MOBIL yang dibawa Prison berhenti di depan rumah mewah tingkat tiga. Haris tersenyum menatap dua orang di sebelahnya. Marya dan Aeril tampak sangat tenang tidur. Haris menjadi tidak tega untuk membangunkan. “Prison, kamu bantu aku menggendong Aeril ke dalam.” “Okey.” Prison melepaskan seat beltnya. Dia keluar, lalu membuka pintu di sebelah Haris. Namun tiba-tiba Aeril bergerak. Meskipun Haris mencoba menenangkan dengan menepuk-nepuk bahu Aeril, tetap saja anaknya itu bangun. “Kita sudah sampai Daddy?” tanya Aeril sambil mengucek-ngucek matanya. Haris mengangguk. Dia membantu Aeril bangkit dari pangkuan Marya dengan sangat perlahan. Takut istrinya ikut bangun juga. “Sudah sayang. Ril ikut Om Prison ya. Daddy mau menggendong Mommy. Kasihan Mommy kalau dibangunkan.” Aeril menatap Mommy

