Warisan Ilmu Keturunan

1162 Kata
"Huda, tolong bantu persiapkan berkas dan kebutuhan aku ya, semua yang ada di lemari ku, kamu masukin ke tas, kecuali kitab-kitab bekas pelajaran di pesantren.." ucap Randi "Baiklah Kak, sudah sana istirahat, jangan sampai kamu telat besok pagi," ucap Huda. "Lakukan saja perintahku, Huda..! Ada yang harus aku kerjakan malam ini, kamu tidurlah duluan.." ucap Randi Randi segera keluar rumah untuk pergi ke sungai, ia melakukan meditasi di sana sebentar lalu berlatih mengendalikan tenaga dalam nya yang entah sejak kapan telah sedikit terbuka. Randi harus mengendalikan langkah kaki nya agar terlihat normal saat berjalan. Setelah cukup lama berlatih, Randi mulai merasakan cape dan lelah yang sangat dalam hingga ke tulang, ia kembali bermeditasi untuk istirahat dan mengasah kepekaan panca indra. Setelah di rasa cukup, ia kembali berlatih namun kali ini berlatih mengendalikan kecepatan saat sedang berlari dengan meringankan tubuh. Malam semakin larut, karena terlalu lelah, akhirnya Randi tertidur di pinggiran sungai. "Bangunlah Cucu ku ... Bukalah Matamu dan Bangunlah..!" "Siapa ... ? Siapa yang mengganggu tidur ku ini..?" batin Randi "Aku Kakek Buyut mu Randi...Kamu adalah generasi ke 8 pewaris Ilmu Keturunan yang sudah pasti akan kamu dapatkan," ucap Pria Lansia dengan jubah putih. "Siapa kamu..!" bentak Randi "Sudah ku bilang dari tadi, aku kakek buyutmu, nama ku Sujatna..! Kamu bisa menyebutku Abah..!" "Sujatna...?" batin Randi "Ya betul, Randi," ucap Abah "Anda bisa mendengar isi hati saya,?" batin Randi "Ya, Aku bisa mendengar isi hati mu, sekarang kau percaya kalau aku ini buyut mu,?" "Apa yang kau inginkan dari ku,?" "Aku hanya ingin kau melanjutkan misi generasi sebelum mu, misi menebarkan kebaikan ke semua makhluk, menghapus angkara murka, dan yang paling penting adalah merebut kembali Tombak Pusaka Kejayaan yang sekarang masih berada di tangan penganut aliran sesat, " "Aku hanya manusia biasa, mana bisa aku melakukan misi berat itu...!" "Seiring berjalan nya waktu, kau akan menjadi diri mu yang sesungguhnya," "Kenapa harus aku,? kemana generasi sebelum nya ,?" "Mereka semua gagal menjalankan misi terakhir itu karena kekuatan bala tentara musuh sangat luar biasa terutama karena musuh memegang pusaka itu, pusaka milik keluarga kita..!" "Jika aku gagal menjalankan misi itu, apa yang akan terjadi pada ku..?" "Kau akan berhasil cucu ku, suatu saat nanti akan ada seorang remaja yang membantu mu, ia akan selalu berada di dekat mu dan mengabdi pada mu se umur hidup nya," "Dimana kah Remaja itu sekarang,?" "Remaja itu masih berada di dalam rahim seorang wanita biasa, kehidupan nya akan di lalui dengan sangat berat, saat kau menikah nanti, ia akan datang kehadapan mu," "Bagaimana bisa... Ha ha ha... Aku saja ga tau kapan mau nikah, lelucon yang lucu...!" "Kamu boleh percaya atau tidak, tepat malam ini bocah itu akan lahir di sambut oleh petir menggelegar tanpa ada hujan, jika kamu mendengar petir itu, pertanda bocah itu sangat dekat dari sini namun kamu tidak akan bisa menemukan nya," "Sudahlah, saya mau pulang, ngantuk, besok harus kerja...!" "Ilmu meringankan tubuh yang kau miliki itu terbuka karena kesucian dalam diri mu, semakin hati mu bersih, kekuatan lain dalam diri mu akan muncul dengan sendiri nya," "Sudahlah, saya pergi duluan, abah..! Selamat malam..!" ucap Randi, ia merasa kesal karena tidur nya di ganggu, padahal besok harus bertemu pak Hendra. Randi segera pergi ke rumah nya dan tidur di samping Huda. Dini hari, Randi merasa sangat kedinginan padahal kamar y tak ada pentilasi udara berlebihan, Huda malah tidur nyaman saja tanpa kedinginan malah ia terlihat gerah. Saat Randi akan mengambil selimut, tangan nya malah menembus objek, ia penasaran lalu menyentuh kepala Huda, dan hasil nya sama saja, ia tak bisa menyentuh apapun. Randi berteriak di dekat Huda namun tak ada respon sama sekali dari nya, 'apa aku sudah mati..? lalu yang tadi datang itu benar-benar buyutku untuk menjemput ku ke akhirat,?' batin Randi. "Tidaaaakkk..Aku belum siap untuk meninggal sekarang..! Tolooong...! Siapapun tolong Akuuuu..! Bangun Hudaaaaa...!" teriak Randi, ia sangat prustasi. Tak ada yang bisa di lakukan Randi, sampai tibalah Adzan subuh. Badan Randi semakin menggigil, ia hanya bisa pasrah dengan kejadian ini, bahkan orang tua nya pun tak melihat nya. Abah kembali menghampiri Randi, dan meminta Randi untuk ikhlas dan sabar dengan apapun yang menimpa diri nya. "Jika hati mu sudah plong, bacalah Alhamdulillah," ucap Abah "Alhamdulillahirobbil 'alamiin.." ucap Randi "Splasshhhhhhhh...!" sukma Randi kembali ke jasad nya yang sedang tertidur di pinggir sungai. Randi segera bangun dari tidurnya, dan betapa kaget saat melihat sekitar nya, ternyata ia semalaman tidur di pinggir sungai. "Jadi aku benar-benar ketiduran di sini, dan tadi itu adalah mimpi,?" gumam Randi, ia sangat kedinginan dan akhir nya ia masuk ke rumah nya diam-diam, ia pura-pura baru keluar dari kamar dan menyapa orang tua nya di dapur lalu melaksanakan Sholat setelah berpesan pada orang tua nya jangan membangunkan nya sebelum jam 06.30. "Huda ... Selimut ini...? Kenapa mimpi ku terlihat sangat nyata bahkan memang nyata," gumam Randi "Ada apaan sih kakk ... masih pagi gini udah ngedumel aja," ucap Huda yang baru saja bangun tidur. "Aku sudah Sholat subuh, dah sana kamu sholat, nanti bangunin aku jam setengah tujuh..!" ucap Randi "Haaa setengah tujuh? Bukan nya kamu di suruh tepat waktu pukul tujuh..? Sedekat itu kah perusahaan nya nanti kak,? perasaan ke pasar saja makan waktu 2 jam kalau naik angkot..Apa kak Randi lupa..?" "Sudah, jangan bikin aku emosi, sekarang giliran ku untuk tidur," ucap Randi sambil perlahan memegang selimut dan mengambil nya, ia khwatir kalau saat ini juga masih dalam mimpi, padahal semalam itu kenyataan, hanya sukma nya saja yang beraktifitas sedangkan jasad y istirahat. Setelah sarapan, Randi pamit dan segera bergegas pergi ke perusahaan yang di maksud dalam surat, lokasi nya ada di pusat kota, sangat jauh untuk pergi ke sana bahkan harus naik bus. "Settttttthh..! Takk Takk Takkk...! Wooshhhhh..!" Randi melesat dari depan rumah dan seakan hilang di ujung langit "Ajib, gilaaaa..! Kak Randiiiii...!" teriak Huda, ia tak pernah menduga bisa melihat hal kek gini apa lagi itu orang dekat nya. "Ada apa Huda,,? Kenapa teriak-teriak,?" tanya Ratno "A-anu Pak.. Ga ada apa-apa, tadi kak Randi nyubit aku lalu pergi," jawab Huda gugup. "Haduh...Sudahlah, kamu istirahat lagi sana, kita belum ada pekerjaan kan, kamu santai-santai saja di rumah kami, tak perlu sungkan meskipun tak ada Randi, tetap lah jadi anak kami," ucap Ratno. Randi sudah sampai di alamat perusahaan yang di tuju tepat waktu, tentu nya ia harus melihat peta di ponsel nya agar sesuai dengan alamat tujuan. Perjalanan yang seharus nya di tempuh seharian, untuk Randi hanya membutuhkan waktu setengah jam kurang, karena ia telah benar-benar menguasai ilmu meringankan tubuh tingkat tinggi. "Assalamu'alaikum Pak," sapa Randi pada security penjaga pintu masuk perusahaan "Wa'alaikumsalam... Ada keperluan apa ya mas,?" "Saya di suruh mengantarkan surat ini ke bagian administrasi," ucap Randi sambil memberikan surat di dalam map berlogo perusahaan itu. "Baiklah, silahkan masuk," ucap Security itu sambil mempersilahkan Randi untuk duduk dan menunggu. "Mas Randi...Tolong berikan berkas Data diri anda," ucap Heni admin perusahaan itu. "Saya cuma membawa Ktp dan sertifikat pesantren," ucap Randi "Sertifikat pesantren,? Baiklah tolong berikan itu semua pada ku untuk di proses." ucap Heni
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN