"Panas sekali Cuaca hari ini.." lirih Randi
Setelah keluar dari perkampungan wilayah pesantren, Randi harus melalui jalan besar dengan kepadatan lalu lintas yang cukup Ramai.
"Panas sekali.. Kalau saja Kiai Soleh tak memintaku untuk pulang dengan jalan kaki..Aku sudah sampai daritadi dengan naik Ojek.." gumam Randi
Randi mampir terlebih dahulu di sebuah Masjid untuk melaksanakan Sholat Jum'ah. Setelah itu dia melanjutkan kembali perjalanan nya menuju kampung halaman.
Di tengah perjalanan, Randi mampir ke Warung Nasi lebih dulu karena isi perut nya mulai meronta-ronta meminta jatah.
"Bu.. Lauk nya sayuran sama tempe saja ya..Kasih sambal juga.." ucap Randi memesan makan
"Minum nya apa Mas..?" ucap Salah satu pegawai warung itu.
"Es teh manis saja Pak.." jawab Randi.
Saat sedang menikmati makan, Randi mendengar keributan di luar Warung Nasi itu.
"Mengganggu waktu makan ku saja.." batin Randi
"Cepatlah mana uang nya sebelum Ku hancurkan isi warung makan ini..!" bentak Huda Sang Preman yang terkenal kejam.
"Ampun Tuan.. Warung makan kami baru di kunjungi satu pembeli..Kami belum ada uang sama sekali.." lirih Bu Warni Sang Pemilik warung.
"Persetan dengan pembeli.. Aku hanya butuh uang keamanan itu sekarang..!" bentak Huda melotot
"Ampun beribu ampun Tuan.. Baiklah kalau begitu tunggu sampai pemuda itu selesai makan dan membayar.." ucap Bu Warni sambil menundukkan wajah.
"Halllahhhhh..!"
!!!Brakkkk!!!
Preman itu menggebrak Meja di depan warung makan.
"Pinta uang nya sekarang juga..Atau Aku yang akan memaksa nya ..!" bentak Huda
"Ja-Jangan Tuan..! Saya juga tak berani meminta uang lebih dulu sebelum pembeli selesai makan.." ucap Bu Warni.
Permohonan Bu Warni tidak di pedulikan Huda. Dia langsung masuk dan berdiri di depan Randi yang sedang duduk di meja makan dan menikmati makanan.
"Hei Pemuda..! Nampak nya kau sangat miskin sehingga hanya mampu membeli makanan dengan lauk seperti itu..Tapi.. Bayar makanan mu sekarang juga..!" bentak Huda.
Randi terus menyantap makanan seakan-akan tidak ada yang berbicara pada nya.
!!!Brakkk!!!
"Kau Tuli ya..!" teriak Huda sambil menggebrak meja makan Randi.
Seketika itu pemilik warung langsung bersimpuh di bawah kaki Huda.
"Ampun Tuaaan..Tolong jangan ganggu pembeli ku.." ucap Bu Warni dengan mata berkaca-kaca yang akhirnya tak sanggup menahan air mata nya.
"Jangan mentang-mentang Kau Orang Tua lalu Aku akan berbelas kasih sama kamu..! Minggir..! Atau mau ku hajar kamu..!" teriak Huda
Randi sudah sangat jengkel dengan kelakuan Preman muda yang penampilan nya menunjukkan umur nya tak jauh berbeda dengan Randi. Saat Preman itu hendak memukul Bu Warni, Randi mulai mengeluarkan suara nya yang dari tadi diam.
"Hentikan..!" teriak Randi
"Kau ada perlu denganku bukan..?!"
"Jika ingin berbicara.. Duduklah yang sopan di depanku..! Ucapkan salam..! Jangan berteriak..!" tegas Randi tanpa melihat ke arah Huda sama sekali.
Seketika Preman itu terdiam seakan tubuhnya membeku dan mulutnya membisu. Ucapan Randi sangat menusuk Relung Hati nya yang paling dalam. Pemilik warung makan juga kagum pada Randi, 'Hanya dengan berbicara saja mampu membuat preman kejam ini bungkam' gumam Bu Warni lalu ia duduk di salah satu kursi warung makan nya yang tak jauh dari meja Randi ingin menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Perasaan aneh apa ini..Kenapa darah di tubuhku mengalir dengan deras.." batin Huda yang masih berdiri mematung di depan Randi.
"Duduklah..! Bicara yang sopan..!" ucap Randi
Huda langsung duduk di kursi depan meja Randi, mata nya sayu dan tubuhnya terasa lemas. Tak ada kata yang di ucapkan Huda, dia hanya menatap takjub pemuda di hadapan nya itu. Setelah hampir satu menit, Huda mulai berbicara
"Bo-Bolehkah Saya mengenal Tuan..?" ucap Huda terbata-bata.
"Nama Saya Randi.. Kamu siapa dan ada urusan apa denganku..?" ucap Randi
"Nama Saya Huda tuan..Maafkan perbuatan Saya tadi.. Sa-Saya...."
"Sudah, lupakan saja..! Saya mau melanjutkan perjalanan lagi.." potong Randi
"Berapa semua yang harus Saya bayar Bu..?" tanya Randi pada pemilik warung itu.
"Sudah selesai Tuan..? Tak apa-apa ga usah bayar..Tuan sudah menolong Saya.. Tak pantas untuk saya meminta bayaran dari orang yang sudah menolong Saya.." ucap Bu Warni
"Ini..Terima saja Bu.. pembeli tetap lah pembeli yang harus membayar apa yang di beli.." ucap Randi sambil menyerahkan uang 100 ribu.
"Tu-Tuan.. Tapi uang ini terlalu besar, saya belum ada uang sepeser pun untuk kembalian.." ucap Bu Warni
"Kembalian nya untuk kebutuhan Ibu dan Keluarga saja.. Assalamu'alaikum" ucap Randi lalu pergi.
"Wa'alaikumsalam..Terima kasih banyak Tuan.." lirih Bu Warni.
Setelah melihat Randi pergi. Dia teringat masih ada Preman Kejam di warung nya.
"Apa yang harus ku lakukan.. Pasti preman itu akan mengamuk setelah kejadian tadi.." batin Bu Warni yang masih berdiri di depan warung.
Belum sempat dia bergerak, Huda sudah lebih dulu mendekati Bu Warni dan membuat Bu Warni ketakutan.
"Habis sudah uang ini.." batin nya.
!!!Tapppp!!
Kali ini Huda yang bersimpuh di bawah kaki pemilik warung itu.
"Maafkan semua kesalahan Saya Bu Warni.." lirih Huda
"Huda..? Ini serius atau hanya mimpi.."batin Bu Warni tak percaya dengan kejadian ini namun dia segera sadar jika ini memang nyata.
Preman Kejam yang selama ini selalu membuat onar di wilayah itu kini bersimpuh di telapak kaki nya.
"Dengan begini Saya bisa balas dendam atas semua perbuatan nya.. Tapi.. Kasihan juga melihat dia seperti ini.. Biarkan saja lah.. Yang penting warung Saya aman mulai sekarang.." batin Bu Warni
"Berdirilah Huda.. Syukur kalau kamu sudah insaf.. Ibu akan maafin kamu asal kamu tidak membuat onar lagi di wilayah ini.." ucap Bu Warni dengan tegas
"Saya janji ..! Saya tidak akan membuat onar lagi di wilayah ini.." ucap Huda lalu berusaha berdiri
Huda mengambil semua uang yang ada di saku nya dan menyerahkan nya ke Bu Warni.
"Ini uang kemarin dan hari ini yang Saya dapatkan dari orang-orang termasuk Bu Warni..Tolong terima Bu.. Dan tolong sampaikan permohonan maaf saya ke yang lain nya.. Saya harus mengikuti Pemuda tadi dan tertarik untuk belajar pada nya.." ucap Huda
"Kamu serius Huda ?" ucap Bu Warni
"Serius Bu, kalau begitu saya pamit, takut Pemuda itu semakin jauh.." ucap Huda
"Tunggu dulu..Bawalah Makanan untuk bekal kamu dan Pemuda itu di jalan..Ibu yakin perjalanan nya masih jauh karena Ibu tak pernah melihatnya di wilayah ini.." ucap Bu Warni
"Tapi Bu...!" sahut Huda
"Ga ada tapi Huda..! Sampaikan Terima kasih Ibu pada Pemuda itu.. Ini amanat..! Kalau memang kamu berniat berubah.."tegas Bu Warni
"Baiklah Bu.." hanya itu yang di ucapkan Huda
"Ini Bawalah.. Hati-hati kamu di sana..!" ucap Bu Warni sambil menyerahkan bungkusan makanan.
"Permisi Bu.. Huda pamit..!" ucap Huda lalu pergi sambil berlari.
Sudah 2 kilo meter Huda berlari. Nafas nya sudah naik turun dengan deras namun Pemuda yang bernama Randi itu tak kunjung di temukan.
"Gila..! Cuma beberapa menit perbedaan waktu dia dan aku pergi dari warung.. Tapi kenapa tak ku temukan sampai sejauh ini.. Padahal dari tadi Aku berlari.." kesal Huda lalu minum air yang di beri Bu Warni tadi.
Saat dia minum. Mata nya terbelalak kaget melihat Randi keluar dari Warung Kopi di depan nya. Ada gelas kopi bekas dia minum juga di dalam nya. 'Hebat..! Cepat sekali dia berjalan.. Ga normal' gumam Huda.
"Akhhhh..Kenapa melamun pula Aku..Dia keburu jauh lagi.." batin Huda. Lalu berlari mengejar Randi yang sedang berjalan kaki di depan nya namun terlihat sangat cepat.
"Tuan Randi..! Tunggu..!" sahut Huda
"Huda kah..?" gumam Randi saat melihat kebelakang nya.
"Huh..Huh..Huhfff.."
Nafas Huda terasa hampir putus saat berlari kencang menghampiri Randi.
"Ada apa lagi Huda ?..Tolong jangan manggil aku dengan sebutan tuan.." ucap Randi
"Ba-Baik tuan.." ucap Huda
"Apa..?" sahut Randi
"I-Iya Mas Randi.." lirih Huda
"Ada apa..!" geram Randi kesal
"Bolehkah saya mengikuti mas Randi kemanapun mas Randi mau pergi..?" ucap Huda
"Memang nya kamu kenapa..? Ada yang jahat sama kamu..?" timpal Randi
"Ti-Tidak ada mas Randi.. Kalau boleh, saya mau mengabdikan hidup saya untuk mas Randi.. Saya tak punya siapa-siapa lagi di dunia ini mas..Keluarga saya sudah Meninggal semua nya saat terjadi bencana Letusan Gunung merapi.." ucap Huda
"Kamu orang Jogja kah Huda..?" tanya Randi
"Iya Mas.." jawab Huda
"Kamu boleh saja ikut dengan saya..Tapi saat ini saya akan pulang kampung dan tinggal di sana menemani orang tua saya.." ucap Randi
"Berarti saya hanya akan menjadi beban Mas Randi ya.." keluh Huda
Huda merasa kesempatan nya hilang.
"Hahaha..Tidak Huda.. Justru saya yang ga enak sama kamu nanti nya karena kehidupan saya dan orang tua sangat sederhana..Kalau kamu mau ya terserah kamu..Saya juga ga enak hati kalau menolak kamu..Sepertinya kamu membutuhkan sesuatu.." ucap Randi
"Serius mas Randi ..?" ucap Huda berkaca-kaca.
"Iya.. Ya sudah kalau kamu sanggup berjalan kaki jauh..Silahkan ikut..Tapi jika kamu tak mampu..Saya gak akan peduli..Saya tetap akan berjalan menuju rumah.." ucap Randi
"Siapa takut.. Ayo kita jalan.. hehehe.." ucap Huda tersenyum senang.
Ternyata mengikuti Randi tak semudah yang di bayangkan. Kini Huda melihat sendiri kenapa Randi bisa tiba-tiba jauh setelah keluar dari warung Bu Warni.
Langkah kaki Randi terlihat normal seperti umum nya orang jalan kaki dengan santai, namun satu langkah kecil itu seperti terdorong angin beberapa 'sentimeter'.
Jika ingin mengimbangi langkah Randi, Huda harus jalan cepat.
Huda tak mau jika Randi melihat nya kelelahan, dia terus menahan cape dan sakit di kaki nya demi bisa mengikuti Randi.
Randi yang melihat Huda berjalan cepat merasa aneh.
"Huda..! Padahal dari tadi kamu berjalan cepat, tapi kenapa selalu di belakang saya.." ucap Randi
"Yang benar saja Mas Randi..! Langkah kaki mas Randi itu tidak normal..!" teriak Huda
"Apa nya yang tidak normal Huda..! Dari tadi saya jalan dengan santai..!" teriak Randi tak terima di bilang ga normal.
"Mas Randi memang terlihat jalan kaki dengan santai jika orang tak memperhatikan lebih jelas..! Dari tadi saya melihat langkah kaki mas Randi seperti melayang ..Maka nya Saya susah mengejar ..!" teriak Huda.
"Hah..! Melayang..?! Ada-ada saja kamu Huda.." ucap Randi tak percaya.
"Ya sudah Ayo lanjutkan lagi perjalanan kita.. Di depan sana kita harus melewati area persawahan.. Setelah itu Hutan lebat, nyebrang sungai.. Barulah sampai di Rumah saya.. Rumah saya berada di atas bukit di dekat sungai.." ucap Randi
"Wahh.. Seperti nya asik tinggal di sana Mas Randi.." ucap Huda
"Yah..Kita lihat saja nanti Huda.. " ucap Randi.
Setelah melewati semua jalur itu, akhirnya mereka sampai di rumah kedua orang tua Randi.
"Assalamu'alaikum Ibu..! Bapak..!" ucap Randi