Semua bahan-bahan untuk merenovasi kamar sudah siap di gunakan, seluruh keluarga Ratno bersiap-siap untuk pembangunan nya, ibu Ratih memasak makanan alakadarnya.
Ratno berkata,"Sesuai janji kemarin, sekarang Bapak akan bantu pekerjaan kalian".
"Wah terima kasih banyak Bapak.." ucap Randi
"Dengan begini pasti pekerjaan kita akan selesai 1 hari saja," ucap Huda bersemangat.
"Sudah-sudah, kalian sudah berusaha dari kemarin kan, tuh lihat saja batu bata merah itu sangat sempurna,!" tunjuk Ratno, ke arah Gunungan Bata merah yang masih mengepulkan asap sisa pembakaran semalam.
"Oalah iya, berarti kita ga ada kerjaan dong,,? kan masih panas, bata merah nya." ucap Huda
"Aduh Huda ... Kerjaan banyak banget di bilang ga ada kerjaan..! tuh lihat mau ngerjain apa kalau kamar saja belum di bongkar.." timpal Randi.
"Kalau di bongkar kan nanti kebuka dong,aktifitas di dalam rumah keliatan dari luar" sahut Huda, tak mau kalah
"Ya di tutuplah percuma ada pintu kamar !" tegas Randi kesal.
"kalian ini ..! Sudah besar tapi kelakuan masih kaya anak-anak saja ..! Sudah, ayo mulai kerja..!" sahut Ratno ,merasa kesal dengan tingkah mereka.
-----------
Siang hari - Di Ruang Sekretariat Pesantren
Seorang santri tampak bergegas menuju Handphone yang berdering di sudut meja.
'Kriiing..!
"Assalamu'alaikum..Dengan Pondok Pesantren Al-Ikhlas, ada yang bisa kami bantu,?" tanya Dika. Sekarang Dika menjabat Ketua Pondok Pesantren, yang mana sebelumnya dia menjadi asisten pribadi Randi.
"Wa'alaikumsalam...Saya Hendra, teman baik nya Kiai Soleh... Apa bisa berbicara dengan beliau,?"
"Pak Hendra ya..Baik, tunggu sebentar ya Pak, segera Saya Temui beliau.." jawab Dika dengan ramah.
Langsung saja dia bergegas menemui Kiai Soleh.
"Assalamu'alaikum Yai.. Ini ada yang ingin berbicara, nama nya pak Hendra.." ucap Dika sambil menyerahkan Handphone.
"Terima kasih Dika, silahkan kembali.." ucap Kiai Soleh.
Dika segera pamit dan kembali ke ruangan nya.
"Assalamu'alaikum Hendra.." sapa Kiai Soleh pada penelepon itu.
"Wa'alaikumsalam Kiai Soleh.." jawab Hendra.
"Ada apakah gerangan, ? Tumben sekali menelepon kemari biasa nya langsung datang saja.."
"Sebenarnya ingin langsung kesana, tapi Saya menunggu waktu yang tepat pak Kiai,"
"Maksud mu ... Waktu yang tepat bagaimana Hendra..?"
"Seperti Permohonan Saya waktu itu, Saya bermaksud meminta satu orang Santri untuk bekerja di perusahaan saya, apakah orang nya sudah siap, Kiai Soleh ?" tanya Hendra
"Astagfirulloh Hendraa ... Saya lupa memberi tahu kamu.. Surat Kerja itu sudah saya berikan ke Santri Terbaik saya, nama nya Randi, kebetulan Orang nya sudah Boyong ( lulus ).. Apakah dia belum menghubungi mu,?" ucap Kiai Soleh.
"Alhamdulillah kalau Kiai sudah menemukan Calon nya, tapi saya belum ada kabar dari Randi.. Mungkin dia sedang ada urusan penting di rumah nya atau masih dalam suasana kangen keluarga, saya bisa memaklumi nya Kiai," ucap Hendra
"Sebenarnya saya bermaksud membuka kantor perusahaan baru dalam bidang Event Organizer, dan saya berharap Randi bisa bekerja di posisi penting.." ujar Hendra
"Ya sudah Hendra, demi kebaikan mu selama ini.. Nanti saya suruh Santri untuk mengabari Randi ke rumah nya ," ucap Kiai Soleh.
"Terima kasih Kiai, saya tunggu kabar baik nya.. Kalau begitu sampai di sini dulu ya Kiai, soal nya masih ada hal yang harus saya kerjakan sekarang.." ucap Hendra
"Baik lah kalau begitu, semoga semakin sukses ya Hendra.. Assalamu'alaikum," ucap Kiai Soleh
"Wa'alaikumsalam Pak Kiai," jawab Hendra.
Setelah itu Dika di suruh Kiai Soleh untuk menemui Randi di kampung nya, tak lupa menyerahkan alamat detail nya dan meminta membawa seserong untuk menemani nya.
"Kamu kasih tau Randi untuk segera membuka Amplop yang sudah saya berikan.. Kalau dia butuh bantuan kalian, bantulah sampai urusan nya selesai meskipun beberapa hari, urusan di sini biar Saya sendiri yang mengatur nya.." ucap Kiai Soleh
"Baik Yai.. Titah Yai akan kami laksanakan dengan baik," ucap Dika dan Rio bersamaan.
Rio terpaksa di ajak oleh Dika, karena Rio selalu memaksa nya bahkan meminta izin langsung ke Kiai Soleh. Begitulah Rio kalau sudah ada mau nya, tak bisa di bantah siapapun, apalagi semenjak masuk pesantren ini Rio menjadi Orang yang selalu di perhatikan lebih oleh Kiai Soleh, 'ntah Dia punya kelebihan apa,' batin Dika.
"Ini Ongkos untuk kalian berdua, terima lah ! jangan merepotkan Randi dan keluarga nya berlebihan.." ucap Kiai Soleh sambil menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.
"Tapi Yai, kami tak perlu uang ini, uang tabungan ku dari hasil persenan penjualan Sayur sudah cukup untuk ongkos dan biaya makan kami nanti nya.." ucap Dika .
Dia merasa ga enak hati jika harus menerima uang dari Kiai Soleh, terlebih selama ini Kiai Soleh selalu memberikan persenan lebih jika Panen melimpah.
"Sudahlah terima saja kak Dika, uang tabungan kakak untuk biaya nikah nanti, jika ada yang mau nikah sama kak Dika itu juga," celetuk Rio sambil terkekeh geli.
"Jaga tatakrama kamu Rio, kita sedang ada di hadapan Yai,!" sahut Dika dengan muka masam nya menahan malu.
"Sudah-sudah, sekarang sana berangkat takut keburu malam, rumah nya jauh dari Jalan Raya loh.." ucap Kiai Soleh
"Baik lah Yai, kami berangkat.. Assalamu'alaikum" ucap Dika sambil mencium telapak tangan Kiai Soleh, di susul oleh Rio melakukan hal yang sama.
"Wa'alaikumsalam.. Hati-hati di jalan, jaga sikap selayaknya seorang Santri, terutama kamu Rio..!" ucap Kiai Soleh sambil mengusap rambut Rio.
----------
"Jadi sekarang kita tinggal menunggu Bata merah itu dingin, kan ?" tanya Huda.
"Dingin mata mu , emang nya di masukin ke kulkas,!" timpal Randi.
"Sudahlah kalian tak bisa akur sebentar saja apa, bapak gerah.." sahut Ratno
Ruangan yang akan di bangun sebuah kamar baru telah selesai mereka rapihkan, material besi dan semen juga sudah Randi beli, tinggal menunggu Bata merah itu adem biar bisa di pasang. Rancangan Arsitektur kamar sudah Huda buatkan. Dia ternyata sangat pandai membuat sketsa bangunan, sedikit saja kemampuan nya di poles, sudah pasti Huda bisa menjadi Arsitek hebat.
"Nih Rancangan nya kak. Sesuai material yang tersedia
dan bentuk bangunan yang di inginkan kakak.." ucap Huda sambil menyerahkan sketsa Pondasi berskala 1:1000
"Wah, detail banget kamu Huda, jadi berasa aku punya arsitek pribadi," ucap Randi. Dia terkejut dengan sketsa pondasi yang begitu detail
"Jadi sekarang bilang nya aku bukan saya, ?" ejek Huda
Randi tidak peduli dengan ejekan Huda, memang fakta nya sekarang dia mulai merasa sangat akrab dengan Huda, Randi terus memperhatikan Sketsa itu dengan fokus.
"Oke,! Mulai besok kita beraksi,!" teriak Randi tiba-tiba dan penuh senyum.
"Astagfirulloh Randiii.. ! Kamu mau Ibu mu ini Jantungan. !" teriak Ratih terkejut mendengar teriakan anak nya.
"Iya nih bu, parah banget kak Randi " timpal Huda
"he he he,, maaf ... maaf," ucap Randi
"Sekarang saja Randi, sekarang Bapak akan gali pondasi nya sesuai ukuran, kamu Stel Besi untuk Tiang-tiang nya, dan kamu Huda ... ! Awasi kerjaan Randi, harus sesuai dengan yang kamu Rancang," perintah Ratno.
"Baiklah Pak, mumpung belum magrib," ucap Randi.
Tak butuh waktu lama untuk Randi menyetel besi, karena dia sangat pengalaman sewaktu masih di pesantren di tambah kecepatan gerakan nya yang lagi-lagi di anggap tidak normal oleh Huda, 'benar-benar seluruh fisik nya sangat sinkron dengan kelebihan-nya,' gumam Huda.
Menjelang magrib, semua persiapan pekerjaan telah selesai,bahkan sudah jadi pondasi, besok tinggal membangun nya saja.
"Itu pasti kak Randi.." teriak Rio kegirangan dari jauh melihat Randi sedang berbincang-bincang dengan seseorang. Akhir nya dia bisa bertemu kembali dengan orang yang sudah di anggap nya kakak itu.
"Jangan teriak mulu, kita harus menyebrang sungai, hati-hati kamu jangan sampai terpeleset..!" ucap Huda mengingatkan Rio agar jangan ceroboh
"Siap ..! Tapi aku mau mandi di sungai ini dulu ya kak, keliatan nya segar banget air nya ..."
"Byurrrrr...!".
Belum sempat di jawab Dika, dia sudah melompat duluan ke sungai. 'haduuhh ini anak bener-bener..! tadi bersungut-sungut pengen cepet ketemu Randi, sudah di depan mata malah lebih tertarik dengan air.' gumam Dika
"ya sudah, kamu diam saja di situ, hati-hati ada buaya..!" ucap Dika sambil berlalu dan membawa tas milik Rio.
"Huuu ... mana ada buaya di sungai deras begini" gumam Rio
Pantas lah Rio langsung menceburkan diri ke sungai, dia sudah terlalu lelah berjalan kaki dari ujung jalan tempat mereka turun dari angkot.
"Assalamu'alaikum Kak Randi.." sapa Dika yang berdiri di belakang Randi.
"Wa-Wa'alaikumsalam ... Dika ... ?" jawab Randi terkejut ketika melihat Dika di belakang nya.
"