Bab 12. Murid Baru

1115 Kata
Happy reading Typo koreksi **** 'Gue lebih nyaman sendiri' ... Fersia Raxenta ... *** Berita ada siswi baru di kelas XII-IPA2, membuat murid cowok sedikit penasaran. Pasalnya banyak yang bilang kalau murid pindahan tersebut sangat cantik, dan di sebut-sebut bisa menjadi primadona baru sekolah SMA PELITA menyaingi Fersia Raxenta murid yang sebenarnya juga bisa menjadi primadona kalau saja gadis itu tidak selalu memasang wajah datar di sekolah. Oleh sebab itu, saat bel istirahat pertama berbunyi di depan pintu kelas XII-IPA2 sangat ramai. Di dalam kelas, Fanny Kailana juga di beri banyak pertanyaan oleh teman-teman barunya kecuali, Fersia yang sudah bersiap keluar dari kelas untuk ke kantin. "Fersia, tunggu." Panggilan itu membuat gadis berwajah datar tersebut menghentikan langkah kakinya. Lalu menoleh, dengan sorot mata bingung. Sebab, yang baru saja memanggilnya ada si murid baru Fanny Kailana. "Iya." Sahut gadis itu pelan berusaha menghargai panggilan tersebut. Fanny tersenyum lebar, kemudian mendekati Fersia yang masih berdiri menunggunya untuk berbicara. "Kamu mau ke kantin? Boleh aku ikut?" Sia diam beberapa saat. Ia tahu siapa Fanny, dia adalah gadis yang dua hari lalu mendatangi Fathur dan mengaku sebagai teman kekasihnya itu. "Maaf, aku biasa sendiri." Tolaknya halus. Fanny terlihat menaikkan alis matanya heran. Fanny memindai Fersia dengan seksama dengan cukup lama membuat gadis itu merasa risih karenanya. "Fanny kamu ke kantin sama kita-kita aja!" Teriakkan di belakang punggung si murid baru itu membuat Fanny tersentak. Ia menoleh ke arah sumber suara dan hanya tersenyum saja. "Kenapa kamu lebih suka sendiri? Aku yakin, kamu ingat sama aku kan?" Ucap Fanny kembali bertanya kepada Fersia. Sia mendesah dalam hati, ia tidak mau terjebak terlalu lama dengan gadis di depannya dan menimbulkan drama baru. "Ingat." Balasnya singkat. "Kalau begitu, aku bisa kan jadi teman kamu. Kan aku teman Fathur juga." Seru Fanny membuat seisi kelas saling mulai berbisik. Gila ternyata Fanny kenal Fathur. Katanya dia temannya Fathur. Berani juga ya dia, ajak si Sia temenan. "Kalau kamu teman Fathur, apa harus jadi teman aku juga?" Pertanyaan Sia terdengar sarkastik membuat Fanny menatap gadis itu sedikit syok. Ia pikir, Fersia akan menerimanya menjadi teman dan hal itu bisa membuat dirinya semakin dekat dengan Fathur. Namun, ternyata lagi-lagi penolakan yang ia terima. Yang kali ini pacar Fathur lah pelakunya. "Oh ... mmm ya nggak harus juga. Aku cuma berpikir kalau kita bisa jadi teman dekat. Itu aja, kok." Seru Fanny mencoba menahan rasa kesalnya pada gadis di hadapannya sekarang. "Maaf, tapi aku lebih nyaman sendiri. Kalau begitu, aku duluan." Pamit Sia mengabaikan decakan dan cibiran murid-murid lain di kelasnya. Tanggapan Sia, tentu saja tidak peduli. Ia sudah terbiasa, hingga akhirnya menulikan telinga adalah hal yang baik untuk kesehatan mentalnya. Kepergian gadis datar itu membuat murid-murid lain menghampiri Fanny yang diam saja di tempat yang sama. "Jangan di pikirin, Sia emang gitu anaknya. Di kelas ini dia juga kalau ngerjain tugas selalu sendiri. Jadi jangan di ambil hati kalau dia nolak buat bareng." "Iya, bener." Sahut beberapa siswi lainnya kompak. Fanny manggut-manggut tersenyum manis. "Iya, nggak apa-apa kok. Aku ngerti, Sia pasti nggak nyaman karena aku deketin tiba-tiba." "Oh iya, Fanny. Tadi kita nggak sengaja dengar, emang benar kamu temannya Fathur?" Fanny hanya memberi anggukan kepala dengan wajah ceria. "Iya. Eh kita ke kantin yuk. Nanti ke buru bel loh." Ajak Fanny kepada beberapa siswi yang mengajaknya ngobrol tadi. **** Di kantin. Fersia sudah selesai memesan siomay dan jus jeruk. Tiga meja dari tempatnya duduk Fanny dan murid-murid kelas gadis itu juga sudah duduk. Selang beberapa menit, riuh suara dari ambang pintu kantin membuat meja yang di isi Fanny dan tiga siswi lainnya jadi ikut menoleh ke sumber suara. Mimik Fanny berubah semakin cerah saat melihat kedatangan Fathur dan para sahabatnya. Gadis itu menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga, saat Fathur semakin masuk ke area kantin. "Wih, udah ayang Beb nya tuh." Sindir Tegar membuat Fathur mengikuti arah yang lihat sahabatnya itu. Lagi-lagi kekasih pemuda itu duduk sendirian. Bahkan, kedatangannya tidak membuat Sia menghentikan aktivitasnya makan siomay di sana. Dengan santai Fathur pun mendekat ke meja pacarnya itu. Kedua tangannya bertumpu di sisi meja, merasa ada yang berdiri di sebelahnya Sia mendongak hingga keduanya kini bersitatap. Sebelum akhirnya Sia mengalihkan lagi pandangannya dan melanjutkan makannya. "Cie ... cuek amat sih. Aku duduk di sini boleh ya?" Seru pemuda itu lalu duduk tanpa menunggu jawaban gadis di depannya. Sia mendesah, tidak mempedulikan kehadiran pemuda itu. Apalagi kini mereka menjadi tontonan murid-murid lain, karena jarang keduanya terlihat bersama kecuali pulang sekolah. Karena Fathur tidak mengizinkan gadisnya itu pulang dengan orang lain selain dirinya. "Aku lapar juga nih. Suapin dong." Seru pemuda itu memasang puppy eyes membuat beberapa siswi menahan pekikkan mereka. Sia mendongak, menatap pacarnya itu dingin. "Kamu bisa beli sendiri. Sana pindah." Usir Sia membuat Fathur terkekeh. "Galak banget sih. Kamu nggak tahu apa, kalau aku tuh kangen loh sama kamu." Goda pemuda itu tidak ingin beranjak dari sana. "Aku mau makan." "Ya udah, makan aja. Kalau kamu nggak mau suapin aku, ya lanjut aja nggak apa-apa kok." Balas Fathur santai menggerakkan dagunya menunjuk piring gadisnya itu. "Pindah sana. Ke meja teman-teman kamu." Usir Sia lagi. Geram, karena Fathur masih di depannya. Padahal Sia ingin cepat-cepat selesai menghabiskan makananya dan pergi ke Perpus sebentar. "Ngusir terus ih. Aku masih mau di sini, liatin aku, Sia-ku." ujar pemuda itu menekukkan wajahnya berpura-pura sedih. "Terserah." Sia memilih pasrah dan tidak lagi menanggapi pacarnya tersebut. Di meja lain, Fanny melihat interaksi keduanya serius. "Jangan kaget, gaya pacaran mereka emang begitu. Kayanya Fathur deh yang tergila-gila banget sama Sia. Tapi ya itu cewek responsnya singkat dan kadang cuek gitu." Seru siswi yang duduk di sebelah Fanny. "Tapi, yang lebih bikin geleng-geleng tuh. Fathur sering mesra-mesraan sama murid cewek di sekolah kita loh di depan pacarnya." Lanjutnya lagi memberi informasi kepada si murid baru. Fanny hanya mendengarkan, tatapannya tidak lepas dari sosok Fathur yang membelakanginya. "Eh, Fanny. Mau kemana?" Tiba-tiba gadis itu berdiri dari duduknya. "Sebentar ya, aku mau nyapa Fathur dulu." "Oke." Fanny meninggalkan mejanya dan menghampiri tempat dimana Fathur dan Fersia duduk. "Hai, Fathur." Sapanya membuat pasangan kekasih itu menoleh ke arahnya. "Fanny." Seru Fathur setengah kaget, pemuda itu melihat penampilan gadis di sampingnya yang memakai seragam sekolahnya dengan seksama. "Kaget ya. Aku hari ini pindah sekolah di sini. Oh iya aku juga satu kelas loh sama Fersia." Mata Fathur tidak bisa untuk tidak semakin membulat. Pemuda itu melirik pacarnya yang kembali menikmati makanannya. "Oh, iya. Senang bisa satu sekolah sama kamu. Semoga betah ya." Jawab Fathur kikuk. "Sia, aku ke anak-anak bentar ya. Sorry nih, Fanny gue ke sana dulu." Lanjut pemuda itu lagi tiba-tiba pamit pergi. Fathur menggertakkan giginya kala meninggalkan keduanya. Dalam hati pemuda itu mengumpat kasar. Sialan, kenapa dia sekolah di sini sih. Bangsat! ***** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN