lantunan lagu milik Chrisye di Audio mobilku. Sebenarnya ini bukan mobilku tetapi ini adalah mobil milik kakakku yang dipinjamkan padaku hingga aku cukup mapan untuk membeli mobilku sendiri. Volume audio aku tambah hingga cukup kencang untuk menutup pendengaranku terhadap suara lain. Adakah Kau mengerti kasih.. Rindu hati ini Tanpa kau disisi Mungkinkah kau percaya kasih Bahwa diri ini Ingin memiliki lagi Kusadari kembali Ternyata semua khayal diri kini ku tau tak mungkin ada waktu untuk mencintaimu lagi. Lantunan lagu "Lirih" dengan suara lembut Chrisye, melukai jiwaku, merusak suasana hatiku yang sempat melandai. Lara terasa sangat nyata. Saat ini ingin rasanya aku berlari secepat mungkin,melesat terbang jauh dan terjun bebas di Segitiga Bermuda dan menghilang disana. Aku menangis. Setelah puas menangis, melepaskan sebagian beban yang menghimpit, aku memilih makan siang di salah satu Cafe yang berada tidak jauh dari kantor kami. Aku membersihkan wajahku di Toilet Cafe, memberikan sedikit sentuhan make up ringan di wajahku agar terlihat lebih segar. Aku sudah selesai memesan makanan dan minuman. Sembari menunggu, aku akan memeriksa email kerjaan di Handphone ku, saat tatapanku berhenti pada pesan masuk Indra. "Neng, maafkan aa yaah. Aa akan menyusul Lia ke Semarang dalam waktu dekat. Jangan berpikir yang tidak-tidak, aa masih milik Lia. I Love you calon istriku" Ciih, memuakkan. Jika kamu sayang padaku, kamu tidak akan menyakitiku. Jika kamu mencintaiku, kamu tidak akan mengkhianatiku. Indra kembali menorehkan luka yang cukup dalam di hatiku. Penghianatan Indra tidak akan pernah berakhir. Dan aku tau, semua hal tentang Indra selalu bisa menjadi motivasi terkuat dalam diriku, untuk kembali bangkit, melangkah maju dan menjemput impianku. Aku sendiri yang akan menciptakan tujuan hidupku. Bukan Indra, bukan rekan sejawat ku di kantor, bukan siapapun. Hanya aku. Aku akan segera mempersiapkan diriku untuk mengikuti Diklat Dasar untuk Leader junior di Jakarta. Aku hanya perlu Mawas Diri, agar tidak salah melangkah lagi. Terkadang, kita tidak perlu menahan dan memaksakan sesuatu yang berada diluar kendali kita. Kita hanya perlu mengerjakan hal-hal yang bisa kita kendalikan dan kita kerjakan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN