Belajar Berdagang

1158 Kata
Dika segera pergi ke pasar setelah beberapa belanjaan Randi dan Bu Ratih di catat nya. ---------- Tujuan Dika yang sebenarnya pergi ke pasar ialah untuk mengunjungi salah satu cabang warung nasi milik nya, tak ada santri yang tahu kalau Dika ternyata memegang Usaha warung nasi sebanyak 5 cabang. Dika mendapatkan hak waris tunggal setelah kedua orang tua nya meninggal kecelakaan 3 tahun silam, saat itu Dika sudah berada di pesantren dan sedang menjalani Ujian Kelulusan sekolah kesetaraan Smp atau biasa di sebut sekolah Paket B. Setelah mendapat kabar buruk itu, Dika Libur selama 1 bulan penuh. Kiai Soleh juga sempat menjenguk ke rumah Dika, Beliau khawatir dengan keadaan Dika yang sudah Yatim Piatu itu, namun ternyata masih ada orang kepercayaan orang tua nya yang menjaga Dika dan mengurus segala sesuatu nya untuk Dika. Sejak saat itulah sikap Dika mulai berubah menjadi Temprament dan sering marah. Namun Orang kepercayaan kedua orang tua nya itu dengan sabar menghibur Dika, mengajak liburan ke luar kota dan sebagai nya. Orang berhati baik itu bernama Reza, dia yang selanjutnya mengurus semua cabang Warung nasi yang seharusnya di lakukan oleh pewaris tunggal. Namun mengingat Sang Pewaris belum cukup umur dan pengetahuan nya, dengan sabar dia menjalani usaha itu dan juga harus tetap membimbing Dika agar kembali Bangkit dari keterpurukan nya dan melanjutkan pendidikan di pesantren sesuai keinginan kedua orang tua nya itu. Saat Dika hendak kembali ke pesantren, Reza memberikan Surat Wasiat mengenai hak waris dan segala nya. "Terima kasih pak Reza... Kalau tak ada orang sebaik Bapak, mungkin Aku sudah menjadi seburuk-buruknya manusia di bumi bahkan setan juga kalah buruk nya," lirih Dika "Jangan berlebihan den Dika Pratama, sudah tugas dan kewajiban saya menjaga dan memastikan penerus keluarga Pratama," tegas Reza Setelah berpamitan dengan pak Reza, Dika kembali ke pesantren, dia menolak untuk di antar Reza demi kesederhanaan yang menjadi ciri khas dia di pesantren. "Aku harus berusaha keras belajar di sana, demi keinginan orang tua ku" batin Dika memantapkan niat nya. Di pesantren, Dika mulai menunjukkan keseriusan nya, dia lebih rajin belajar, mengaji, serta rajin melaksanakan Sholat Sunnah. Kiai Soleh melihat perubahan Dika, 'mungkin dia ingin mencari kesibukan untuk menghilangkan rasa sedih nya,' batin Kiai Soleh. "Baiklah kalau begitu biar saya suruh Randi untuk memasukkan Dika ke dalam staf nya, lagi pula sudah saat nya Randi untuk memimpin atas hasil jerih payah nya mengembangkan dunia pertanian pesantren," gumam Kiai Soleh. Setelah Kiai Soleh berdiskusi dengan Randi dan di setujui Dika, Dika resmi menjadi staf pendataan dan penjualan sayuran ke pasar. "Baiklah, dengan begini saya bisa belajar dunia perdagangan," batin Dika. "Dika..Sebelum memasarkan.. Tolong packing dan catat berapa jumlah barang yang akan kamu pasarkan nanti, jangan lupa catat juga pendapatan nya nanti.." ucap Randi. "Baik kak Randi, terima kasih sudah mau mengajari saya di dunia perdagangan, saya sangat senang sekali," ucap Dika sambil tersenyum. Sikap dan arahan Randi sangat berbeda dengan seorang guru yang mengajari murid nya. Pembawaan nya yang tenang dan tutur kata nya yang tertata membuat apa yang dia sampaikan, mudah di pahami dengan cepat oleh Dika. "Saya tidak mengajari kamu, justru saya sedang memberi tugas untuk mu.." tegas Randi. "Ya pokok nya terima kasih banyak kak, ya udah aku pergi dulu ya kak," ucap dika, dia mulai merasa akrab dengan Randi, sosok yang selalu di Hina dan di Jaili teman teman nya bahkan tak jarang menerima hukuman fisik yang ntah apa kesalahan Randi, dan saat itu Dika masih murid baru, ia hanya bisa merasa kasihan melihat Randi. Namun bagi nya saat itu Randi terlihat sangat keren, meskipun sering di jaili teman nya tapi Randi selalu diam dan tak membalas nya. Yang Dika lihat, jika Randi hilang kesabaran nya, semua teman-teman yang menjaili nya akan tumbang. Itulah mengapa Dika langsung menyetujui permohonan Randi dan Kiai Soleh. Saat nya untuk Dika pergi ke pasar dengan memikul beberapa ikat sayuran dan bahan pangan lain nya hasil dari pertanian. "Aihhh... Berat juga ternyata, mana pasar sangat jauh pula, harus naik angkot.." keluh Dika. "Tapi kalau aku ngeluh terus, kapan aku bisa mandiri dan meneruskan usaha ayah dan ibu yang masih memiliki 3 cabang," gumam Dika Setelah sampai di pasar, Dika langsung menggelarkan dagangan nya dan ia tinggalkan sementara untuk Melaksanakan Sholat subuh. Sekembali nya Dika ke lapak jualan nya, semua barang dagangan nya raib, hanya meninggalkan bakul yang di gunakan untuk membawa semua jualan nya. "Pak, Bapak lihat barang jualan saya gak di sini..?" tanya Dika pada pedagang di sebelahnya panik. "Kurang tahu ya Nak..Soal nya Bapak habis sholat subuh juga, tadi sebelum saya Sholat memang ada lapak dagangan di sini sebelah saya tapi ga ada orang nya, itu punya mu,Nak?" tanya Bapak pedagang soto ayam ikut merasa kasihan "Iya pak, tadi saya tinggal sebentar untuk Sholat subuh, tapi sekarang sudah ga ada, aduuuhh..! Ini hari pertama saya jualan pak," ucap Dika seakan-akan ingin nangis. Setelah itu ada seorang ibu-ibu yang menghampiri karena melihat tingkah Dika yang seperti kebingungan. "Kenapa Nak,?" tanya ibu itu. "Barang dagangan saya hilang bu, ibu liat siapa yang mengambil jualan saya di sini,?" tanya Dika. "Ya Allah Ya Rabb... Berarti orang yang tadi membungkus semua barang di situ Maling,,?" tanya Ibu itu. "Ibu melihat nya ..? Kemana orang itu bu,?" "Saya fikir itu barang dagangan dia dan mau pindahin lapak.. Orang nya sih ke arah Pusat Kota Nak, tapi sudah dari tadi, saat Bapak soto ini masuk ke masjid.. Ya Robb... Ibu turut prihatin Nak," jelas Ibu itu. "Ya Allah... Hancur sudah nasib saya kalau pulang nanti, " ucap Dika "Yang sabar Nak, nih Bapak kasih soto, kamu makan dulu gih, kamu belum makan, bukan ?" ucap Bapak Soto sambil memberi Dika semangkuk Soto ayam. "Tapi saya ga bisa nerima ini pak, saya ga ada uang buat bayar nya," ucap Dika padahal ia benar- benar lapar "Sudah lah, makan saja, besok kamu jualan lagi kan, kamu bisa bayar kapan saja.." ucap Bapak soto "Terima kasih banyak pak, kebaikan bapak akan saya balas nanti," ucap Dika. "Ibu makasih ya sudah bantu saya nanya ke orang-orang, percuma saja bu, maling nya sudah ga ada di pasar ini lagi, saya ga apa-apa kok, ibu kembali lah jualan," ucap Dika. Ia merasa tak enak hati sampai pedagang lain ikut sibuk karena mencari maling itu. "Hallo Pak Reza...!" "Iya Hallo..! Ini siapa ya..?" "Saya Dika.. Saya pinjam Hp orang, bicara nya nanti saja, sekarang tolong ke masjid Baiturahman di pasar desa Sukaramah." "Ba-Baik den Dik-a ... 'Tutttt tuuuuttt tuttttt' ..Hallo.. Hallo den..!" telepon terputus "Ada apa dengan nya, bukan nya dia di pesantren" gumam Reza. Reza segera bergegas untuk menemui Tuan Muda nya itu dengan mengendarai sepeda motor Sport keluaran terbaru milik Dika. 'Pake motor bisa lebih cepat dari pada mobil' gumam nya. Setelah tiba di Masjid, memang benar disana Dika sudah menunggu nya di Gerbang Masjid itu. "Selamat pagi den...Ada apa den Dika meminta saya kemari, bukan nya den Dika sedang di pesantren,?" tanya Reza "Tolong beri saya uang, uang yang saya pegang tidak cukup, ada sesuatu yang harus saya urus.." jawab Dika
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN