Aktifitas pagi hari para santri di sebuah pesantren
Ada yang mandi, ada yang ngantri mandi, nyuci pakaian, adapula yang belajar dan tadarusan (membaca al-qur'an).
Namun ada seorang santri yang sedang sibuk mencari sesuatu di dapur, kegiatannya sedang di perhatikan seseorang.
"Sedang apa kamu Randi ? Dari tadi seperti orang kebingungan.." ucap Kiai Soleh pengasuh pesantren Al-Ikhlas
"A-Anu Yai.. Saya mencari cangkul yang kemarin saya simpan di sini tapi sekarang kok ga ada.." jawab Randi Sujatna sambil menggaruk tengkuk nya yang tak gatal
"Cangkul..?" Kiai Soleh mengernyit sambil mengingat sesuatu
"Oh-tadi malam di pinjam sama Kiai Udin untuk mengeruk saluran air yang mampat.. Coba kamu tanya sama beliau.." ucap Kiai Soleh
"Terima kasih Yai.. kalau begitu saya pamit Yai.." ucap Randi
"Silahkan Randi.. Oh iya-Jangan lupa kamu cek petakan sawah sebelah timur sudah terisi air belum.. Kalau sudah, kamu tutup kembali pematang sawahnya ya.. Semalam Yai masukin air soalnya.." ucap Kiai Soleh
"Baik Yai.. Assalamu'alaikum" ucap Randi sambil mencium tangan Kiai Soleh
"Wa'alaikumsalam..Hati-hati Randi.." jawab Kiai Soleh
Randi pun bergegas menuju Rumah kiai Udin untuk mengambil cangkul, setelah itu ia langsung pergi ke ladang untuk memulai aktifitasnya. Ya, setiap hari, Randi selalu membantu mengurus ladang kiai Soleh
Berangkat pagi pulang siang hari untuk melaksanakan sholat. Setelah itu ia istirahat sampai waktu ashar tiba, barulah ia ikut aktifitas mengaji bersama para santri sampai jam 10 malam. Randi tak mau buang waktu untuk hal sepele, ia langsung tidur dan bangun dini hari menjelang fajar untuk melaksanakan sholat malam dan mempelajari kembali apa yang sudah di ajarkan gurunya sore hari. Setelah subuh ia mencuci pakaian dan memasak sarapan seadanya lalu kembali bersiap pergi ke ladang.
Begitulah aktifitas Randi selama 8 tahun tinggal di pesantren, karena ia tak mampu membayar biaya hidup dan pendidikan di pesantren itu ia harus mengabdi pada kiai Soleh. Orang tua Randi tidak mampu membiayai pendidikan Randi, karena usia mereka sudah renta. Sehari-hari nya hanya bekerja di ladang orang lain sekedar untuk mencukupi kebutuhan makan. Namun mereka ingin Randi belajar di pesantren agar kelak bisa menjadi anak sholeh yang bisa mendo'akan orang tuanya. Randi sempat menolak untuk mesantren, ia hanya ingin membantu kedua orang tuanya di rumah karena cuma Randi anak mereka satu-satu nya. Tapi demi keinginan orang tuanya, Randi akhirnya memutuskan untuk mesantren meskipun berat untuk meninggalkan orang tuanya. Kebetulan saat itu ia bertemu dengan seorang Kiai di sebuah ladang yang jauh dari desa nya tinggal, akhlak serta tutur katanya yang baik membuat Randi nyaman berbicara dengannya dan Semakin bersemangat untuk mesantren. Tiada lain kiai itu ialah Kiai Soleh
---------
"Allohu akbar 4x " suara Adzan dzuhur menggema di area pesantren.
Semua santri bersiap melaksanakan ibadah Sholat Dzuhur. Randi yang mendengar suara adzan langsung bergegas meninggalkan area ladang. Jarak dari ladang ke pesantren tidak begitu jauh namun harus menyebrangi sungai yang dangkal dengan banyak bebatuan.
"Alhamdulillah sudah sampai sungai..Mandi di sini saja lah biar nyampe pesantren tinggal ganti baju lalu sholat.."gumam Randi.
"Byurrrrr...!" Randi langsung menceburkan diri ke sungai itu saking panas nya cuaca.
Meskipun sungai dangkal, namun ada area yang cukup dalam untuk mandi. Area sungai itu sengaja di bentuk sedemikian rupa oleh para santri agar bisa memudahkan untuk segala aktifitas membersihkan diri selain di kamar mandi pesantren. Karena keterbatasan waktu untuk mengantri, sungai pun menjadi sarana pendukung untuk menghindari antrean kamar mandi.
Di kejauhan ada dua orang santri yang hendak mandi ke sungai. Namun melihat 'riak' air di sungai, mereka berhenti mendekati sungai.
"Hei kawan .. ! Di sungai ada orang ... Siapa ya kira-kira..?" ucap Roni
"Hah ..? Mungkin si Hitam baru pulang dari ladang.. Ayo kita cek..!" sahut Sony
Mereka berdua bergegas mendekati sungai untuk melihat siapa yang mandi itu.
"Wah benar sony..si Hitam sedang mandi.." seru Roni
"Aku ada ide Roni..!" ucap Sony
"Hah.. Ide apa Son ..?" lirih Roni antusias
"Aku mendekatinya dan akan mengalihkan perhatiannya..Sementara kamu ambil cangkul itu dan bawa ke tempat Kiai Soleh..tapi ingat..! Jangan sampai ketahuan pak Kiai .. Oke...!" sahut Sony dengan mata menyala.
Hatinya penuh dendam pada Randi ketika Sony sering mendapat hukuman karena membully Randi.
"Oke kawan..!" tegas Roni
Roni selalu saja mengikuti apa yang di perintahkan Sony, yang penting dia bisa merasakan hidup mewah di pesantren karena kekayaan Sony.
"Hai Randi..!" sahut Sony
"Wah Sony.. Aku fikir siapa.. Mau mandi kamu..?" tanya Randi
"Iyalah..Mau apa lagi kesini kan di pesantren lama ngantri nya.." ucap Sony tersenyum sinis.
"Geser Randi..!" "Byurrr..!" Sony langsung nyebur gitu saja membuat Riak air di sekitar Randi bergelombang.
Randi bersikap biasa saja, dia sudah terbiasa di bully oleh Sony.
Sony mengajak Randi berbicara serius untuk mengalihkan pandangan nya agar tak melihat gerakan Roni yang hendak mengambil cangkul di belakang Randi.
"Randi..Maafin Aku yang sering ngebuly kamu ya..kali ini Aku tulus.." ucap Sony dengan wajah serius
"Tak perlu minta maaf Son..Sudah lama Aku selalu maafin kamu kok.. Bahkan aku ingin berteman sama kamu" ucap Randi
"Kamu serius Randi..?" ucap Sony
'Mana mau aku berteman sama bocah Dekil serta miskin seperti kamu Randi..!' batin Sony
"Serius Sony.. Mana berani aku bohong.. Bohong itu Dosa Sony.." ucap Randi
Roni sudah berhasil mengambil cangkul dan pergi ke rumah Kiai Soleh untuk menyimpannya. Walaupun jail dan suka membuly, Sony masih mempunyai rasa kasihan untuk bertindak lebih gila. Beginilah kekuatan ikatan kekeluargaan di sebuah pesantren.
Melihat Roni sudah pergi, Sony mengajak Randi untuk segera kembali ke pesantren karena waktu Sholat Berjama'ah semakin dekat, kalau ketinggalan otomatis akan kena hukuman.
"Sony.. Kamu lihat Cangkul di sini tidak ..?" teriak Randi gelagapan
"Cangkul dimana Randi ? Dari sejak Aku ke sini gak ada cangkul.." ucap Sony
"Ada..Tadi Aku taruh di Batu itu.." tunjuk Randi ke batu yang dari tadi di belakang nya
"Kalau dari tadi ada.. Sekarang juga harusnya masih ada Randi..!" tegas Sony
"Kamu lihat sendiri kan dari tadi Aku diam di sini sama kamu.." lanjut Sony
"Iya Aku tahu Sony..Waktu kamu ke sini Cangkul itu masih ada..Tapi sekarang kemana.." lirih Randi
"Astagfirulloh Randi..! Jangan-jangan pas tadi Aku nyebur, cangkul nya kena ombak dan terbawa arus sungai..Gimana ini Randi..Maafin aku.." ucap Sony
"Gak apa-apa Sony..Kamu pergilah duluan sebelum terlambat..Ini kesalahanku..Aku harus tetap mencari nya sampai ketemu.." lirih Randi
"Ya sudah Randi.. Aku pergi duluan ya..segeralah menyusul jangan sampai kamu terlambat.." ucap Sony sambil berlalu
'Rasain kamu Randi...Carilah sampai kiamat..Hahaha..' batin Sony
Randi masih mencari cangkul nya di area sungai itu, dia terus menyisiri sungai sampai tak sadar kalau dia semakin jauh dari pesantren.
"Nak Randi..! Sedang mencari apa sampai ke tempat ini.." teriak Pak Budi orang yang setiap hari bertemu Randi di ladang
"Astagfirulloh..!" Randi terkejut.
"Ternyata Aku sudah sejauh ini menyisiri sungai..Tak terasa sudah sampai di wilayah rumah pak Budi," gumam Randi
"Bukan nya jawab di tanya tuh..ini malah nyebut.." geram Budi
"A-Anu Pak Budi.. Saya mencari cangkul pak Kiai yang hanyut saat Saya mandi tadi.." ucap Randi
"Hanyut..? Mana mungkin cangkul bisa hanyut sampai ke sini sementara air sungai sangat dangkal.." tegas Budi terheran.
"Waduh..! Saya terlalu panik Pak Budi.. Kalau boleh tau jam berapa sekarang ..?" tanya Randi
"Sekarang sudah hampir Ashar Nak Budi..!"
"Astagfirullohal'adziim" seru Randi
"Sudah Cepetan kamu dzuhur di sini saja.. Nanti Bapak antar ke Pesantren.." ucap Budi
"Baik Pak Budi..Terima kasih banyak.."
Randi pun bergegas mengikuti Budi dan melaksanakan Sholat Dzuhur yang hampir habis waktu nya.
"Nak Randi..Makanlah dulu..Bapak tahu kamu belum makan siang.." ucap Budi
"Wahh..Tak usah lah Pak Budi..Malah saya ngerepotin Pak Budi terus.."
"Tak apa-apa Randi..Makanlah seadanya aja..Maklum beginilah keadaan keluarga kami" ucap Randi
Randi menikmati makanan itu dengan lahap karena dia makan cuma pas sarapan pagi sebelum pergi ke ladang.
Setelah itu Randi di antar Budi ke pesantren nya dengan menaiki sepeda motor honda keluaran lama.
"Assalamu'alaikum Yai.." sapa Randi
"Wa'alaikumsalam Randi..Kamu kemana saja pulang dari sawah bukan nya makan dulu.. Tadi dzuhur juga kamu tidak Berjama'ah.."tegas Kiai Soleh
"Maafkan Randi Yai...A-Anuuu.." ucap Randi gugup
"Anu apa Randi..! Kalau bicara yang jelas.." timpal Kiai Soleh
"Cangkul Yai hilang di sungai waktu saya lagi mandi sepulang dari sawah..Ma-Maafkan Randi Yai.." ucap Randi gugup.
"Terus kamu dari tadi ga ada di sini karena terus mencari cangkul itu di sungai ?" ucap Kiai Soleh
"Iya Yai.. Maafin Randi.."
"Astagfirulloh Randiii..! Ayo ke dapur, kamu lihat itu apaan" tegas Kiai Soleh
"Hahh..!" Randi terkejut melihat cangkul yang hilang bisa berada di dapur.
"Sudahlah Randi.. Sekarang siap-siap Sholat Ashar.. " ucap Kiai Soleh
"Ba-Baik Yai.. Assalamu'alaikum" ucap Randi
Randi langsung pergi ke kamar nya tanpa menunggu Kiai Soleh menjawab salam nya.
"Wa'alaikumsalam..! Randi..Sepertinya ada yang menjaili dia lagi..Kamu harus sabar Randi..Itu Ujian untuk Ilmu dasar yang akan kamu terima nanti jika sudah waktu nya.." lirih Kiai Soleh
Di sebuah kamar, Randi terus memikirkan kejadian ini. 'Sepertinya ada yang menaruh dendam terhadapku' batin Randi
"Astagfirulloh..Aku harus tetap ikhlas dan sabar..Sekarang bukan waktu nya merenungi nasib tapi waktu nya Sholat Ashar.." gumam Randi