Perpisahan dan Pertemuan

1311 Kata
"Ta-Tapi Yai.. Saya sudah betah di sini. Yai dan keluarga sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri.. Terlebih lagi saya masih harus belajar mengaji karena pelajaran saya banyak yang tertinggal.."lirih Randi menahan tangis "Kamu sudah memiliki ilmu dari semua pelajaran yang ada di pesantren ini Randi..! Di sinilah letaknya.. Kunci nya Ikhlas..!"ucap Kiai Soleh sambil menyentuh d**a Randi dengan jari telunjuknya. "Kamu juga tidak perlu khawatir dengan ekonomi pesantren ini.. Justru karena kamu lah ekonomi pesantren ini maju...Sekarang ada Dika yang akan menjadi penerus mu Randi..Dia sudah menyerap semua pelajaran ekonomi yang kamu berikan dan bahkan bisa lebih memajukan pesantren kita ini Randi... Semua karena kepandaian, kesabaran dan keuletan kamu.. Justru Yai sangat berterima kasih padamu Randi.."lirih Kiai Soleh "Ya Allah.. Apakah aku siap menghadapi dunia luar yang rusak dan keji ini.."batin Randi "Baiklah Yai.. Amanat Yai akan saya laksanakan.. Terima kasih selama ini sudah mendidik dan merawat Randi.."ucap Randi Randi sudah paham kalau Kiai Soleh sudah bicara seperti itu tak mungkin bagi nya untuk menyangkal nya, apalagi dia sengaja di temui Kiai Soleh di tempat dan waktu yang tak semestinya. "Randi.. Satu lagi amanat yang harus Yai berikan padamu.. Terimalah kartu Atm ini dan gunakan sebaik mungkin.. Kamu akan membutuhkan nya nanti.."ucap Kiai Soleh sambil menyerahkan Amplop kecil berwarna coklat berisi Kartu Atm dan secarik kertas. "Ta-Tapi Yai.. Ini...." "Tak ada tapi Randi...Ambillah..!" "Baik Yai.. Terima kasih banyak.." "Yasudah.. Yai kembali lagi.. Kamu ngopi lah dulu.. Setelah Sholat Subuh, kamu lanjutkan Tidur.. Istirahatkan badanmu karena akan menjalani perjalanan jauh ke kampung halaman mu.. Orang tua mu pasti sudah sangat merindukanmu Randi.."ucap Kiai Soleh Randi segera menunduk dan meraih telapak tangan sang Kiai lalu mencium punggung telapak tangan itu dengan penuh hidmat. Tak di sangka air mata menetes dari mata pemuda yang penuh kesabaran dan keikhlasan itu. "Sudahlah Randi.. Jangan menangis.. Jadilah laki-laki sejati.. Pergilah.."ucap Kiai Soleh sambil mengusap kepala Randi. "Assalamu'alaikum Yai..."ucap Randi sambil melepaskan salaman nya dan perlahan berdiri. "Wa'alaikumsalam..! Jangan lupa berikan sedikit wejangan perpisahan untuk adik-adik kelasmu sebelum kamu benar2 pergi.."ucap Kiai Soleh Randi segera beranjak dari dapur menuju tempat wudhu lalu melaksanakan Sholat Subuh Berjama'ah. Bukan nya tidur di kamar, justru Randi ketiduran di Masjid Pesantren setelah Sholat. Teman-teman nya sudah mencoba membangunkan nya namun sia-sia, Fisik dan Jiwa Randi benar-benar sudah tak mampu bertahan melawan rasa lelah dan ngantuk yang sudah dari tadi dia tahan. Hari Jum'at adalah hari yang di tunggu-tunggu para santri karena libur, pagi hari para santri yang mendapat hukuman tadi malam langsung melaksanakan hukuman itu. Mereka membersihkan seluruh area halaman Pesantren, dan untuk bagian dalam Pesantren di bersihkan oleh semua para santri. "Sial.. si Hitam enak-enakan tidur sementara semua orang bergotong royong membersihkan area Pesantren.."ucap Sony ketika dia dan Roni hendak mengepel lantai masjid "Biarinlah Son.. Lagian dia seperti itu karena ulah kamu juga kemarin.."timpal Roni "Tetap saja Aku ga suka melihatnya Ron.." "Kalau begitu jangan di lihat Son..Biarin aja dia mungkin kelelahan setelah menimba air sampai pagi..Hahaha.." "Tidak Roni..! Kamu lihat saja di sini biar Aku melakukan sesuatu untuk si Hitam itu.." ucap Sony Sony mendekati Randi yang sedang tidur dan langsung mengikat kedua kaki dan tangan Randi dengan sarung yang dia ambil di dalam masjid ntah milik siapa. Di perlakukan seperti itu Randi tidak bergerak sama sekali, 'benar-benar kebo' batin Sony. "Hahaha..! Rasain..! Bangunlah seperti cacing Randi..!"ucap Sony sambil tertawa keras "Roni.. Sini aku bantu agar cepat selesai lalu cari makanan ke warung.."teriak Sony bahagia Sony membantu 'mengepel' lantai, namun saat dia berjalan maju mendorong Lap Pel "Aaaaaaaaaarghhh..!"teriak Sony Tubuh Sony meluncur di lantai dan kepala nya menabrak dinding. !!!Dugg!!! Benturan kepala dan dinding menghasilkan bunyi begitu nyaring hingga menggema di dalam masjid itu. "Sony..!"teriak Roni panik Roni langsung mendekati Sony takut terjadi apa-apa dengan kepala Sony. "Kamu kenapa gak hati-hati sih.. gak kenapa-napa kan..?"ucap Roni "Gak kenapa-napa apanya Roni ! Kepalaku rasa nya benjol..!"lirih Sony sambil memegangi kepala nya. "Lagian kamu kenapa bisa meluncur kaya tadi..?"tanya Roni penasaran "Tadi kaki ku seperti terikat sesuatu dan aku langsung terjatuh..Tangan ku pun tak bisa di gerakkan maka nya kepala ku tak bisa di amankan.."lirih Sony. "Astagfirulloh..! Ntah ini nyata atau hanya kebetulan sepertinya ada kaitan nya dengan Randi..!"lanjut Sony. "Randi..? Bukan nya dia dari tadi tidur.. Kamu sendiri yang mengikatnya tadi.."sergah Roni "Iya maka nya 'tolong' kamu lepasin ikatan nya dong.. jangan sampai kamu mengalami kejadian yang sama seperti ku.."pinta Sony "Ada-ada aja kamu Son.. Baiklah.. Kamu istirahat saja dulu di luar.. Biar aku yang lanjut ngepel nya..Lagian tinggal sedikit lagi.."ucap Roni "Baiklah Ron..Terima kasih banyak.."ucap Sony Roni melepaskan semua ikatan di tubuh Randi lalu melanjutkan tugas yang belum dia selesaikan. Setelah kegiatan itu selesai..Roni dan Sony pergi ke warung untuk membeli makanan atau cemilan dan menikmati kopi serta merokok. Tak ada yang berani melaporkan mereka padahal aturan Pesantren, semua santri di larang merokok. Itu karena setiap santri yang melihat nya merokok, selalu dia suap dengan uang atau bahkan mengancam nya sampai mengancam keluarga nya hingga tak ada yang berani menantang Sony termasuk pengurus Pesantren sekalipun. Di dalam Masjid, Randi terbangun karena dia terbiasa berangkat ke sawah pagi hari. "Hahh sudah siang ?"gumam Randi "Eh aku lupa kalau sekarang hari Jum'at.. Apa yang lain sudah selesai membersihkan semua lingkungan pondok ..Hoaaammm.."gumam nya sambil menutup mulut dengan telapak tangan nya. Kedua mata nya masih menyipit tanda nya dia masih belum siap untuk bangun tidur. Randi mengucek mata nya lalu pergi mandi, para santri sudah beraktifitas masing-masing di dalam pesantren maupun di warung. Maka nya saat Randi hendak mandi, dia langsung bisa masuk kamar mandi dan menikmati mandi dengan santai karena ini terakhir kali nya dia menikmati segar nya air di Pesantren. "Akhirnya semua sudah beres.."gumam Randi "Kak Randi mau kemana kok benah-benah ?"ucap Rio teman satu kamar nya "Kak Randi sudah mau Boyong Rio.." "Hah.. Kenapa tiba-tiba gini Kak..? Apa pak Yai sudah mengizinkan..?" "Alhamdulillah Rio.. Mulai sekarang kamu yang jaga kamar ini ya.. Rawat baik-baik..Suatu saat Kakak main ke sini lagi.." "Baiklah Kak Randi.. Rio akan mencoba Ikhlas.. Rio tak akan sedih dengan kepergian Ka-Hiks..Hiks..Huuuuuuu..!"tangis Rio sambil segera memeluk Randi yang sudah dia anggap kakak sendiri. "Sudah Rio..Jadilah laki-laki sejati..! Ini memang sebuah perpisahan..Tapi perpisahan ini akan menjadi pertemuan kembali suatu saat nanti.. Kak Randi janji akan menjadi orang sukses saat kembali ke sini nanti.."ucap Randi. "Selalu taat lah terhadap aturan Pesantren..Usahakan untuk mengabdi sesekali walaupun kamu mampu membiayai pendidikan di sini.. Niatkan untuk mencari keberkahan..Jangan malu untuk selalu bertanya jika kamu mengalami kebuntuan dalam belajar.. Nanti kamu bisa belajar ke Mas Dika.. Dia akan tinggal di kamar ini temani kamu.."ucap Randi panjang lebar. "Wah..Kak Dika mau pindah ke sini..? Serius Kak Randi..?"sahut Rio antusias. "Serius Rio.. Kamu senang kan kalau Kak Dika di sini..?"ucap Randi "Rio senang banget Kak.. Karena Kak Dika kan orang baik yang di percaya sama Kak Randi..hehehe.."ucap Rio tersenyum. Rio bangga bisa jadi orang terdekat dengan Randi. **** Rio adalah santri yang baru masuk 1 tahun lalu. Dia sama seperti Randi, masuk Pesantren setelah lulus Sekolah Dasar. Semenjak Rio masuk, Kiai Soleh meminta Randi untuk mengajak Rio tinggal di kamar Randi. Rio selalu sedih berlarut-larut semenjak orang tua nya kembali ke Kota. Kiai Soleh cemas memikirkan nya karena Rio susah bersosialisasi dengan santri lain. Hanya Randi satu-satu nya yang bisa menenangkan Rio dan menghibur nya, karena itulah Kiai Soleh mempercayakan Rio pada Randi. Sejak saat itulah Rio menganggap Randi sebagai Kakak nya sendiri, karena memang Rio anak pertama yang jelas tak merasakan di sayangi oleh seorang kakak. Rio bersyukur memiliki seorang kakak seperti Randi, bagi nya Randi adalah sosok istimewa di antara semua santri di Pesantren Al-ikhlas itu. **** "Huftt.. Dasar bocah.. Ada saja yang bikin gemas.. Untung Kiai Soleh memanggilnya.. Kalau tidak, mau sampai kapan Aku di sini.."gumam Randi Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00, Randi segera meninggalkan Pesantren. Di luar pintu gerbang Pesantren, dia menatap keseluruhan Pesantren dengan mata ber kaca-kaca. "Selamat tinggal Rumah Terindah dan Ternyaman..Selamat tinggal keluarga besar santri Pondok Pesantren Al-ikhlas.."batin Randi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN