Menjelang magrib, para santri yang merasa diri nya melanggar peraturan mulai cemas karena ini malam jum'at. Biasanya hukuman nya ga jauh dari seputar kebersihan lingkungan.
Sony dan Roni pun sama-sama sudah tak sabar menanti pengumuman itu bukan karena diri nya melanggar, tapi karena ingin memastikan kali ini Randi tidak bisa lolos dari hukuman.
"Yang belum makan silahkan ke kantin dengan segera..! Sebentar lagi masuk waktu maghrib..!"
Seruan itu menggema dari semua ruangan pesantren.
----------------------------
"Lukman..! Dani..! Reza..! Asep..! Tirto..! Ra-Ran...'Haa..Randi ? Yang benar saja.. Baru kali ini ada abdi dalem yang akan di hukum' batin Pengurus Pesantren..Randi..!"ucap Dion dengan suara lantang setelah sebelum nya menjeda ketika hendak menyebut nama Randi.
Setiap selesai Sholat Magrib akan di sebutkan nama-nama santri yang melanggar peraturan pesantren. Baru kali ini ada abdi dalem yang kena sanksi padahal biasa nya untuk urusan abdi dalem itu di luar wewenang pesantren, sanksi untuk abdi dalem masuk ke wewenang keluarga Kiai langsung karena keterbatasan waktu yang di bagi antara kegiatan di pesantren dan kegiatan di keluarga dalam.
"Baiklah..! Untuk santri yang tadi di sebutkan silahkan melihat Mading (Majalah Dinding) untuk mengetahui hukuman apa yang harus di lakukan.."tegas Dion
Hukuman tetaplah hukuman, Randi harus menerima hukuman itu dengan ikhlas.
"Apa..! Seorang Abdi Dalem yang biasa di bagian pertanian harus menjalani hukuman menimba air sumur untuk 2 kolah ..?"teriak Reza terkejut melihat hukuman Randi lebih berat dari pada dirinya dan santri lain.
>>>
Sontak seluruh santri terkejut mendengar teriakan Reza, banyak yang ingin memastikan sendiri hukuman yang tertera di Mading pesantren.
Randi hendak melihat sendiri pengumuman itu namun dia urungkan ketika melihat ekspresi para santri yang sudah melihat mading lebih dulu.
"Sepertinya memang benar.. Baiklah jika itu hukuman yang harus ku jalani.. Aku ikhlas"gumam Randi
"Sabar ya Randi.. Aku sendiri tidak tahu siapa yang mengambil cangkul itu dan menyimpan nya di dapur.."sahut Sony yang tiba-tiba ada di dekat Randi
"Sony ya.. ga masalah bagiku Sony.. aku bisa menyelesaikan nya sebelum subuh.."ucap Randi.
"Ya sudah Randi.. Aku pergi belajar dulu ya.."
"Iya Sony.. Silahkan.."
Randi bergegas pergi ke Kiai untuk meminta izin meninggalkan pelajaran malam ini dan Kiai Soleh pun mengizinkan.
"Jika kamu sanggup mengisi semua kolah sebelum dini hari.. Kamu lulus Randi.."batin Kiai Soleh
Setelah Sholat Isya, para santri kembali beraktifitas mengikuti pelajaran sesuai kelas nya masing-masing. Randi tidak mengikuti pelajaran untuk malam ini karena dia harus menjalani hukuman itu malam ini juga.
"Ya Allah.. Kuatkan diri Hamba-Mu ini.. Bismillah.." Randi berdo'a sebelum memulai aktifitas nya.
Suasana pesantren yang hening menunjukkan para santri sudah berada di mimpi nya masing-masing, namun Randi masih harus mengisi air satu kolah lagi.
"Hufttt.."lirih Randi sambil menyeka keringat.
"Istirahat dulu deh.. Mana masih satu kolah lagi.."gumam Randi
"Pletakkkkk..!"
"Astagfirullohal'adziim.. Suara apa itu.."teriak Randi. Saat lagi enak-enak nya istirahat di kagetkan dengan bunyi berisik.
"Allohu Akbar Laa ilaaha illalloh Subhanalloh Allohumma Sholli 'ala Sayyidina Muhammad..Qola muhammadun Huwabnu Maliki..Ahmadu Robbillaha Khoiro Maliki..Ibadalloh Rijalalloh .."gumam Randi asal asalan menyebut semua bahasa arab yang di fikiran nya.
Bulu kuduk Randi berdiri dan merinding itulah sebab nya dia berdzikir dengan blepotan, yang di anggap nya Dzikir dan Do'a tanpa sadar mata pelajaran Nadhom alfiyah ibnu malik juga dia baca.
****
Keseharian Randi lebih banyak di ladang. Dari pada memikirkan pendidikan diri nya lebih baik memikirkan pengolahan tanaman yang baik serta pemasaran sayuran yang tepat untuk membantu perekonomian Sang Kiai agar tetap bisa fokus mengajar para santri. Makanya dia kurang begitu paham dengan hal goib apa lagi do'a untuk mengusir jin.
Tapi di tangan Randi, sektor pertanian pesantren seluas 1 hektar itu meningkat pesat bahkan mencapai omset puluhan juta dalam 3 bulan, tentu nya dalam 1 hektar itu bukan hanya di tanami padi namun terdapat beberapa macam sayuran. Dengan sistem tanam dan pemasaran yang di lakukan oleh Randi, dunia pertanian pesantren sangat maju bahkan merangkap ke Umkm. Randi merekrut santri yang ingin mengabdi di bidang umkm maupun pertanian tentu nya atas izin Kiai Soleh. Sistem yang Randi gunakan ternyata sangat tepat sasaran, ntah dari mana dia belajar padahal di pesantren hanya di fokuskan dengan palajaran kitab kuning dan kaidah Al-Qur'an. Mungkin itulah keberkahan dari pengabdian nya selama ini.
****
Randi ingin kabur saja ke kamar, namun dia urungkan karena hukuman nya masih berjalan dan harus dia selesaikan sendiri malam ini juga, karena besok pagi kamar mandi akan di gunakan oleh para santri.
"Umurku sudah hampir 22 tahun.. Aku juga sudah lama di pesantren ini.. Jadi Aku harus berani dong.."gumam Randi mencoba menetralkan perasaan merinding nya.
Dengan penuh keberanian dan kecuekan Randi melawan rasa takut hingga rasa cape tak di rasakan nya. Akhirnya pekerjaan Randi selesai tepat pukul 02.00, padahal dari pukul 20.00 sampai pukul 23.30 Randi hanya bisa mengisi air 1 kolah.
Setelah istirahat di kamar, Randi akhirnya baru merasakan cape dan dia pun tertidur pulas. Belum juga memulai mimpi, Randi sudah di bangunkan Staf Packing dan Sales sayuran.
"Hoaammmm.."
"Jam berapa ini.. Kenapa kalian ganggu tidurku..?"protes Randi
"Ini sudah jam 03.00 Kak Rendi.. Saya telah selesai Packing dan ini List nya.."ucap Dika sambil menyerahkan catatan laporan data barang yang sudah di pack.
"Aduuh Dika.. Aku baru saja hendak tidur.. Yasudah sekarang kamu istirahat sana..dan Riko...Ingat catatan ini baik-baik ya.. Jangan sampai kamu kecolongan (jiwa admin nya keluar) .. Ini uang saku kalian.."ucap Randi sambil menyerahkan sejumlah uang pada 2 orang kepercayaan nya.
"Wahh..! Terima kasih banyak Kak Rendi.."ucap Keduanya serentak
"Kalau begitu saya pamit tidur ya Kak Randi.." "Riko..! Awas kamu.. Hati-hati dan semoga Laris-manis.. Aamiin.." ucap Dika sambil menyipitkan sebelah mata ke arah Riko
"Aamiin"
"Riko pamit Kak Randi..Dika..Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumsalam"jawab Randi dan Dika
Malam sudah akan berganti pagi, Randi terpaksa menahan kantuk karena sebentar lagi sudah mulai waktu Sholat Subuh. Randi ke dapur untuk menyeduh kopi agar rasa ngantuk nya sedikit hilang.
"Assalamu'alaikum Randi.."sapa Kiai Soleh yang datang di belakang Randi
"Wa'alaikumsalam Yai.. Silahkan duduk Yai.."jawab Randi sambil menggeser tempat duduk untuk Kiai Soleh.
"Terima kasih Randi.. Kamu tahu kenapa Saya ke sini ?"tanya Kiai Soleh
"Maafkan Saya Yai...Kira-kira apa yang membuat Yai ke sini malam-malam begini..?"tanya Randi penasaran, karena jarang sekali Kiai Soleh ke dapur sebelum Subuh.
"Kamu sudah lulus dari pesantren ini Randi.."
"Lulus ?.. Maksud Yai gimana ya ?..Maafkan Randi yang kurang paham.."ucap Randi terkejut dan heran.
"Ya lulus Randi.. Kamu sudah harus Meninggalkan pesantren ini dan bermasyarakat lah.. Cari jati dirimu sendiri.. Terapkan Akhlak yang baik ke seluruh penjuru bumi ini.. Tebarkan kasih sayang ke semua Makhluk ciptaan Allah SWT.. Dan yang terpenting..! Cobalah untuk memasuki dunia karir.. Seperti nya kamu cocok di bidang Bisnis.. Setelah itu.. Menikahlah dan bangun keluarga Sakinah Mawaddah Warohmah.. Jika sudah tercapai semua itu.. Kamu boleh berkunjung kemari lagi Randi..!"ucap Kiai Soleh berusaha tegar padahal sedang menahan sedih karena Santri kesayangan nya sudah harus di lepaskan ke dunia fana yang rusak dan kejam.