Pulang Kampung

1305 Kata
Selalu ada saat di butuhkan, begitulah Randi. Namun diri nya tak pernah menyadari itu, karena semua apa yang di usahakan nya itu ikhlas dan demi memajukan perusahaan. Randi memasuki ruang Dirut, ia melihat wajah Novi terlihat kusut. "Duduklah Kak," ucap Novi "Ada masalah apa hingga wajahmu seperti orang susah,?" tanya Randi "Aku ga ingin bercanda ya Kak..! Nih lihat!" ucap Novi dengan kesal, ia menyerahkan map berisi konsep gathering tahunan. "Gathering,? Hanya soal gathering sampe bikin kamu terlihat kek orang susah, Noviii Novi," ucap Randi sambil tersenyum mengejek ke arah Novi. "Ah Kakak..! Sudahlah jangan mengejek terus, aku benar-benar gugup, persiapan apa saja yang harus aku lakukan untuk memberikan sambutan nanti, model pakaian seperti apa yang cocok di pakai di acara nanti, ahh pokok nya pusing." Gerutu Novi. "Sudahlah, besok kan weekend, mendingan kita refreshing ke pedesaan, ahaaaa..! Bagaimana kalau kamu ikut aku pulang kampung,? Di sana suasana nya sangat nyaman, kakak jamin kamu akan betah di sana, Rio saja sampai tak mau pulang ke pesantren lagi kalau tak aku bujuk," ucap Randi "Wahhh...Serius kakak mau ajak aku pulang kampung, Rio juga pernah ke sana,?" tanya Novi dengan mata berbinar, sisi keceriaannya mulai kembali "Serius lah, maka nya sekarang kamu istirahat ya, besok biar aku saja yang nyetir, tak usah pak Diman, kasihan dia kalau ikut, kan hari senin nya harus antar jemput kamu bekerja," "Oke deh, aku pulang dulu ya kak, pak Diman sudah menunggu dari tadi," ucap Novi sambil mengerlingkan matanya lalu pergi. "Aihhhh, gemas sekali Novi, andai saja aku mendapat restu dari Rio dan Yai, sudah ku nikahi dia, tapi saat ini menjaga mereka adalah prioritas utamaku, aku harus benar-benar menjadi kakak yang baik, jika ada laki-laki lain di hati Novi nantinya, aku sebagai kakak, akan senang hati menjadi wali nikahnya, asal laki-laki itu orang yang baik," gumam Randi, ia kembali menegaskan jati dirinya. Malam itu Novi tidur dengan nyenyak, padahal saat masih di kantor, fikiran nya sudah kalut dan berasa tak akan bisa tidur malam, tapi berkat Rio, akhirnya Novi bisa tidur dengan nyenyak. Randi berbincang-bincang dengan pak Bayu, suami nya bi Ijah, sepasang suami istri yang di pindah kerja dari rumah Novi ke Kantor. "Pak, Weekend ini tolong jaga kantor ya, saya dan Novi akan pulang kampung. Hari Senin nya kita baru balik lagi," ucap Randi "Wahh, nak Randi akan pulang kampung,? Jangan lupa bawain oleh-olehnya untuk bibi, ya." Celetuk bi Ijah yang tiba-tiba ikut bergabung. "He he he, tenang saja bi Ijah, nanti saya akan bawa banyak oleh-oleh untuk bi Ijah," ucap Randi "Sudahlah, ibu ini seneng sekali ikut campur urusan laki-laki, ayo masuk...! Nak Randi, tolong maafkan istri saya ya, dia memang begitu suka ceplas ceplos kalau bicara, nak Randi fokus refreshing saja, ga perlu bawa oleh-oleh," ucap Bayu "Gak apa-apa pak Bayu, bi Ijah, santai saja, ya sudah kalau begitu saya pamit mau istirahat ya," ucap Randi lalu pergi ke kamar nya. "Baik nak Randi, selamat istirahat," ucap bi Ijah. Adzan subuh telah berkumandang, Randi segera mandi dan bergegas ke Masjid bersama pak Bayu. Sementara Novi sedang mempersiapkan apa saja yang harus di bawa untuk liburannya. Setelah beres, Novi meminta izin pada bi Ani dan pak Diman, lalu ia bergegas menuju Kantor mengendarai mobil pribadi nya sendiri untuk menjemput Randi. "Tiiiinnnn Tinnnn..." "Iya Non, tunggu sebentar," sahut bi Ijah yang sedang menyapu halaman, ia lalu bergegas membuka pintu gerbang, bi Ijah sudah sangat hafal suara mobil milik Novi, makanya ia langsung menyahut. "Nak Randi nya lagi ke atas sebentar Non, mau ngambil tas, katanya," ujar bi Ijah "Haduh..Kaya cewek aja lama sekali persiapan nya," celetuk Novi. "Ayo sarapan dulu Non, bi Ijah sudah masak banyak, nak Randi yang meminta untuk di buatkan sarapan," "Makasih banyak ya bi Ijah, Novi memang belum sempat sarapan karena tadi buru-buru, takut keburu siang,". Setelah sarapan, Randi dan Novi segera memulai perjalanan, karena di perkirakan akan memakan waktu sekitar 4 jam kalau naik kendaraan pribadi, lebih cepat dibanding naik kendaraan umum. Di perjalanan, Novi tertidur, tahu-tahu sudah sampai saja. "Kok parkir nya di Masjid sih kak,? Memang rumah kakak tak ada tempat parkir nya,?" tanya Novi "Tempat parkir depan rumah sih luas, tapi akses menuju rumah gak bisa dengan mobil," jawab Randi "Apa..! Lalu kita akan jalan kaki, begitu? Apa masih jauh,?" "Ya lumayan lah, sekitar setengah jam, " "Gila...Ini sih bener-bener Adventure, ya udah ayo," ucap Novi, mereka lalu membawa barangnya masing-masing, Novi membawa koper, sedangkan Randi cuma membawa Ransel. "Mau pindahan kamu,?" tanya Randi "Ini namanya liburan..! Lagian barang cewek itu lebih banyak tau..!" ucap Novi kesal "Ya udah ayo, tapi jangan lelet ya, kalau ketinggalan, cari sendiri rumah nya dimana," ucap Randi "Ngeselin..!" ucap Novi. Baru 100 Meter berjalan kaki, Novi sudah tertinggal jauh dari Randi. Randi kembali kebelakang untuk menyusul Novi yang ternyata sedang duduk di bawah pohon pinggiran jalan setapak. "Malah santai, kalau tertinggal jauh bagaimana, kalau kamu nyasar gimana..! Disini banyak binatang buas loh," ucap Randi "Aku capek kak, istirahat sebentar ya, koper aku berat, lagian jalannya menanjak terus dari tadi," keluh Novi "Ya sudah, koper nya aku yang bawa, sini iket di punggungku," ucap Randi sembari melepaskan ransel nya dan memberikannya pada Novi. "Makasih ya kak, gini dong dari tadi," ucap Novi tersenyum puas. Mereka melanjutkan kembali perjalanannya, namun melihat Novi yang terlihat pucat karena kelelahan berjalan kaki, akhir nya Randi pergi duluan secepat kilat, taruh koper di depan rumahnya yang sedang sepi lalu melesat lagi menemui Novi. "Kemana aja sih kak, aku tadi istirahat sebentar eh malah ngantuk," keluh Novi "Habis k rumah, naro koper kamu," ucap Randi simpel saja. "Apa..? Rumah nya su ... " Ucapan Novi tertahan karena Randi langsung menggendong nya dan melesat dengan kecepatan rendah. Randi melompati puncak pohon satu persatu dengan ilmu meringankan tubuhnya. "Wahhh...! Bagus banget pemandangan dari atas sini...Sepertinya aku sedang mimpi terbang," gumam Novi, ia terkejut saat melihat sekitar nya yang terang tak ada pohon sama sekali, ternyata semua pohon ada di bawahnya alias ia terbang. "Kamu gak mimpi, sebentar lagi kita sampai, tuh sudah kelihatan rumah saya," ucap Randi, sambil mengarahkan pandangan Novi untuk melihat ke depan. "Kenapa gak dari tadi kaya gini, kak, bikin aku lelah saja," lirih Novi, suara nya sangat lirih, ia tertidur lagi di gendongan Randi. "Astagfirulloh, kecapean sekali rupanya, biarlah, nanti suruh Huda untuk membereskan kamar agar Novi tidur di kamar nya," Randi sudah sampai di depan rumah nya, namun ia terkejut karena bentuk rumah nya sudah berubah, bahkan terlihat sangat mewah, cuma bentuk muka rumahnya saja yang masih tetap sama. "Kak Randi,? Ayo kak, masuk, ibu dan bapak juga ada di dalam." Sambut Huda "Baiklah, tapi tolong persiapkan dulu kamar untuk dia tidur," ucap Randi "Kamar nya sudah siap kak, sejak kakak mengabari akan pulang bersama Novi, saya langsung membereskan kamar untuknya, ayo masuk," ucap Huda Setelah Randi menempatkan Novi di atas kasur kamar miliknya, Randi segera keluar kamar dan menutup pintu. "Novi kecapean Bu, Pak.. Tadi jalan kaki kesini nya, karena mobil yang kami bawa tak bisa masuk sini," ucap Randi menjelaskan situasi nya. "Ya sudah, sekarang kamu makan lebih dulu, nanti ibu bawakan makanan untuk Novi kalau ia sudah bangun," ucap Ratih "Tiap pulang ke rumah selalu saja bawa adik baru, apa lagi sekarang,? wanita cantik yang jadi adik baru kamu, Randiiii Randi..." Ejek Ratno. "Kapan kamu akan membawa calon istri ke rumah," timpal Ratih "Ha ha ha, kak Randi baru datang sudah di buly saja, kasihan dia Pak, Bu" ucap Huda Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Novi bangun, ia keluar dari kamar dan mata nya menatap kaget melihat banyak orang tak dia kenal, hanya kenal Randi doang. "Eh ... Novi sudah bangun ... Sini duduk Nak, " ucap Ratih "Iya Bu," ucap Novi, ia segera mendekati Randi yang sedang duduk di samping Huda. "Toilet nya dimana kak,?" bisikNovi pada Randi "Ya ampun, aku hampir lupa kalau kesini sama kamu, ya sudah ayo aku antar," ucap Randi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN