"Ya, kau benar, karena kau sangat beruntung bisa menemuiku, kita lihat saja, anak buahku sedang meletakkan jimat di sekitar rumah dan kantor Hendra, jimat itu akan menjadi pusat energi untuk menembus pelindung gaib di sana, saat pelindung itu hancur, jimat itupun akan hancur, jadi tak akan ada jejak untuk di telusuri oleh pemasang pelindung gaib itu," ucap ki Awang
"Ha ha ha...! Terima kasih Ki...Setelah semua nya beres, saya akan mengirimkan sisa pembayaran serta bonus nya.." ucap Anton
"Kau tenang saja, sebentar lagi kau akan melihat nya dari cermin itu setelah Aku meraga sukma, sekarang tunggu saja kabar dari anak buahku," ucap ki Awang
"Tuuuuutttt tuutttttt.."
"Ya Hallo, gimana persiapan kalian, sudah beres ?"
"Beres Ki, semua aman terkendali, Hendra sedang berada di rumah nya, sedangkan di kantor, hanya ada 1 buah mobil," ucap anak buah ki Awang.
"Bagus.. Sekarang kalian pulang, tinggalkan tempat itu..!"
"Klik..!"
"Kau dengar sendiri kan, Anton..? Sekarang aku bisa memulai nya, tapi ini akan memakan banyak waktu dan nyawa taruhan nya, karena aku harus langsung ke sana dengan meraga sukma, pelindung itu tak bisa di hancurkan jarak jauh, tapi jika satu pelindung telah hancur, maka pelindung sejenis yang lain nya di manapun itu akan ikut hancur" ucap ki Awang.
"Baiklah Ki, saya percaya pada ki Awang.." ucap Anton
-----
Anton adalah pebisnis Real Estate yang mengalami kemunduran teratur, bisnis yang di jalani nya menguasai satu provinsi , namun saat perusahaan Hendra memulai bisnis nya, perusahaan nya menjadi turun karena selalu kalah dalam persaingan bisnis. Maka dari itu, ia selalu mencari cara untuk menjatuhkan perusahaan Hendra namun selalu gagal, hingga ia memfokuskan untuk menghancurkan keluarga Hendra dengan serangan nyata maupun serangan gaib hingga istri Hendra menjadi korban akibat serangan gaib yang di lakukan dukun bayaran nya. Benar saja, setelah kematian istri Hendra, perusahaan Hendra mulai guncang karena Hendra tak bisa fokus dengan bisnis nya, namun ia tak menyangka Hendra bisa bangkit kembali bahkan lebih maju dari sebelumnya. Anton kembali meminta dukun bayaran nya untuk langsung memusnahkan Hendra namun justru dukun bayaran nya itu yang malah tewas ketika sedang mengirimkan santet ke rumah Hendra, ia gagal membunuh Hendra secara gaib, maka ia mencoba membunuh Hendra secara fisik, ia dan anak buah nya sempat menculik Hendra dan akan mengeksekusi nya namun sial selalu saja datang, ada pemuda sakti yang tiba-tiba datang menolong Hendra entah dari kalangan mana ia, yang jelas pakaian nya sangat kucel dan kampungan sekali. Tak sampai di situ, Anton selalu mencari cara agar bisa menghancurkan Hendra hingga ia bertemu ki Awang, Anton menjelaskan segala macam cara yang pernah ia lakukan untuk membunuh Hendra dan selalu gagal.
"Ha ha ha.. Pemuda berkanuragan tinggi berpakaian kucel yang kamu maksud itu pasti berasal dari pesisir pantai utara, hanya ada satu orang di Provinsi ini yang memiliki kanuragan tinggi dan ciri-ciri nya sama seperti yang kamu ceritakan itu, dan orang itu sudah saya musnahkan beberapa tahun yang lalu saat ia akan memiliki seorang anak," ucap ki Awang sambil tertawa keras.
"Serius Ki,? Kalau begitu secara tidak langsung, dulu kau telah membantu urusanku, terima kasih Ki.." ucap Anton
"Mungkin saja, tapi saat itu saya hanya tidak mau ada kalangan putih yang sangat unggul dalam kanuragan, dan sekarang, cucu saya lah yang menguasai para pendekar di provinsi ini, ilmu kanuragan nya tak terkalahkan," ucap ki Awang.
Setelah pertemuan dengan ki Awang, Anton merasa ki Awang lah orang yang tepat untuk menuntaskan dendam nya selama ini.
-----
Ki Awang langsung melakukan meditasi dan cermin mulai menampakkan area rumah Hendra, beberapa detik kemudian muncul ki Awang di depan rumah Hendra, ia mulai merafalkan mantra dan mengeluarkan cambuk.
"Duarrrr...! Blarrrrrrrr..!"
Ki Awang berhasil menghancurkan pelindung gaib itu dan langsung mengirim santet pada pemilik rumah, Hendra yang sedang tidur lelap, tiba-tiba berguling kesana-kemari tak beraturan, ia mencekik leher nya sendiri hingga tewas. Setelah korban tewas, ki Awang segera meninggalkan rumah itu, namun ia di hadang oleh seorang Kiai , pertempuran antar sukma pun tak bisa di elakkan, ki Awang terpojokkan, tiba-tiba datanglah Anak ki Awang, pemuda berperawakan atletis dan ikut bertarung melawan Kiai itu, setelah pertarungan fisik itu ki Awang dan Kiai itu beradu ilmu tenaga dalam, saat itulah Anak ki Awang mengeluarkan sebuah Pusaka dan melepaskan energi luar biasa ke arah Kiai dan berhasil membuat Kiai itu tak bisa berkutik lagi, namun saat ki Awang akan mengakhiri Kiai itu, tiba-tiba gerakan ki Awang terlihat berubah dan menjauhi Kiai
"Tralappppp, Derrrrrrrrrr..!"
Sebuah petir menyambar Anak ki Awang dan membuat nya terluka sangat parah, hingga sukma nya itu menghilang, tinggal lah ki Awang seorang yang bertarung dengan Pemuda yang menyelamatkan Kiai.
Sukma ki Awang kembali ke Raga nya dan memuntahkan darah segar, layar di cermin pun menghilang.
"Ki Awang..! Aki tidak apa-apa,?" tanya Anton yang sudah mempersiapkan segelas air untuk ki Awang minum.
"Terima kasih minum nya, saya tidak apa-apa, urusan saya denganmu sudah selesai, kau lihat sendiri Hendra benar-benar sudah tewas, kan?" tanya ki Awang
"Iya Ki, terima kasih banyak, anak buah saya sebentar lagi akan datang ke sini untuk menyerahkan sisa pembayaran dan hadiah untuk ki Awang, tapi orang-orang itu siapa, Ki?"
"Kiai itu lah yang memasang pelindung gaib untuk Hendra, maka nya dia datang saat mengetahui perlindungan nya hancur, saat ini Cucuku sedang sekarat, aku harus segera ke rumah nya untuk mengobati nya, kalau mau menyerahkan sisa pembayaran dan hadiah, kirimkan ke rumah Cucuku, ini alamat nya," ucap ki Awang sambil menyerahkan kartu nama cucunya.
"Reindra.. Nama yang bagus, baiklah Ki, mari saya antar ke rumah cucu aki, anak buah saya sudah menuju rumah itu," ucap Anton setelah memfoto kartu nama itu dan mengirimkan nya ke anak buah nya.
Anton dan ki Awang pergi ke rumah Reindra, di sana sudah ada anak buah Anton yang sedang menunggu kedatangannya. Di sisi lain, saat ini Randi dan keluarga tengah melakukan pemakaman Hendra.
"Kalian berjaga di luar, jangan sampai ada kebisingan...!" ucap Anton pada anak buah nya.
Ki Awang segera masuk ke dalam rumah, dan Reindra masih dalam posisi telentang di kamar, kondisi nya sangat parah.
"Anton..! Sini masuk, bantu angkat tubuh Reindra..!" Perintah ki Awang
Reindra di bawa ke ruang tengah, yang sirkulasi udara nya cukup banyak, di sana ki Awang mulai mengumpulkan beberapa ramuan, dan meminta Anton untuk membuatkan nya. Sambil menunggu Anton, ki Awang mulai menyalurkan hawa murni nya ke seluruh tubuh Reindra hingga ia tersadar.
"Bangunlah Nak, Duduklah.. Kakek akan menyembuhkan luka dalam mu,"
"Baiklah Kek.."
Sementara itu Anton telah selesai meracik ramuan nya dan membawa nya kehadapan ki Awang.
"Ini Ki, jamu nya,"
"Minumkan pada nya...!"
"Baiklah Ki.."
"Ukhuuukkk...Ukhuukkk..!"
Reindra memuntahkan darah kental setelah meminum jamu itu, setelah itu ia berbaring, dan ki Awang terus menyalurkan hawa murni nya. Kesehatan Reindra mulai membaik, beberapa Hari Anton dan anak buah nya masih berdiam di rumah itu sebelum ki Awang mengizinkan mereka pergi.
"Anton..! Pulanglah bersama anak buahmu dan kembali pada bisnismu, apapun yang kau hadapi nanti, ada aku di belakangmu..! Kamu tidak usah cemas dengan lawan bisnismu," ucap ki Awang
"Terima kasih banyak Ki, tapi apakah ki Awang tetap menolak tawaran saya untuk tinggal bersama di kediaman saya,?"
"Urusan kami bukan hanya denganmu Anton.. Akan sangat berbahaya jika kami tinggal bersamamu, tapi kami tak akan segan untuk mengunjungi rumahmu nanti,"
"Pintu rumahku terbuka lebar untuk kalian Ki...Anak buahku juga sudah mengenal kalian, mereka akan menghormati kalian seperti majikan sendiri.." ucap Anton
Anton segera bergegas ke rumah nya dan merayakan kemenangan nya itu bersama seluruh karyawan perusahaan nya. Namun kabar kurang baik malah ia dengar saat tengah melakukan pesta, salah satu petinggi perusahaan nya berkata bahwa PT.Sun Sweet telah memiliki Direktur baru dan perusahaan itu tak jadi mengalami kebangkrutan.
"Secepat ini mereka bertindak,? Siapa Direktur baru itu Haaaa..!" teriak Anton sambil menggebrak meja
"Direktur baru itu seorang wanita, Pak.."
"Kurang ajar..! Dia belum tahu siapa saya..! Tenang saja, cepat atau lambat, mereka akan musnah," ucap Anton
Mereka kembali melanjutkan pesta hingga larut malam.
\
Novi tengah mencatat sesuatu di ruang kerja nya, Ia sedang memperhitungkan jadwal serta konsep Gathering tahunan perusahaan yang sudah di buatkan oleh sekretaris. Semua aturan yang sudah di tetapkan Hendra tentang hak dan kewajiban perusahaan dan karyawan harus tetap di jalankan, itu membuat nya merasa pusing, bukan karena soal budget, tapi karena Novi yang menjabat sebagai Dirut baru, menghadapi keluarga besar perusahaan mendiang paman nya tentu akan sangat membutuhkan mental besar bagi nya.