MARYA memegang kedua bahu Aeril dan membawa tubuh mungil itu untuk berdiri. Satu kursi ditarik, kemudian Aeril di dudukkan di situ. Dhara juga sudah menarik kursi dan mengambil duduk di sebelah Marya. Dia merasa tidak sabar akan tanggapan Aeril. “Ril, Sayang Mommy kan?” kedua tangan Aeril di elusnya lembut. Kedua bola mata indah dan bersih Aeril ditatapnya lekat. Perlu taktik, Marya akan memberi pemahaman dulu pada anaknya itu. Semalam, Marya belum sempat membicarakan tentang Haris. Pria yang bergelar Daddy atas anaknya itu. Dia bingung, entah bahasa dan kalimat bagaimana untuk menjelaskan, agar tidak merusak psikologis anaknya. Persoalannya sangat rumit untuk bisa dipahami oleh anak seusia Aeril. Beruntung saja, malam itu Aeril juga tidak bertanya. Sehingga Marya bisa mengambil waktu

