Bab 11. Pindah Sekolah

1284 Kata
Happy reading Typo koreksi ***** 'Dia akan jadi milikku' ... Fanny Kailana ... *** Dua hari kemudian. Penolakan dari seseorang yang di terimanya dua hari lalu membuat Fanny Kailana tidak terima.  Flashback on. Fanny masih diam terpaku di halaman sekolah SMA PELITA, ia bahkan tidak sadar jika beberapa siswa-siswi yang masih berada di sekolah itu menatap dirinya dengan heran. Pasalnya seragam gadis itu berbeda dengan mereka. Rok abu-abu Fanny membuat mereka bertanya dalam hati, siapakah dirinya datang ke SMA PELITA sendirian. Getaran ponsel Fanny membuat gadis itu tersadar dari lamunan, ia melihat layar ponselnya.  Nama ibunya tertera di layar.  Ia mendesah, bersiap menerima amarah ayahnya yang pasti sudah tahu kalau dirinya bolos hari ini. Tanpa banyak berpikir gadis itu keluar gerbang kemudian menaiki taksi yang lewat di sekitarnya untuk pulang. Suara kencang dari dalam rumah berlantai dua itu menyambut kedatangan Fanny saat ia baru turun dari taksi. "Aku pulang." Ujarnya menyapa penghuni rumah. Belum sempat ada yang menjawab sapaannya, sebuah tamparan melayang tepat mengenai pipi gadis cantik itu hingga menggema. Plak "DASAR ANAK NAKAL, KENAPA KAMU HARUS BOLOS HARI INI HAH! KAMU TIDAK TAHU KALAU PAPA HARUS MENANGGUNG MALU KARENA TAHU KAMU BOLOS TADI HAH!" bentakan Aldo ayahnya membuat Fanny hanya bisa diam. Aldo sedang menatapnya dengan mata penuh amarah, Fanny tidak tahu kalau ayahnya akan ke sekolah hari ini. "PAPA BELA-BELAIN DATANG KE SEKOLAH KAMU HANYA UNTUK MEMBUAT KAMU TETAP DI ANGGAP ANAK TERPELAJAR. TAPI ...." "Mas, sudahlah. Fanny pasti tidak tahu kalau Mas dan aku ke sekolah." "GITA!" Aldo kembali berteriak hingga urat-urat di lehernya terlihat saat mendengar ucapan sang istri. "Ini cara kamu mendidik anak Hah! Kamu jangan ikut sibuk di luar. Urus anak kamu ini di rumah. Punya anak satu saja kamu belum becus menjaganya. Inilah akibatnya kalau kamu terlalu memanjakan dia." Gertak pria paruh baya itu tidak peduli lagi. Fanny merunduk dalam, bibirnya masih terkatup rapat. Tidak berani membantah ucapan ayahnya untuk sekarang. "Kok Mas jadi salahin aku juga. Mas juga papanya, Mas juga bertanggung jawab atas Fanny." "Kamu pikir aku di luaran sana ngapain? Main perempuan hah! Aku kerja Gita, aku mencari uang buat keluarga kita." Sentak Aldo kesal dengan sikap istrinya. Tatapan pria paruh baya itu beralih melihat ke arah putri satu-satunya yang masih diam di tempat. "Fanny, sekarang Papa nggak tahu harus ngapain kamu lagi. Apa kamu mau Papa nyerah atas masa depan kamu? Kamu sudah besar, Papa cuma minta kamu fokus sama pendidikan kamu. Apa itu terlalu sulit? Kenapa kamu bolos sekolah, apa ada hal yang lebih menarik buat kamu di luaran sana?" Desah Aldo mulai memelankan nada suaranya. Fanny mendongak, ia melihat raut kecewa ayahnya dan mimik kesal ibunya yang belum juga hilang. "Maafin Fanny, Pa." Aldo menggeleng lemas, "Tidak, jangan meminta maaf. Bukan itu perkataan yang ingin Papa dengar dari kamu." Seru beliau. "Apa kamu sudah tidak mau sekolah?" Lanjut Aldo bertanya serius. "Bukan Pa. Fanny masih mau sekolah, tapi Fanny ... Fanny nggak suka sekolah di sekolah yang sekarang. Anak-anak di sana tahu kalau Fanny anak Papa, donatur sekolah. Makanya mereka nggak ada yang berteman tulus ke Fanny." Jawaban putrinya membuat Aldo memijat pangkal hidungnya, lalu kembali menatap putrinya lekat. "Lalu kamu mau apa? Di sana sekolah terbaik buat kamu, Fanny." "SMA PELITA, Pa. Fanny mau sekolah di sana saja." Ujarnya tiba-tiba menyebutkan nama sekolah itu. Alis pria paruh baya itu terangkat bingung. "SMA PELITA." Cicitnya membuat Fanny mengangguk cepat. "Kenapa harus di sana?" Tanya beliau ingin tahu. "Fanny mau sekolah di SMA yang nggak melihat Fanny karena uang Papa. Fanny mau belajar sungguh-sungguh, Pa. Fanny janji kalau Fanny nggak akan buat Papa marah lagi. Boleh kan Pa, kalau Fanny pindah sekolah di sana?" Aldo memicing curiga saat putrinya terlihat ingin sekali sekolah di SMA PELITA. Bukan dirinya tidak ingin, tapi sekolah putrinya yang sekarang itu adalah sekolah dimana anggota  keluarganya bersekolah. "Nggak boleh ya, Pa?" Gumam gadis itu masih di dengar oleh ayahnya. "Fanny kamu jangan aneh-aneh, bagaimana bisa kamu pindah sekolah mendadak seperti sekarang. Jangan buat Papa sama Mama repot mengurus berkas kepindahan kamu." Gita menyerobot mengomeli putrinya dengan wajah marah. "Kamu janji akan serius belajar di sana?" "Mas kamu apa-apaan sih? Kenapa bicara begitu?" Selak Gita kepada suaminya. "Diam kamu, Gita." Tekan Aldo semakin geram. Gita menatap suaminya kesal, wanita paruh baya itu memilih berlalu masuk ke dalam kamar meninggalkan ayah dan anak itu di ruang televisi. "Fanny janji, Pa." Seru gadis itu semangat. "Huh, ya sudah. Besok Papa akan urus kepindahan kamu. Papa harap kali ini kamu benar-benar serius dan tidak melanggar janji." Fanny mengangguk antusias, "Fanny, janji. Makasih, Pa." Grep Gadis itu memeluk ayahnya erat. "Maafin, Fanny sudah buat Papa marah." Aldo menepuk punggung putrinya lembut, "Maafkan Papa sudah menampar kamu. Papa cuma mau kamu jadi anak yang berhasil. Dunia di luaran sana begitu kejam, Fanny. Papa tidak mau kamu terjerumus ke lingkungan yang tidak benar." Bisiknya menasihati. Fanny sedikit tersentil, ia hanya membalas dengan gumaman pelan. Bahkan gadis itu sekarang merasa amat bersalah karena dirinya sudah tidak suci lagi. Fanny mendadak menjadi takut jika ayahnya akan mengetahui hal itu, dan kecewa lagi kepadanya. Maafin Fanny, Pa. Flashback off. Fanny sudah bangun pagi-pagi, kini ia sudah rapih mengenakan seragam sekolah yang di dapatnya kemarin dari ayahnya. Aldo ayahnya sudah tidak marah lagi kepadanya. Sedangkan Gita, masih kesal kepada ayahnya. Fanny menjadi merasa bersalah membuat ayah dan ibunya bertengkar dua hari lalu. Gadis itu menghembuskan napas panjang, sebelum kembali menatap penampilannya dari pantulan di balik cermin meja rias kamarnya. Senyum manis tercetak, matanya berbinar kala melihat penampilannya hari ini. Keluar dari kamar, ia di sambut hangat oleh ayahnya dan mimik masam ibunya. "Pagi Pa, Ma." Sapanya mencium pipi keduanya bergantian. "Pagi." Sahut mereka bersamaan. "Kamu kelihatan ceria banget. Hari ini di antar pak Andi saja ya, Papa ada rapat. Tidak apa-apa kan?" Fanny mengangguk patuh. "Aku bisa sendiri kok, Pa." "Nggak, biar kamu di antar dulu sama pak Andi." Titah Aldo tegas. Tidak ingin membantah, gadis itu kembali manggut-manggut patuh mengiyakan. "Gita, kamu keluar juga hari ini?" "Iya, nanti jam 9." Balas wanita paruh baya itu sedikit ketus. Aldo menghela napas pendek. Istrinya masih ngambek kepadanya. Bahkan sudah dua hari ini Aldo dan Gita tidur di kamar berbeda. "Mama, maafin Fanny ya. Jangan marah lagi sama Papa. Fanny yang salah." Seru gadis itu menatap ibunya sedih. Gita mendongak melihat dua orang berbeda gender di dekatnya bergantian. Hembusan kasar terdengar dari mulut wanita paruh baya itu sesaat. "Maafin Mama juga, seharusnya Mama tidak membantah Papa kamu. Papa kamu juga benar, Mama juga salah karena sibuk mengurus butik Mama sampai nggak bisa menjaga kamu. Maafin Mama ya." Fanny mengangguk tersenyum lebar. "Ayo, dong ... Mama maafan juga sama Papa?" Pinta gadis itu merengek. Gita menatap suaminya, lalu meminta maaf dengan suara pelan. "Maafin aku, Mas." Aldo menarik sudut bibirnya ke atas, pria paruh baya itu sedikit berdiri menarik kepala istrinya yang duduk di sebelah kirinya lalu mengecup keningnya lembut. Cup "Maafin Mas juga." Bisiknya. Pagi itu, mereka makan dengan suasana yang mulai membaik. **** Udara pagi menyegarkan hidung Fanny kala ia sampai di gerbang sekolah. Ia melihat ke kanan dan ke kiri, saat murid-murid lainnya masuk ke dalam gedung di depannya. Akhirnya Fanny melangkah masuk bergabung dengan beberapa murid yang datang pagi itu, ada beberapa dari mereka yang memandangnya terang-terangan. Mungkin karena Fanny tampak asing untuk mereka di SMA PELITA. Dengan rasa percaya diri tinggi, Fanny tetap berjalan dengan santai menuju ruangan yang harus ia datangi lebih dulu. Ruang Kepala Sekolah Benar. Hari ini adalah hari pertama gadis itu menjadi murid SMA PELITA, seperti keinginannya. Fanny sudah tidak sabar ingin menikmati suasana di lingkungan yang sama dengan Fathur. Pemuda yang akan ia taklukkan di sini. Ahh, aku sudah tidak sabar ketemu Fathur hari ini. Pekiknya dalam hati senang. **** Bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN