"Kamu ke sini sama siapa Dika..?" tanya Randi
"Sama siapa lagi, tuh bocil kesayangan Kamu kak, " jawab Dika
"Bocil ... ? Maksud mu, Rio..?"
"Iya lah siapa lagi, dia lagi mandi di sungai, mata nya langsung belalakan setelah melihat air jernih, mungkin sangat kecapean,"
"Ya sudah, ayo silahkan masuk, beginilah rumah kami ada nya Dika, jauh di bawah dari kata sederhana.. Oh iya kenalin ini Huda, Adik saya.." ucap Randi memperkenalkan Huda.
"Saya Dika, teman nya kak Randi di pesantren..Salam kenal Kak Huda.." ucap Dika
"Salam kenal juga Dika..Ayo silahkan duduk dulu," ucap Huda.
"Ngomong-ngomong Ibu dan Bapak kamu mana kak Randi..? Dari tadi aku belum melihat nya," tanya Dika mata nya melihat setiap sudut rumah Randi.
"Oalah, Aku fikir kamu sedang menilai kondisi rumah kami ini.." kata Randi
"Huda sana cepetan kamu ke belakang, panggil ibu dan bapak, saat ini akan kedatangan keluarga baru lagi," perintah Randi
"Yang benar saja, bahkan kamar saja belum jadi sudah di tambah penghuni baru,kasihan sekali mereka bertamu di saat yang kurang pas" batin Huda "Baiklah aku sekalian mau mandi," ucap Huda
Huda memanggil kedua orang tua nya yang sedang beraktifitas di dapur, Ratih sedang memasak di tungku bakar sedangkan Ratno sedang membelah kayu bakar.
Setelah memberi tahu mereka, Huda menggantikan Ratno untuk membelah kayu, sedangkan Ratih tidak bisa meninggalkan acara memasak nya, apa lagi ada tamu dari pesantren, sudah pasti menu masakan nya harus di tambah.
Ketika acara perkenalan dan perbincangan panjang berlanjut, mereka di kejutkan dengan perdebatan heboh di belakang rumah.
"Hoi kak,! Jangan sembarangan ya, aku ini adik nya kak Randi.. Jadi aku mau masuk..!" teriak Rio membelalakkan mata nya dan berkacak pinggang.
"Ga boleh..! ga di ajarin sopan santun ya kalau bertamu itu lewat pintu depan..!" teriak Huda tak mau kalah
"Sudah aku bilang kan dari tadi. Wahaaaiii Kakak Pengendali Kapak Pembelah Kayu Bakar..!" teriak Rio tak mau kalah
"Hei, kalian sedang apa ribut-ribut di belakang rumah.. Sudah sana ajak Anak itu masuk , Huda..! Ganggu ibu yang lagi masak saja,!" teriak Ratih. Ratih marah karena dari tadi di antara mereka tidak ada yang mau mengalah. Sementara Ratih kembali melanjutkan aktifitas memasak nya yang hampir selesai.
"Kau dengar sendiri kan Bocil..! Tuh lihat Ibu jadi marah..! Sudahlah ayo ku antar kau masuk," ucap Huda
"Tunggu..!" ucap Rio
"Ada apa lagi.. Mau berantem, ?!" ucap Huda
"Itu tadi ibu nya kak Randi..?" tanya Rio
"Iya beliau Ibu nya kak Randi, Ibu Saya juga..!" teriak Huda karena merasa kesal dengan pertanyaan ga jelas dari bocah itu, 'sudah tau ini rumah nya siapa pake di tanya itu ibu nya siapa' batin Huda.
Belum sempat Huda berbicara lagi, Rio sudah berlari ke arah Ratih yang sedang mempersiapkan masakan.
"Maafin Rio ya Bu, Rio ga ada maksud untuk membuat Ibu marah tadi, Rio cuma ga sabar ingin segera ganti baju karena baju Rio basah habis mandi di sungai tadi, pakaian Rio sudah di bawa lebih dulu sama kak Dika. Rio juga sudah kangen pengen ketemu ka Randi." lirih Rio sambil memeluk kedua kaki Ratih
"Ya Allah Nak..Bangunlah..! Kenapa kamu mandi di sungai dengan pakaian lengkap seperti ini, ya sudah sekarang kamu ganti pakaian kamu di kamar mandi, pakaian basah nya taruh di ember nanti ibu cuci.." ucap Ratih.
"Huda tolong ambilkan pakaian nya Rio di dalam, " tambah nya.
"Baik lah Bu, tunggu di sini kau Bocil..! Awas saja kalau berani menganggu Ibu ku..!" ucap Huda sambil melotot ke arah Rio
"Huda..!" bentak Ratih
Huda langsung berlari ke dalam karena tidak mau jadi amukan Ibu nya itu.
'kecil-kecil sudah kurang ajar, bisa mengambil hati orang tua dengan mudah nya pula,' gumam Huda sambil berjalan ke ruang tamu.
"Ada apa di belakang ..?" tanya Randi.
"Itu ada Bocil aneh yang nyari ribut tadi.. Dika tolong berikan Tas bocil itu, dia hendak ganti pakaian di belakang.." ucap Huda
"Pasti itu Rio.. Ga ada sopan santun nya sama sekali tuh anak, bertamu malah lewat pintu belakang.. Maafin Rio ya kak Huda, maklumi saja watak bocil memang begitu.." ucap Dika sambil menyerahkan Tas milik Rio.
Rio dan Randi asik berbicara dan bercanda di pekarangan rumah setelah mereka semua makan malam, sementara Huda dan Dika sudah tidur di ruang tamu. Rasa nya Rio tak ingin kembali ke pesantren, malah dia ingin mesantren di rumah Randi saja karena di pesantren meskipun ada Dika yang menyayangi nya sama seperti Randi, tapi Dika selalu tegas ketika membimbing maupun memarahi Rio. Bagi Dika, kekuatan mental harus di didik sejak dini dengan tegas, apa lagi Rio anak nya sangat tertutup alias tak bisa bergaul dengan banyak orang.
Hari sudah larut malam, Rio dan Randi segera bergabung dengan dua orang yang sudah tidur lelap lebih dulu itu.
Dini hari, Bu Ratna dan Pak Ratno bangun lebih awal, mereka akan mempersiapkan masakan untuk sarapan. Dika yang terbiasa bangun dini hari untuk melaksanakan sholat malam mendengarkan aktifitas di dapur yang cukup berisik saat dia terbangun. Dika merasa malu untuk mengambil air Wudhu ke dapur namun kebiasaan nya tak bisa di tinggalkan, akhirnya dia memberanikan diri untuk ke dapur dan menyapa pemilik rumah.
"Permisi Bu.. Pak.. Dika izin ke kamar mandi ya.." sapa Dika
"Wah ada yang sudah bangun ternyata.. Kami terlalu berisik ya Nak Dika..? Maafkan kami ya jika mengganggu tidur kalian.." ucap Ratno
"Tidak Pak, Dika sudah terbiasa bangun dini hari.. Yang lain masih pada tidur kok.." ucap Dika
"Rajin sekali kamu Dika tidak seperti Randi yang susah di bangunin untuk Sholat Subuh.." ucap Ratih ikut menimpali.
"Kak Randi lebih Rajin dari saya kok Bu..Ya sudah, saya lanjutin aktifitas dulu ya Pak, Bu.. Nanti saya ikut bantuin sebisa nya.." ucap Dika.
"Iya Nak, terima kasih banyak ya.." ucap Ratih.
Dika segera melaksanakan aktifitas rutinan nya itu, setelah itu dia membantu Ratno dan Ratih sebisa nya.
Saat Dika membawa makanan untuk di tata di meja ruang tamu, sesuatu terjadi ...
"Astagfirulloh Rioooooooooo...!" teriak Dika. Bagaimana tidak, Rio yang tidur dekat meja, tiba-tiba saja berdiri dadakan dan kepala nya mengenai nampan yang di bawa Dika.
"Sethhhh..!"
Randi muncul tiba2 dan menangkap nampan yang hampir jatuh itu.
Hampir saja seluruh isi nampan terjatuh berserakan, namun ada tangan gesit yang segera menangkap nampan itu sehingga seluruh isi nya kembali ke nampan dengan utuh.
"Lain kali hati-hati ya Dika..Rumah kami sempit soal nya.." ucap Randi lalu segera kembali tidur menempati tempat tidur Rio yang sekarang masih berdiri mematung dengan mata terpejam.
Dika tak bisa berkata apa-apa lagi, kejadian ini baru pertama kali dia lihat. Rio yang sedang tidur nyenyak tiba-tiba berdiri dalam keadaan masih tertidur dan Randi, dia tidur cukup jauh dari meja namun tiba-tiba dia bisa menangkap nampan yang tidak bisa Dika tangkap. 'hanya satu kedipan mata, bahkan aku tak sempat menangkap nampan itu' batin Dika.
Dua orang yang sangat akrab itu terlihat begitu aneh di mata Dika.
"Ada apa Dik ... a, ?" belum sempat Ratno bertanya, mata nya terbelalak melihat Rio yang tidur dengan posisi berdiri.
"Rio masih tidur kah, Dika?" tanya Ratno
"Dia memang masih tidur pak Ratno, tadi saya terkejut melihat nya maka nya teriak.. Maafin Dika ya pak.." jawab Dika
"Ya sudah kamu rebahkan tubuh Rio, kasihan dia nanti bangun-bangun malah cape.." ucap Ratno.
"Dari tadi sudah saya coba pak Ratno, tapi tubuh nya kaku seperti patung," ucap Dika
"Masya Allah.. Benar kamu Dika... Ya sudah biarkan saja, kamu juga istirahat lagi, biar kami yang melanjutkan pekerjaan dapur sebentar lagi juga selesai.." ucap Ratno yang penasaran dengan yang di katakan Dika.
Ratno lalu menceritakan kejadian ini pada istri nya yang sedang memasak lauk-pauk, sontak Ratih juga terkejut, namun dia tak begitu kaget karena Randi sejak masih umur 9 tahun sudah sering seperti Rio tanpa sepengetahuan Ratno. Entah ini hal wajar atau memang kenapa yang jelas, Ratih tidak bisa menyembuhkan anak nya itu walau sudah di bawa berobat dan konsultasi ke dokter tentu nya tanpa sepengetahuan Ratno juga.
Sementara Dika mencoba untuk tidur kembali walaupun sebentar lagi udah subuh. Rasa nya dia ingin melupakan kejadian ini begitu saja, 'sampai kapan kamu akan terus berdiri, Rio' gumam Dika.
Ke empat Pemuda itu Sarapan bersama Ratno dan Ratih, Ratno ingin memulai menceritakan kejadian dini hari tadi namun segera berhenti ketika Ratih memberi isyarat untuk diam.
"Ada apa Pak," tanya Randi yang melihat gelagat Ratno yang ga jadi bicara
"Oh ... Tidak ada apa-apa Randi.. Bapak hanya memikirkan pekerjaan kita.. Seperti nya akan cepat selesai jika kita semua bekerja sama.." ucap Ratno mengalihkan perhatian.
"Bapak tak perlu khawatir, cukup Saya dan kak Randi saja pasti cepat selesai, namun saya akan kewalahan nanti nya kalau saya sendirian meladeni kak Randi.. Mesin aja kalah sama Dia, " ucap Huda. Berniat mengejek Randi namun di tatap penuh arti oleh Dika.
"mesin aja kalah..?" batin Dika. Dia tak berani berkomentar lebih jauh, dia ingin memastikan sendiri kehebatan Randi
"Ha ha ha.. Huda bisa aja, ya sudah ayo kita ganti pakaian" ajak Randi
"Aku juga ikut dong kak Randi.." timpal Rio
"Bocah kecil emang nya kuat ngangkatin Bata merah dan bawain adukan semen ..?" sahut Huda. Dia masih merasa gemas dengan Rio.
"Apaan sih kak Huda.. Aku kuat kok, tanya saja ke kak Dika.." jawab Rio mencari pembelaan.
"Jangan bawa-bawa Aku Rio..! Aku juga ingin ikut bantuin, Randi.. Tapi sayang nya aku harus ke luar dulu untuk membeli Perlengkapan mandi aku sama Kamu Rio..!" ucap Dika sambil menunjuk jidat Rio.
"Ada perlengkapan mandi aku loh.. Masih banyak pula" ucap Randi.
"Sebenarnya sudah habis Kak Randi... Tadi pagi aku mau make sabun mandi cair sudah habis.." timpal Huda
"Tanya saja sama bocil ini kak Randi.." ucap Dika sambil mengunci gerak tubuh Rio dan memaksa nya mengaku.
"Ampuun Kak Dika ... Ampuuuun," ucap Rio
"Ngaku dulu kamu apain itu sabun orang..!" paksa Dika
"I-iya maaf aku salah ...Tapi be ... neran, ini Karena aku di paksa nga ... ku begini..Iya memang aku yang menghabiskan sabun cair itu kak Randi, aku tak sengaja menjatuhkan sabun itu ," ucap Rio
"Sudah..! Lepaskan Rio, Dika..!" ucap Randi
"Anak ini ga akan pernah berubah kalau di hadapi dengan sikap lembut mu itu kak Randii..!" ucap Dika sembari melepaskan Rio.
"Sudahlah..Sekarang berarti Aku juga harus beli perlengkapan mandi, kan? Aku nitip saja ya, sekalian tanya sama Ibu, siapa tau ada yang harus di beli juga.." ucap Randi tak mau berdebat.
"Aku nitip juga dong, kak Dika.." sahut Rio yang mulai kembali berani bicara
"Aku sudah tau kamu mau nitip apa.. Sudahlah nanti aku beli kan tenang saja.." ucap Dika
"Makasih ya kak Dika.." ucap Rio dengan mata ber kaca-kaca dan mencium tangan Dika.
"Kalau ada mau nya selalu saja bersikap manis," gumam Huda.