Randi benar-benar terkejut melihat perubahan kontruksi rumahnya, lantai 2 yang di bangun di atap kamar nya kini telah meluas hingga seluruh rumahnya, bahkan telah ada bangunan baru, sebuah kamar dan ruangan yang sangat luas. Randi dan Huda tidur di kamar baru lantai dua itu karena kamar utama mereka di tempati Novi.
"Huda ... Sebenarnya kau tak perlu seperti ini, biarlah renovasi rumah ini menjadi tanggung jawabku," ucap Randi sambil menyesap kopinya
"Ini juga kan pakai uang kak Randi yang tiap bulan kasih, jika ada lebih, bapa sama ibu minta aku untuk membelikan beberapa bahan material, sedikit demi sedikit akhirnya terkumpul, dan jadilah seperti ini, kakak tidak suka ya sama design nya?"
"Kamu ini, makasih banyak ya, Huda.. Design yang kamu buat ini sangat bagus, bisa di bilang, di desa ini rumah kita lah yang paling bagus design arsitekturnya, kamu benar-benar berbakat, bisa saja kamu nanti saya tarik ke perusahaan untuk jadi arsitek,"
"Aduuuh kak, saya lebih senang disini, bisa menjaga kedua orang tua, saya ga mau ninggalin mereka, saya ga mau kehilangan orang tua untuk yang kedua kali nya, meskipun fakta yang sekarang, saya hanya sebagai anak angkat tapi saya sangat bahagia bersama mereka,"
"Woyy... Malah pada asik disini, ayolah kita jalan-jalan kak, Novi kan sudah jauh-jauh kesini untuk refreshing...!" sahut Novi yang tiba-tiba memotong obrolan dua orang kakak beradik itu.
"Huda, kamu mau kan temani Novi jalan-jalan sekitaran sungai sini,? Sekalian ke air terjun nya biar dia puas," ucap Randi
"Aduh kak, saya malu lah, ga berani, takut saya suka sama Novi nanti nya... Kakak saja sana," jawab Huda
"What the hell..! Biasa aja kali kak, lagian kamu bukan tipe ku," ejek Novi
"Tuh kan kamu dengar sendiri, Huda? Ayolah, kakak pengen istirahat," bujuk Randi.
"Ta ... Tatatatapi kan ... "
"Sudahlah aku sendiri saja, aku tau kok arah sungai nya, dahh, aku mau mencari insfirasi di sana," potong Novi, ia segera meninggalkan Randi dan Huda.
"Aihhh kaakkk, gimana ini,?" tanya Huda
"Sudahlah, kamu susul saja dia, jaga dia jangan sampai terluka, dia Direktur utama perusahaan," ucap Randi
"Apa..? Direktur utama,? Gak mau lah kak, kakak aja sana," ucap Huda
"Gak apa-apa Huda, dia orang baik kok, asli nya manja meskipun terlihat wanita yang tegar dan hebat," ucap Randi
"Baiklah kak, kalau memang ini titah, saya akan menemani dia dan menjaga nya," ucap Huda
Huda segera berlari menyusul Novi yang sudah hampir sampai di sisi sungai, awal nya Novi diam saja dan cuek, ia masih kesal soal tadi, namun Huda berhasil membuat Novi ceria kembali. Mereka berjalan menyusuri sungai yang dangkal namun jernih, setapak demi setapak mereka melangkah di atas bebatuan sungai, seringkali Novi hampir terpeleset namun Huda dengan sigap menolongnya. Sampai lah mereka di sebuah air terjun, sebuah air terjun yang cukup tinggi debit air nya sehingga membuat cekungan cukup dalam di bawahnya dan membentuk kolam sungai. Novi yang tak pernah liburan ke pedesaan, ia di buat takjub dengan suasana alam di pedesaan, udara sejuk serta hijau nya pemandangan serta air sungai yang jernih di tambah pemandangan air terjun, membuat ia sangat bahagia, semua beban fikirannya serasa sirna begitu saja.
"Wahhh, bagus sekali kak Huda, aku pengen berenang, boleh,?" tanya Novi
"Silahkan saja Bu Novi, tak ada yang melarang Ibu untuk berenang di bawah air terjun itu," jawab Huda dengan sopan, ia takut melukai hati seorang Direktur dan membuat masalah besar.
"Ibu, kamu bilang,? Randi yang mengajarkan mu untuk bilang seperti itu padaku,?!" geram Novi
"Ti ... Tidak, emmm maafkan aku Nona,"
"Gua itu adik nya kak Randi, otomatis adik kamu juga..! panggil gua selayaknya seorang adik,!" geram Novi semakin kesal.
"Ba-Baik dek Novi ... "
"Byurrrrrr...!"
Novi sudah terjun ke dasar sungai saat Huda masih berbicara. 'Astaga..Dasar cewek,' gumam Huda.
Huda hanya duduk di atas bebatuan sembari mengawasi Novi yang sedang berenang, ia takut terjadi apa-apa dengan Novi.
"Hufftttt...Hufffttt..."
"Segar banget air nya kak, sini deh ikut berenang..!" teriak Novi sambil melirik ke atas bebatuan tempat Huda duduk. Menyelam dan kembali ke permukaan, rambut panjang nya terurai dan wajah cantik nya yang terkena pantulan sinar matahari, membuat diri nya terlihat layaknya Bidadari. Huda yang melihatnya hanya diam tak bergeming, ia hanya bisa menelan ludah.
"Astaga cantiknya ... " batin Huda, lagi-lagi ia menelan ludah.
Novi tak peduli, meskipun Huda tetap diam dan tak mau menemaninya berenang, ia sangat senang bisa menikmati sejuknya air sungai dan menikmati derasnya air terjun.